Ad Code

Priayi Mojokuto dan Clifford Geertz

Di sebuah kota kecil yang disamarkan dengan nama Mojokuto, Jawa Timur, seorang antropolog Amerika bernama Clifford Geertz menghabiskan waktu hampir dua tahun pada awal 1950-an untuk mengamati denyut kehidupan masyarakat Jawa. Hasil pengamatannya yang terbit dalam buku The Religion of Java (1960) kemudian menjadi salah satu karya antropologi paling berpengaruh abad ke-20, terutama karena trikotomi yang dikenalkannya: santri, abangan, dan priyayi.

Di antara ketiganya, priyayi adalah yang paling kabur dan sulit dijelaskan—sebuah kategori yang hingga enam dasawarsa kemudian masih memantik perdebatan di kalangan akademisi Indonesia dan internasional.


Priyayi Geertz, Elit Simbolik di Persimpangan Sejarah

Geertz tidak serta-merta mendefinisikan priyayi. Ia membangun pemahamannya secara bertahap, dimulai dengan merujuk pada gagasan Robert Redfield tentang elit budaya yang mendasarkan kekuasaannya pada kendali atas sumber daya simbolik dalam masyarakat—agama, filsafat, seni, ilmu pengetahuan, dan budaya tulis-menulis (Redfield, 1953). Kelompok elit ini, menurut Geertz, berdiri dalam hubungan simbiotik dengan para petani yang menjadi subordinatnya.

Dalam kerangka ini, Geertz kemudian mengontraskan dua kutub: gentry (kelas berkuasa yang melek huruf) dan vulgarisasi (kelas yang dikuasai dan buta huruf). Abangan merepresentasikan vulgarisasi—wujud hidup pertanian Jawa yang sinkretis, memadukan animisme, Hindu-Buddha, dan Islam. Sementara priyayi adalah manifestasi gentry—elit yang utamanya berada di wilayah perkotaan dan memiliki akses terhadap budaya tulis serta pendidikan formal (Geertz, 1960).

Esai ilmiah-populer tentang Priyayi Mojokuto karya Clifford Geertz: alus-kasar, lair-batin, wayang, mistik, serta kritik dari Koentjaraningrat dan Uma

Hal yang menarik, Geertz mencatat bahwa sejak pemerintahan kolonial Belanda, priyayi dimanfaatkan untuk menjalankan fungsi administratif dalam implementasi kebijakan kolonial. Politik Etis Belanda pada awal abad ke-20 justru memperkuat posisi priyayi dengan membuka akses pendidikan dan pekerjaan di birokrasi kolonial. Dalam studinya tentang transformasi kolonial priyayi, Heather Sutherland (1979) menunjukkan bahwa mereka adalah “nobles of the robe”—bangsawan birokrat yang bertransformasi dari abdi dalem kerajaan menjadi abdi negara kolonial.


Dikotomi Alus-Kasar, Cermin Pandangan Dunia Priyayi

Konsep sentral dalam kelompok priyayi, menurut Geertz, adalah dikotomi alus dan kasar. Alus bermakna halus, sopan, indah, beradab—bahkan Tuhan sendiri dimaknai sebagai bersifat alus. Di kutub sebaliknya, kasar berarti tidak sopan, tidak beradab, dan kasar. Di antara kontinum ini, priyayi membagi manusia dari raja hingga petani.

Antropolog Indonesia Koentjaraningrat, yang oleh banyak kalangan disebut sebagai “bapak antropologi Indonesia”, memberikan pandangan yang melengkapi. Baginya, priyayi bukan sekadar status atau jabatan, melainkan lapisan sosial yang ditandai oleh pola pikir, sikap, dan nilai budaya yang mencakup kesopanan, kewibawaan, tanggung jawab moral, dan pengendalian diri (Koentjaraningrat, 1984). Koentjaraningrat juga mengidentifikasi priyayi sebagai salah satu dari empat kelas sosial masyarakat Jawa pada masa kolonial, bersama dengan ndara (bangsawan), wong dagang (pedagang), dan wong cilik (rakyat biasa) (Koentjaraningrat, 1984).


