Kendati AS adalah motor perlakuan embargo ekonomi atas Iran, tetapi sejak tahun 1990 Iran terus melakukan pendekatan kepada AS guna memulihkan hubungan dan menyelesaikan sejumlah perbedaan. Namun, tulis Mearsheimer & Walt, "Amerika Serikat juga telah menjalankan kebijakan-kebijakan umum Timur Tengah yang mencerminkan keberpihakannya kepada Israel." Keduanya melanjutkan :
Sejak awal tahun 1990-an ... kebijakan Amerika terhadap Iran telah sangat dipengaruhi oleh keinginan pemerintahan demi pemerintahan yang siih berganti di Israel. Teheran telah melakukan beberapa upaya dalam beberapa tahun terakhir untuk memperbaiki hubungan dengan Washington dan mulai menjembatani perbedaan-perbedaan menonjol di antara keduanya, tetapi Israel dan para pendukungnya di Amerika telah berhasil menghambat upaya peredaan permusuhan antara Iran dan Amerika Serikat, dan membuat kedua negara itu tetap saling berjauhan.
Mearsheimer & Walt memberikan contoh, sikap pemerintahan Bush (Semak) Junior selama prang Israel melawan Lebanon di musim panas 2006. Mayoritas negara di dunia mengutuk aksi pemboman Israel yang menewaskan lebih dari 1000 penduduk Lebanon, dan mayoritasnya adalah rakyat sipil, bukan militer. Apa sikap Amerika? Anda tentu sudah tahu, AS justru memuji "pemusnahan manusia" oleh Israil seraya membantu Israel untuk melanjutkan pengeboman atas Lebanon.
![]() |
| Kartun Karya Kartunis Perancis, Eropa Pun Sudah Muak |
Bekas presiden AS Jimmy Carter (dulu pedagang kacang yang sukses) adalah pendukung hardliner Israel. Namun, mungkin Allah swt membolak-balik hatinya, Carter pun membuat buku berjudul Palestine: Peace Not Apartheid. Apa isi buku itu?
Isi buku tersebut intinya imbauan pribadi Carter agar Amerika memperbarui cara mereka dalam proses perdamaian dunia yang selama ini semacam "togog nunut Israil" menjadi lebih proporsional. Memang, Carter secara tegas tetap membela Israil, tetapi Carter menegaskan bahwa:
... kebijakan-kebijakan Israel di Wilayah Pendudukan mirip dengan dengan kebijakan-kebijakan rezim apartheid Afrika Selatan dan mengatakan secara terbuka bahwa kelompok-kelompok pro-Israil membuat pemimpin-pemimpin Amerika Serikat sulit menekan Israel untuk mengusahakan perdamaian, sejumlah anggota kelompok ini melancarkan sebuah kampanye perusakan nama baik yang tidak patut kepadanya. Selain menuduh Carter anti-Semit dan "pembenci Yahudi" beberapa pengkritik bahkan menyebutnya bersimpati kepada Nazi.
Luar biasa memang lobi-lobi Israil di Amerika. Hampir semua lini berita mainstream seperti CNN, Reuter, Fox, BBC, MSNBC, dan sejenisnya dikendalikan "saham" Zionis. Di Amerika, persepsi itu sangat penting, terlebih bagi calon yang hendak maju ke Pilpres AS. Sedikit saja mereka dianggap "anti-Semit" atau "anti-Zionis" maka "koreng-koreng" lama masa muda mereka bermunculan di aneka media. Hal ini memunculkan sikap phobia para calon presiden Amerika yang rata-rata punya "cacat moral", minimal di masa muda mereka. Jika cacat tersebut terpublikasi di media massa, tamatlah karir politik mereka. Itulah sebabnya, lobi Zionis itu ibarat mafia dan banyak bos mafia itu Zionis seperti Bugsy Siegel, Meyer Lansky, atau Charlie Luciano. Itu yang kelas "teri." Kalau yang kakap tentu saja Rothschild cs, Schiff cs, Loeb cs, dan masih banyak lagi.
Tahukah Anda manakala negara Israil belum berdiri 1948, tepatnya saat Theodore Herzl, dedengkot Zionis datang ke Tanah Palestina, dan apa yang dikatakan seorang Rabi Yahudi asli Palestina atas diri Herzl? Ini kata dia:
" ... Evil entered with him, and we do not yet know what we have to do against the destroyers of the totality of Israel, may the Lord have mercy."
Rabi itu bernama Joseph Hayyim Sonnenfeld. Umat Yahudi, masing-masing, mempercayai ucapan rabi mereka. Dengan demikian, ucapan Sonnenfeld bukan omongan warung kopi, melainkan nubuat. Nubuat Sonnenfeld kita telah terbukti: Israil adalah bangsa yang paling banyak terkena resolusi DK PBB (yang mandul), paling banyak melakukan genosida baik di Palestina maupun Lebanon, dan perusak perdamaian minimal di Timur Tengah.
