Pernahkah Anda merasa bahwa dunia di luar sana semakin berbahaya? Merasa was-was saat bepergian sendirian, curiga pada orang asing, atau percaya bahwa kejahatan mengintai di setiap sudut, meskipun data statistik menunjukkan bahwa tingkat kriminalitas sebenarnya menurun? Jika ya, Anda mungkin sedang mengalami apa yang oleh seorang profesor komunikasi asal Hungaria-Amerika, George Gerbner, disebut sebagai Mean World Syndrome, Sindrom Dunia Kejam. Ini adalah salah satu temuan paling penting dan meresahkan dari Teori Kultivasi (Cultivation Theory).
Jika Marshall McLuhan mengajarkan kita bahwa the medium is the message, maka Gerbner mengajak kita selangkah lebih maju dengan bertanya, “Apa isi pesan dominan yang diceritakan oleh medium tersebut, dan bagaimana cerita itu, ketika dikonsumsi terus-menerus, membentuk persepsi kita tentang realitas?” Bagi Gerbner, televisi bukan sekadar kotak ajaib yang menampilkan hiburan dan berita. Televisi, terutama konten dramatiknya, adalah agen sosialisasi utama masyarakat modern, sebuah sistem penceritaan terpusat yang menanamkan (cultivate) nilai-nilai, ideologi, dan pandangan dunia tertentu kepada para penontonnya secara perlahan, kumulatif, dan hampir tak terasa.
Teori Kultivasi lahir dari sebuah proyek penelitian ambisius bernama Cultural Indicators Project yang dimulai Gerbner dan koleganya di Annenberg School for Communication, University of Pennsylvania, pada akhir 1960-an. Proyek ini berangkat dari keprihatinan mendalam terhadap dampak kekerasan di televisi, namun dengan cepat berkembang menjadi sebuah kerangka analitis yang jauh lebih luas. Gerbner dan timnya berpendapat bahwa televisi telah menjadi "the most pervasive and constant learning system in society" (Gerbner, 1969, hlm. 138). Ia adalah sumber utama cerita yang kita konsumsi bersama, menggantikan peran keluarga, agama, dan sekolah dalam membentuk pemahaman kita tentang dunia.
Teori ini menawarkan pisau analisis yang sangat tajam untuk membedah lanskap politik Indonesia kontemporer. Di negeri ini, televisi masih menjadi raja di ruang keluarga, sementara media sosial telah menjadi perpanjangan layar yang tak pernah padam di genggaman setiap warga. Bagaimana narasi politik yang berulang-ulang ditanamkan melalui layar kaca dan linimasa digital? Bagaimana penggambaran konstanta tentang konflik elit, korupsi yang tak berkesudahan, dan ancaman disintegrasi membentuk persepsi politik kita? Apakah kita semua, tanpa sadar, sedang dikultivasi menjadi warga yang sinis, apatis, atau justru penuh ketakutan?
Esai ini akan menjadi sebuah perjalanan mendalam untuk memahami Teori Kultivasi dari akarnya, menjelajahi konsep-konsep kuncinya, kritik serta revisinya, dan yang terpenting, menerapkannya untuk membaca lanskap politik Indonesia mutakhir. Kita akan melihat bagaimana televisi dan media digital tidak hanya merefleksikan politik, tetapi secara aktif membentuknya, menanamkan, dan mengultivasikan persepsi kita tentang kekuasaan, demokrasi, dan realitas itu sendiri.
Akar Teori
Untuk memahami Teori Kultivasi, kita harus memahami bahwa teori ini bukanlah kesimpulan instan dari satu-dua eksperimen laboratorium. Ia tumbuh dari sebuah proyek penelitian raksasa bernama Cultural Indicators Project, yang merupakan respons Gerbner terhadap pertanyaan mendasar: "Apa konsekuensi sosial dari hidup dalam budaya yang didominasi oleh televisi?" (Gerbner, 1998, hlm. 176).Proyek ini dibangun di atas tiga level analisis yang saling terkait erat (Scharrer, 2011).
1. Institutional Process Analysis (Analisis Proses Institusional)
Level pertama dan paling fundamental adalah analisis tentang bagaimana pesan-pesan media diproduksi. Gerbner sangat peduli dengan "siapa di balik layar". Analisis ini menyelidiki proses di balik layar: Siapa yang memiliki stasiun televisi? Bagaimana tekanan komersial, ideologi politik, dan rutinitas organisasi membentuk konten yang akhirnya sampai ke mata pemirsa?
"Institutional process analysis is designed to investigate the pressures and constraints that affect how media messages are selected, produced, and distributed." (Gerbner, 1998, hlm. 177)
Ini adalah fondasi material dari kultivasi. Sebagaimana diingatkan oleh Dhoni Zustiyantoro (2024) dalam resensinya atas buku Kamuflase Tayangan Televisi, kita tidak bisa mengabaikan hubungan antara kepemilikan media, kepentingan ekonomi, dan pengaruh politik yang membentuk keragaman konten. Di Indonesia, dengan struktur konglomerasi media yang masif, analisis ini menjadi sangat krusial.
2. Message System Analysis (Analisis Sistem Pesan)
Level kedua adalah jantung dari proyek ini. Gerbner dan timnya melakukan analisis isi (content analysis) secara sistematis terhadap sampel program televisi, terutama drama prime-time dan akhir pekan. Mereka tidak tertarik pada satu program tertentu, melainkan pada pola-pola besar, stabil, dan berulang (aggregate patterns) yang membentuk "dunia televisi" secara keseluruhan.
