Konflik antara AS-Zionis-Israel melawan Iran pada tahun 2026 bukanlah sekadar episode lain dalam rangkaian panjang intervensi militer Amerika di Timur Tengah. Ini adalah titik balik yang mengungkap dua kegagalan fundamental: Krisis konstitusional di jantung demokrasi AS, dan kesalahan fatal dalam memahami ketahanan sebuah peradaban.
Ketika Presiden Melangkahi Kongres
Konstitusi AS sangat jelas bahwa berdasarkan Pasal I, hanya Kongres yang memiliki wewenang untuk menyatakan perang (Mearsheimer, J. J., & Walt, S. M., 2007). Namun, keputusan Presiden Trump untuk melancarkan serangan besar-besaran ke Iran pada Februari 2026 tidak pernah melalui proses voting di Kongres. Sebaliknya, pemerintahan Trump menggunakan celah dalam “War Powers Resolution of 1973”, yang mengizinkan presiden untuk mengerahkan pasukan ke dalam "hostilities" atau "potential hostilities" tanpa persetujuan Kongres hanya dalam kondisi "imminent threat" (The Conversation, 2026). Menteri Luar Negeri Marco Rubio secara eksplisit menggunakan terminologi spesifik "imminent threat" ketika membahas alasan dimulainya pemboman (The Conversation, 2026).Ironisnya, pernyataan Rubio ini langsung dibantah oleh pejabat intelijen yang ditunjuk sendiri oleh Trump. Seorang pejabat senior intelijen AS mengundurkan diri sebagai protes, dengan pernyataan yang mengejutkan: "Iran posed no imminent threat to our nation, and it is clear that we started this war due to pressure from Israel and its powerful American lobby" (Yahoo News, 2026).
Keputusan Trump ini tidak hanya inkonstitusional—melainkan juga mencerminkan apa yang disebut oleh mantan analis Pentagon Michael Maloof sebagai "the US doing Israel's bidding" (Maloof, 2026). Sebuah resolusi bipartisan yang bertujuan membatasi kemampuan Trump untuk melanjutkan perang di Iran gagal di Senat dengan perolehan suara 53-47, terutama berdasarkan garis partai (BBC, 2026). Ini menunjukkan bahwa Kongres, yang seharusnya menjadi mekanisme check and balance, telah menjadi sekadar stempel legitimasi bagi keputusan eksekutif yang sudah diambil.
Lobi Israel, Fakta dan Konspirasi
Analisis Maloof bahwa "Netanyahu basically controls Trump" (Maloof, 2026) bukanlah pernyataan yang berdiri sendiri. Ini adalah klimaks dari argumen yang telah lama dikembangkan oleh para akademisi. Dalam buku kontroversial mereka The Israel Lobby and U.S. Foreign Policy (2007), John J. Mearsheimer dan Stephen M. Walt mengajukan tesis yang provokatif: Lobi pro-Israel memiliki dampak yang luas terhadap postur Amerika di seluruh Timur Tengah—di Irak, Iran, Lebanon, dan konflik Israel-Palestina—dan kebijakan yang didorongnya tidak menguntungkan kepentingan nasional AS maupun kepentingan jangka panjang Israel (Mearsheimer & Walt, 2007).Teori Mearsheimer dan Walt kini terwujud dalam bentuk yang paling ekstrem. Bukan hanya sekadar lobi, melainkan apa yang disebut oleh sejarawan Israel Ilan Pappe sebagai "codependent destruction" atau "death spiral" AS-Israel (Pappe, 2026). Pappe, seorang sejarawan Israel yang kritis, berpendapat bahwa serangan terhadap Iran memiliki sedikit hubungan dengan nuklir, dan lebih banyak hubungannya dengan proyek Zionis dan upaya Netanyahu untuk menunda persidangan korupsinya sendiri. Menurut Pappe, Netanyahu menyerang Iran untuk menunda proses persidangannya setidaknya "two or three years" (Pappe, 2025).
Kondisi membuat situasi ini semakin tragis adalah bahwa para pembuat kebijakan di Washington gagal belajar dari sejarah. Mearsheimer dan Walt telah memperingatkan bahwa Iran adalah "target yang jauh lebih tangguh" dibandingkan Irak atau Suriah (2007). Namun, Washington sepertinya buta terhadap realitas ini, terjebak dalam paradigma intervensi yang sama yang telah gagal berkali-kali.
