Ad Code

Samir Amin dan Sikap Anti Eurosentrisme dalam Sistem Global

Ketika Samir Amin menghembuskan napas terakhirnya di Paris pada 12 Agustus 2018, dunia kehilangan salah satu pemikir paling tajam dan paling gigih dalam tradisi Marxisme abad ke-20 dan ke-21. Lahir di Kairo pada 3 September 1931, Amin menjalani kehidupan yang terbentang dari era kolonial hingga era perang dagang, dari dominasi imperialisme klasik hingga globalisasi neoliberal dan disrupsi multipolar. Ia adalah saksi sekaligus pelaku sejarah, seorang intelektual publik yang tidak hanya menulis di menara gading, tetapi juga turun ke jalan, mendirikan forum-forum alternatif, dan mengadvokasi tatanan dunia yang lebih adil.

Namun, pertanyaan yang menggelitik adalah, “Mengapa pemikiran seorang Marxis asal Mesir yang banyak menghabiskan kariernya di Dakar, Senegal, tetap relevan untuk kita baca di tahun 2026 ini? Jawabannya terletak pada kapasitas luar biasa Amin dalam membaca arah sejarah kapitalisme global, mendiagnosis kontradiksinya, dan menawarkan jalan keluar yang radikal namun masuk akal. Di tengah perang dagang yang kembali memanas, kebangkitan BRICS yang semakin percaya diri, dan krisis lingkungan yang semakin mencekik, suara Amin terasa lebih profetik dari sebelumnya.

Esai ini bertujuan untuk menjadi semacam "peta perjalanan" memasuki alam pemikiran Samir Amin. Saya akan mengajak Anda menyusuri koridor-koridor konseptual yang ia bangun: Dari konsep unequal development (pembangunan yang timpang), delinking (pemutusan hubungan ketergantungan), Eurosentrisme, hingga hukum nilai global. Semua akan disajikan dalam bahasa yang mudah dicerna, tanpa kehilangan ketajaman akademik, agar pemikiran Amin tidak hanya menjadi bahan diskusi di ruang kuliah, tetapi juga menjadi bekal untuk memahami dunia yang semakin kusut ini. Di akhir esai, penulis akan menunjukkan bagaimana gagasan-gagasan Amin berdialog dengan isu-isu kontemporer seperti perang dagang AS-China, de-dolarisasi, kebangkitan Asia-Afrika, dan krisis ekologis. Mari kita mulai perjalanan ini.

Biografi Singkat

Samir Amin sering dicap sebagai seorang "neo-Marxis" oleh para komentator, tetapi ia sendiri lebih suka menyebut dirinya sebagai seorang "Marxis kreatif" (Amin, 2010, sebagaimana dikutip dalam Kvangraven, 2020). Julukan ini bukan tanpa dasar. Bagi Amin, ortodoksi Marxis Barat telah gagal menangkap dimensi imperialis dari sejarah kapitalisme karena terlalu terpaku pada konteks Eropa. Ia menulis, "Masalah saya dengan kaum Marxis Barat adalah bahwa mereka tidak mencoba untuk melampaui Marx dan karenanya buta terhadap sifat imperialis dari kapitalisme historis" (Kvangraven, 2020). Sikap seperti ini mengingatkan kita kepada Tan Malaka, pemikir independen Marxis.

Amin muda tumbuh dalam atmosfer politik Mesir yang bergejolak. Ia menyaksikan sendiri kontradiksi antara nasionalisme anti-kolonial Gamal Abdel Nasser dan struktur ketergantungan ekonomi yang tetap mencengkeram negara-negara Dunia Ketiga meskipun secara politik telah merdeka. Pengalaman ini membentuk kepekaan intelektualnya terhadap "kemerdekaan politik tanpa kemerdekaan ekonomi", tema yang akan menjadi obsesi sepanjang hidupnya. Setelah menyelesaikan pendidikan di bidang ekonomi dan statistika di Paris, Amin menghabiskan sebagian besar karier profesionalnya di Afrika Barat, bekerja sebagai penasihat ekonomi dan kemudian sebagai direktur Institut Afrika untuk Pembangunan Ekonomi dan Perencanaan (IDEP) PBB di Dakar. Dari pos inilah ia mengembangkan analisis yang tajam tentang bagaimana kapitalisme global secara sistematis memproduksi dan mereproduksi ketimpangan antara pusat (center) dan pinggiran (periphery).

Telusuri pemikiran Samir Amin: unequal development, delinking, dan kritik Eurosentrisme. Relevansinya di era perang dagang, kebangkitan Global South,


Salah satu kontribusi paling awal dan paling berpengaruh dari Amin adalah buku monumentalnya, Unequal Development: An Essay on the Social Formations of Peripheral Capitalism (1976). Dalam buku ini, Amin merumuskan kerangka teoritis yang komprehensif tentang mengapa negara-negara pinggiran tidak akan pernah bisa "mengejar" (catch up) negara-negara pusat dalam kerangka kapitalisme global. Ini adalah pernyataan yang provokatif dan menantang arus utama teori pembangunan pada zamannya. Dua belas tahun kemudian, ia menerbitkan Eurocentrism (1988), sebuah kritik pedas terhadap cara pandang Eropa-sentris yang tidak hanya mendominasi teori-teori sosial arus utama, tetapi juga telah merasuki kesadaran kaum intelektual dan aktivis di Dunia Ketiga sendiri. Pada 1990, Delinking: Towards a Polycentric World muncul sebagai manifesto strategis tentang bagaimana negara-negara pinggiran bisa keluar dari jerat sistem global yang tidak adil.