"Message system analysis quantifies and tracks the most common and recurrent images in television content... it sees the totality of television’s programs as a coherent system of messages." (Gerbner, 1998, hlm. 178)
Apa yang mereka temukan sangat konsisten dari tahun ke tahun: dunia televisi adalah dunia yang terdistorsi. Kekerasan jauh lebih banyak terjadi di televisi daripada di dunia nyata. Profesi tertentu (dokter, polisi, pengacara) sangat dominan, sementara perempuan, kaum minoritas, lansia, dan kelas pekerja sering kali tidak terlihat atau digambarkan secara stereotipikal (Signorielli & Morgan, 1990). Pesan yang dikirimkan bukanlah pesan acak, melainkan pesan ideologis yang stabil: dunia adalah tempat yang berbahaya, hierarki sosial yang ada adalah normal, dan konsumsi adalah jalan menuju kebahagiaan.
3. Cultivation Analysis (Analisis Kultivasi)
Inilah level yang paling dikenal publik. Cultivation analysis berusaha menjawab pertanyaan: "Apakah orang yang menghabiskan lebih banyak waktu menonton televisi cenderung memiliki persepsi tentang realitas sosial yang lebih mirip dengan 'dunia televisi' dibandingkan dengan mereka yang menonton lebih sedikit?"
Metodenya adalah survei khalayak dalam skala besar. Responden dibagi menjadi dua kelompok: Heavy viewers (penonton berat, biasanya lebih dari 4 jam per hari) dan light viewers (penonton ringan, kurang dari 2 jam per hari). Mereka kemudian diberi pertanyaan tentang dunia nyata. Jawaban mereka dibandingkan dengan realitas statistik dan dengan "realitas televisi" yang telah dipetakan melalui message system analysis. Inilah yang oleh Gerbner disebut sebagai "cultivation differential" (Gerbner & Gross, 1976, hlm. 182), perbedaan persepsi antara penonton berat dan ringan yang tidak dapat dijelaskan oleh faktor demografis lain.
Gerbner memiliki konsep yang sangat mendasar dan puitis tentang komunikasi. Baginya, komunikasi adalah budaya, dan budaya adalah sistem cerita (storytelling) yang membentuk cara kita memandang dunia. Ia membedakan tiga jenis cerita utama yang membentuk peradaban manusia (Gerbner, 1998, hlm. 175):
- Cerita tentang "bagaimana sesuatu bekerja" (how things work), ini adalah cerita-cerita yang kita sebut berita, sains, atau filsafat. Cerita ini membantu kita memahami dunia faktual.
- Cerita tentang "bagaimana seharusnya" (how things should be), ini adalah cerita tentang nilai, hukum, dan moral. Cerita ini memberi kita pedoman dan norma.
- Cerita tentang "bagaimana jika..." (what if...), ini adalah cerita fiksi, drama, dan hiburan. Cerita ini mengajak kita berimajinasi dan mengeksplorasi kemungkinan.
Teori Kultivasi memiliki beberapa konsep inti yang membuatnya lebih dari sekadar model "jarum hipodermik" sederhana. Konsep-konsep ini menjelaskan bagaimana proses penanaman itu bekerja secara kompleks dan bernuansa.
Pertama, pengelompokan Heavy Viewers vs. Light Viewers. Pengelompokan ini adalah dasar dari semua analisis kultivasi. Premisnya sederhana namun kuat: semakin lama seseorang "hidup" dalam dunia televisi, semakin besar kemungkinan mereka mengadopsi realitas televisi sebagai realitas sesungguhnya. Namun, penting untuk dicatat bahwa pembagian ini bukan berarti penonton ringan sama sekali tidak terpengaruh. Efek kultivasi bersifat relatif, dan dalam masyarakat di mana hampir semua orang menonton televisi, efek absolutnya bisa sangat besar.
Kedua, pengelompokan Orde Pertama dan Orde Kedua. Para peneliti kultivasi membedakan efek ke dalam dua orde (Shanahan & Morgan, 1999, hlm. 87-89):
- Efek Orde Pertama (First-Order Effects) mengacu pada keyakinan umum tentang fakta-fakta di dunia. Misalnya, "Berapa persentase penduduk Indonesia yang bekerja di sektor formal?" atau "Seberapa sering kejahatan dengan kekerasan terjadi di Jakarta?" Jika jawaban Anda cenderung ke arah angka yang lebih tinggi dari kenyataan dan lebih dekat ke penggambaran di televisi, Anda mengalami efek orde pertama.
- Efek Orde Kedua (Second-Order Effects) lebih dalam dan lebih ideologis. Ini mengacu pada sikap, nilai, dan orientasi umum terhadap dunia. Contoh klasiknya adalah kepercayaan bahwa "kebanyakan orang pada dasarnya egois dan tidak bisa dipercaya." Ini bukan tentang angka statistik, melainkan tentang pandangan hidup yang fundamental.
“Mainstreaming means that heavy viewing may reduce or override differences in perspectives and behavior which stem from other social, cultural, and demographic influences." (Signorielli & Morgan, 2009, hlm. 113)
Bayangkan dua orang, satu dari keluarga politisi kaya dan satu lagi dari keluarga petani miskin. Dalam banyak isu, pandangan politik mereka mungkin sangat berbeda. Namun, jika keduanya adalah penonton televisi berat, riset kultivasi menemukan bahwa pandangan politik mereka cenderung lebih mirip satu sama lain dibandingkan dengan rekan-rekan mereka yang menonton lebih sedikit. Televisi, dalam hal ini, menciptakan "a relative homogenization of otherwise divergent groups" (Shanahan & Morgan, 1999, hlm. 91). Di Indonesia, konsep ini sangat relevan untuk menjelaskan bagaimana televisi nasional, dengan narasi sentralistiknya, telah membentuk semacam "kesadaran politik nasional" yang relatif homogen, yang di dalamnya suara-suara dari daerah pinggiran atau kelompok minoritas sering kali tergerus.
