Setiap aksi tentu memancing reaksi untuk kemudian ditanggapi dengan aksi lain yang berbeda dengan aksi pertama. Ini adalah pemikiran dialektis a la Hegelian. Tesis menghadirkan antitesis lalu menghasilkan sintesis. Sintesis ini kemudian menjadi tesis baru dan akan kembali menghadirkan antitesis. Demikianlah apa yang dialami setiap pemikiran dan tindakan yang dilakukan manusia. Ada hubungan sebab-akibat yang resiprokal.
Netanyahu adalah pion provokator dari gerakan yang lebih besar yaitu Zionis dengan para raja uang Yahudi sekuler penganut Protocol of Elder Zion. Trump adalah pion yang berperan sebagai pion “pasukan garis depan” yang diprovokasi Netanyahu dalam agenda besar para “Qorun” Yahudi Sekuler. Jika kita masih menganggap bahwa kejayaan para raja uang Yahudi Sekuler tidak berakhir, maka kita masuk kategori fatalis. Herakleitos menyatakan tidak ada yang abadi di dunia ini kecuali perubahan.
Kejayaan Amerika-Israel jika kita perhatikan dari sudut pandang sejarah manusia sesungguhnya sangat pendek. Negara-negara adidaya di dunia datang, jaya, dan mati. Ada Kerajaan Firaun, Babilonia, aneka Dinasti Cina, adidaya Romawi, Dinasti Abbasiyah, aneka Dinasti India, Dinasti Usmanidan dan aneka Dinasti Moghul. Lalu di era modern, bagaimana dahulu kita saksikan Inggris, Spanyol, Portugis, dan Belanda menjadi “raja dunia.” Kini kita tiba pada pertanyaan, ke mana aneka kejayaan tersebut? Ada hukum perubahan yang abadi menurut Herakleitos. Ada proses dialektika yang bergerak dalam sejarah, kata Hegel. Itulah jawabannya, ya sesederhana itu jawabannya.
![]() |
| Trump and His Soldiers Created by Perchance.org |
Amerika-Israel serta para “baginda raja uang” di sekitar mereka tidak lepas dari hukum-hukum tersebut. Hukum-hukum tersebut adalah sunatullah. Seperti dipelajari oleh Ibnu Khaldun, bahwa setiap kerajaan-bangsa mengalami fase siklis hidup: lahir, remaja, dewasa, menua, dan mati. Persoalannya hanya pada masalah waktu, yaitu berapa lama. Kesimpulan finalnya adalah tetap, siklus tersebut akan terjadi, secara alamiah, tanpa ada yang mampu mencegahnya. Tidak ada “operasi plastik” untuk mempertahankan lestarinya kejayaan. Tidak ada teknologi Artificial Intelligence yang mampu menahannya, sebab AI sekadar “bunga-bunga” dari suatu peradaban manusia. AI hanyalah teknologi, sama seperti teknologi penghasil api, roda, mesiu, kompas, bahkan satelit.
Trump terjebak dalam endless war yang dimainkan Iran. Trump lupa bahwa Republik Islam Iran muncul tahun 1979 bukan tanpa sebab. Republik yang dipimpin para ulama ini muncul sebagai antitesis atas Rezim Pahlevi dukungan Amerika. Seluruh pemimpin Iran saat ini, baik di kalangan ulama, sipil, maupun militer pernah merasakan bagaimana tidak berpihaknya Pahlevi kepada rakyat Iran. Bagaimana Pahlevi ingin membaratkan rakyat Iran serupa dengan Mustafa Kemal ingin membaratkan rakyat Turki.