Menjelang akhir hayatnya, Amin terus menulis dengan produktivitas yang mencengangkan. Capitalism in the Age of Globalization (1997), The Implosion of Contemporary Capitalism (2013), dan kumpulan esai tentang teori nilai Marxian yang diterbitkan sebagai Modern Imperialism, Monopoly Finance Capital, and Marx's Law of Value (2018) adalah bukti bahwa api intelektualnya tidak pernah padam.

Amin (2013) menegaskan bahwa "kapitalisme telah melampaui kegunaannya, menghasilkan kondisi yang menyarankan perlunya transisi menuju tahap peradaban yang lebih tinggi" (hlm. xxix). Ia menyebut era kontemporer sebagai "Musim Gugur Kapitalisme" (The Autumn of Capitalism), sebuah metafora yang puitis sekaligus analitis. Jatuhnya kapitalisme bukanlah sesuatu yang terjadi dalam semalam, melainkan proses panjang penuh kontradiksi yang pada akhirnya akan menuju pada keruntuhan sistemik.

Fondasi Pemikiran Amin

Untuk memahami seluruh bangunan pemikiran Amin, kita harus memulai dari diagnosis dasarnya tentang kapitalisme. Bagi Amin, kapitalisme bukanlah sistem yang netral. Kapitalisme bukanlah "lapangan permainan yang setara" (level playing field) di mana setiap negara bisa bersaing secara adil dan pada akhirnya mencapai kemakmuran, sebagaimana yang diyakini oleh para penganut teori modernisasi.

Sebaliknya, kapitalisme historis secara esensial bersifat polarizing (memecah belah). Sejak kelahirannya di Eropa pada abad ke-16, kapitalisme telah menciptakan dan terus memperdalam jurang antara pusat (negara-negara imperialis) dan pinggiran (negara-negara yang didominasi). Amin (2013) menulis bahwa "kapitalisme secara konsisten telah menghasilkan polarisasi di tingkat global" dan "negara-negara pinggiran yang didominasi tidak dapat berharap untuk mengejar organisasi sosial yang berlaku di pusat-pusat dominan" (hlm. 3-5). Ini bukanlah sebuah kecelakaan sejarah atau sekadar nasib buruk; ini adalah logika internal dari akumulasi kapital itu sendiri.

Apa yang membedakan analisis Amin dari analisis Marxis lainnya adalah penekanannya pada dimensi global dari hukum nilai. Marx, dalam Das Kapital, merumuskan hukum nilai dalam konteks kapitalisme nasional yang abstrak. Amin, dengan berani, "mengglobalisasi" hukum nilai ini. Ia berargumen bahwa dalam kapitalisme yang terintegrasi secara global, nilai tenaga kerja di pinggiran secara sistematis direndahkan dibandingkan dengan nilai tenaga kerja di pusat, bahkan untuk produktivitas yang setara.

Inilah inti dari apa yang ia sebut sebagai unequal exchange (pertukaran yang tidak setara) dan super-exploitation (eksploitasi super) (Kvangraven, 2020). Seorang buruh tekstil di Bangladesh dan seorang buruh tekstil di Jerman mungkin melakukan pekerjaan yang secara teknis serupa, tetapi upah yang mereka terima terpaut sangat jauh. Mengapa? Karena sistem kapitalisme global, melalui mekanisme sejarah, politik, dan militer, telah menciptakan hierarki upah global yang menguntungkan pusat.

Dalam Theory is History (2014), Amin menekankan prinsip fundamental bahwa "Teori adalah Sejarah", teori kapitalisme hanya dapat dirumuskan atas dasar analisis terhadap sejarahnya. Pemikiran borjuis, sebaliknya, menggantikan analisis kapitalisme historis dengan teori abstrak yang tidak memiliki kaitan dengan realitas. "Ekonomi," tulis Amin, "yang adalah teori dari sebuah sistem imajiner, kemudian menjadi apologetika yang dimaksudkan untuk memberikan legitimasi pada perilaku para pemilik modal" (Amin, 2014, hlm. 1-5). Dengan demikian, bagi Amin, ilmu ekonomi arus utama (mainstream economics) bukanlah ilmu yang netral, melainkan ideologi yang menyamarkan mekanisme eksploitasi global.

Konsekuensi dari analisis ini sangat serius. Jika polarisasi global adalah sifat bawaan kapitalisme, maka setiap strategi pembangunan yang tidak berusaha memutus logika ketergantungan ini pada akhirnya hanya akan mereproduksi ketimpangan dalam bentuk baru. Inilah yang oleh Amin disebut sebagai lumpen development (pembangunan sampah) yakni pertumbuhan ekonomi di pinggiran yang tidak menciptakan kapasitas produktif yang otonom, melainkan hanya memperdalam integrasi subordinat ke dalam rantai nilai global yang dikuasai oleh pusat (Amin, 2013, hlm. 139-141). Banyak negara yang mengalami pertumbuhan GDP yang tinggi, tetapi pertumbuhan itu tidak diterjemahkan menjadi kemandirian ekonomi; sebaliknya, mereka justru semakin bergantung pada ekspor komoditas mentah dan impor barang jadi serta teknologi.