Keempat, resonansi manakala layar dan realitas saling bertemu. Jika mainstreaming adalah proses penyamarataan, resonance (resonansi) justru bekerja sebaliknya bagi kelompok-kelompok tertentu. Resonance terjadi ketika dunia yang digambarkan di televisi sesuai atau selaras (resonates) dengan pengalaman hidup nyata sehari-hari penonton. Efeknya adalah penguatan ganda (double dose). Seseorang yang tinggal di lingkungan dengan tingkat kriminalitas tinggi dan juga menonton banyak tayangan kriminal di televisi akan mengalami efek kultivasi yang jauh lebih kuat tentang betapa berbahayanya dunia. Pengalaman langsungnya beresonansi dengan pesan televisi, menciptakan keyakinan yang sangat sulit digoyahkan.
"The congruence of the television world and real-life circumstances may create a ‘double dose’ of the television message, resulting in a significantly stronger cultivation effect for certain groups." (Gerbner et al., 1980, hlm. 15)
Penelitian di Jawa Timur oleh Nugraheni dan Purnama (2017) tentang pengaruh sinetron terhadap persepsi ibu-ibu mengenai keluarga bahagia memberikan bukti empiris yang menarik. Penelitian ini menguji konsep mainstreaming dan resonance. Hasilnya menunjukkan bahwa konsep mainstreaming tidak sepenuhnya berlaku. Justru, konsep resonancelah yang terbukti signifikan. Data menunjukkan bahwa semakin tinggi kesesuaian antara pengalaman responden dengan isi tayangan media, semakin tinggi pula persetujuan responden bahwa realitas sosial itu sama dengan realitas yang ditampilkan oleh media. Ibu-ibu yang kehidupan keluarganya memang mirip dengan drama yang ditonton, menjadi kelompok yang paling ter-kultivasi.
Kelima, adalah mean world syndrome (sindrom bahwa dunia itu kejam). Inilah temuan paling terkenal dan paling meresahkan dari Teori Kultivasi. Mean World Syndrome adalah fenomena di mana para penonton televisi berat cenderung memandang dunia sebagai tempat yang lebih kejam, lebih berbahaya, dan lebih tidak bisa dipercaya daripada yang sebenarnya.
"Heavy television viewers are more likely to see the world as a more dangerous place, characterized by mistrust, fear, and the expectation of violence." (Gerbner & Gross, 1976, hlm. 191)
Ini adalah konsekuensi logis dari temuan message system analysis: Karena televisi secara masih dan berulang-ulang menampilkan kekerasan, maka mereka yang paling banyak terpapar akan mengembangkan keyakinan yang sesuai. Di Indonesia, sindrom ini memiliki implikasi politik yang nyata. Tayangan-tayangan berita kriminal seperti Patroli, 86, atau berbagai program reality show yang mendramatisasi kejahatan jalanan, tidak hanya menyajikan berita, tetapi juga secara perlahan mengkultivasi rasa takut publik.
Seperti dilaporkan oleh sebuah kajian di Indonesia, penelitian LIPI dan Komnas HAM (2021) menunjukkan bahwa masyarakat yang rutin menonton tayangan kriminal memiliki persepsi bahwa lingkungan mereka lebih berbahaya, meskipun data kriminalitas sebenarnya menunjukkan tren penurunan (Zikrillah, 2025, dalam Kumparan). Sebagaimana dicatat dalam artikel tersebut, "tayangan kriminal yang diulang setiap hari, tanpa narasi seimbang, cenderung memperkuat keyakinan bahwa dunia adalah tempat yang keras, tidak aman, dan penuh kekerasan." Lebih jauh, rasa takut ini dapat mendorong masyarakat menjadi lebih tertutup, tidak percaya pada orang lain, dan bahkan lebih mendukung kebijakan-kebijakan keamanan yang represif.
Meskipun lahir dari studi tentang kekerasan, Teori Kultivasi dengan cepat berkembang ke area-area lain. Gerbner dan para penerusnya menyadari bahwa logika kultivasi berlaku untuk representasi apa pun yang stabil, berulang, dan meresap. Beberapa area perluasan yang paling penting meliputi:
- Kultivasi Politik. Ini adalah area yang paling relevan dengan esai ini. Studi-studi menemukan bahwa paparan berita televisi yang konstan memengaruhi orientasi politik, kepercayaan pada institusi, dan bahkan identifikasi partisan. Televisi, dengan kecenderungannya pada konflik dan dramatisasi, sering kali mengultivasikan sinisme politik di kalangan pemirsa.
- Kultivasi Gender dan Peran Seks. Analisis isi menunjukkan bahwa televisi cenderung menampilkan perempuan dalam peran-peran yang lebih sedikit, lebih stereotipikal, dan sering kali lebih muda dibandingkan laki-laki (Signorielli & Morgan, 2009). Studi kultivasi kemudian menemukan bahwa penonton berat cenderung memiliki pandangan yang lebih tradisional tentang peran gender.
- Kultivasi Kesehatan dan Tubuh. Representasi tubuh ideal yang tidak realistis di televisi telah dikaitkan dengan gangguan citra tubuh dan ketidakpuasan pada penonton, terutama di kalangan remaja dan perempuan muda.
- Kultivasi Agama dan Minoritas. Penggambaran kelompok minoritas yang terbatas dan sering kali stereotipikal di televisi dapat mengultivasikan prasangka dan kesalahpahaman di antara penonton mayoritas. Ini adalah area yang sangat sensitif dan penting di Indonesia yang majemuk.
Tidak ada teori ilmiah yang kebal dari kritik, dan Teori Kultivasi telah menjadi sasaran berbagai serangan intelektual. Memahami kritik ini penting untuk menghargai kekuatan dan keterbatasan teori ini.