Iran di bawah Pahlevi membiakkan korupsi, ketimpangan sosial, para elit yang tak tersentuh hukum, dan brutalitas SAVAK polisi rahasia “centeng” Pahlevi yang secara massif menghilangkan siapa pun yang mengganggu kekuasaan Pahlevi. Penduduk Iran rata-rata Syiah dan dalam salah satu kredo Syiah adalah Keadilan. Syiah adalah suatu mazhab dalam Islam yang menganggap bahwa Ali adalah kandidat paling ideal pasca wafatnya Rasulullah. Para pendukung Ali ini disebut sebagai Syi’at Ali yang kemudian diringkas menjadi Syi’ah. Syi’ah banyak belajar dari ketidakadilan yang banyak diderita oleh keturunan Rasulullah dari garis Fatimah-Ali. Salah satunya adalah Tragedi Karbala, dengan mana Hussayn bin Ali bin Abi Thalib syahid saat dikepung oleh pasukan Yazid bin Muawiyah. Kepala Hussayn dipenggal lalu diserahkan para penyergap ke istana Yazid.
Memang, tidak semua aliran Syi’ah selaras dengan akidah Islam. Hal demikian pun terjadi pula di mazhab Sunni bahwa tidak semua aliran dalam Sunni selaras dengan akidah Islam. Penulis tidak akan menyebutkan mana aliran yang secara akidah masih Islam dan mana yang sudah dianggap keluar dari Islam. Anda dapat menyimpulkan ini semua dalam sebuah Ensiklopedia yang disusun para ulama intelektual Mesir dalam buku Ensiklopedia Aliran dan Mazhab di Dunia Islam. Penulis hanya akan menyebutkan bahwa Syi’ah dan Sunni telah mendeklarasikan kesaling pengertian dan kesaling pahaman bahwa mereka adalah Muslim yang dituangkan dalam Risalam Amman tahun 2004. Para pembaca dapat membaca Risalah tersebut karena ebook onlinenya dapat secara bebas diunduh dari aneka situs di internet, baik yang berbahasa Arab, Inggris, maupun Indonesia.
Trump tidak menyadari bahwa rezim yang kini berkuasa di Iran adalah benar-benar antitesis dari Pahlevi. Karakteristik Syi’ah adalah selalu ada pemimpin tertinggi di aneka level, dari negara hingga desa. Pemimpin tersebut adalah ulama yang memegang kekuasaan menentukan apakah pemimpin sipil masih berkuasa dengan berlandaskan Al Quran, Hadis, dan disiplin mazhab (terutama Ja’fari). Pemimpin di tiap lapis vertikal masyarakat Iran ini tidak berkuasa sendiri karena selalu ada suatu dewan ulama dari tingkat pusat hingga desa. Jika seorang pemimpin meninggal dunia maka secara otomatis dewan ulama akan memilih yang baru. Itulah derita Trump, ia kurang memahami posisi seorang pemimpin di Iran.
Kepempinan sipil, militer, dan ulama di Iran seperti lapisan bawang. Jika kita kupas yang lapisan atas selalu ada lapisan di bawahnya, dan demikian seterusnya. Atau, Trump sulit untuk membayangkan bahwa kepemimpinan di Iran bagai “kota pandora” selalu tidak ada habisnya. Itulah mekanisme kepemimpinan dalam Syi’ah karena mereka telah belajar dari sejarah bahwa rezim-rezim Muslim yang pernah hadir dan rata-rata Sunni selalu menganggap bahwa ahlul bayt sebagai contender potensial mereka. Kisah Hussayn merupakan contoh besar dari permasalahan kepemimpinan ini. Kini, mazhab Syi’ah yang berkuasa di Iran adalah Itsna Assyariah atau Syi’ah dua belas imam. Imam yang ke-12 yaitu al-Mahdi al-Muntazar ada dalam kondisi ghaib. Umat Islam Syi’ah Itsna Asyariyah di Iran tengah menanti kehadiran dari Sang Mahdi.
Selama Mahdi dalam kondisi ghaib maka kekuasaan sementara dipegang oleh Velayat el-Faqih, kepemimpinan kaum ulama. Kepemimpinan tersebut bukan personal seperti kerajaan melainkan lebih seperti presidium. Lazimnya dalam presidium, ada seorang yang disepakati oleh para anggota untuk menjadi seorang Ketua atau Pemimpin Tertinggi. Namun, dalam pengambilan keputusan pemimpin tertinggi ini tidak dapat otoriter karena para anggota lainnya selalu mengkomparasikan apakah keputusannya berkesuaian dengan Al Qur’an, Hadis, dan fatwa-fatwa ke-11 imam yang terdahulu. Para anggota akan menolak apabila keputusan Pemimpin Tertinggi bertentangan dengan hukum-hukum yang telah menjadi preseden.