Eurosentrisme

Salah satu kontribusi paling orisinal dan paling relevan dari Samir Amin adalah kritiknya terhadap Eurosentrisme. Dalam buku Eurocentrism: Modernity, Religion, and Democracy (1988), Amin melakukan apa yang disebutnya sebagai "pembongkaran" (deconstruction) terhadap narasi besar Eropa tentang modernitas. Bagi Amin, Eurosentrisme bukan sekadar prasangka budaya atau etnosentrisme biasa. Eurosentrisme adalah sebuah konstruksi ideologis yang sangat kuat yang berfungsi untuk menaturalisasi dan melegitimasi dominasi global kapitalisme Eropa. Amin (1988) berargumen bahwa narasi Eurosentris mengklaim bahwa modernitas adalah produk murni dari kejeniusan Eropa, lahir dari kombinasi unik antara warisan Yunani kuno, hukum Romawi, dan etika Kristen Protestan. Klaim ini, menurut Amin, adalah kebohongan sejarah yang sistematis (hlm. 89-125).

Lalu, apa yang sebenarnya terjadi? Amin menunjukkan bahwa sebelum tahun 1500, Eropa sebenarnya adalah wilayah pinggiran (periphery) dalam sistem dunia Afro-Asia yang jauh lebih maju. Peradaban Islam, India, dan Cina jauh lebih unggul dalam hal ilmu pengetahuan, teknologi, dan organisasi ekonomi. "Keajaiban Eropa" (the miracle of European particularity) bukanlah buah dari keunggulan internal, melainkan hasil dari perampasan sumber daya global melalui kolonialisme dan perbudakan yang dimungkinkan oleh ekspansi maritim. Dalam kerangka analisisnya, ia memperkenalkan konsep "mode tributari" (tributary mode of production) untuk menjelaskan formasi sosial pra-kapitalis di berbagai belahan dunia, dan menunjukkan bahwa feodalisme Eropa sebenarnya adalah bentuk pinggiran (peripheral) dari mode tributari yang lebih luas (Amin, 1988, hlm. 1-15).

Dengan membongkar mitos ini, Amin tidak hanya merevisi sejarah, tetapi juga melucuti legitimasi ideologis dari dominasi kontemporer. Jika modernitas bukan "milik" Eropa, maka klaim Eropa untuk "mengajarkan" modernitas kepada Dunia Ketiga melalui imperialisme dan neoliberalisme adalah sebuah penipuan. Lebih jauh lagi, Amin mengkritik apa yang ia sebut sebagai "kulturalisme" (culturalism) kecenderungan untuk menjelaskan ketimpangan global melalui perbedaan budaya yang esensial. Bagi Amin, ini adalah jebakan berbahaya yang mengalihkan perhatian dari analisis materialis tentang kapitalisme global. Dalam konteks ini, Smith dan Lester (2024) menegaskan bahwa pendekatan Amin menekankan "kebutuhan bagi teori pembangunan untuk mempertahankan fokus analitis pada analisis materialis terhadap kapitalisme global," serta menggemakan "kritik Amin terhadap kulturalisme dan pembelaannya terhadap universalisme".

Unequal Development

Buku Unequal Development (1976) adalah magnum opus Amin yang merumuskan secara paling komprehensif teorinya tentang mengapa keterbelakangan (underdevelopment) bukanlah kondisi awal yang alamiah, melainkan produk dari perkembangan kapitalisme global itu sendiri. Bagi Amin, pembangunan di pusat dan keterbelakangan di pinggiran adalah "dua sisi dari koin yang sama" (two sides of the same coin) (Amin, 1976, sebagaimana dikutip dalam Artner, 2022). Ini adalah pernyataan yang sangat radikal pada zamannya. Teori modernisasi yang dominan saat itu melihat Dunia Ketiga sebagai entitas yang "belum berkembang" (undeveloped) karena kekurangan internal seperti budaya tradisional, kurangnya etos kerja, atau institusi yang buruk. Dengan kata lain, teori modernisasi menyalahkan korban. Amin membalikkan logika ini: Dunia Ketiga tidak "belum berkembang," melainkan "sedang dibuat tidak berkembang" oleh proses akumulasi kapital global.

Amin mengembangkan model akumulasi yang membedakan antara pola pembangunan di pusat dan di pinggiran. Di pusat, akumulasi kapital bersifat autocentric (berpusat pada diri sendiri): Ada keterkaitan yang erat antara sektor produksi barang konsumsi massal dan sektor produksi barang modal. Pertumbuhan di satu sektor memicu permintaan di sektor lain, menciptakan siklus pertumbuhan yang mandiri. Di pinggiran, sebaliknya, akumulasi bersifat extraverted (berorientasi ke luar): Ekonomi diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pusat, bukan kebutuhan rakyatnya sendiri. Sektor ekspor komoditas mentah tidak menciptakan keterkaitan (linkages) yang signifikan dengan sektor-sektor lain dalam ekonomi domestik. Akibatnya, pertumbuhan ekonomi di pinggiran tidak pernah menjadi pembangunan yang sejati (Amin, 1976, hlm. 179-203).

Salah satu mekanisme kunci yang menjelaskan mengapa hal ini bisa terjadi adalah unequal exchange (pertukaran yang tidak setara). Amin membangun teori ini berdasarkan pengamatan Raúl Prebisch tentang penurunan terms of trade untuk komoditas primer, tetapi melampauinya dengan memberikan fondasi Marxian. Bagi Amin, nilai tukar yang tidak setara terjadi karena perbedaan tingkat upah antara pusat dan pinggiran jauh lebih besar daripada perbedaan produktivitas. Dengan kata lain, buruh di pinggiran dieksploitasi dua kali: Pertama oleh kelas kapitalis lokal yang membayar upah sangat rendah, dan kedua oleh sistem pertukaran global yang tidak adil yang mentransfer nilai surplus dari pinggiran ke pusat. Fenomena ini juga disebut sebagai "super-eksploitasi" (Kvangraven, 2020). Amin adalah salah satu yang pertama mencoba mengukur pertukaran yang tidak setara ini secara empiris, sebuah upaya yang telah dilanjutkan oleh banyak peneliti kemudian.