Ketahanan Iran, Pahami Bawang, Bukan Batu
Kesalahan paling fatal dalam perhitungan AS adalah menganggap Iran sebagai negara Timur Tengah lainnya. Iran bukan Irak, dan bukan Suriah. Iran adalah peradaban dengan akar sejarah yang dalam, sistem ideologis yang terintegrasi, dan struktur kekuasaan yang multitier.Kohesi Nasional Berbasis Syiah, antara Karbala dan Tehran
Salah satu doktrin sentral dalam Syiah adalah keadilan, dengan figur syahid Husayn bin Ali di Padang Karbala sebagai simbol perlawanan terhadap ketidakadilan. Tradisi ini menciptakan ideologi pemersatu yang melampaui batasan etnis. Seperti yang dicatat dalam analisis oleh India Today (2026), di Iran yang dibentuk oleh Islam Syiah, kemartiran bukan sekadar tentang kematian; ini adalah narasi perjuangan melawan kezaliman yang terus dihidupkan kembali setiap tahun melalui ritual Ashura.
Ketika Ayatollah Khamenei terbunuh dalam serangan AS-Zionis-Israel pada 28 Februari 2026 (Kathmandu Post, 2026; USA Today, 2026), ia segera ditempatkan dalam narasi ini. Ia bukan hanya seorang pemimpin yang gugur, melainkan seorang martir yang melanjutkan warisan Husayn: Mati syahid. Grand Ayatollah Nouri Hamedani segera mengeluarkan pernyataan yang menyerukan persatuan nasional di bawah kepemimpinan Pemimpin Tertinggi berikutnya (Hawzah News Agency, 2025).
Hal yang lebih penting, para ulama Syiah dan Sunni bersatu untuk mengutuk agresi Israel terhadap Iran, dengan sebuah pernyataan bersama yang menekankan bahwa pertahanan Iran telah menyatukan semua komunitas etnis dan agama, memperdalam ikatan di seluruh bangsa (Tehran Times, 2025).
Vilayat el-Faqih, Bawang Lindungi Inti
AS membuat asumsi yang keliru bahwa dengan membunuh Pemimpin Tertinggi, maka sistem kepemimpinan Iran akan runtuh. Ini adalah proyeksi dari pengalaman mereka di Irak, Suriah, Libya, dan Panama—negara-negara dengan struktur kepemimpinan yang relatif terpusat dan tidak memiliki mekanisme suksesi yang terlembaga.
Iran adalah bangsa yang sama sekali berbeda. Konsep Vilayat el-Faqih (Guardianship of the Islamic Jurist) menciptakan struktur kekuasaan yang multitier dan antisipatif. Terdapat sekitar 80 ulama dalam Majelis Ahli yang memenuhi syarat untuk kepemimpinan, baik dalam ilmu agama maupun ilmu manusia. Ini menciptakan "bawang" perlindungan berlapis. Bahkan jika satu lapisan terkelupas, lapisan di bawahnya siap berfungsi.
Proses ini terbukti ketika, dalam waktu sepuluh hari setelah syahidnya Khamenei, Majelis Ahli—terdiri dari 88 ulama senior (Trends Research, 2026)—memilih Ayatollah Mojtaba Khamenei, putra kedua dari Khamenei yang syahid, sebagai Pemimpin Tertinggi ketiga (Verfassungsblog, 2026; Newsweek, 2026). Keputusan ini, apakah kontroversial atau tidak, menunjukkan kemampuan rezim untuk merespons dengan cepat dan mempertahankan kontinuitas. Seperti yang dijelaskan oleh Michael Maloof, "Regime change is something that is going to be difficult, especially in Iran, where they're very, very set. They have a government in place" (Maloof, 2026).
IRGC, Lapisan Bawang Paling Berbahaya
Jika Vilayat el-Faqih adalah sistem saraf, maka Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) adalah otot. IRGC bukan sekadar institusi militer; ia telah berkembang menjadi institusi militer, intelijen, ekonomi, dan politik yang kekuatannya sekarang menyaingi, dan dalam banyak hal melampaui, otoritas klerikal formal (Trends Research, 2026). Maloof memperingatkan bahwa bahkan dengan terbunuhnya Pemimpin Tertinggi, IRGC kemungkinan akan menjaga negara tetap berfungsi sebagai "cohesive nation-state" (Maloof, 2026).