Serangan paling awal dan paling terkenal datang dari Paul Hirsch, seorang sosiolog dari University of Michigan. Dalam serangkaian artikel pada awal 1980-an, Hirsch mengkritik metodologi dan kesimpulan Gerbner. Ia berargumen bahwa ketika variabel kontrol yang tepat (seperti usia, jenis kelamin, pendidikan, dan pendapatan) diterapkan secara simultan dalam analisis statistik, efek kultivasi yang awalnya terlihat menjadi sangat kecil, bahkan hilang sama sekali. Ia juga mengkritik konsep mainstreaming dan resonance sebagai "logically inadequate" dan tidak didukung oleh bukti empiris yang kuat (Hirsch, 1981).
Gerbner dan timnya menjawab kritik ini dengan gigih. Mereka berargumen bahwa kontrol simultan justru bisa menyembunyikan efek yang ada karena variabel-variabel tersebut bukanlah "pengganggu" (confounders), melainkan saluran di mana kultivasi bekerja. Misalnya, jika beratnya menonton televisi dikorelasikan dengan tingkat pendidikan yang rendah, mengontrol pendidikan akan "menghilangkan" bagian dari efek kultivasi yang bekerja melalui jalur tersebut. Mereka juga menekankan bahwa kritik Hirsch terlalu bergantung pada uji signifikansi statistik dan mengabaikan pola konsisten serta akumulasi bukti selama bertahun-tahun (Gerbner et al., 1981a, 1981b).
Hari ini, konsensus di antara para peneliti komunikasi adalah bahwa efek kultivasi itu nyata, tetapi kecil dan bersyarat. Meta-analisis yang dilakukan oleh Morgan dan Shanahan (1997) terhadap hampir 100 studi kultivasi menemukan bahwa ukuran efek rata-rata memang kecil (korelasi sekitar r = 0.09), tetapi efek ini konsisten dan signifikan.
Kritik yang lebih fundamental datang dari perubahan lanskap media. Teori Kultivasi dibangun untuk era broadcasting, di mana tiga jaringan televisi besar mendominasi dan khalayak relatif pasif. Era digital, dengan kabel, streaming, dan media sosial, telah mendobrak model itu. Pertanyaan besarnya adalah: apakah kultivasi masih relevan?
Jawabannya, iya, tetapi dengan adaptasi. Michael Morgan, James Shanahan, dan Nancy Signorielli, trio penerus utama Gerbner, telah memimpin upaya untuk memperluas teori ini. Mereka berargumen bahwa logika inti kultivasi tetap berlaku, tetapi fokusnya harus bergeser. Dalam Living with Television Now: Advances in Cultivation Theory & Research (Morgan et al., 2012), para peneliti mengeksplorasi bagaimana konsep-konsep seperti "cultivation 2.0" dapat diterapkan.
Pergeserannya adalah dari medium ke message system. Alih-alih bertanya "apakah totalitas televisi mengultivasi X?", kita bertanya "apakah paparan kumulatif terhadap suatu sistem pesan tertentu di berbagai platform (Netflix, YouTube, TikTok, Instagram) mengultivasi X?". Algoritma, dalam hal ini, menjadi institutional process baru yang sangat kuat, mengkurasi dan mempersonalisasi sistem pesan yang unik bagi setiap individu. Ini adalah babak baru yang menarik dan menantang bagi penelitian kultivasi.
Teori Kultivasi di Politik Indonesia
Indonesia, dengan sejarah, budaya, dan struktur media yang unik, menyediakan laboratorium yang kaya untuk menguji dan menerapkan Teori Kultivasi dalam konteks politik. Berikut adalah beberapa poin masuk yang krusial.Meskipun penetrasi internet dan media sosial melonjak tajam, televisi tetap menjadi medium yang sangat kuat di Indonesia. Data Nielsen menunjukkan bahwa penetrasi televisi mencapai lebih dari 90% rumah tangga. Bagi mayoritas rakyat Indonesia, terutama di luar Jawa dan di kalangan ekonomi menengah ke bawah, televisi adalah dan tetap menjadi jendela utama ke dunia luar.
Sebuah penelitian kunci oleh Wibowo dan Mirawati (2013) yang berjudul "Realitas Politik Indonesia dalam Kacamata Pengguna Twitter" memberikan temuan yang sangat relevan. Dengan menggunakan metode survei yang berpedoman pada teori kultivasi, penelitian ini mencari tahu bagaimana pandangan politik pada pengguna berat dan pengguna ringan Twitter. Hasilnya mengejutkan: Tidak ada perbedaan signifikan pada pengguna berat dan pengguna ringan dalam memandang politik di Indonesia. Mengapa? Karena, seperti dicatat oleh para peneliti, "Twitter bukan sumber utama berita politik mereka. Sumber informasi utama mereka tetap media konvensional, terutama televisi."
Temuan ini menegaskan bahwa di Indonesia, fondasi persepsi politik masih sangat dibangun oleh televisi. Media sosial, setidaknya pada masa itu dan mungkin masih relevan secara fundamental, berfungsi lebih sebagai arena diskusi atas apa yang telah ditonton di televisi, bukan sebagai sumber utama pembentuk persepsi awal.
Di sinilah analisis institusional ala Gerbner menjadi sangat penting. Lanskap media Indonesia, terutama televisi, didominasi oleh segelintir konglomerasi besar dengan afiliasi politik yang kuat. Kita mengenal MNC Group (Hary Tanoesoedibjo), VIVA Networks (Bakrie Group), atau Media Group (Surya Paloh). Fenomena ini mengarah pada apa yang oleh para pengamat disebut sebagai "politik konglomerasi" di mana media tidak hanya menjadi pengawas kekuasaan, tetapi juga menjadi alat kekuasaan itu sendiri.