Konsekuensi dari analisis ini sangat jelas dalam konteks kontemporer. Keterlibatan negara-negara Afrika dalam rantai nilai global (global value chains) seringkali tidak lebih dari sekadar menjadi pemasok bahan mentah dan tenaga kerja murah. Etiopia, misalnya, dipuji oleh Bank Dunia sebagai "macan Afrika" berikutnya karena pertumbuhan ekonominya yang pesat, tetapi pertumbuhan ini didorong oleh investasi asing di sektor tekstil yang membayar upah sangat rendah dan tidak menciptakan transfer teknologi yang berarti. Bagi Amin, ini adalah contoh klasik dari lumpen development: pertumbuhan tanpa pembangunan, kapitalisme tanpa kemandirian.

Lima Monopoli Pusat

Untuk memahami bagaimana pusat mempertahankan dominasinya di era globalisasi, Amin mengidentifikasi apa yang ia sebut sebagai "lima monopoli" (five monopolies) yang dimiliki oleh pusat kapitalis. Konsep ini, yang dijabarkan secara rinci dalam Capitalism in the Age of Globalization (1997), memberikan kerangka analitis yang sangat berguna untuk membedah struktur kekuasaan global kontemporer. Kelima monopoli tersebut adalah: (1) Monopoli atas teknologi mutakhir; (2) Monopoli atas akses ke sumber daya alam global; (3) Monopoli atas sistem keuangan global; (4) Monopoli atas senjata pemusnah massal; dan (5) Monopoli atas media dan komunikasi global (Amin, 1997, hlm. 4-7).

Monopoli atas teknologi, misalnya, ditegakkan melalui rezim Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) global yang dikenal dengan nama TRIPS (Trade-Related Aspects of Intellectual Property Rights). Dalam analisisnya yang tajam, Amin (1997) menulis, "Dengan TRIPS, sebuah ofensif telah diluncurkan bukan untuk memperkuat kompetisi, tetapi sebaliknya, untuk memperkuat kekuatan monopoli teknologi – tentu saja dengan mengorbankan negara-negara berkembang yang kemungkinan untuk memperoleh teknologi yang mereka butuhkan menjadi semakin tidak pasti" (hlm. 29). Ia bahkan secara profetik membandingkan rezim HAKI kontemporer dengan "praktik monopoli merkantilis 300 tahun yang lalu".

Monopoli atas sumber daya alam, di sisi lain, dipertahankan melalui kombinasi kekuatan militer dan kontrol atas sistem keuangan global. Invasi AS ke Irak pada 2003, misalnya, bagi Amin bukanlah tentang demokrasi atau senjata pemusnah massal, melainkan tentang kontrol atas minyak Timur Tengah. Dalam edisi 2014 dari Capitalism in the Age of Globalization, Amin merefleksikan, "Sejauh yang saya pahami, sistem baru ini tidak lain adalah tahap terbaru dalam upaya dominasi dunia oleh pusat-pusat imperialisme historis (AS, Eropa Barat, Jepang), yang mereka upayakan melalui akses eksklusif ke sumber daya alam planet ini, monopoli atas teknologi modern, kontrol atas pasar keuangan yang terglobalisasi, dan penggunaan tunggal senjata pemusnah massal" (Amin, 2014, hlm. xv). Perhatikan betapa relevannya analisis ini dengan situasi perang dagang AS-China saat ini, di mana kontrol atas teknologi chip semikonduktor dan kecerdasan buatan menjadi medan pertempuran utama.

Monopoli kelima ( atas media dan komunikasi) juga semakin relevan di era informasi. Kontrol atas narasi global oleh segelintir konglomerat media dan, belakangan ini, oleh platform digital raksasa seperti Google, Meta, dan X (dulunya Twitter) memungkinkan pusat untuk membentuk opini publik global sesuai dengan kepentingannya. Perang narasi antara Rusia dan Barat dalam konteks invasi Ukraina, atau antara AS dan China dalam isu-isu seperti Xinjiang dan Laut China Selatan, adalah contoh nyata dari bagaimana monopoli ini beroperasi.

Delinking

Dari semua konsep yang dikembangkan oleh Samir Amin, mungkin tidak ada yang lebih sering disalahpahami daripada delinking. Istilah ini, yang diterjemahkan secara harfiah sebagai "pemutusan hubungan," seringkali disamakan dengan autarki (kemandirian ekonomi total) ala Korea Utara atau disalahartikan sebagai seruan untuk menutup diri dari perdagangan internasional. Ini adalah kesalahpahaman serius. Amin (1990) dengan tegas membedakan delinking dari autarki. Delinking bukanlah isolasi, melainkan "penentuan nasib sendiri dalam pembangunan" (self-determination in development) atau "rekonstruksi globalisasi yang didasarkan pada negosiasi, bukan ketundukan pada kepentingan eksklusif monopoli imperialis" (Amin, 1990, hlm. 62-63).

