Mengapa penulis menyebut “di atas kertas” ? Ini akibat adagium Clausewitz bahwa “war is a mere continuation from politics by other means.” Ya, perang (dalam hal ini agresi Amerika Serikat dan Israel serta upaya bela-diri Iran) sekadar kelanjutan dari masalah politik internasional dalam satu wujud. Wujud-wujud politik lainnya adalah spione-kontraspionase, diplomasi, informasi-misinformasi, reciprocal-statement, perihal casus belli, dan lain sebagainya.
Iran, sama seperti Irak, Libya, dan Suriah, adalah negara yang dizolimi oleh Amerika Serikat atas hasutan Israel. Kini, Iran sedang membela kedaulatan tanah airnya dan sesuai konstitusi Indonesia, penjajahan di atas dunia harus dihapuskan. Tidak ada alasan apa pun bagi Indonesia untuk mendukung tindakan Amerika dan Israel.
Jika Anda buka situs di atas maka Anda akan dipampangkan peringkat kekuatan militer negara-negara di dunia. Penulis klik tahun 2026 (karena sekarang ‘kan tahun “kuda” 2026, kan). Hasilnya adalah sebagai berikut:
Dari hasil kompilasi data situs ini, maka seperti biasa “the American First, Not Israel First” ada di puncak tangga dengan Power Indeks 0,0741 tetapi dari tahun sebelumnya stagnan. Demikian pula negara Vladimir Putin di peringkat ke-2 dengan Power Indeks 0,0791. Tidak terlalu jauh selisihnya. Di peringkat ke-3 hadir China dengan Power Indeks 0,0919 dan ini sama dengan kekuatan tahun sebelumnya (stabil). Di peringkat ke-4 terdapat India dengan Power Indeks 0,1346 dan seperti China, kekuatan ini sama dengan tahun sebelumnya. Di peringkat ke-5 secara “agak mengejutkan” tampil Korea Selatan dengan Power Indeks 0,1642 kendati pun indeks ini stabil dari tahun sebelumnya.
Sumber:
https://www.globalfirepower.com/countries-listing.php
Dari hasil kompilasi data situs ini, maka seperti biasa “the American First, Not Israel First” ada di puncak tangga dengan Power Indeks 0,0741 tetapi dari tahun sebelumnya stagnan. Demikian pula negara Vladimir Putin di peringkat ke-2 dengan Power Indeks 0,0791. Tidak terlalu jauh selisihnya. Di peringkat ke-3 hadir China dengan Power Indeks 0,0919 dan ini sama dengan kekuatan tahun sebelumnya (stabil). Di peringkat ke-4 terdapat India dengan Power Indeks 0,1346 dan seperti China, kekuatan ini sama dengan tahun sebelumnya. Di peringkat ke-5 secara “agak mengejutkan” tampil Korea Selatan dengan Power Indeks 0,1642 kendati pun indeks ini stabil dari tahun sebelumnya.
Di peringkat ke-6 hadir salah satu negara Eropa yang pernah bersitegang dengan Donald Trump, dengan mana negeri “flamboyan” yang mengakui kemerdekaan Palestina ini memiliki Power Indeks sebesar 0,1798. Indeks ini menguat dari tahun sebelumnya sehingga dapat dikatakan kapasitas militer Perancis bertambah kuat. Di peringkat ke-7, juga secara “agak mengejutkan” muncul Jepang, negara yang secara militer “dikebiri” oleh Amerika Serikat. Jepang memiliki Power Indeks sebesar 0,1876 dan sama dengan Korea Selatan, indeks ini mengalami penguatan ketimbang tahun sebelumnya. Apakah ini merupakan indikasi bahwa Jepang mulai “mbalelo” kepada Amerika Serikat, negara yang pernah merusak dan memusnahkan ratusan ribu warga negaranya tahun 1945 dengan “sesuatu” yang dijatuhkan dari sebuah entitas bernama Inola Gay? Entahlah
Mari kita lanjutkan. Di peringkat ke-8 hadir Inggris, negara yang kini secara simbolik dikepalai seorang raja. Kekuatan militer Inggris mengalami penurunan dari tahun sebelumnya dengan Power Indeks 0,1881. Duduk di peringkat ke-9 adalah Turkiye dengan Power Indeks dengan Power Indeks stabil dari tahun sebelumnya sebesar 0,1975. Pada peringkat ke-10 duduk Italia, salah satu anggota NATO yang pernah bersitegang dengan Trump soal Greenland. Italia memiliki Power Indeks 0,2211 dan ini stabil dari tahun sebelumnya.