Di sinilah derita Trump, seorang sekuler materialis yang memandang bahwa kejayaan dan kekayaan personal adalah tujuan hidup. Ketidakpahaman ini membuat Trump meyakini bahwa Iran itu sama seperti negara-negara Arab atau kerajaan lain: Begitu pimpinan puncak dan penting dihabisi maka dengan mudah bangsa mereka akan menyerah. Jangankan Iran, bangsa Indonesia ketika Sukarno-Hatta-Sjahrir ditangkap dan dibuang tetap melawan dengan cara perang gerilya yang dipimpin Jenderal Sudirman. Indonesia tetap ada kendati para pemimpin puncak mereka habis ditangkapi.
Demikian pula Iran, bahwa sejak tahun 2010 secara mencicil Mossad membunuhi tokoh-tokoh kunci Iran seperti Panglima Garda Revolusi, ahli nuklir, sekretaris dewan keamanan, dan lain-lain tokoh kunci. John Mearsheimer dan Kenneth Walt menulis bahwa setelah kampanye militer Amerika di aneka negara Arab, maka sasaran selanjutnya adalah Iran. Para presiden sebelum Trump cukup cerdas untuk tidak menuruti kehendak “para raja uang Yahudi” melalui pion-pion mereka terutama di Partai Likud dan cecunguk mereka di Knesset. Jawaban positif baru diperoleh dari Trump yang menggantikan Obama.
Mulailah casus belli direkayasa yaitu pengembangan senjata nuklir Iran seperti dulu dituduhkan para Irak. Publik internasional sudah “muak” dengan skenario ini. Dalam periode Trump pertama, mulai bergeraklah para “raja uang Yahudi sekelas Rothschild” melalui Jared Kushner, menantu Yahudi Ortodoksnya Trump. Namun, agresivitas politik luar negeri Trump mendorong muncul kembalinya trauma di Amerika, yaitu bagaimana budget negara untuk perang menyikat habis anggara sosial Obama Care, anggaran pendidikan, dan kesehatan. Hal yang signifikan pula adalah kesedihan para keluarga tentara Amerika yang terpaksa menjemput putra putri mereka yang pulang dari Irak, Afghanistan, Libia, hanya dalam bungkus peti mati. Trauma ini mendorong kalahnya Trump dari Joe Biden.
Amerika saat itu masih anggota NATO. Rusia mengambil pre-emptive action dengan menggelar kekuatan militer sebagai containment policy guna menghentikan ekspansi NATO ke timur Eropa. Manakala Ukraina yang mana Zelensky presidennya juga seorang Ashkenazi secara terbuka menyatakan niat bergabung ke dalam NATO, Rusia sudah tidak bisa tinggal diam. Ukraina itu ibarat lokasi tempat aneka anjing pitbull ganas yang lapar dan ditempatkan di seberang halaman depan “rumah” Rusia. Tidak ada pilihan bagi Putin, terlebih saat itu Amerika masih ada di dalam NATO, untuk menghentikan ekspansi.
Selama masa Biden, tidak banyak yang dilakukan Amerika dan NATO selain memberi bantuan senjata dan pangkalan udara bagi pasukan Ukraina. Lambat-laun, Ukraina pun dibiarkan membela-diri sendiri. Rusia membiarkan konflik dengan Ukraina mengambang karena di dalam pengambangan aneka alternatif dapat dikembangkan. Ini sesuai dengan adagium the result of a war is never absolute dan war is a mere continuation from politics by other means.
Namun, apa yang terjadi antara fenomena Trump-Netanyahu versus Iran berbeda dengan Putin versus Zelensky. Bagi Iran, mereka melakukan bela diri dan kemungkinan besar siap dengan zero sum game: Anda atau Saya yang mati. Sementara itu Putin versus Zelensky adalah permainan catur sekian babak karena Rusia sengaja membuat Ukraina tidak nyaman dengan posisinya saat ini dan peralihan rezim terjadi secara konstitusional. Hal ini pernah terjadi di Cechnia, Belarusia, dan Turkmenistan.