Definisi paling padat dari delinking diberikan oleh Amin sendiri: Delinking adalah "penundukan hubungan eksternal [pada persyaratan internal], kebalikan dari penyesuaian internal negara-negara pinggiran terhadap tuntutan ekspansi modal global yang mempolarisasi" (Amin, 1990, hlm. 47). Dengan kata lain, alih-alih menyesuaikan kebijakan domestik agar sesuai dengan tuntutan pasar global (seperti yang dilakukan oleh program penyesuaian struktural IMF), negara-negara pinggiran harus membangun kapasitas untuk menyaring dan menegosiasikan hubungan eksternal mereka berdasarkan prioritas pembangunan nasional. Delinking adalah soal kedaulatan ekonomi, bukan isolasi.

Apa yang membuat delinking menjadi konsep yang semakin relevan adalah krisis-krisis yang dihadapi oleh globalisasi neoliberal. Krisis keuangan global 2008, pandemi Covid-19, dan perang di Ukraina telah mengungkap kerentanan rantai pasok global dan ketergantungan yang berbahaya pada pusat-pusat kapitalis tertentu. Tiba-tiba, gagasan untuk membangun kapasitas produksi domestik yang lebih otonom (terutama dalam sektor-sektor strategis seperti pangan, energi, dan kesehatan) tidak lagi terdengar seperti ideologi kiri yang radikal, melainkan kebijakan yang masuk akal. Pooe (2025) mengamati bahwa "konsep delinking... sering disalahpahami sebagai decoupling ekonomi. Decoupling adalah strategi reaktif yang bertujuan mengurangi ketergantungan, seperti yang terlihat dalam perang dagang AS-China. Sebaliknya, delinking bersifat proaktif, berfokus pada pembongkaran model ekonomi neokolonial yang mengunci negara-negara berkembang pada ekspor bahan mentah sambil mengimpor barang jadi yang mahal".

China memberikan contoh yang paling menarik tentang bagaimana delinking strategis bisa bekerja. Melalui kebijakan industri yang terencana, kontrol modal yang ketat, dan investasi besar-besaran dalam riset dan pengembangan, China berhasil bergerak dari posisi sebagai "bengkel dunia" yang bergantung pada teknologi asing menjadi pesaing teknologi global yang tangguh. Ini bukanlah autarki karena China sangat terintegrasi dalam perdagangan global, tetapi ini adalah integrasi yang dinegosiasikan berdasarkan persyaratannya sendiri, bukan persyaratan yang didikte oleh Washington atau Davos. Apakah ini berarti model China harus ditiru mentah-mentah? Tentu tidak. Amin sendiri adalah seorang sosialis demokratis yang sangat kritis terhadap kapitalisme negara. Namun, pengalaman China setidaknya menunjukkan bahwa delinking strategis bukanlah utopia belaka.

Transisi Panjang Sosialisme

Samir Amin bukanlah seorang pemikir yang hanya mengkritik; ia juga menawarkan visi tentang masa depan yang lebih baik. Namun, ia bukanlah seorang utopis naif yang membayangkan bahwa revolusi sosialis akan meletus di seluruh dunia pada suatu pagi yang cerah. Ia memahami bahwa transisi menuju tatanan pasca-kapitalis akan menjadi proses yang panjang, kompleks, dan penuh dengan kontradiksi. Konsep "transisi panjang" (long transition) adalah inti dari visi politik Amin.

Dalam kerangka transisi panjang ini, delinking bukanlah tujuan akhir, melainkan langkah pertama yang esensial. Amin (1990) menulis bahwa "sejarah menunjukkan bahwa mustahil untuk 'mengejar' dalam kerangka kapitalisme dunia" dan bahwa "hanya transisi yang sangat panjang (dengan pilihan sadar untuk delinking dari dunia globalisasi kapitalis sebagai langkah pertama yang esensial) yang akan melampaui situasi polarisasi global saat ini" (hlm. 63-65). Delinking, dalam pengertian ini, menciptakan ruang politik dan ekonomi yang memungkinkan kekuatan-kekuatan sosial progresif untuk membangun fondasi bagi alternatif sosialis.

Amin juga menekankan pentingnya "nasionalisme progresif" (progressive nationalism) dari negara-negara Dunia Ketiga sebagai kekuatan yang secara potensial anti-imperialis. Ini bukanlah nasionalisme reaksioner atau xenofobia, melainkan nasionalisme yang berakar pada perjuangan rakyat untuk kedaulatan dan martabat. Artner (2022) merangkum bahwa pemikiran Amin mencakup "teori pembangunan yang timpang, monopoli yang tergeneralisasi, lima hak istimewa pusat global, Eurosentrisme, delinking, transisi panjang, nasionalisme progresif, dan struktur kelas global".

Salah satu aspek yang paling berpengaruh dari aktivisme politik Amin adalah seruannya untuk pembentukan "Internasionale Kelima" (Fifth International) yakni sebuah organisasi politik global baru yang akan menyatukan gerakan-gerakan sosial progresif dari seluruh dunia. Juego (2019) mengevaluasi seruan ini dan berargumen bahwa pembentukan Internasionale baru adalah sesuatu yang diinginkan dan layak, meskipun menghadapi tantangan yang berat. Moghadam (2019) juga mencatat bahwa "dari karya-karyanya tentang pembangunan kapitalis hingga analisisnya tentang gerakan-gerakan Islamis hingga keterlibatannya dalam Forum Sosial Dunia, suara Samir Amin adalah suara yang konsisten untuk perjuangan".