Sebuah negara Amerika Latin, yaitu Brazil duduk di peringkat ke-11 dengan nilai 0,2374 dalam hal Power Indeksnya. Indeks ini stabil dari tahun sebelumnya. Di peringkat ke-12 kembali sebuah negara anggota NATO yaitu Jerman dengan Power Indeks sebesar 0,2463. Kekuatan militer Jerman mengalami kenaikan ketimbang tahun sebelumnya. Pada peringkat ke-13 secara unit ditempati oleh Indonesia dengan Power Indeks sebesar 0,2582. Kendati indeks ini stabil ketimbang tahun sebelumnya, kemungkinan besar indeks ini membuat negara lain berpikir untuk “macam-macam” dengan negara yang pernah menewaskan Brigadir Jenderal Mallaby dari Inggris tahun 1945.
Pada peringkat ke-14 duduk Pakistan, sebuah negara pemilik senjata nuklir sama seperti Amerikiyya, Rusia, Cina, India, Inggris, dan Perancis. Power Indeks Pakistan yang terus bersitegang dengan India adalah 0,2626 dan ini merupakan kenaikan ketimbang tahun sebelumnya. Setelah Pakistan, duduk di peringkat ke-15 adalah “mandor” Amerika, Israel dengan Power Indeks 0,2707 dan ini stagnan ketimbang tahun sebelumnya. Kemungkinan akibat sedang banyak memperbaiki fasilitas militernya yang hancur-hancuran dihajar rudal-rudal “abaabiil” Iran tahun lalu. Dimona, fasilitas nuklir kebanggaan Israel pun “ledes” dihajar drone-drone Iran. Segera setelah Israel, hadir Iran, sebuah negara Islam yang dizolimi Israel dan kacungnya, Amerika. Power Indeks Iran adalah 0,3199 dan ini stabil ketimbang tahun sebelumnya.
Pada peringkat ke-17, hadir tetangga selatan Indonesia yaitu Australia. Negara yang juga mendukung kemerdekaan Palestina ini memiliki Power Indeks sebesar 0,3208 dan ini merupakan kenaikan ketimbang tahun sebelumnya. Pada peringkat ke-18 duduk Spanyol dengan Power Indeks sebesar 0,3247 dan ini adalah penurunan ketimbang tahun sebelumnya. Sangat mungkin diakibatkan adanya krisis ekonomi internal. Di peringkat ke-19 hadir Mesir yang kini dipimpin Jenderal Asisi dengan Power Indeks 0,3651 dan posisi ini stabil seperti tahun sebelumnya. Di bawah Mesir, tepatnya di peringkat ke-20 duduk Ukraina, negara nan indah namun sayang dipimpin seorang badut bernama Zelensky. Power indeks negara ini stagnan seperti tahun sebelumnya yaitu 0,3691.
BRICS+
Mungkin lain kali penulis akan mendalami masalah BRICS+. Untuk sementara kita gunakan asumsi organisasi multilateral ini dihubungkan dengan pemeringkatan kekuatan militer berdasarkan data di situs ini. Perhatikan bahwa dalam 20 besar negara dengan Power Indeks militer terbesar di dunia, terdapat negara-negara seperti Russia, China, India, Brazil, Indonesia, Iran, dan Mesir. Memang, BRICS+ bukan aliansi militer melainkan organisasi multilateral berbasiskan kerja sama ekonomi. Namun, patut diingat bahwa perang itu boros sumber daya. Negara yang lemah ekonominya otomatis akan lemah kekuatan militernya. Dari mana mereka punya dana memproduksi senjata, tank, rudal balistik, bahkan hulu ledak nuklir yang mahal itu?
Tujuan BRICS+ utamanya adalah mengimbangi dominasi World Bank dan Internasional Monetary Fund yang berbasiskan Dollar sebagai alat tukar. Strategi BRICS+ adalah mendirikan New Development Bank dengan tujuan mengatasi permasalah ekonomi, fiskal, dan moneter negara-negara anggotanya. Kendati kini BRICS+ dengan NDB-nya masih kerap disamakan dengan G-7 atau G-20, tetapi ideologi yang mendasari didirikannya BRIC (sebelum menjadi BRICS+) adalah sebagai imbangan arogansi Dollar dan Amerika Serikat, termasuk para bankir Zionis mereka, di pasar ekonomi dan uang global. Dalam organisasi multilateral tidak ada yang tidak mungkin. Di atas kertas, jika seluruh negara anggota BRICS+ yang masuk 20 besar kekuatan militer global 2026 membela Iran, maka “di atas kertas” Israel dan Amerika “secara angka” kalah.