Mearsheimer & Walt pernah melakukan survei. Kesimpulannya sebanyak 40% warganegara AS mengakui bahwa dukungan AS kepada Zionis merupakan penyebab munculnya sikap Anti Amerika di seluruh dunia. Persentase ini (40%) bahkan lebih besar lagi di kalangan elit Amerika.
Sebagai contoh, dalam sebuah polling Oktober 200, 39% responden rakyat Amerika yakin bahwa "kerja lobi Israel terhadap Kongres dan pemerintahan Bush telah menjadi sebuah faktor kunci untuk keputusan berperang di Irak dan memusuhi Iran." Bagi rakyat Amerika, Perang Irak (sama dengan Iran) adalah "wasted war" atau perang sampah. Amerika ibarat hanya menjadi petugas pembuang sampah-sampah busuk, dengan Israil sebagai mandornya. Atau dengan kata lain, Pemerintah Amerika, dari Bush (semak) Senior sampai dengan Donald Trump adalah petugas pembuang sampai busuk Israil. Boleh saja mereka berkoar-koar sebagai negara besar, tetapi public internasional hanya tertawa dalam hati sebab mereka tidak lebih dari sekadar jongos Israil.
Sedikit kita tarik mundur ke belakang. Perang terbuka antara Israil dengan negara-negara Arab pro Palestine terjadi tahun 1967 (terkenal sebagai Perang Enam Hari). Memang negara-negara pro Palestina belum ditakdirkan Allah swt untuk menang. Namun, sejak 1967 dan selama 4 dasawarsa setelahnya, Amerika mengalami "extortion" dari Israil. Pemerasan tersebut berwujud dukungan diplomatik, mengerdilkan semua negara yang mengkritik kebuasan Israil atas Palestina, "bantuan maksa" material, dan "bantuan maksa" non material. Semua bantuan Amerika atas Israil itu aneh: SEMUA TANPA SYARAT. Ini entah Pemerintah Amerika itu "dermawan" atau memang "pribadi lemah tak punya prinsip." Silakan pembaca menilai sendiri. Inilah sejumlah faktanya.
Israil adalah "negara" penerima terbesar bantuan luar negeri Pemerintah Amerika (saya sebut pemerintah, karena rakyat Amerika tentu lebih cerdas dari presiden mereka). Bantuan uang tersebut diambil Pemerintah Amerika dari pajak yang dibayarkan rakyat Amerika. Hingga tahun 2005, bantuan langsung Pemerintah Amerika dalam bidang ekonomi dan mliter kepada Israil adalah sebesar 154.000.000.000 Dollar. Seratus lima puluh empat milyar Dollar Amerika! Silakan pembaca dari Indonesia konversikan nilai tersebut ke Rupiah sesuai kurs Dollar-Rupiah tahun 2005 (ambil saja perkiraan kasarnya). Bukan main besarnya.
Mayoritas bantuan tersebut adalah HIBAH. Sekali lagi HIBAH. Jadi Israil ibarat preman yang menerima setoran dari juru-juru parkir kliennya. Juru parkir yang kehujanan dan kepanasan (belum diomeli emak-emak), si preman duduk manis sambil "menembaki" warga-warga Arab dan Palestina yang mereka delusikan sebagai teroris. Sungguh "negara" yang paling bahagia di muka bumi. Kini, banyak warga negara Amerika Serikat yang tinggal di kemah-kemah, kendaraan pribadi, karena sewa apartemen yang melebihi gaji mereka. Di lain pihak, dengan "Bahagia dan bangganya" Pemerintah mereka menggelontorkan uang begitu besar kepada "orang-orang asing di Timur Tengah" yang bahkan tak pernah akur dengan tetangga mereka sendiri.
Perlu juga pembaca catat, bahwa sering kali bantuan Pemerintah Amerika kepada Israil dilakukan "di Bawah tangan." Ini untuk mengelabui rakyat mereka sendiri. Bantuan langsung Pemerintah Amerika kepada Israil diberikan melalui prosedur resmi yang "sangat khusus". Selain "bantuan resmi yang sangat khusus", bantuan juga diberikan dalam bentuk-bentuk yang tidak termasuk dalam anggaran bantuan luar negeri. Di sini kita bertanya, masihkah Anda percaya bahwa Amerika Serikat itu negara Demokrasi? Tidak bagi saya, hakikatnya Amerika Serikat itu mirip dengan Indonesia. Demokrasi mereka adalah sekadar Demokrasi Prosedural, bukan Demokrasi Substansial. Bagi pakar Demokrasi macam Robert Dahl, salah satu indikator Demokrasi Substansial adalah Tranparansi Agenda. Lalu, bagaimana hukumnya kalau Pemerintah Amerika memberi bantuan kepada negara lain, dengan mana uang bantuan tersebut berasal dari pajak rakyat mereka lewat "debt-collector" mereka: IRS.