Relevansi Samir Amin dan Era Kini

Kini, mari kita bawa pemikiran Amin ke panggung kontemporer dan lihat bagaimana lensa analitisnya membantu kita memahami peristiwa-peristiwa yang sedang berlangsung. Pada 9 April 2025, mantan Presiden AS Donald Trump, yang kembali mencalonkan diri, mengumumkan kebijakan "Liberation Day Tariffs" yakni gelombang baru tarif proteksionis yang menargetkan tidak hanya China tetapi juga mitra dagang tradisional AS. Langkah ini memicu volatilitas di pasar keuangan global dan menimbulkan pertanyaan tentang masa depan globalisasi. Bagaimana Amin akan membaca situasi ini?

Pertama, Amin kemungkinan besar tidak akan terkejut. Baginya, kontradiksi antara kekuatan-kekuatan kapitalis utama adalah bagian tak terhindarkan dari logika imperialisme. Dalam BRICS and the New American Imperialism (2020), Satgar dan para kontributor, yang membangun di atas kerangka Amin, menantang pemahaman arus utama tentang BRICS dan dominasi AS untuk "menempatkan rivalitas global baru yang melanda kapitalisme". Perang dagang AS-China bukanlah penyimpangan dari aturan main globalisasi neoliberal, melainkan ekspresi dari kontradiksi internal akumulasi kapital yang telah mencapai batas-batasnya.

Kedua, dalam konteks perang dagang ini, Amin akan menunjukkan bahwa "lima monopoli" pusat berada di bawah tekanan yang semakin besar. Monopoli teknologi AS, misalnya, ditantang oleh kemajuan China dalam smartphone (Huawei), kecerdasan buatan (DeepSeek), dan kendaraan listrik (BYD). Monopoli atas sistem keuangan global, yang didasarkan pada dominasi dolar AS, juga mulai digoyahkan oleh inisiatif de-dolarisasi yang dipimpin oleh BRICS. Satgar (2023) mencatat kegagalan KTT BRICS 2023 di Sandton untuk memajukan de-dolarisasi secara signifikan, menunjukkan bahwa kontradiksi internal masih membatasi potensi transformatif dari aliansi Global South. Namun, arah perjalanan sejarah tampaknya jelas: Sistem moneter internasional yang didominasi oleh satu mata uang nasional (dolar AS) tidak lagi berkelanjutan di dunia multipolar.

Ketiga, Amin akan melihat perang dagang sebagai peluang, bukan hanya ancaman, bagi negara-negara pinggiran. Ketika pusat-pusat kapitalis saling bertarung, ruang untuk inisiatif delinking strategis justru meluas. Negara-negara Afrika, misalnya, memiliki kesempatan untuk menegosiasikan hubungan perdagangan yang lebih menguntungkan dengan berbagai mitra, alih-alih terjebak dalam hubungan neokolonial eksklusif dengan bekas penjajah Eropa atau dengan AS. Namun, ini mensyaratkan adanya kemauan politik dan kapasitas negara yang seringkali telah terkikis oleh beberapa dekade neoliberalisme. Seperti yang diperingatkan oleh Mabefam dan Yajalin (2025), Amin menyerukan strategi delinking untuk memperbaiki disparitas dan mempromosikan pembangunan di Global South, tetapi warisan kolonialisme dan strategi global eksploitatif terus menghambat perkembangan.

Salah satu perkembangan paling menarik dalam studi kontemporer yang membangun di atas pemikiran Amin adalah eksplorasi tentang dimensi rasial dari kapitalisme global. Dalam artikelnya The Racialized Global Capitalist Economy: Reading Samir Amin in the 2020s, Nordtveit (2023) menggunakan teori-teori Amin tentang nilai dunia dan materialisme historis untuk menunjukkan bahwa kapitalisme secara inheren bersifat rasis, setidaknya sejak perbudakan TransAtlantik, dan bahwa para pembelanya melanggengkan rasisme dengan menggunakannya sebagai alat untuk memperdalam jurang ekonomi dan menghancurkan solidaritas antara pekerja.

Argumen ini memiliki resonansi yang kuat dengan gerakan Black Lives Matter dan perjuangan melawan rasisme sistemik yang mendapatkan momentum global setelah pembunuhan George Floyd pada 2020. Bagi Amin, rasisme bukanlah sekadar prasangka individu atau fenomena budaya yakni ia adalah bagian integral dari struktur eksploitasi kapitalis global. Hierarki rasial dibangun secara historis untuk membenarkan perbudakan dan kolonialisme, dan terus direproduksi dalam bentuk-bentuk baru melalui pembagian kerja global yang rasis. Pekerja kulit hitam dan cokelat di seluruh dunia secara tidak proporsional menjadi "pekerja garis depan" (frontline workers) yang paling rentan terhadap eksploitasi dan, seperti yang ditunjukkan oleh isu wabah, paling rentan terhadap risiko kesehatan. Nordtveit (2023) menulis bahwa "krisis kesehatan global isu wabah menunjukkan betapa mudahnya pekerja garis depan, yang sebagian besar adalah orang kulit hitam, dapat dikorbankan, dan telah memperburuk ketidakadilan ekonomi yang disebarkan oleh model kapitalis".