Kembali ke masalah “kotoran” Trump dalam upaya bela diri Iran. Setelah Trump jadi presiden periode pertama, hal pertama yang dilakukan adalah membatalkan sepihak Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) yang disusun Obama tahun 2015. Dalam kesepakatan itu, Iran setuju membatasi program nuklir ditukar dengan pencabutan aneka sanksi atas negara mereka. Tahun 2017, setelah jadi presiden periode 1 Trump melempar kesepakatan itu ke keranjang sampah (Suchkov, 2026). Tidak hanya itu, Trump malah menambah sejumlah sanksi atas Iran dengan tujuan membuat negara tersebut semakin lemah (ini sekadar asumsi Trump, tentunya).
Pada bulan Januari 2020, Trump membunuh Jenderal Qasem Soleimani Komandan Pasukan Elit al-Quds mengguna serangan drone (Sukhov, 2026). Setelah Trump dikalahkan Biden, presien dari Partai Demokrat ini berupaya menghidupkan kembali kesepakatan seperti dibangun Obama. Namun, situasi sudah berubah karena kampanye untuk menyerang Iran sudah terlanjur santer di Gedung Putih dan Kongres yang dimotori AIPAC. Situasi memanas, Israel terlibat dalam perang dengan Hamas dan Hezbollah, rezim Assad di Suriah jatuh lalu digantikan rezim pro Israel, dan tekanan Amerika atas Iran telah semakin meningkat. Biden gagal untuk kemudian dikalahkan Trump dalam pemilu selanjutnya.
Dalam periode ke-2, Netanyahu segera melakukan serangan dan berhasil membunuh para pejabat senior Iran di Teheran. Trump melanjutkan dengan menyerang fasilitas nuklir Iran di Fordow, Natanz, dan Isfahan. Delapan bulan setelah Trump menjadi presiden di periode ke-2, konflik masuk ke eskalasi puncak yaitu pembunuhan tak bermoral oleh serangan gabungan Netanyahu-Trump yang membuat Ayatollah Khamenei syahid. Dari sinilah sesungguhnya, Trump-Netanyahu sudah kehilangan kendali. Asumsi perubahan rezim di Iran menjadi ilusi dua manusia delutif bernama Netanyahu dan Trump.
Tingkah brutal Netanyahu-Trump malah membuat bangsa Iran lebih bangkit, bersatu, dan lebih marah lagi dan levelnya lebih tinggi dari era 1979-2026. Netanyahu-Trump “buang kotoran” di mana-mana. Aneka pangkalan militer Amerika di Akrotiri (Siprus) dengan mana pasukan Amerika “nebeng” di Pangkalan Udara Inggris diserang. Selanjutnya, Pangkalan Udara Amerika di Muwaffaq al-Salti di Yordania mendapat giliran.
Hal tersebut juga terjadi atas dua pangkalan militer Amerika di Irak yaitu Erbil dan Ain al-Asad. Selanjutnya, dua pangkalan udara Amerika di Kuwait yaitu Camp Buehring dan Ali al-Salem diledakkan. Iran terus bergerak dengan menyerang gedung yang menampung para agen dan tentara Amerika yang tergabung dalam National Security Agency (NSA) di Bahrain. Selain menyasar gedung persembunyian lawan, di Qatar Iran juga menyerang pangkalan udara al-Udeid. Pangkalan udara Amerika di Saudi Arabia yaitu yang berlokasi di Prince Sultan tidak lepas dari serangan Iran.
![]() |
| Voronoi Visual Capitalist |
Perlu diketahui, bahwa pangkalan militer tidak seperti kantor kedutaan besar yang memiliki kekebalan diplomatik. Amerika menyewa suatu lokasi di negara-negara teluk untuk menempatkan pasukan tempurnya di sana. Dalihnya, untuk menjaga mereka dari aneka ancaman baik dari Israel maupun Iran. Namun faktanya Amerika tidak berbuat apa pun untuk mempertahankan aneka pangkaan tersebut. Hal yang paling masuk akal bagi para pemimpin negara teluk (Saudi, Oman, Bahrain, UEA, Qatar, dan Kuwait) adalah memutuskan kontrak pangkalan dan mengusir seluruh pasukan Amerika dari wilayah mereka. Amerika lah yang menyebabkan bom-bom Iran merusak wilayah mereka.