Pada tahun fiskal 1999, Pemerintah Amerika setiap tahunnya memberikan bantuan luar negeri sebesar 3.000.000.000 Dollar kepada Israil. Ingat, 3 milyar Dollar per tahun hanya untuk sang bos: Israil. Dengan bantuan jenis ini, maka rakyat Israil mampu menikmati subsidi 500 Dollar AS per tahun. Lalu, bagaimana nasib rakyat-warganegara Amerika sendiri? Silakan anda cari dan jangan kaget bahwa rakyat Amerika sendiri seperti "anak tiri" jika dibandingkan rakyat Israil.
Belum lagi adanya komitmen Pemerintah Amerika untuk memberikan bantuan militer kepada Israil sebesar 60.000.000 Dollar per tahun. Tidak mengherankan bahwa Israil adalah adidaya militer di Timur Tengah. Namun, Allah swt berkehendak lain. Sekujur wilayah Israil luluh lantak oleh rudal-rudal sederhana Iran seperti Burung Ababil. Pertahanan Udara Israil cuma mitos dan isapan jempol. Atau, apakah bantuan-bantuan tersebut dikorupsi oleh para pejabat Israil? Penulis tidak akan terkejut jika itu terjadi.
Baiklah, sebenarnya banyak fakta yang diungkap Mearsheimer & Walt. Silakan anda baca sendiri untuk detailnya. Tulisan ini sekadar mengingatkan bahwa hingga saat ini janganlah pernah fancy imagination bahwa Pemerintah Amerika akan meninggalkan Israil. "Koreng-koreng" para pejabat desisif Pemerintah Amerika sudah ada di meja kerja Netanyahu, sang bos preman. Dan Pemerintah Amerika sekadar kacung, dan memang itulah nasib mereka.
Perlu juga pembaca catat, bahwa sering kali bantuan Pemerintah Amerika kepada Israil dilakukan "di Bawah tangan." Ini untuk mengelabui rakyat mereka sendiri. Bantuan langsung Pemerintah Amerika kepada Israil diberikan melalui prosedur resmi yang "sangat khusus". Selain "bantuan resmi yang sangat khusus", bantuan juga diberikan dalam bentuk-bentuk yang tidak termasuk dalam anggaran bantuan luar negeri. Di sini kita bertanya, masihkah Anda percaya bahwa Amerika Serikat itu negara Demokrasi? Tidak bagi saya, hakikatnya Amerika Serikat itu mirip dengan Indonesia. Demokrasi mereka adalah sekadar Demokrasi Prosedural, bukan Demokrasi Substansial. Bagi pakar Demokrasi macam Robert Dahl, salah satu indikator Demokrasi Substansial adalah Tranparansi Agenda. Lalu, bagaimana hukumnya kalau Pemerintah Amerika memberi bantuan kepada negara lain, dengan mana uang bantuan tersebut berasal dari pajak rakyat mereka lewat "debt-collector" mereka: IRS.
Pada tahun fiskal 1999, Pemerintah Amerika setiap tahunnya memberikan bantuan luar negeri sebesar 3.000.000.000 Dollar kepada Israil. Ingat, 3 milyar Dollar per tahun hanya untuk sang bos: Israil. Dengan bantuan jenis ini, maka rakyat Israil mampu menikmati subsidi 500 Dollar AS per tahun. Lalu, bagaimana nasib rakyat-warganegara Amerika sendiri? Silakan anda cari dan jangan kaget bahwa rakyat Amerika sendiri seperti "anak tiri" jika dibandingkan rakyat Israil.
Belum lagi adanya komitmen Pemerintah Amerika untuk memberikan bantuan militer kepada Israil sebesar 60.000.000 Dollar per tahun. Tidak mengherankan bahwa Israil adalah adidaya militer di Timur Tengah. Namun, Allah swt berkehendak lain. Sekujur wilayah Israil luluh lantak oleh rudal-rudal sederhana Iran seperti Burung Ababil. Pertahanan Udara Israil cuma mitos dan isapan jempol. Atau, apakah bantuan-bantuan tersebut dikorupsi oleh para pejabat Israil? Penulis tidak akan terkejut jika itu terjadi.
Baiklah, sebenarnya banyak fakta yang diungkap Mearsheimer & Walt. Silakan anda baca sendiri untuk detailnya. Tulisan ini sekadar mengingatkan bahwa hingga saat ini janganlah pernah fancy imagination bahwa Pemerintah Amerika akan meninggalkan Israil. "Koreng-koreng" para pejabat desisif Pemerintah Amerika sudah ada di meja kerja Netanyahu, sang bos preman. Dan Pemerintah Amerika sekadar kacung, dan memang itulah nasib mereka.

https://orcid.org/0000-0002-1420-4288
0 Komentar