Amin, yang menulis secara ekstensif tentang Afrika dan warisan kolonialisme, tentu akan melihat gerakan-gerakan kontemporer untuk keadilan rasial sebagai bagian dari perjuangan anti-imperialis yang lebih luas. Solidaritas antara gerakan buruh dan gerakan anti-rasisme, antara perjuangan di pusat dan perjuangan di pinggiran, adalah kunci untuk membangun aliansi global yang diperlukan untuk menantang kapitalisme neoliberal.

Kritik atas Pemikiran Samir Amin

Seperti setiap pemikir besar, karya Samir Amin tidak luput dari kritik. Merangkum kritik-kritik ini penting untuk mengevaluasi warisannya secara berimbang dan melihat bagaimana pemikirannya dapat dikembangkan lebih lanjut. Beberapa kritik utama yang diajukan terhadap karya Amin meliputi:

Pertama, kurangnya perhatian terhadap dimensi gender. Para kritikus menunjukkan bahwa Amin tidak memasukkan analisis gender ke dalam kerangka teorinya. Hierarki gender dan relasi patriarkal, yang juga merupakan dimensi fundamental dari ketimpangan global, tidak mendapatkan tempat yang memadai dalam analisisnya yang terfokus pada kelas dan imperialisme. Balogun (2024) mencatat bahwa "Amin telah dikritik karena tidak memasukkan gender dalam analisisnya, dengan beberapa pihak berargumen bahwa hierarki dan relasi gender harus diintegrasikan ke dalam kerangkanya". Ini adalah kritik yang valid dan menunjukkan perlunya sintesis antara analisis Marxian tentang imperialisme dengan analisis feminis tentang kerja reproduksi dan kekerasan berbasis gender.

Kedua, kurangnya perhatian terhadap krisis ekologis. Dunia kontemporer menghadapi krisis lingkungan yang semakin parah: Perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan polusi. Beberapa kritikus berargumen bahwa karya Amin tidak sepenuhnya membahas masalah-masalah ekologis ini. Balogun (2024) mencatat bahwa "beberapa sarjana telah mencatat bahwa karya Amin tidak sepenuhnya membahas keprihatinan ekologis, seperti degradasi lingkungan dan perubahan iklim, yang merupakan isu-isu kritis bagi negara-negara pinggiran". Namun, perlu dicatat bahwa ada upaya-upaya baru untuk membaca Amin melalui lensa ekologis, seperti yang dilakukan oleh para peneliti yang mengeksplorasi "fondasi ekologis dari delinking" dalam konteks pertanian skala kecil dan agroekologi. Ini menunjukkan bahwa pemikiran Amin, meskipun memiliki kekurangan, memiliki potensi untuk diperluas dan disintesiskan dengan perspektif-perspektif baru.

Ketiga, keterbatasan konsep delinking dalam konteks globalisasi yang sangat terintegrasi. Para kritikus mempertanyakan apakah delinking masih mungkin dilakukan di era di mana rantai pasok global telah menjadi sangat kompleks dan saling terkait. Balogun (2024) mencatat bahwa "pandangan Amin tentang kekuatan negara untuk melakukan delinking dan menstimulasi industrialisasi autosentris telah ditantang, dengan beberapa pihak berargumen bahwa kapasitas negara untuk tindakan otonom terbatas dalam konteks globalisasi". Ini adalah poin yang serius. Namun, seperti yang telah kita diskusikan, delinking versi Amin bukanlah autarki, melainkan reorientasi strategis hubungan eksternal. Dalam konteks ini, perkembangan teknologi seperti energi terbarukan dan manufaktur aditif (additive manufacturing, atau yang lebih dikenal dengan 3D printing) justru membuka kemungkinan-kemungkinan baru untuk delinking parsial dari rantai pasok global yang didominasi oleh pusat.

Keempat, kurangnya perhatian terhadap perjuangan kelas internal di pinggiran. Beberapa kritikus berargumen bahwa fokus Amin pada imperialisme dan ketergantungan telah menutupi pentingnya perjuangan kelas di dalam masyarakat pinggiran. Balogun (2024) mencatat kritik bahwa "fokus Amin pada imperialisme dan ketergantungan telah menutupi pentingnya perjuangan kelas di dalam masyarakat pinggiran". Ini adalah perdebatan klasik dalam Marxisme: Apakah kontradiksi utama adalah antara imperialisme dan bangsa-bangsa tertindas, atau antara kelas pekerja dan kelas kapitalis secara global? Bagi Amin, kedua kontradiksi ini tidak dapat dipisahkan, tetapi prioritas analitisnya seringkali terletak pada struktur imperialisme global.

Penutup

Samir Amin meninggal pada tahun 2018, tetapi gagasan-gagasannya tetap hidup dan terus menginspirasi generasi baru pemikir, aktivis, dan pembuat kebijakan di seluruh dunia. Dalam konteks kebangkitan perang dagang, rivalitas AS-China, dan krisis legitimasi neoliberalisme, suara Amin terdengar lebih relevan dari sebelumnya. Ketika kita menyaksikan negara-negara Global South yang semakin percaya diri menuntut reformasi lembaga-lembaga Bretton Woods, mendorong de-dolarisasi, dan membangun aliansi seperti BRICS yang diperluas, kita sebenarnya sedang menyaksikan upaya-upaya untuk mewujudkan visi Amin tentang "dunia polisentris" (polycentric world).