Analisis tentang orientasi politik konglomerat media pada Pilpres 2024, seperti yang dilakukan terhadap figur Anindya Bakrie dan VIVA Networks, menunjukkan bagaimana orientasi politik pemilik dapat terlihat melalui kecenderungan berita di media miliknya (Amanda, 2025). Dari perspektif kultivasi, ini bukan hanya soal framing berita tertentu, melainkan tentang sistem pesan agregat yang disajikan oleh seluruh jaringan media dalam satu payung konglomerasi. Jika Anda adalah penonton setia stasiun televisi milik partai atau figur politik tertentu, Anda sedang terpapar pada sebuah "dunia televisi" yang sangat spesifik, yang secara konsisten dan kumulatif mengultivasi persepsi politik yang selaras dengan kepentingan pemiliknya.
Politainment
Fenomena politainment (political entertainment) adalah salah satu wujud paling jelas dari proses kultivasi. Politainment merujuk pada percampuran antara politik dan hiburan, di mana isu-isu politik yang kompleks dikemas dalam format yang menghibur, ringan, dan emosional. Di Indonesia, ini bisa terlihat dalam berbagai bentuk: Talkshow yang lebih menyerupai gosip, kehadiran politisi di acara komedi, atau sinetron yang secara halus menyisipkan narasi politik.Penelitian oleh Putri (2018) tentang konstruksi aktor politik dalam tayangan televisi di Indonesia secara spesifik membahas bagaimana media mengkonstruksi citra aktor politik melalui program politainment. Media "menunjukkan secara terang-terangan apa yang hendak ditonjolkan mengenai pribadi aktor politik" melalui pemilihan busana, gestur, latar, hingga jawaban yang diberikan. Ini adalah proses kultivasi tingkat tinggi. Penonton tidak diberi ceramah politik, tetapi diajak untuk "mengenal" dan "menyukai" seorang figur publik melalui tayangan yang menghibur. Realitas politik yang kompleks direduksi menjadi narasi personal yang sederhana dan mudah dicerna.
Pesan yang dikultivasi oleh politainment sangat kuat: Politik adalah tentang personalitas, bukan tentang kebijakan; tentang drama, bukan tentang data; tentang siapa yang paling lucu atau paling santai, bukan tentang siapa yang paling kompeten. Ini menciptakan pemilih yang sinis terhadap proses formal tetapi sangat emosional terhadap figur.
Meskipun berbeda secara teoritis, praktik framing media adalah mekanisme utama yang melaluinya kultivasi beroperasi dalam jangka pendek dan panjang. Framing adalah cara media mengkonstruksi realitas dengan memilih aspek tertentu dari suatu isu dan membuatnya lebih menonjol. Sebuah studi kasus yang sangat relevan adalah analisis framing pemberitaan Metro TV terhadap 100 hari pertama pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Penelitian tersebut menemukan bahwa Metro TV melakukan konstruksi pemberitaan dengan cara tertentu (Wibowo, 2025). Dari kacamata kultivasi, ini adalah contoh dari "pesan sistem" yang disajikan secara berulang. Selama 100 hari, pemirsa Metro TV "dikultivasi" dengan narasi tertentu tentang efektivitas atau kelemahan pemerintahan baru. Pola yang berulang inilah, bukan satu berita tunggal, yang perlahan-lahan membentuk persepsi agregat pemirsa tentang legitimasi dan kinerja pemerintah.
Di Balik Layar Politik Indonesia
Sekarang, mari kita sintesakan semua konsep di atas untuk melakukan pembacaan kultivasi terhadap politik Indonesia secara lebih luas.Realitas politik yang didramatisasi dalam politik Indonesia ternyata telah mengultivasi sinisme. Pertanyaan besarnya adalah: Apa realitas politik yang dikultivasi oleh televisi dan media di Indonesia? Jawabannya, dengan mengamati pola agregat program berita dan non-berita, tampaknya mengarah pada satu kata kunci: Sinisme.
Sistem pesan media kita dibanjiri oleh berita-berita yang menggambarkan korupsi yang seakan tak berujung, pertengkaran elit yang tidak produktif, dan proses hukum yang bisa diperjualbelikan. Seperti yang ditemukan oleh Wibowo dan Mirawati (2013), publik "ragu akan masa depan Indonesia yang lebih baik, dan tidak percaya bahwa kasus korupsi akan dapat diselesaikan." Ini adalah gejala sinisme politik akut.
Proses kultivasinya dapat dijelaskan sebagai berikut. Meskipun benar bahwa korupsi adalah masalah serius di Indonesia, frekuensi, intensitas, dan dramatisasi pemberitaannya di media menciptakan sebuah "dunia televisi" di mana korupsi terlihat sebagai sesuatu yang mutlak endemik, sistemik, dan tanpa harapan. Bagi seorang penonton berat, pesan yang tertanam adalah: "Semua politisi korup." Ini adalah efek orde kedua.
Efek ini semakin kuat melalui mekanisme mainstreaming. Apakah Anda pendukung partai A atau partai B, seorang PNS atau seorang petani, jika Anda adalah penonton televisi berat, sinisme Anda terhadap institusi politik akan cenderung meningkat dan menjadi seragam. Televisi, sebagai "the central cultural arm of society" (Signorielli & Morgan, 2009), dalam menjalankan fungsi menstabilkan pola sosial, secara paradoks justru mengultivasi sinisme terhadap proses politik formal itu sendiri. Ini mendorong resistensi terhadap perubahan (resistance to change) karena setiap usulan perubahan dipandang dengan penuh kecurigaan. Status quo, betapapun cacatnya, terlihat sebagai satu-satunya realitas yang mungkin.
Selain itu, telah menggejala dukungan pada Otoritarianisme akibat terjadinya kultivasi rasa takut. Mean World Syndrome memiliki implikasi politik yang sangat dalam. Jika media terus-menerus mengultivasi rasa takut, akan kejahatan, terorisme, konflik sosial, atau disintegrasi bangsa, maka masyarakat akan lebih mudah menerima, bahkan mendambakan, solusi-solusi yang bersifat otoriter dan represif. Janji-janji kampanye yang bertujuan "menghantam" dan "membasmi" tanpa proses hukum yang adil menjadi terdengar meyakinkan, bukan sebagai pelanggaran hak asasi, melainkan sebagai tindakan tegas yang diperlukan.