Apakah Power Indeks Militer Itu ?
Menurut situs ini, hitungan Power Indeks terdiri atas 60 indikator faktor individual. Ke-60 faktor tersebut digunakan untuk menentukan skor Power Indeks suatu negara. Di antara ke-60 faktor individual tersebut di antaranya adalah kuantitas unit-unit militer serta kapasitas finansial (keuangan) hingga kapabilitas logistik demi mendukung perang serta wilayah geografis.
Masih menurut penulis situs ini, semakin skor Power Indeks suatu negara mendekati nilai 0,0000 (angka digit di belakang koma adalah 4) maka kekuatan militer negara tersebut dianggap sempurna.
Demikian pula sebaliknya, semakin jauh dari nilai 0,0000 maka semakin lemah kekuatan militer mereka. Tentu saja, penulis situs ini bukan Tuhan Yang Maha Tahu. Penulis situs ini hanya melakukan ikhtiar guna mewaspadai agar dunia internasional saling cek dan saling awasi agar perang tidak terjadi.
Namun, sudah insting dasar bawaan evolusi bahwa manusia adalah mamalia yang sangat teritorial. Setiap negara adalah individu yang selalu ingin menjadi alpha male. Dengan menjadi alpha male maka ia akan menjadi distributor sumber daya langka, baik bagi dirinya (negaranya) sendiri maupun bagi negara lain. Embargo atas Iran sejak 1979 terjadi karena Amerika Serikat menganggap diri mereka sebagai alpha male, sementara saingannya saat itu yaitu Uni Soviet adalah negara yang sedang menderita dystopia Karl Marx.
Namun, sudah insting dasar bawaan evolusi bahwa manusia adalah mamalia yang sangat teritorial. Setiap negara adalah individu yang selalu ingin menjadi alpha male. Dengan menjadi alpha male maka ia akan menjadi distributor sumber daya langka, baik bagi dirinya (negaranya) sendiri maupun bagi negara lain. Embargo atas Iran sejak 1979 terjadi karena Amerika Serikat menganggap diri mereka sebagai alpha male, sementara saingannya saat itu yaitu Uni Soviet adalah negara yang sedang menderita dystopia Karl Marx.
Militer Iran versi Global FirePower
Jika kita pelajari di atas kertas maka akan tampak kekuatan militer negara agresor (Amerika Serikat dan Israel) serta negara terzolimi (Iran). Iran memiliki Power Indeks sebesar 0,3199 per tanggal 20 Januari 2026. Analisis ini tentu akan terus berkembang akibat faktor yang tidak disebutkan di dalam situs mini. Misalnya suplai senjata dan atau manpower dari Rusia, Cina, India, dan Turki ke Iran. Namun, untuk tulisan ini, penulis fokus pada data dari situs ini saja.
Iran merupakan anggota aktif dari aliansi OPEC (Organization of the Petroleum Exporting Countries). Selain itu Iran juga berada dalam Top Ten produsen minyak mentah, sumber daya yang semakin kritis ketersediaannya di dunia. Juga, Iran merupakan Top Ten dalam hal produsen Gas Alam di dunia. Seperti kita ketahui, negara-negara NATO banyak berpikir-ulang dalam membantu Ukraina saat Rusia mengancam akan menghentikan penyaluran gas alam ke Eropa. Jika NATO nekat, maka rakyat Eropa Barat akan menggigil bahkan beku di saat musim dingin, selain bahan bakar transportasi yang harganya bakal meroket.
Secara umum, situs ini memberikan peringkat Excellent (Istimewa), Good (Baik), Average (Rata-rata), Fair (Sekadar Lumayan), dan Poor (Buruk). Di dunia internasional, populasi Iran adalah Excellent yaitu peringkat 17 dari 145 negara. Selain itu sumber daya manusia yang dapat dipersiapkan untuk berangkat ke medan perang adalah peringkat 15 dari 145 negara sementara sumber daya manusia yang benar-benar dapat dipersiapkan untuk segera ikut perang adalah peringkat 14 dari 145 negara. Dari kedua indikator ini, Iran dikategorikan sebagai Excellent.
Sekarang berapa peringkat Iran perihal Personil Militer Aktif? Peringkatnya adalah ke-8 dari 145 negara di dunia dan ini dikategorikan Excellent. Selain itu, Iran juga berkategori Excellent dalam hal sumber daya manusia sebagai militer cadangan yaitu peringkat 24 dari 145 negara berikut pula Excellent dalam hal kekuatan Paramiliter yaitu peringkat 9 dari 145 negara.