Tiga Unsur Agama Priyayi: Etiket, Seni, dan Mistik

Geertz mengidentifikasi tiga unsur utama dimensi “agama” priyayi. Pertama, etiket—pemolesan perilaku hubungan antarpribadi agar berlangsung dalam tata krama yang halus, memberikan formalitas spiritual pada perilaku sehari-hari. Kedua, seni—disiplin ganda antara pikiran dan tubuh, memberikan pengungkapan makna batiniah dalam gerakan lahiriah. Ketiga, praktek mistik—pengaturan intensif kehidupan pikiran dan perasaan untuk menyongsong pencerahan tertinggi. Ketiga unsur ini dikoneksikan oleh konsep rasa.

Dalam praktik mistik, Geertz mencatat adanya lima sekte mistik di Mojokuto, tiga di antaranya (Budi Setia, Kawruh Bedja, dan Sumarah) eksklusif dipartisipasi oleh priyayi. Menariknya, meskipun priyayi memegang posisi sebagai guru dalam sekte-sekte ini, mayoritas pengikutnya justru berasal dari kalangan abangan.


Wayang dan Bahasa, Arena Saling Berbagi yang Kontradiktif

Salah satu temuan paling menarik Geertz adalah tentang wayang. Bagi abangan, wayang merupakan pola keagamaan ritualistik-politeistik-magis—drama populer dari para pahlawan legendaris yang kerap menjadi bagian dari slametan. Bagi priyayi, wayang adalah pola keagamaan mistik-panteistik-spekulatif. Mereka mulai mensekularisasikan wayang dengan melakukan interpretasi atas apa yang ada di dalam pergelaran, mengembangkan konsep etiket, seni, dan praktek mistik melalui media wayang.

Dalam berbahasa, priyayi mengenal tiga level: krama inggil, krama biasa, dan krama madya. Menurut Geertz, bagi priyayi kelas tinggi, hanya krama inggil dan krama biasa yang dianggap sebagai “bahasa”; sisanya adalah jenis lain. Priyayi menengah hingga tinggi cenderung berbicara dalam bahasa Belanda ketimbang Jawa, sebuah fenomena yang mencerminkan posisi mereka sebagai perantara budaya kolonial dan pribumi.


Priyayi sebagai Kategori yang Bermasalah

Sejak awal kemunculannya, trikotomi Geertz menuai kritik tajam, terutama dari ilmuwan Indonesia. Harsya W. Bachtiar (1973) menunjukkan inkonsistensi fundamental: santri dan abangan adalah kategori berdasarkan orientasi religius, sementara priyayi adalah kategori sosial. Ini seperti membandingkan apel dengan jeruk—tidak koheren secara konseptual (Bachtiar, 1973, dalam Geertz, 1981).

Kritik lain datang dari sastrawan dan budayawan Umar Kayam, yang justru menulis novel Para Priyayi sebagai bentuk ketidaksetujuannya terhadap kategorisasi Geertz. Dalam novelnya, Kayam menggambarkan bahwa priyayi tidak harus berasal dari kalangan bangsawan—ia juga bisa datang dari wong cilik (rakyat kecil) yang berhasil mencapai derajat intelektual sebagai pegawai negeri, guru, atau dosen (Kayam, 1992). Makna priyayi dalam novel Kayam, sebagaimana dianalisis oleh Purwantini (2018), adalah seseorang yang mempunyai jiwa pengabdian, keikhlasan, bekerja keras, dan mampu mikul nduwur mendhem jero—menjaga nama baik keluarga dan masyarakat.

Peneliti Barat juga tidak ketinggalan. J. Joseph Errington (1984) dari Yale University mengembangkan pendekatan yang lebih terpadu terhadap etika, estetika, dan kekuasaan priyayi, serta mencatat beberapa poin ketidaksetujuan dengan deskripsi Geertz. Sementara Mark R. Woodward (1989) mengkritik Geertz karena dianggap terlalu melihat sinkretisme sebagai penyimpangan dari Islam normatif, padahal menurut Woodward, Islam di Jawa justru merupakan akulturasi yang hidup dan dinamis.