Serangan ini telah direncanakan Iran dan dikomunikasikan dengan ke-6 pemimpin negara Teluk. Persoalannya tinggal 1 (satu), apakah para pemimpin negara teluk punya nyali? Kelihatannya berat dan jawabannya kemungkinan besar tidak. Kendati demikian, kendati takut untuk keluar dari “ketek” Amerika, negara-negara teluk harus mulai berhitung kerugian ekonomi mereka atas agresi Netanyahu-Trump atas Iran. Jika rezim negara-negara teluk lebih pro pada kesejahteraan rakyatnya maka “mengusir” Amerika dari tanah mereka adalah pilihan mudah. Lain halnya apabila yang ada di otak para pemimpin negara teluk adalah kelanggengan rezim mereka. Itu persoalan nawaitu mereka dalam memimpin negara dan penulis angkat tangan jika memang demikian.
Namun, benih-benih “hilangnya kepercayaan” negara-negara teluk kepada Trump perlahan tetapi pasti memperlihatkan kemungkinannya. Pada tanggal 18 Maret 2026 pihak Kementerian Luar Negeri Qatar mengutuk serangan Israel atas ladang gas Iran di wilayah South Pars. Ladang minyak tersebut merupakan joint venture antara Qatar dan Iran. Di dalam akun X-nya, Menlu Qatar Majed al-Ansari menyalahkan Israel dengan berkata:
“The Israeli targeting of facilites linked to Iran’s South Pars fiel, an extension of Qatar’s North Field, is a dangerous and irresponsible step amin the current military escalation in the region ... targeting energi infrastructure consitutes a threat t global energi security, as well as to the peoplesof the region and its environment.”
Perbuatan Israel ini membuat Qatar berhitung. Ladang minyak di South Pars dan North Field adalah ladang gas terbesar di dunia. Jumlah stok totalnya 1.800 trita kaki persegi. Ekonomi Qatar sendiri bersandar pada minyak dan gas bagi 80% pendapatannya dan mayoritas berasal dari dua ladang ini.
Pada tanggal 17 Maret 2026, Kepala US National Counterterrorism Center Joe Kent, seorang anak buah Trump menyatakan mundur dari jabatannya. Motif dari Kent adalah bahwa ia memprotes perang Trump terhadap Iran (Russia Today, 2026). Dalam pernyataan pengunduran dirinya Kent menyebut bahwa Netanyahu telah menyeret Amerika ke dalam konflik berjenis “never-ending” yang bukan melayani kepentingan nasional Amerika. Kent yang diangkat Trump menjadi kepala US-NCC Februari 2025 lalu mundur 17 Maret 2026. Kent bukan orang sembarang, sebab ia bekas pejabat militer yang juga bekerja untuk CIA. Dalam karirnya, ia telah melalui 11 pertempuran, terutama di Irak, sebelum pensiun dari kemiliteran tahun 2018.
Kent menyatakan bahwa:
I cannot in good conscience support the ongoing war in Iran. Iran posed no imminent threat to our nation ... it is clear tha we started this war due to pressure from Isreal and its powerful American lobby (pernyataan Kent dalam akun X-nya).
Tekanan Israel dan Lobi Kuat Israel di Amerika adalah penyebab utama serangan Trump atas Iran. Hal ini tentu sudah diketahui semua pihak. Kent juga menyatakan bahwa Trump adalah korban kampanye misinformasi yang diorkestrai oleh Israel. Begitu hebatnya provokasi misinformasi Israel dan Lobi Israel di Amerika, Trump mengalami delusi sehingga yakin bahwa serangan militer atas Iran adalah opsi satu-satunya dalam menyelesaikan masalah yang dibuat Israel. Hal seperti ini, seingat Kent pernah terjadi tahun 2003 saat George Bush (semak) Jr. menyerang Irak, dengan mana Kent menyatakan:
“We cannot make this mistake again ... I cannot support sending the next generation off to fight and die in a war that serves no benefit to the American people nor justifies the cost American lives.” (penyataan Kent dalam akun X-nya).