Dalam hal kekuatan Aircraft, Iran juga berkategori Excellent dengan peringkat 21 dari 145 negara, demikian pula Pesawat Tempur Iran berkategori Excellent dengan peringkat 15 dari 145 negara. Kategori Good dimiliki Iran dalam hal kepemilikan Pesawat Khusus Serang, yaitu peringkat 28 dari 145 negara. Namun, untuk Pesawat Angkut Personil, Iran adalah Excellent yaitu peringkat 7 dari 145 negara. Kendati pun untuk Ragam Jenis Pesawat Latih, Iran hanya berkategori Good yaitu peringkat 28 dari 145 negara di dunia. Namun, khusus untuk Kekuatan Udara Misi Khusus seperti Airborne Early Warning (AEW), Maritime Patrol Aircraft (MPA) ataupun Electronic Warfare (EW) Iran dikategorikan Excellent dengan peringkat 22 dari 145 negara di dunia.
Kekuatan Helikopter dan Helikopter Serang Iran dikategorikan Good, yang secara berturut-turut peringkat 32 dan 32 dari 145 negara. Namun, untuk kekuatan Tank, kategori Iran adalah Excellent dengan rasio peringkat 8 dari 145 negara dunia. Demikian pula, kategori Excellent untuk Ragam Kendaraan Tempur (yaitu Armored Fighting Vehicle, yang meliputi seri kendaraan Russian BMP/BT, ragam Mine-Resistant atau Penyapu Ranjau, Ambush-Protected atau MRAPs) dengan peringkat 11 dari 145 negara.
Untuk unit tempur seperti Artileri (SP), Towed Artillery, dan MLRS, Iran berkategori Excellent yang secara berturut-turut ada di peringkat 16, 7, dan 4 dari 145 negara. Artileri (SP) adalah Self-Propelled Artillery berfungsi dalam pertempuran ground, menyuplai aneka tembakan dengan jarak yang ditentukan dan muatan senjatanya dapat berupa kimia maupun nuklir.
Towed Artillery, kendati tergolong unit tempur “antik” tetapi untuk medan Iran yang berpegunungan sangat bermanfaat. Towed Artillery masih menjadi andalan perang darat dengan mana ia bisa dikombinasikan antara serangan terukur baik langsung maupun tidak langsung. Juga, muatan pelurunya dapat menggunakan ragam kaliber. Kini Iran memiliki Towed Artillery dengan kaliber minimal 120mm. Sementara itu MLRS (Multiple-Launch Rocket Systems) yang juga dikenal sebagai Proyektor Roket merupakan unit guna menyuplai dampak psikologis sekaligus taktis di medan peperangan. MLRS menargetkan area yang sebelumnya telah dibangun oleh musuh, lalu melakukan serangkaian tembakan baik langsung ke target maupun area sekitar target untuk menciptakan efek takut pada musuh. Contoh dari MLRS adalah M142 HIMARS dan BM-21.
Untuk unit tempur Kapal Perang dan Kapal Selam, Iran memang hanya dikategorikan Good. Peringkatnya di dunia adalah 34 dari 145 negara. Kategori Kapal perang dan Kapal Selam ini meliputi kepemilikan atas Kapal Angkut, Kapal Selam, Helicopter Angkut, Corvette, Frigat, aneka jenis kapal penjaga pantai, kendaraan amfibi, dan sejenisnya. Kini Iran memiliki desain baru yang belum dapat diidentifikasi oleh situs ini. Kita teruskan, untuk unit tempur Kapal Angkut Pesawat, Iran hanya berkategori Poor dengan peringkat 145 dari 145. Demikian pula untuk Kapal Angkut Helikopter (145 dari 145), dan Kapal Destroyer (145 dari 145).
Namun, untuk unit tempur laut jenis Frigat, kategori Iran adalah Excellent yaitu peringkat 12 dari 145 negara. Untuk jenis Corvette kategorinya adalah Excellent dengan peringkat 14 dari 145 negara, serta Kapal Selam yang juga berkategori Excellent dengan peringkat 3 dari 145. Hal ini mencukupi bagi Iran untuk mengendalikan Selat Hormuz (terutama Kapal Selam mereka) kendati pun unit Patroli Laut Lepas Iran hanya berkategori Good yaitu peringkat 45 dari 145 negara. Selain itu, Kapal Penyapu Ranjau Iran ada berkategori Excellent dengan peringkat 18 dari 145 negara. Seperti diketahui Kapal Penyapu Ranjau sangat penting dalam memperkuat posisi Iran di Selat Hormuz. Jika pun pihak Israel maupun Amerika telah lama diam-diam menanam ranjau laut di Selat Hormuz guna memfitnah bahwa Iran yang menanam, maka hal itu tidak dapat dilakukan kedua negara agresor secara mudah.