Ini bukan sekadar teori. Setelah serangan, Ketua Parlemen Iran menyatakan bahwa serangan itu telah melampaui "red line" dan menjanjikan tanggapan yang menyakitkan terhadap target Amerika dan Israel, mengkonfirmasi bahwa "Operation True Promise 4" dilakukan hanya beberapa jam setelah syahidnya Khamenei, dan memperingatkan bahwa angkatan bersenjata Iran hanya menggunakan sebagian kecil dari kapasitas mereka (HUM News, 2026).
Dimensi Geopolitik, Mengapa 2026 Berbeda?
Pertanyaan yang mengganggu adalah: Mengapa AS begitu lama dalam memenuhi keinginan Zionis-Israel untuk menyerang Iran? Mengapa baru tahun 2026 Trump "berani" langsung menyerang? Jawabannya terletak pada konstelasi geopolitik yang telah berubah secara fundamental.Internal AS, Tim Penasihat Yahudi dan Ilusi Kontrol
Salah satu faktor yang sangat mungkin adalah pengaruh tim penasihat Trump yang seluruhnya berdarah Yahudi, termasuk Jared Kushner (menantu Trump) dan dua rekan Zionisnya. Namun, seperti yang dicatat oleh Maloof, waktu serangan kemungkinan telah dimatangkan selama kunjungan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu ke Mar-a-Lago pada 12 Februari 2026, meskipun Trump secara publik bersikeras bahwa negosiasi dengan Tehran sedang berlangsung (Maloof, 2026). Ini menunjukkan bahwa keputusan perang mungkin telah dibuat bukan berdasarkan penilaian intelijen AS, melainkan berdasarkan agenda politik Netanyahu.
Eksternal, BRICS, Rusia, Cina, dan Akhir Hegemoni Dolar
Hal yang paling signifikan adalah bahwa Iran sekarang adalah anggota BRICS+, sebuah organisasi multilateral yang tujuannya jelas: Melepaskan dunia internasional dari ketergantungan pada dolar AS dan hegemoni AS. Presiden Iran Ebrahim Raisi menyatakan bahwa keanggotaan Iran dalam BRICS akan memperkuat pendekatan berprinsip kelompok tersebut, termasuk oposisi terhadap unilateralisme AS di arena internasional (Embassy of the Islamic Republic of Iran, 2026).
Ini bukan sekadar retorika. Sebelum serangan, Rusia, Cina, dan Iran telah melakukan latihan angkatan laut gabungan di Selat Hormuz, yang disebut "Maritime Security Belt 2026" (AA.com.tr, 2026). Latihan ini, bersama dengan latihan BRICS Plus lainnya, menunjukkan tingkat koordinasi militer yang belum pernah terjadi sebelumnya antara negara-negara yang menentang hegemoni AS. Seperti yang dikatakan Maloof, serangan ini "are gonna affect the whole economic world order, literally overnight" (Maloof, 2026).
Trump Fatal Salah, Pelanggaran Casus Belli dan Hukum Internasional
Michael Maloof menyatakan bahwa serangan AS ke Iran telah melampaui batas yang bisa diatasi dampaknya oleh Trump. Dari sisi AS-Zionis-Israel tidak ada Casus Belli, sementara Iran memilikinya. Iran adalah negara berdaulat, dan setiap negara berdaulat berhak mempertahankan diri dalam hukum internasional (Maloof, 2026).Mearsheimer, dalam analisisnya pada Maret 2026, memperingatkan bahwa AS sekarang berada dalam "long war—a war of attrition" dan bahwa Iran dapat menyebabkan kerusakan besar pada ekonomi global, sementara Amerika Serikat tidak akan mampu mencegahnya (Mearsheimer, 2026). Seperti yang dikatakan Mearsheimer, "We did not achieve a quick and decisive victory, and we're now in a long war—a war of attrition" (RealClearPolitics, 2026).
Pil Pahit yang Telah Tertelan
Trump, AS, dan Zionis Israel telah membuat kesalahan perhitungan yang monumental. Mereka mengira bahwa dengan membunuh seorang pemimpin, mereka bisa membunuh sebuah ideologi. Mereka mengira bahwa dengan mengebom sebuah negara, mereka bisa membubarkan sebuah peradaban. Mereka salah dalam melakukan kalkulasi karena mereka semua manusia yang juga bisa salah.
