Ad Code

Kali Ini Trump Kena Batunya

Hal yang perlu dicatat terlebih dahulu adalah prosedur pernyataan perang. Konstitusi AS menyatakan keputusan perang bukan di tangan Presiden, melainkan melalui voting di Kongres. Keputusan Trump dan sohibnya, Netanyahu, membunuh Pemimpin Tertinggi Iran, Khamenei adalah keputusan perang yang inkonsistusional dalam negara demokrasi seperti AS (benarkah AS masih demokratis?).

Mearsheimer & Waltz awal tahun 2000-an telah melansir aneka lobi Zionis Israel agar AS menyerang Irak, Suriah, dan terakhir Iran. Irak sudah menderita aksi polisionil unilateral AS dan rebah. Serangan AS atas Irak tidak membawa demokrasi melainkan mengembang misi "suci" dari Zionis Israel. Dampak misi "suci" tersebut adalah konflik sesama Muslim Irak: Sunni-Syiah. Namun, rakyat Irak cerdas dengan dilakukannya penghentian civil war Sunni-Syiah yang mereka deklarasikan secara terbuka di Mekkah.




Kendati Suriah pun rebah dalam serangan AS, adagium "the result of a war is never absolute" (Carl von Clausewitz) berlaku. AS semakin sulit mengontrol Suriah, terlebih milisi Hezbollah, yang di masa kemudian justru menjadi salah satu kekuatan yang membuat wilayah Israel cacat di sana dan di sini.

Hal yang mengherankan adalah, mengapa AS begitu lama dalam hal "nunut" atas keinginan Zionis-Israel untuk menyerang Iran? Ini pasti ada sesuatunya, yang membuat negara "berhati kecil" seperti AS tidak lekas menuruti syahwat "tuan besarnya." Mengapa baru tahun 2026 "si hati kecil" Trump berani langsung menyerang Iran? Salah satunya sangat dimungkinkan oleh trio tim penasihatnya yang seluruhnya berdarah Yahudi: Kuchner sang mantu dan dua rekan zionisnya. Namun, tentu tidak sesederhana itu.

Kohesi nasional Iran berbeda dengan Irak dan Suriah. Iran bukanlah bangsa Semit melainkan Indo Arya. Dahulunya ia merupakan Kerajaan Persia dengan kekuasaan terpusat. Sama seperti China, kendati tentu dengan banyak perbedaan, terdapat sentralisasi komando di Iran.

Jika di Cina kohesi nasional dirajut oleh ideologi komunis dan kuatnya kedudukan Partai Komunis dalam rekrutmen pejabat, maka di Iran kohesi nasional terjalin melalui anutan Mazhab Syiah. Salah satu doktrin dalam Syiah adalah keadilan dengan patron syahidnya Husayn bin Ali bin Abi Thalib di Padang Karbala akibat dibantai pasukan Yazid bin Muawiyah.

Perang tidak melulu hanya mengandalkan kekuatan militer fisik, sementara kekuatan tersebut masih dijalankan oleh manusia sekalipun Artificial Intelligence telah digunakan. Dalam tradisi Syiah, syahidnya Husayn merupakan ideologi pemersatu (kendati di Iran juga terdapat penganut mazhab Sunni, Yahudi, dan Kristen, tetapi jumlahnya tidak signifikan). Jika AS hendak melakukan taktik adu-domba berdasarkan unsur etnis di Iran, maka agama akan melampaui batasan itu. Syiah, sebagai ideologi akan mengcounter niatan AS mengadu-domba rakyat Iran seperti dahulu mereka pernah lakukan di Irak.

AS juga tidak berhitung, bahwa konsep pemerintahan yang berjalan di Iran bukanlah Kerajaan melainkan Presidium. Presidium ini disebut sebagai Vilayat el-Faqih. Terdapat sekitar 80 ulama dari aneka bidang ilmu, yang keseluruhannya telah memenuhi syarat kepemimpinan baik dalam ilmu agama maupun ilmu manusia. Ke-80 anggota presidium ulama tersebut (faqih) kemudian sepakat menunjuk satu orang sebagai Supreme Leader, yang dalam hal ini adalah Ayatollah Ruhollah Khamenei. AS menyangka bahwa dengan terbunuhnya Khamenei maka akan terjadi degradasi moral atas pasukan Iran. Trump salah besar karena otaknya telah "dislamuri" syahwat Netanyahu.

Sangat mudah bagi presidium para ulama untuk memilih satu satu di antara mereka menjadi Supreme Leader. Khamenei sebelum syahid juga dikabarkan telah merekomendasikan 4 fuqaha Syiah sebagai penerusnya. Hal ini belum ditambah oleh 76 ulama dalam Vilayat el-Faqih yang memiliki garis komando atas seluruh masjid-masjid di provinsi-provinsi Iran. Trump juga, maklum bekas tukang dagang, malas membaca bahwa di setiap shalat Jumat di Iran, muatan khutbah sudah disepakati Bersama dari pusat. Garis besar kebijakan Republik Islam Iran atas Zionis-Israel dan AS telah tersampaikan kepada rakyat Iran, hingga saat ini.