Kini, tibalah sebuah logistik penting dalam perang: Minyak. Kategori Iran dalam kepemilikan Minyak adalah Excellent yaitu peringkat 9 dari 145 negara. Boleh saja dua negara agresor yaitu Israel dan Amerika punya banyak pesawat tempur, kendaraan tempur, kapal perang, dan industri perang. Namun, dari mana bahan bakarnya? Air laut? Air hujan? Tidak, bahan bakarnya adalah berbasiskan minyak. Inilah yang membuat Iran mampu membombardir seluruh wilayah Israel hampir tanpa jeda karena keunggulan mereka dalam masalah bahan bakar ini. Demikian pula untuk produksi Gas Alam, dengan mana Iran berkategori Excellent karena merupakan peringkat ke-3 dari 145 negara. Sementara untuk Cadangan Gas Alam yang belum dieksplorasi, kategori Iran adalah Excellent dengan peringkat ke-2 dari 145 negara.
Sumber Daya Manusia Iran
Mari kita bicara angka-angka. Kita mulai dari Sumber Daya Manusia. Tanpa adanya manusia, ya tidak akan ada perang. Namun, jika perang terjadi maka jumlah manusia “peserta” perang menjadi penting. Di Surabaya 1945, Inggris dan sekutu penjajahnya, Belanda datang. Rakyat Indonesia di Surabaya menolak lalu terjadilah pertempuran. Senjata Orang Indonesia ala kadarnya: bekas Jepang, senjata tradisional, dan kadang ilmu “kanuragan” serta ajian-ajian. Sementara Inggris dan kawan-kawan tentu dengan senjata mutakhir. Merekalah pemenang Perang Dunia II, yang banyak ditentukan kelicikan diplomasi dan senjata canggih bin mawt. Namun, Orang Indonesia di Surabaya justru “menang banyak” sebab manusia “berharga” Inggris yaitu Mallaby dapat mereka tewaskan.
Total populasi manusia Iran adalah 88.386.937 jiwa dan ini menempati peringkat ke-17 dari 145 penduduk negara di dunia. Situs ini menggunakan angka total populasi untuk mulai memprediksi nilai-nilai yang mungkin nantinya dikaitkan dengan mobilisasi Sumber Daya Manusia dalam perang seperti Jumlah Pekerja demi mendukung produksi logistik perang, ketersediaan personil militer aktif dan cadangan, serta memperkirakan berapa jumlah personil yang benar-benar siap untuk berperang. Semakin besar total populasi maka semakin besar kemungkinan kepemilikan tenaga manusia yang mampu berperang.
Berdasarkan angka Total Populasi, dapat kita prediksi berapa jumlah tenaga manusia yang siap menggantikan mereka yang gugur di medan perang. Nilai ini disebut sebagai Available Manpower. Jumlah Available Manpower Iran adalah 49.496.685 jiwa atau 56% dari total populasi mereka. Angka ini membawa Iran ke peringkat 15 dari 145 negara terbanyak dalam hal Available Manpower. Dari jumlah Available Manpower ini, yang dinilai memenuhi syarat untuk ikut berperang dan aneka lini pendukung perang (Fit-for-Service) adalah sebanyak 41.541.860 jiwa atau meliputi 47% dari Available Manpower mereka.
Jika perang Iran melawan dua negara agresor berkepanjangan maka kesempatan Iran untuk melakukan rekrutmen tenaga manusia untuk berperang adalah 1.414.191 jiwa per tahun atau meliputi 1,6% dari total populasi mereka. Ketersediaan tenaga manusia untuk berperang Iran adalah peringkat 16 dari 145 negara di dunia.
Secara angka pula, Iran memiliki 1.180.000 jiwa personil yang diperkirakan dapat diaktifkan untuk keperluan militer. Jumlah ini meliputi 1,3% dari total populasi Iran. Dari jumlah total ini, Iran memiliki 610.000 jiwa personil aktif militer atau meliputi 0,7% dari potensi sumber daya manusia militer mereka serta menempati peringkat 8 dari 145 negara. Di lain pihak, Iran pun memiliki 350.000 personil militer cadangan atau meliputi 0,4% dari total potensi sumber daya manusia militer mereka. Satu hal yang harus diperhitungkan dalam perang adalah keberadaan milisi-milisi atau laskar-laskar paramiliter. Paramiliter ini berjumlah 220.000 jiwa atau meliputi 0,2% dari total potensi sumber daya manusia militer Iran secara keseluruhan. Untuk hal Paramiliter ini Iran menempati peringkat 9 dari 145 negara di dunia.