Priyayi dalam Kehidupan Kontemporer

Meskipun banyak dikritik, relevansi konsep priyayi tidak sepenuhnya pudar. Dalam analisis politik elektoral Indonesia 2019, Syafiq Hasyim (2019) dari RSIS Singapura menunjukkan bahwa kategorisasi abangan, santri, dan priyayi masih relevan untuk diskursus politik Indonesia kontemporer. Di era pasca-Orde Baru, pola aliansi politik sering kali masih mencerminkan pembagian ini: partai-partai nasionalis cenderung diasosiasikan dengan abangan dan priyayi, sementara partai Islam dengan santri.

Dalam novel Para Priyayi, Umar Kayam menunjukkan bahwa nilai-nilai kepriyayian seperti mikul nduwur mendhem jero dan etos pengabdian tetap hidup di kalangan pegawai negeri, guru, dan dosen hingga era modern. Priyayi, dengan kata lain, telah bertransformasi dari aristokrasi tradisional menjadi kelas menengah berpendidikan yang tetap memegang teguh nilai-nilai halus, kesopanan, dan tanggung jawab sosial (Purwantini, 2018).


Penutup

Clifford Geertz, dengan segala kekurangan dan kontroversinya, telah meninggalkan warisan intelektual yang tak terbantahkan. Kategorisasi priyayi yang ia bangun—meskipun kabur dan sulit dijelaskan—telah membuka pintu bagi pemahaman yang lebih dalam tentang kompleksitas masyarakat Jawa. Priyayi bukan sekadar kelas sosial, bukan pula sekadar orientasi religius. Ia adalah habitus—sebuah istilah yang kemudian dikembangkan Pierre Bourdieu—seperangkat disposisi yang tertanam dalam tubuh dan pikiran, yang membentuk cara seseorang bertindak, berbicara, berpakaian, bahkan merasakan dunia.

Seperti yang ditulis Koentjaraningrat (1984), priyayi adalah cerminan budaya Jawa yang mengatur perilaku individu dan kelompok sekaligus menjaga identitas dan tatanan sosial. Dalam dunia yang terus berubah, dari masa kolonial hingga era digital, esensi priyayi mungkin tetap bertahan: sebagai elit yang mengendalikan sumber daya simbolik, sebagai penjaga kehalusan di tengah kekasaran, dan sebagai jembatan antara tradisi dan modernitas.

Sebagaimana dikatakan salah seorang priyayi Mojokuto kepada Geertz tentang puasa—yang meskipun bersifat Islam, “adalah latihan cemerlang baik untuk tubuh maupun jiwa”—demikian pula nilai-nilai kepriyayian, meskipun lahir dari konteks historis tertentu, mengandung kearifan yang melampaui batas waktu dan agama.


Daftar Pustaka

Bachtiar, H. W. (1981). “The Religion of Java”: Sebuah komentar. Dalam C. Geertz, Abangan, santri, priyayi dalam masyarakat Jawa (A. Mahasin, Penerj.; B. Rasuanto, Penyunt.). Pustaka Jaya. (Karya asli diterbitkan 1973)

Errington, J. J. (1984). Self and self-conduct among the Javanese priyayi elite. American Ethnologist, 11(2), 275–290. https://doi.org/10.1525/ae.1984.11.2.02a00040

Geertz, C. (1960). The religion of Java. The Free Press.

Hasyim, S. (2019, April 16). Abangan, santri, and priyayi: Three streams in Indonesia’s electoral politics (CO19073). RSIS Commentary. https://www.rsis.edu.sg

Kayam, U. (1992). Para priyayi: Sebuah novel. Grafiti Pers.

Koentjaraningrat. (1984). Kebudayaan Jawa. Balai Pustaka.

Purwantini. (2018). Makna priyayi di Indonesia dalam novel Para Priyayi karya Umar Kayam. International Journal of the Malay World and Civilisation, 6(1), 51–61.

Redfield, R. (1953). The primitive world and its transformations. Cornell University Press.

Sutherland, H. (1979). The making of a bureaucratic elite: The colonial transformation of the Javanese priyayi. Heinemann Educational Books (Asia).

Woodward, M. R. (1989). Islam in Java: Normative piety and mysticism in the sultanate of Yogyakarta. Association for Asian Studies.

Posting Komentar

0 Komentar