Mungkin Kent adalah sedikit dari patriot Amerika yang berani berkata tidak pada Israel dan lobi-lobi Israel di Amerika. Namun, posisi kepala US-NCC bukan posisi “kaleng-kaleng”, posisi tersebutlah yang mampu memegang dan membedakan antara fakta dan fiksi. Pekerjaan US-NCC adalah membalikkan fiksi menjadi fakta dan membuat fakta menjadi fiksi. Namun, dari aneka pernyataannya di atas penulis menilai ia menyebutkan fakta. Perang Trump versus Iran adalah bukan perangnya Amerika. Itu perangnya Israel, lobi-lobi Israel, dengan Jared Kushner, menantu Trump sebagai hub mereka.
Dampak lain “kotoran” Netanyahu-Trump adalah berbaliknya Uni Eropa untuk mendekat ke arah Rusia. Hal ini diungkap Viktor Orban, perdana menteri Hungaria agar Uni Eropa membuat Contingency Plan pasca krisis Ukraina-Rusia berakhir. Hungaria yang juga anggota NATO memberi penilaian atas konflik Rusia-Ukraina. Hal ini penting karena seperti diketahui bahwa Rusia dan Cina ada di belakang kekuatan Iran. Orban menyatakan bahwa Rusia seharusnya tidak dieksklusikan dari aneka potensi yang bisa dibangun antara Uni Eropa dengan negara tersebut, dengan mana ia menyatakan:
“The war must be brought to an end, and then we should return to the harmony. If we disagree on that, let’s create a new security and trade system together with the Russians.” (Russia Today, “EU State’s Leader Urges Return to ‘Harmony’ in Ties with Russia.”)
Kerjasama perdagangan dengan Rusia sangat penting bagi Uni Eropa dan NATO karena fakta bahwa Iran akan melawan serangan Amerika hingga jangka lama. Dengan demikian, maka kondisi transportasi energi di Selat Hormuz akan tidak menentu. Hal yang paling dapat dipastikan adalah Uni Eropa dan NATO menjalin saling pengertian dengan Rusia untuk memastikan pasokan energi Rusia ke arah barat berjalan lancar. Perang di Iran adalah perang dua individu, Netanyahu-Trump, bukan perang negara-negara anggota Uni Eropa dan NATO. Sebab itu, Hungaria menyarankan agara Uni Eropa menarik larangan impor energi dari Rusia karena itu sama dengan bunuh diri. Sementara keterlibatan NATO ke selat Hormuz lebih banyak mudarat ketimbang manfaat bagi negara-negara anggotanya, terlebih setelah mereka “dihina” Trump melalui aneksasi Greenland dan pengenaan tarif barang masuk yang “brutal” atas mereka (kendati kini MA AS telah menganulir kediktatoran Trump dalam masalah tarif).
Dalam pernyataan Orban ini (penulis yakin ia tidak sendiri, Spanyol, Italia, dan Jerman kiranya senada) fakta aktual menunjukkan bahwa Selat Hormuz adalah sebuah fait accompli. Iran (tentu dibantu Rusia, Cina, dan Korea Utara) akan menyerang kekuatan militer apa pun yang coba membuat Selat Hormuz lepas dari kendali Iran. Jika pun minyak Iran di Pulau Kharg dihabisi Trump, maka pasokan energi dari Rusia adalah langkah catur Iran kemudian. Aksi brutal Trump di Pulau Kharg ibarat seorang anak kecil yang marah-marah merusak mainan anak lain yang membuat kesal dirinya.
Referensi
Maxim Suchkov, “Iran: The Foreign Policy Puzzle that Keeps Defeating Washington.” 16 Maret 2026.
Voronoi, “Iran Strikes America’s Middle East Bases.”


https://orcid.org/0000-0002-1420-4288
0 Komentar