AS, saat masa jayanya (yang kini tinggal menunggu senja) selalu berasumsi bahwa apabila patron utama di suatu negara mereka "polisikan-penjara-bunuh" maka kendali negara tersebut akan oleh. Memang, ini terjadi di Irak, Suriah, Libya, Panama, atau Venezuela. Namun, apabila kita cermati, kepempimpinan puncak di negara-negara tersebut tidaklah padu. Seluruh negara tersebut pun tidak pernah mengalaman embargo ekonomi dari tahun 1979 hingga saat ini. Iran mengalaminya dan mereka kini mandiri.

Sejumlah negara competitor AS seperti AS dan Rusia tentu saja gerah melihat banyaknya pangkalan militer AS di sekujur penjuru dunia. Hingga saat saya tulis artikel ini, tidak ada pernyataan keberatan baik dari Putin maupun Xi Jinping akan niatan Iran membumihanguskan pangkalan-pangkalan militer AS di Timur Tengah. Terlebih, kendatipun sekadar Lembaga kerja sama ekonomi, Iran resmi tergabung ke dalam organisasi multilateral BRICS+ bersama-sama dengan Rusia, Cina, Afrika Selatan, Uni Emirat Arab, Brazil, Indonesia, dan Turki. Tujuan dari organisasi jelas: Melepaskan dunia internasional kepada mata uang Dollar dan dan hegemoni AS. Suatu ikatan ekonomi telah mereka jalin dan bukan tidak mungkin, dukungan diplomatik bahkan militer

Hal yang menarik dari tingkah-polah Trump di Amerika Latin yaitu ancamannya terhadap Kuba untuk dilakukan embargo malah lekas dijawab oleh Rusia dan Kanada. Rusia siap memasok bahan bakar ke Kuba, sementara Kanada siap memasok bahan makanan ke negara calon "korban" brutalitas AS selanjutnya.

Kembali ke persoalan AS-Zionis-Isral versus Iran. Seorang bekas analis Pentagon Michael Maloof menyatakan bahwa serangan AS ke Iran telah melampaui batas yang bisa diatasi dampaknya oleh Trump. Dari sisi AS-Zionis-Israel tidak ada Casus Belli, sementara Iran memiliki hal tersebut. Iran adalah sah untuk menyerang balik AS-Tel Aviv tanpa adanya keraguan dari dunia internasional. Iran adalah negara berdaulat, dan setiap negara berdaulat berhak mempertahankan diri dalam hukum internasional.

Maloof juga menyatakan bahwa serangan AS atas Iran berbeda dari serangan-serangan sepihak mereka atas rezim-rezim Arab dahulu. Serangan AS ke Iran akan mengakibatkan sejumlah negara yang sudah muak dengan perilaku unilateral AS justru kini bersiap melancarkan statement kutukan atas agresi barbar AS tersebut.

Maloof menyatakan "“The United States has always done Israel’s bidding. Netanyahu basically controls Trump.” Pernyataan bekas analis Pentagon ini membuat saya tertawa geli. Dengan "nunutnya" Trump melemparkan kartu apa pun ke meja judi asal disuruh oleh Netanyahu.

Selain itu Maloof juga berujar bahwa Trump itu naif. Ia masih berasumsi kalau para "pentolan" sudah dibunuh, maka komando negara Iran akan kacau. Tidak, Trump sama sekali salah dengan kedungungannya. Maloof melanjutkan, "Regime change is something that is going to be difficult, especially in Iran, where they’re very, very set. They have a government in place." Ini seperti telah saya paparkan sebelumnya bahwa kepemimpian Republik Islam Iran itu sangat berlapis seperti bawang. Kita tidak pernah tahu lapisan mana sesungguhnya yang menjad kartu truf karena setiap "lembar bawang" punya aroma dan fungsi masing-masing.

Dengan sadar Maloof juga menjelaskan bahwa hanya dengan membunuh Supreme Leader Iran, Trump baru sampai pada kulit ari kekuatan ekonomi, militer, dan agama Iran. Salah satu yang sulit diduga adalah the Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) Iran. Dan IGRC ini baru salah satu lapis "bawang" kekuatan Iran.

Hal ini belum lagi ditambah oleh efek luas dari aksi pembelaan diri Iran. Manakala kepentingan Rusia dan Cina terganggu akibat "jahilnya" Trump atas Iran, maka kedua penantang AS tersebut tentu tidak akan tinggal diam. Aneka aksi diplomatik berupa kecaman dan bantuan senjata baik langsung maupun secara proxy bukan tidak mungkin. Ya, kali ini Trum (AS) dan Zionis Israel (Netanyahu) terpaksa harus meminum pil pahit yang kini sudah disodorkan kepada keduanya.

Posting Komentar

0 Komentar