Tayangan seperti 86 atau Patroli bukan hanya menayangkan berita; mereka secara aktif mengkonstruksi "panggung ketakutan" yang secara konsisten menampilkan sepatu boot polisi yang menginjak tersangka kurus, adegan penggerebekan yang dramatis, dan narasi "kami vs. mereka" yang tajam (Zikrillah, 2025). Pesan kumulatifnya adalah: Dunia sangat kejam, dan hanya aparat keamanan yang bisa melindungimu. Ini adalah fondasi persepsi yang sangat subur bagi tumbuhnya populisme otoriter. Dukungan terhadap kebijakan yang melanggar kebebasan sipil, permintaan akan hukuman mati yang lebih sering, atau penerimaan terhadap aksi-aksi vigilantisme adalah beberapa konsekuensi politik yang mungkin timbul dari sindrom ini.
Namun, terdapat pula hal lain yang dinamakan hegemoni citra yang muncul dari kultivasi sinetron keluarga bahagia. Jangan pernah meremehkan kekuatan sinetron. Penelitian Nugraheni dan Purnama (2017) tentang sinetron dan konsep keluarga bahagia menunjukkan bahwa kultivasi terjadi paling kuat justru pada konten yang tampak paling "apolitis". Sinetron yang menampilkan keluarga ideal dengan rumah mewah, mobil bagus, dan ayah-ibu yang selalu rukun (meskipun ada konflik) tidak hanya menjual mimpi; ia mengultivasi sebuah standar normatif.
Dalam konteks politik, ini terkait dengan hegemoni citra. Jika standar "pemimpin ideal" yang ditanamkan sinetron adalah sosok yang berwibawa, tenang, dan paripurna (seperti ayah dalam sinetron), maka politisi yang paling mampu memproyeksikan citra itulah yang akan dipilih, terlepas dari program kerjanya. Ini menjelaskan mengapa di Indonesia, popularitas personal branding sering kali mengalahkan kapasitas teknokratis. Publik, yang dikultivasi oleh sinetron, mencari "aktor" yang pas, bukan "pemikir" yang dalam. Resonansi terjadi ketika pemilih dari keluarga yang relatif harmonis melihat figur politik yang juga menampilkan citra harmonis tersebut.
Dalam studi kasus Pilples 2024, Metro TV telah melakukan apa yang dinamakan sebagai Konstruksi Citra. Penelitian Ali Sahab (2025) tentang bagaimana Metro TV membentuk citra politik pasangan Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar dalam Pilpres 2024 adalah contoh sempurna dan kontemporer tentang bagaimana kultivasi bekerja dalam praktik elektoral.
Penelitian ini menemukan bahwa Metro TV secara aktif menggunakan teknik framing dan seleksi naratif untuk menonjolkan kelebihan pasangan Anies-Muhaimin. Hal yang menarik adalah analisis konten YouTube Metro TV. Acara-acara seperti Kiky Saputri Roasting AMIN atau KICK KONTROVERSI – AMIN Makin Yakin bukanlah berita keras, melainkan konten hiburan yang dirancang untuk memanusiakan dan mendekatkan para kandidat kepada pemilih muda. Ini adalah politainment in action.
Dari perspektif kultivasi, dampaknya tidak terletak pada satu video, tetapi pada paparan kumulatif terhadap konten-konten semacam itu di kanal Metro TV. Bagi seorang pemilih yang tidak memiliki akses ke sumber informasi lain yang kredibel, "dunia YouTube Metro TV" menjadi realitas politik yang dominan. Di sana, pasangan ini adalah favorit, didukung oleh para influencer, dan menarik. Efeknya adalah peningkatan visibilitas dan persepsi positif yang pada akhirnya memengaruhi elektabilitas. Ini adalah kultivasi afektif: Media menanamkan "rasa" positif, bukan "fakta" objektif.
Dengan aneka perkembangan ini maka kita telah sampai pada kultivasi di era digital, yang untuk itu diperlukan pembaruan teori agar bisa diterapkan guna menjelas Indonesia era kiwari. Apakah Teori Kultivasi yang lahir di era televisi analog masih relevan di era media sosial? Pertanyaan ini sangat penting dan harus dijawab.
Terjadi fenomena dengan mana pesan sistem menjadi terpersonalisasi melalui terjadinya peralihan dari broadcast menuju algoritma. Ya, Teori Kultivasi tetap, bahkan mungkin semakin, relevan, tetapi dengan perubahan fundamental pada subjek analisisnya. Konsep "pesan sistem" (message system) tetap menjadi inti. Namun, sistem pesan di era digital tidak lagi tunggal, terpusat, dan seragam seperti televisi broadcast. Sebaliknya, sistem pesan kini sangat terfragmentasi dan terpersonalisasi oleh algoritma.
Konsekuensinya sangat besar. Kita mungkin tidak lagi menyaksikan "mainstreaming" dalam skala nasional. Sebaliknya, kita menyaksikan "algorithmic mainstreaming", di mana setiap individu dikultivasi oleh "saluran" algoritmiknya masing-masing. Ini menciptakan fenomena filter bubble dan echo chamber yang tidak hanya mengultivasi persepsi tentang realitas, tetapi juga mengultivasi persepsi bahwa "semua orang berpikir seperti saya."
Selain itu, kini juga telah terjadi kultivasi TikTok dan Twitter (X). Platform seperti TikTok, dengan format video pendeknya yang sangat adiktif dan kuat secara emosional, adalah mesin kultivasi yang paling efisien yang pernah ada. Algoritmanya tidak pandang bulu. Ia menyajikan konten demi konten yang disukai pengguna, menciptakan sistem pesan yang sangat koheren dan tertutup. Jika seorang pengguna menunjukkan ketertarikan pada narasi konspirasi politik, algoritma TikTok akan "mengultivasinya" dengan konten penguatan selama berjam-jam. Efek kumulatifnya bisa sangat radikal.
