Gaetano Mosca (1858 – 1941) adalah sarjana hukum Italia merangkap teoretisi politik (Krauss, 2011: 1062-3). Mosca juga berprofesi sebagai politisi dan jurnalis. Ia lahir di Palermo, yang kemudian menjadi Kingdom of Two Sicilies. Tahun 1861 Kingdom of Two Sicilies dianeksasi oleh Kerajaan Italia.
![]() |
| Gaetano Mosca http://www.bestofsicily.com/mag/art367.htm |
Tahun 1909 Mosca masuk ke dalam arena politik, memenangkan kursi di Chamber of Deputies dari jalur Partai Liberal. Ia bertugas selaku menteri muda dalam kabinet Antonio Salandra yang saat itu menjadi sekretaris dua urusan koloni. Lepas 10 tahun sebagai deputi, Mosca diangkat menjadi anggota Senat Italia oleh Raja Victor Emmanuel III tahun 1919. Banyak kaum fasis mendasarkan gerakan mereka atas karyanya, Mosca sendiri menolak fasisme lalu mengundurkan diri dari Senat tahun 1926. Sebagai jurnalis, Mosca menulis di koran Corriere della Sera yang berpengaruh di Italia saat itu, juga Tribuna yang beredar di Roma.
Kelas Berkuasa, Kelas Politik, Kelas Minoritas
Apa yang Mosca ungkapkan mengenai masalah elit berkuasa, terdapat dalam kutipan berikut:
"Among the constant fact and tendencies of the life of a state, one is so obvious that it is apparent to the most casual eye. In all societies – from societies that are very meagerly developed and have barely attained the dawning of civilization, down to the most advancced and powerful societies – two classes of people appear – a class that rules and a class that is ruled.
The first class, always the less numerous, performs all political functions, monopolizes power and enjoy the advantages that power brings, whereas the second, the more numerous class, is directed and controlled by the first, in a manner that is now more or less legal, now more or less arbitrary and violent, and supplies the first, in appearance at least, with material means of subsistence and with the instrumentalities that are essential to the vitality of the political organism." (Hartmann, 2004: 9) .
[Di antara fakta dan kecenderungan kehidupan negara yang sifatnya konstan, satu segmen begitu nyata terpisah menurut kacamata biasa. Di semua masyarakat – dari masyarakat yang baru mulai tumbuh dan baru bangkit dari senja peradaban, hingga masyarakat paling maju dan kuat – dua kelas manusia selalu tampah --- satu kelas yang berkuasa dan kelas lain yang diperintah.
Kelas pertama, selalu lebih sedikit, melakukan semua fungsi politik, memonopoli kekuasaan seraya menikmati keuntungan yang dibawa oleh kekuasaan, di mana yang kedua, yang jumlahnya lebih besar, selalu diatur dan dikendalikan oleh yang pertama, dengan cara yang kini kurang atau lebihnya bersifat legal, yang sekarang lebih kurangnya bersifat arbiter dan kekerasan, dan selalu menyuplai [kebutuhan] yang pertama, dalam hal, sekurangnya dengan komoditas subsisten dan juga dengan aneka instrumentalitas yang esensial bagi hidupnya organisme politik.]
Mosca juga mengamati bahwa bahkan di dalam sistem perwakilan politik, terdapat Elit Berkuasa. Di dalam parlemen sebagai misal, terdapat sekelompok kecil anggota parlemen yang terorganisir, yang selalu mengendalikan mayoritas anggota parlemen yang tidak terorganisir. Dengan demikian, Mosca berpendapat tidak ada itu Pemerintahan oleh Mayoritas, sebab yang ada adalah pengendalian parlemen oleh sekelompok elit yang terorganisir dan lebih berkuasa dari para anggota parlemen lainnya. Minoritas kecil yang selalu memerintah ini disebut Mosca sebagai “kelas politik.”
Pengamatan Mosca ini cukup berharga dalam melakukan analisis atas politik dalam parlemen. Misalnya di Indonesia, anggota parlemennya cukup besar yaitu 500-an orang. Mereka masing-masing terpecah ke dalam fraksi-fraksi. Di setiap fraksi terdapat kelompok minoritas yang selalu menjadi komunikasi dengan minoritas lain di luar parlemen.
Mengapa jumlah yang sedikit itu begitu menentukan? Mosca menekankan bahwa “yang sedikit” itu “terorganisir” sementara “yang banyak” itu “tidak terorganisir.” Mengapa yang sedikit itu lebih terorganisir ketimbang yang banyak? 100 orang yang terlatih instrumen musik mampu menyuguhkan musik klasik yang menarik, ketimbang 1000 orang tak terlatih. Bagi Mosca pula, semakin besar penduduk suatu negara, maka semakin kecil jumlah elit terorganisir yang diperlukan untuk mengendalikan masyarakat tersebut.
Salah satu basis kekuasaan seorang elit adalah kekayaan. Mosca menyatakan “Orang yang berkuasa selalu lebih kaya ketimbang sekadar berani”( Hartmann, 2004: 10). Jika kekayaan diperoleh dari penguasaan tanah, jumlahnya akan semakin meningkat seiring digunakannya uang sebagai hasil perkembangan perdagangan dan industri.
Mosca juga melontarkan argumentasi lain mengenai masalah elit ini. Bahwa sejak kelas politik berkuasa bukan lagi lewat kebajikan atau garis keturunan seperti masa lampau, tetapi atas basis penguasaan “kekuatan sosial” yang diperlukan untuk mencapai persyaratan superioritas intelektual dan ekonomi dan prestise moral, maka setiap perubahan dalam kekuatan sosial (seperti munculnya uang sebagai sumber baru kekayaan) akan mendorong perubahan komposisi kelas politik yang berkuasa.
Dalam analisisnya mengenai elit, Mosca juga meletakkan observasinya pada kualitas diri para elit. Bagi Mosca, kualitas diri para elit itu berbeda-beda bergantung kebutuhan dan nilai-nilai yang berkembang di masyarakat (Bellamy, 2004: 26).
Kembali kepada Mosca, ia menyatakan bahwa organisasi otokratik tidak mencerminkan kecenderungan demokratik, seperti berlaku di Gereja Katolik dan kalangan aristokratik di masyarakat liberal, juga di lingkup dinasti politik seperti keluarga Nehru (Bellamy, 2004: 26).
Selanjutnya Mosca mengembangkan konsepsi yang ia sebut formula politik (Birch, 2001: 190). Formula politik adalah pembenaran bahwa mereka layak memerintah suatu populasi. Mosca menulis bahwa formula politik elit Cina adalah ‘penafsir kehendak Putra Surga’, elit Islam ‘penafsih kehendak Allah’, aristokrat Perancis ‘hak ketuhanan para raja,’ elit politik Ingris ‘kedaulatan parlemen,’ dan para penguasa Amerika Serikat ‘kehendak rakyat.’
Anthony Harold Birch. The Concept and Theories of Modern Democracy. London and New York: Routledge, 2001.
Richard Bellamy. “Development in Pluralist and Elite Approaches.” Dalam Kate Nash and Alan Scott. The Blackwell Companion to Political Sociology. Malden: Blackwell Publishing, 2004.
Michael Hartmann. The Sociology of Elites. Oxon: Routledge, 2007.
Jeffrey Krauss. “Mosca, Gaetano.” George Thomas Kurian, eds. Encyclopedia of Political Science. Washington: CQ Press, 2011.


https://orcid.org/0000-0002-1420-4288
0 Komentar
Silakan tulis komentar Anda.