Dari total personil militer aktif militer Iran yang berjumlah 610.000 jiwa, sebanyak 37.000 aktif di angkatan laut (peringkat ke-18 dari 145 negara), 350.000 aktif di angkatan darat (peringkat ke-18 dari 145 negara), dan 20.000 aktif di angkatan laut(peringkat ke-29 dari 145 negara). Hal ini wajar karena perairan Iran tidak begitu besar dengan Selat Hormuz sebagai titik pusat.
Kekuatan Udara Iran
Kekuatan perang di udara terdiri atas kepemilikan Fixed-Wing (pesawat bersayap) dan Rotary-Wing (helikopter). Kedua jenis ini dapat saja ditempatkan di angkatan darat, laut, dan udara Iran. Jenis keduanya dapat berkategori tempur (multirole dan inteseptor), pelatihan (dasar dan lanjutan), pengangkut (baik Fixed-Wing maupun Rotary Wing), pesawat serbu khusus pembom dan khusus serangan darat, platform misi-misi khusus semisal drone dan pesawat nirawak.
Total kekuatan udara Iran adalah 551 dan yang siap untuk digunakan dalam perang mendadak adalah 303 unit. Sisanya adalah potensi karena dalam tahap perbaikan dan pemeliharaan. Dalam hal kekuatan udara, Iran duduk di peringkat 21 dari 145 negara di dunia. Sementara itu kekuatan udara Iran yang berjenis Tempur (Fighters) adalah 188 atau 34,1% dari total kekuatan udara mereka. Dari jumlah 188 unit tersebut, yang siap tempur adalah 103 unit, sisanya sebagai potensi dan untuk jumlah kekuatan tempur udara ini Iran duduk di peringkat 15 dari 145 negara. Dari jumlah pesawat Fighter mereka, sebesar 3,8% atau 21 unit berjenis Pesawat Serang, dengan mana 12 di antaranya benar-benar siap untuk digunakan untuk perang kapan saja. Untuk pesawat serang ini, Iran duduk di peringkat 28 dari 145 negara di dunia.
Hal lain yang tidak boleh dilupakan adalah Pesawat Angkut, yang mampu memobilisasi peralatan tempur maupun pasukan dari satu tempat ke tempat lain. Untuk Pesawat Angkut tipe Fixed-Wing (bersayap), Iran memiliki stok 86 atau 15,6% dari total kekuatan udara mereka. Dari jumlah ini yang ready untuk langsung digunakan berjumlah 47 unit dan ini membuat Iran duduk di peringkat 7 dari 145 negara di dunia. Dalam hal Pesawat Latih, kekuatan Iran adalah 18,7% atau 103 unit dari total kekuatan udara mereka. Dari jumlah 103 ini, 57 pesawat latih benar-benar telah siap digunakan sehingga membuat Iran duduk di peringkat 27 dari 145 negara di dunia. Pesawat Untuk Misi Khusus Iran jumlahnya memang tidak terlampau banyak yaitu 1,8% dari total kekuatan udara mereka atau 10 unit. Dari ke-10 unit tersebut yang telah siap digunakan adalah 6 unit sehingga Iran duduk di peringkat 22 dari 145 negara di dunia.
Saat melakukan pertempuran udara, pesawat tempur tentu tidak mengisi bahan bakar di SPBU jalanan. Mereka menggunakan Pesawat Tanker untuk mengisi BBM di udara. Iran memiliki stok 6 pesawat Tanker atau meliputi 1,1% dari kekuatan udara Iran. Dari jumlah itu, sebanyak 3 pesawat Tanker benar-benar siap digunakan dan ini membawa Iran ke peringkat 11 dari 145 negara di dunia. Untuk total jenis kekuatan udara Rotary-Wing atau Helikopter, Iran memiliki stok 129 unit atau meliputi 23,4% dari total kekuatan udara mereka. Dari stok 129 unit ini, sebanyak 71 unit benar-benar siap digunakan kapan pun dan ini mendudukkan Iran di peringkat 32 dari 145 negara di dunia. Akhirnya, untuk jenis Helikopter Serbu, Iran memiliki stok 13 atau meliputi 2,4% dari total helikopter yang mereka miliki. Dari 13 unit yang dimiliki, sebanyak 7 unit siap digunakan kapan pun untuk keperluan perang dan peringkat dunia Iran untuk hal ini adalah 32 dari 145 negara.