Amin mengajarkan kita bahwa ketimpangan global bukanlah kebetulan atau nasib buruk. Ia adalah produk dari sejarah kapitalisme imperialis yang terstruktur secara sistematis. Ia juga mengajarkan kita bahwa "mengejar" pusat dalam kerangka kapitalisme yang ada adalah ilusi belaka. Jalan menuju pembangunan yang sejati dan berkeadilan membutuhkan pemutusan dari logika ketergantungan yakni sebuah delinking strategis yang memungkinkan negara-negara pinggiran untuk membangun kapasitas produktif yang otonom dan menegosiasikan hubungan eksternal berdasarkan prioritas rakyatnya sendiri. Ini bukanlah pekerjaan mudah, dan Amin sendiri menekankan bahwa ini adalah "transisi panjang" yang membutuhkan kesabaran, organisasi, dan solidaritas internasional.

Di atas segalanya, Amin mengajarkan kita pentingnya keberanian intelektual. Dalam dunia akademik yang seringkali terkotak-kotak oleh batas-batas disipliner dan terintimidasi oleh ortodoksi neoliberal, Amin adalah contoh dari seorang intelektual yang menolak untuk tunduk. Ia menulis, "Satu-satunya ilmu yang mungkin adalah ilmu tentang masyarakat, karena realitas sosial adalah satu: Ia tidak pernah 'ekonomis' atau 'politis' atau 'ideologis', meskipun realitas sosial dapat didekati, sampai batas tertentu, dari sudut pandang salah satu disiplin universitas tradisional (ekonomi, sosiologi, ilmu politik)" (Amin, sebagaimana dikutip dalam ScienceOpen, hlm. 1-3). Ini adalah seruan untuk pemikiran holistik dan transdisipliner yang semakin langka namun semakin dibutuhkan.

Apa yang bisa kita ambil dari pemikiran Amin untuk Indonesia? Indonesia, sebagai negara dengan sejarah kolonial yang panjang dan posisi semi-pinggiran dalam ekonomi global, menghadapi banyak tantangan yang dianalisis oleh Amin. Ketergantungan pada ekspor komoditas mentah (batu bara, kelapa sawit, nikel), dominasi modal asing di sektor-sektor strategis, dan orientasi pembangunan yang ekstravertif adalah pola-pola yang persis seperti yang diperingatkan oleh Amin. Kebijakan hilirisasi yang didorong oleh pemerintah Indonesia saat ini, meskipun masih kontroversial dalam implementasinya, dapat dibaca sebagai upaya delinking parsial yang berusaha menolak posisi Indonesia sekadar sebagai pengekspor bahan mentah. Apakah upaya ini akan berhasil atau justru menciptakan bentuk-bentuk baru dari lumpen development, adalah pertanyaan yang hanya bisa dijawab oleh sejarah.

Samir Amin telah tiada, tetapi warisan intelektualnya tetap bersama kita, bukan sebagai dogma yang harus disembah, tetapi sebagai alat analisis yang hidup, sebagai kompas moral, dan sebagai sumber inspirasi untuk terus berjuang demi dunia yang lebih adil. Di tengah krisis dan ketidakpastian era sekarang, kita membutuhkan lebih banyak lagi pemikir yang berani seperti Samir Amin: Pemikir yang tidak hanya menafsirkan dunia, tetapi juga berusaha mengubahnya.

Al Fatihah untuk Samir Amin (1931-2018)


Referensi

Amin, S. (1976). Unequal development: An essay on the social formations of peripheral capitalism. Monthly Review Press.

Amin, S. (1988). Eurocentrism: Modernity, religion, and democracy: A critique of Eurocentrism and culturalism. Monthly Review Press.

Amin, S. (1990). Delinking: Towards a polycentric world. Zed Books.

Amin, S. (1997/2014). Capitalism in the age of globalization: The management of contemporary society. Zed Books.

Amin, S. (2010). The law of worldwide value. Monthly Review Press.

Amin, S. (2013). The implosion of contemporary capitalism. Monthly Review Press.

Amin, S. (2013). Samir Amin: Pioneer of the rise of the South. Springer.

Amin, S. (2014). Theory is history. Springer.

Amin, S. (2018). Modern imperialism, monopoly finance capital, and Marx's law of value. Monthly Review Press.

Artner, A. (2022). Samir Amin and the changing of the world. International Critical Thought, 12(4), 627–639.

Balogun, T. O. (2024, 1 Juli). Key highlights of Samir Amin's work [LinkedIn post]. LinkedIn.

Juego, B. (2019). Rethinking Samir Amin’s legacy and the case for a political organization of the global justice movement. Globalizations.

Kvangraven, I. (2020, 28 Januari). Samir Amin: A pioneering Marxist and Third World activist. Progress in Political Economy (PPE).

Mabefam, M., & Yajalin, J. E. (2025). New international economic order at 50: A reflection on the vision through Samir Amin’s lens. Development in Practice.

Moghadam, V. (2019). On Samir Amin’s call for a Fifth International. Globalizations.

Nordtveit, B. H. (2023). The racialized global capitalist economy: Reading Samir Amin in the 2020s. *Bandung: Journal of the Global South*, *10*(1), 79–106.

Pooe, T. K. (2025, 7 Maret). SA faces a stark choice as the world reorganises into competing blocs. Business Day.

Satgar, V. (Ed.). (2020). BRICS and the new American imperialism: Global rivalry and resistance. Wits University Press.

Smith, M. N., & Lester, C. A. (2024). From “dependency” to “decoloniality”? The enduring relevance of materialist political economy. Dalam Development theory: Deconstructions/reconstructions. Taylor & Francis.

ScienceOpen. (t.t.). The enduring relevance of Amin’s approach. ScienceOpen.

Posting Komentar

0 Komentar