Iran telah menunjukkan ketahanan yang luar biasa. Sistem Vilayat el-Faqih memastikan suksesi yang cepat dan stabil. Narasi Syiah tentang kemartiran mengubah kekalahan menjadi kemenangan moral. Dan keanggotaan Iran dalam BRICS+ memberikannya dukungan diplomatik dan ekonomi dari kekuatan-kekuatan yang menyaingi AS.
Seperti yang dikatakan oleh mantan analis Pentagon Michael Maloof, Trump telah "bit off more than he could chew" (Maloof, 2026). Dan kini, AS dan sekutu Zionisnya terpaksa harus meminum pil pahit yang sudah terlanjur mereka telan. Pertanyaannya bukan lagi apakah akan ada konsekuensi, tetapi seberapa parah konsekuensi tersebut, dan berapa lama dunia akan menderita akibat petualangan militer yang tidak perlu dan inkonstitusional ini.
Sebuah perang yang dimulai dengan pelanggaran konstitusi mungkin akan berakhir dengan pelanggaran terhadap perdamaian dunia. Dan dalam permainan catur geopolitik ini, AS mungkin baru menyadari bahwa mereka telah mengorbankan ratu untuk merebut pion.
Daftar Pustaka
BBC. (2026, March 1). Did Trump declare war and did Congress approve Iran attacks? What to know. BBC News. https://www.bbc.co.uk/news/articles/c626ljyvmg3oEmbassy of the Islamic Republic of Iran. (2026, March 28). Iran's BRICS membership to strengthen opposition to US unilateralism: President Raisi. https://china.mfa.gov.ir/en/PrintNews/728326
HUM News. (2026, March 1). After Khamenei's death: Iran rallies nation, mobilises forces for response. https://humenglish.com/latest/after-khameneis-death-iran-rallies-nation-mobilises-forces-for-response/
India Today. (2026, March 23). From Karbala to conflict zones: How 'martyrdom' fuels Iran war. https://www.indiatoday.in
Kathmandu Post. (2026, March 1). Iranian leader Khamenei killed in strikes, Trump says. https://kathmandupost.com/world/2026/03/01/iranian-leader-khamenei-killed-in-strikes-trump-says
Maloof, M. (2026, March 1). Trump bit off more than he can chew with Iran – ex-Pentagon analyst. RT. https://rtnewsru.com/news/633285-us-strikes-iran-maloof/
Mearsheimer, J. J., & Walt, S. M. (2007). The Israel lobby and U.S. foreign policy. Farrar, Straus and Giroux.
-----, J. J. (2026, March 20). Iran can do a lot of damage, U.S. has no good exit strategy. RealClearPolitics. https://www.realclearpolitics.com
Pappe, I. (2025, June 18). Israeli scholar says Netanyahu attacked Iran to delay his court prosecution. World News. https://worldnews.whatfinger.com
-----, I. (2026, March 11). The war on Iran: Immoral allies, false claims and unnecessary bloodshed. Verso Books. https://www.versobooks.com
RealClearPolitics. (2026, March 20). Mearsheimer: Iran can do a lot of damage, U.S. has no good exit strategy. https://www.realclearpolitics.com
Tehran Times. (2025, September 12). Shia and Sunni scholars unite to condemn Israeli aggression against Iran. https://www.tehrantimes.com
The Conversation. (2026, March 11). Congress still has ways to throttle back Trump's war with Iran – and to ask questions. https://theconversation.com/congress-still-has-ways-to-throttle-back-trumps-war-with-iran-and-to-ask-questions-277813
Trends Research. (2026, March 13). The declining legitimacy of absolute Velayat-e Faqih: Security implications for Iran, the region, and the world. https://trendsresearch.org
USA Today. (2026, February 28). Iran confirms leader Khamenei's death. Maps, images show US attack. https://www.usatoday.com
Verfassungsblog. (2026, March 11). After Khamenei: The succession problem at the heart of Iran's constitutional order. https://verfassungsblog.de
Yahoo News. (2026, March 18). 'Iran posed no imminent threat to our nation': Trump-appointed intelligence official resigns over Iran war. https://au.news.yahoo.com

https://orcid.org/0000-0002-1420-4288
0 Komentar
Silakan tulis komentar Anda.