Kekuatan Darat Iran
Kekuatan darat paling umum diukur dari jumlah kepemilikan Tank. Tank merupakan unit tempur garis depan sebelum pasukan infantri bergerak mengambil-alih peperangan. Tank juga berfungsi memberi perlindungan kepada pasukan infanteri. Tank-tank ini dapat ditempatkan di angkatan darat, laut, maupun udara. Russian T-90 Main Battle Tanks (MBTs) adalah jenis tank kelas berat, sama dengan German ‘Leopard2’.
Stok Tank tempur Iran berjumlah 2.675 unit dan dari jumlah tersebut 1.605 siap untuk segera digunakan. Kesiapan ini membuat Iran adalah negara peringkat 8 dari 145. Untuk jumlah Kendaraan Militer (telah disebutkan di bagian atas jenis-jenisnya), Iran memiliki stok 75.939 unit dengan 45.563 unit di antaranya siap digunakan untuk langsung bertempur. Ini membuat Iran duduk di peringkat 11 dari 145 negara di dunia. Andalan Iran dengan wilayah geografisnya yang banyak berpegunungan adalah unit tempur Self-Propelled Artillery (SPA).
Untuk SPA, Iran memiliki stok 424 unit dengan 254 di antara benar-benar siap digunakan dan jumlah ini membuat Iran duduk di peringkat 16 dari 145 negara di dunia. Andalan lain unit tempur darat Iran sesuai medan geografis mereka adalah Towed Artillery yang mampu menyemburkan proyektil-proyektil berskala kecil namun jumlahnya dapat ribuan dan menyasar wilayah secara acak sehingga membuat Air Dome Israel terbukti hanya mitos. Untuk SPA, Iran punya stok sebesar 1.803 unit dengan 1.082 di antara siap digunakan untuk menciptakan teror di sekujur wilayah Israel.
Untuk jumlah ini pula, Iran duduk di peringkat ke-7 dari 145 negara di dunia. Terakhir dan ini yang menakutkan dan sulit diprediksi adalah MLRS Artillery Roket dengan tingkat presisi dan hulu ledak mematikan dan berdampak luas. Stok yang Iran miliki adalah 1.550 unit dengan 930 di antara siap digunakan dalam menyerang wilayah Israel dan aneka pangkalan militer Amerika di Timur Tengah. Besarnya jumlah kepemilikan MLRS ini membuat Iran duduk di peringkat 4 dari 145 negara di dunia.
Kekuatan Laut Iran
Kekuatan Laut Iran secara kumulatif berjumlah 109 unit dan memang membuat Iran hanya duduk di perinkgat 34 dari 145. Irang tidak memiliki Kapal Angkut Pesawat Tempur juga Kapal Angkut Helikopter. Namun, ini sejalan dengan luasan laut Iran yang tidak begitu besar. Sebab itu Iran fokus di kepemilikan unit kapal Frigat sebanyak 7 unit (peringkat 12 dari 145), Corvette sebanyak 3 unit (peringkat 14 dari 145), Kapal Selam sebanyak 25 unit (peringkat 3 dari 145), Kapal Patroli sebanyak 21 (peringkat 45 dari 145), dan Kapal Penyapu Ranjau sebanyak 1 unit (peringkat 18 dari 145 negara). Dengan banyaknya Kapal Selam, Iran mudah saja membuka-tutup Selat Hormuz, jalur hantaran minyak dan gas alam yang mampu mengancam industri dan harga BBM seluruh negara di dunia. Jika terjadi, hal itu bukan salah Iran melainkan dua negara agresor: Israel dan Amerika Serikat.
Logistik Perang Iran
Tanpa dukungan logistik, sebuah negara dapat takluk hanya dalam hitungan jam saja. Setiap harinya, Iran mampu memproduksi 4.112.000 barrel minyak atau peringkat ke-9 dari 145 negara. Konsumsi Iran atas minyaknya sendiri hanya 2.415.000 barel, dan ini cukup rendah di dunia yaitu peringkat 121 dari 145 negara. Dengan demikian Iran memiliki surplus produksi minyak sebesar 1.697.000 barel per hari.
Iran menjual minyak tersebut ke negara-negara lain dengan harga lebih murah dari yang diproduksi Amerika. Israel sendiri? Ia hanya negara fakir dalam produksi minyak sebab hanya mampu “menyusu” pada kacungnya: Amerika Serikat. Cadangan minyak Iran sendiri diperkirakan berjumlah 208.600.000.000 barrel dan ini adalah peringkat ke-3 dari 145 negara di dunia.