Sementara itu, Twitter (sekarang X), meskipun penelitian Wibowo dan Mirawati (2013) menunjukkan bahwa ia bukan sumber utama berita politik pada masanya, fungsinya kini telah bergeser. Bagi kalangan terdidik, aktivis, dan jurnalis, Twitter adalah "lini pertama" informasi. Namun, strukturnya yang mendorong perdebatan singkat, tajam, dan ofensif telah mengultivasi budaya politik yang sangat konfrontatif. "Dunia Twitter" mengultivasi persepsi bahwa politik Indonesia adalah perang abadi antara dua kubu yang tidak akan pernah berdamai. Resonance bekerja di sini: Ketika seorang pengguna Twitter bertengkar hebat di linimasa dan kemudian menonton debat panas di televisi, ia mendapat "dosis ganda" yang memperkuat keyakinannya bahwa konflik adalah esensi politik.
Akhirnya, apa konsekuensi teori kultivasi bagi perkembangan demokrasi di Indonesia. Hilangnya "mainstream" nasional yang dikultivasi oleh televisi dulu dan digantikan oleh "mainstream-mikro" berbasis algoritma adalah tantangan besar bagi demokrasi. Demokrasi membutuhkan "ruang publik bersama" (shared public sphere) di mana warga negara bisa berdebat tentang fakta dan realitas yang kurang lebih sama. Ketika setiap orang hidup dalam realitas hasil kultivasi algoritma yang berbeda, bagaimana mungkin dialog bisa terjadi? Bagaimana mungkin konsensus nasional bisa dibangun?
Ini adalah ironi besar: Media yang seharusnya menjadi perekat sosial, kini justru menjadi mesin fragmentasi. Kultivasi hari ini tidak lagi menciptakan arus utama yang menyatukan, melainkan jutaan arus kecil yang saling menjauh, masing-masing dengan "sindrom dunianya" sendiri: "Dunia Indonesia yang sudah hancur" di gelembung oposisi, dan "dunia Indonesia yang sedang hebat" di gelembung pendukung pemerintah. Keduanya adalah hasil kultivasi.
Penutup
George Gerbner pernah mengatakan, “The most important thing we know about a person is what he takes for granted” (dalam Morgan, 2009, hlm. 45). Misi intelektualnya adalah untuk menjadikan hal-hal yang kita anggap remeh, representasi media yang kita konsumsi setiap hari, sebagai objek yang patut dipertanyakan secara kritis. Di sinilah letak kekuatan dan relevansi abadi Teori Kultivasi, khususnya bagi kita di Indonesia.Kita telah menelusuri bagaimana dari laboratorium riset di Pennsylvania, teori ini menawarkan kerangka untuk memahami bagaimana narasi televisi, dari berita kriminal yang mencekam hingga sinetron yang mengharu biru, secara perlahan dan kumulatif menenun persepsi kita tentang realitas. Lebih dari itu, kita melihat bagaimana benang-benang narasi itu kemudian ditenun lebih lanjut oleh mesin algoritma di era digital, menciptakan gelembung-gelembung realitas yang personal dan sulit ditembus.
Dalam lanskap politik Indonesia, Teori Kultivasi bukanlah sekadar teori akademis yang abstrak. Ia adalah realitas yang hidup. Konglomerasi media, fenomena politik-hiburan (politainment), framing berita yang partisan, dan banjir informasi di media sosial bukanlah sekadar fenomena yang terjadi. Semua itu adalah proses-proses institusional yang memproduksi "sistem pesan" yang secara aktif mengultivasi persepsi politik kita. Kita dikultivasi untuk sinis dan apatis terhadap proses politik formal, untuk takut terhadap ancaman di luar, dan untuk menghakimi para pemimpin berdasarkan citra personal yang diproyeksikan di layar, bukan berdasarkan integritas atau kapasitas mereka.
Lalu, apa yang bisa kita lakukan? Apakah kita hanyalah korban pasif dari kultivasi media? Tentu saja tidak. Kesadaran adalah langkah pertama dan terpenting. Misi "mencerahkan" dari Teori Kultivasi bukanlah untuk membuat kita berhenti menonton televisi atau bermain media sosial, melainkan untuk mengembangkan literasi kultivasi. Ini adalah kemampuan untuk tidak hanya memahami "isi" pesan, tetapi juga "pola" dan "bias" dari sistem pesan yang kita konsumsi.
Berikut beberapa langkah konkret untuk menjadi warga yang sadar kultivasi:
Pada akhirnya, seperti yang mungkin akan diingatkan oleh Gerbner, kita bukan hanya penonton yang dikultivasi, tetapi juga pelaku yang bisa mengolah ladang media kita sendiri. Pertanyaannya bukan lagi apakah kita akan dipengaruhi oleh media, tetapi oleh sistem pesan siapa kita akan dipengaruhi, dan untuk tujuan apa? Di tangan para oligark dan algoritma, kultivasi bisa menjadi alat kontrol. Namun di tangan warga yang sadar dan kritis, pemahaman tentang kultivasi adalah kunci menuju pembebasan.
- Diversifikasi Sumber Informasi Secara Sadar (Conscious Diversification). Jangan biarkan algoritma mengurasi realitas Anda. Secara aktif carilah sumber berita yang kredibel dari spektrum ideologi yang berbeda. Membaca media asing, laporan lembaga riset non-pemerintah, atau jurnal akademik bisa menjadi penyeimbang.
- Jadilah "Detektif Metode". Pertanyakan selalu: Siapa yang diuntungkan dari narasi ini? Bagaimana proses produksinya? Mengapa cerita ini dikisahkan dengan cara ini dan bukan cara lain? Ini adalah penerapan dari analisis proses institusional ala Gerbner dalam kehidupan sehari-hari.
- Latih Kesadaran Pola (Pattern Awareness). Alih-alih bereaksi terhadap satu berita, cobalah lihat pola pemberitaan selama sebulan di satu medium. Apakah isu tertentu selalu dikaitkan dengan kelompok tertentu? Apakah ada jenis berita yang tidak pernah muncul? Pola inilah yang mengultivasi.
- Galakkan Pendidikan Literasi Media di Lingkungan Terdekat. Bagikan pemahaman ini kepada keluarga, teman, dan komunitas. Diskusikan bagaimana sebuah sinetron atau berita kriminal bisa membentuk cara pandang kita. Semakin banyak orang yang sadar, semakin lemah efek kultivasi yang tidak kritis.
Referensi
Amanda, R. J. (2025). Analisis orientasi politik konglomerat media pada pemilihan presiden 2024: Studi kasus Anindya Bakrie founder VIVA Networks-Bakrie Group (Skripsi, Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta). Repository UPNVJ. http://repository.upnvj.ac.id/38424/Gerbner, G. (1969). Toward “cultural indicators”: The analysis of mass mediated public message systems. AV Communication Review, 17(2), 137–148.
Gerbner, G. (1998). Cultivation analysis: An overview. Mass Communication & Society, 1(3-4), 175–195.
Gerbner, G. (1998). Cultivation analysis: An overview. Mass Communication & Society, 1(3-4), 175–195.
Gerbner, G., & Gross, L. (1976). Living with television: The violence profile. Journal of Communication, 26(2), 173–199.
Gerbner, G., Gross, L., Morgan, M., & Signorielli, N. (1980). The “mainstreaming” of America: Violence profile no. 11. Journal of Communication, 30(3), 10–29.
Gerbner, G., Gross, L., Morgan, M., & Signorielli, N. (1981a). Final reply to Hirsch. Communication Research, 8(3), 259–280.
Gerbner, G., Gross, L., Morgan, M., & Signorielli, N. (1981b). On the limitations of “Limitations...”. Journal of Communication, 31(3), 45-48.
Hirsch, P. (1981). On not learning from one’s own mistakes: A reanalysis of Gerbner et ally’s findings on cultivation analysis, part II. Communication Research, 8(1), 3–37.
Morgan, M. (2009). George Gerbner: A critical introduction to media and communication theory. Peter Lang.
Morgan, M. (2009). George Gerbner: A critical introduction to media and communication theory. Peter Lang.
Morgan, M., & Shanahan, J. (1997). Two decades of cultivation research: An appraisal and meta-analysis. Communication Yearbook, 20, 1–45.
Morgan, M., Shanahan, J., & Signorielli, N. (Eds.). (2012). Living with television now: Advances in cultivation theory & research. Peter Lang.
Nugraheni, Y., & Purnama, F. Y. (2017). Cultivation analysis pengaruh terpaan program sinetron TBNH dan sikap ibu-ibu di Jawa Timur mengenai keluarga bahagia. Jurnal Komunikatif, 3(1), 1-21. https://doi.org/10.33508/jk.v3i1.1247
Putri, C. A. (2018). Politainment media televisi di Indonesia: Studi tentang konstruksi aktor politik dalam tayangan televisi (Skripsi, UIN Sunan Ampel Surabaya). Digilib UINSA. http://digilib.uinsa.ac.id/26494/
Ruddock, A. (2024). History, politics and the evolution of cultivation theory: Beyond violence?. Palgrave Macmillan.
Sahab, A., et al. (2025). Menilai efektivitas reformasi komunikasi politik di era digital melalui Pemilu Presiden Indonesia 2024. Universitas Airlangga. https://unair.ac.id/menilai-efektivitas-reformasi-komunikasi-politik-di-era-digital-melalui-pemilu-presiden-indonesia-2024/
Scharrer, E. (2011). Cultivation. Oxford Bibliographies in Communication. https://doi.org/10.1093/obo/9780199756841-0019
Shanahan, J., & Morgan, M. (1999). Television and its viewers: Cultivation theory and research. Cambridge University Press.
Signorielli, N., & Morgan, M. (Eds.). (1990). Cultivation analysis: New directions in media effects research. Sage Publications.
Signorielli, N., & Morgan, M. (2009). Cultivation analysis. Dalam The international encyclopedia of media studies (hlm. 106-123). Wiley-Blackwell.
Wibowo, A. N. A. (2025). Konstruksi media Metro TV dalam pemberitaan 100 hari pemerintahan
Wibowo, A. N. A. (2025). Konstruksi media Metro TV dalam pemberitaan 100 hari pemerintahan
Presiden Prabowo Subianto (Tesis, UIN Prof. KH. Saifuddin Zuhri). Repository UIN SAIZU. http://repository.uinsaizu.ac.id/33180/
Wibowo, S. K. A., & Mirawati, I. (2013). Realitas politik Indonesia dalam kacamata pengguna Twitter. Jurnal Kajian Komunikasi, 1(1), 1-10. https://doi.org/10.24198/jkk.v1i1.6033
Zikrillah, M. (2025, 24 Juni). Tayangan kriminal dan mean world syndrome: Kajian teori kultivasi di Indonesia. Kumparan.com. https://kumparan.com/muhammad-zikrillah/tayangan-kriminal-dan-mean-world-syndrome-kajian-teori-kultivasi-di-indonesia-25KS7fbgYyK
Zustiyantoro, D. (2024). Kamuflase tayangan televisi: Membongkar kedok keberagaman dalam kelindan kepentingan politik-ekonomi media [Resensi buku]. Media Practice & Education, 26(1), 1-3. https://doi.org/10.1080/25741136.2024.2417329

https://orcid.org/0000-0002-1420-4288
0 Komentar
Silakan tulis komentar Anda.