Sekarang soal gas alam yang juga berfungsi sebagai bahan bakar perang (juga komoditas dagang). Produksi Gas Alam Iran per hari adalah 263.280.000.000 cu.m per hari sehingga Iran duduk di peringkat ke-3 produsen Gas Alam. Sementara itu, konsumsi dalam negeri Iran atas Gas Alamnya sendiri sangat rendah yaitu 244.890.000.000 cu.m per hari. Dengan demikian Iran memiliki surplus Gas Alam per hari sebesar 18.390.000.000 cu.m. per hari.
Di kemanakan sisa produksi tersebut. Sama seperti minyak, Gas Alam diekspor Iran dengan harga murah di pasar global, terutama negara-negara Eropa. Atau apabila diperlukan digunakan untuk bahan bakar mesin-mesin perang. Jumlah yang seakan tak akan pernah habis. Selain itu, Iran diprediksi masih memiliki cadangan Gas Alam sebesar 33.987.000.000.000 cu.m dan ini mendudukkan Iran di posisi ke-2 dari 145 negara pemilik cadangan Gas Alam.
Akhirul Kalam
Perang bukan sekadar mengandalkan kecanggihan pesawat tempur, kapal induk, ataupun tank-tank mawt. Perang perlu sumber daya manusia dan bahan bakar. Senjata canggih bisa diperoleh melalui aneka jalan: Diproduksi sendiri, beli dari negara lain, atau bantuan dari negara lain.
Namun, sumber daya manusia tidak. Mercenary atau tentara bayaran memang bisa disewa asalkan ada uang. Namun, mereka tidak punya semangat patriotik karena tidak merasa memiliki ikatan emosional dengan negara yang mereka pihakkan. Penulis berani berujar bahwa Mercenary Troops akan lari terbirit-birit apabila situasi negara yang membayar mereka sudah dalam posisi menguntungkan. Sebab apabila bila tertangkap, mereka akan mengalami siksaan pedih yang tidak perlu dari “unnecessary enemy” mereka.
Perang di zaman global saat ini banyak menggunakan sumber daya alam sebagai alat penekan. Semua negara di dunia masih sangat bergantung pada minyak dan gas alam sebagai alat mereka untuk bertahan hidup. Seluruh negara cenderung lebih memilih untuk tidak “bermain-main” dengan negara-negara produsen kedua sumber daya alam tersebut. Namun, tingkah agresor seperti Israel dan Amerika Serikat ada di luar akal sehat. Para pemimpin kedua negara, utamanya Netanyahu dan Trump, jika diteliti mungkin memiliki gejala skizoprenia, histeria, atau megalomania.
Keputusan Netanyahu dan Trump menginvasi Iran adalah tindakan di luar nalar, mengingat negara-negara penghasil kedua sumber daya alam tersebut terutama Rusia, Indonesia, Brasil, India, dan Cina tergabung dalam BRICS+, organisasi multilateral yang bergerak di bidang ekonomi. Minyak dan Gas Alam adalah alat tekan politik mereka yang “sangat mujarab.”
Terakhir, baik Pemerintah Israel maupun Pemerintah Amerika Serikat adalah sekularis. Sementara Iran memiliki semangat kesyahidan Husayn di Padang Karbala. Sudah teruji bahwa di dalam kitab suci terdapat perintah perangilah hanya orang-orang yang memerangimu. Iran menjalankan ayat tersebut. Mereka balas menyerang Israel dan Amerika Serikat secara berkali-kali lipat. Di kalangan penduduk Iran terdapat para Marja’ yang menginduk pada para Fuqaha di Velayat el-Faqih.
Dari garis inilah semangat keagamaan dan kesyahidan disalurkan dari pemerintah ke rakyat Iran. Israel dan Amerika Serikat yang materialistik dalam pandangan duniawi mereka sama sekali tidak memperhitungkan ini. Jika pun benar Khamenei telah syahid, presidium Velayat el-Faqih akan dengan mudah mencari penggantinya. Israel dan Amerika Serikat lupa, bahwa Iran bukan negara tirani seperti mereka (Netanyahu dan Trump adalah tiran, karena memutuskan sendiri serangan atas Iran tanpa melibatkan persetujuan wakil-wakil rakyat).
Dengan demikian, penulis berpendapat bahwa Amerika Serikat kini sudah menjadi negara otoritarian, Israel negara rasis yang dipimpin seorang tiran, sementara Iran justru negara Demokrasi karena unsur musyawarah masih dipegang teguh di sana dalam menentukan deklarasi perang.
Sampai jumpa di tulisan kami selanjutnya.


https://orcid.org/0000-0002-1420-4288
0 Komentar