Ad Code

Realitas Sosial Berger dan Luckmann dalam Kasus Rakyat Iran

Perang antara Iran dan aliansi Amerika Serikat-Israel yang meletus pada 28 Februari 2026 bukan sekadar pertarungan militer, melainkan sebuah laboratorium hidup bagi teori Konstruksi Sosial atas Realitas yang digagas Peter L. Berger dan Thomas Luckmann. Esai ini menyelidiki bagaimana realitas perang tidak muncul dari "objektivitas" di luar sana, melainkan diciptakan, dibakukan, dan ditanamkan melalui proses dialektis: eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi.
 
Dengan menelusuri konstruksi identitas musuh, narasi heroik, dan legitimasi kekerasan di ketiga belah pihak, tulisan ini memperlihatkan bahwa perang modern adalah pertempuran makna, setiap rudal yang diluncurkan disertai serangan naratif yang membentuk persepsi publik. Menggunakan kerangka Berger dan Luckmann serta perbandingan dengan varian konstruktivisme sosial, esai ini berargumen bahwa pemulihan perdamaian hanya mungkin jika ketiga pihak berani mendekonstruksi realitas yang mereka ciptakan sendiri.
 
Tulisan ini juga mendiskusikan keterbatasan kerangka Berger-Luckmann dalam menjelaskan dimensi material, kekuasaan koersif, dan politik identitas yang kaku, sekaligus menunjukkan bagaimana wawasan mereka tetap terang benderang menerangi rimba absurditas perang kontemporer.

Pada 28 Februari 2026, rakyat Iran dikejutkan oleh gempuran rudal yang merobek langit Tehran, Israel, dengan sokongan penuh Amerika Serikat, meluncurkan "Operation Epic Fury" yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dan puluhan pejabat militer senior (AP News, 2026; Press TV, 2026). Dalam hitungan jam, media sosial dibanjiri dua arus narasi yang saling bertabrakan: Video propaganda buatan AI dari Iran yang menampilkan Khamenei tersenyum mengendalikan Selat Hormuz bak penguasa alam raya, dan di sisi lain, Gedung Putih merilis cuplikan "war-as-gaming" yang menjual kesan perang bersih bak video game (Newsweek, 2026). Dua kubu, dua realitas, satu pertanyaan mendasar: realitas siapa yang sebenarnya nyata?

Esai populer-ilmiah tentang Konstruksi Sosial Realitas Peter L. Berger & Thomas Luckmann, studi kasus perang Iran-Israel-AS 2026.


Pertanyaan itu membawa kita pada magnum opus Peter L. Berger dan Thomas Luckmann, The Social Construction of Reality (1966). Buku setebal 219 halaman ini melontarkan proposisi provokatif: Apa yang kita anggap "nyata" dalam kehidupan sehari-hari bukanlah entitas objektif yang menunggu untuk ditemukan, melainkan produk dari interaksi sosial yang terus-menerus diciptakan, dibakukan, dan diwariskan (Berger & Luckmann, 1966). Perang, dalam kerangka ini, bukan hanya soal tank dan pesawat tempur; perang adalah panggung raksasa tempat realitas dipertunjukkan, dinegosiasikan, dan dipaksakan.

Esai ini bertujuan menghidupkan mesin teori Berger dan Luckmann dengan bahan bakar empiris dari tragedi terkini: Serangan agresif Israel dan Trump terhadap Iran. Kita akan membedah bagaimana realitas "musuh," "ancaman eksistensial," dan "perang yang adil" dikonstruksi secara sosial oleh tiga aktor yang terlibat. Sebelum masuk ke analisis kasus, kita akan mempelajari arsitektur teoretis Berger dan Luckmann, tiga momen dialektis (eksternalisasi, objektivasi, internalisasi) serta proses institusionalisasi dan legitimasi, lalu membandingkan persamaan dan perbedaan pemikiran kedua tokoh.

Fondasi Teoretis Berger dan Luckmann

Berger dan Luckmann memulai proyek intelektual mereka dari sebuah paradoks: Manusia menghasilkan realitas sosial, tetapi sekaligus mengalaminya sebagai sesuatu yang objektif dan memaksa dari luar. "Bagaimana mungkin makna-makna subjektif manusia menjadi kefaktaan objektif?" tanya mereka (Berger & Luckmann, 1966, hlm. 30). Inilah teka-teki dasar sosiologi pengetahuan yang coba mereka pecahkan.

Alih-alih berfilsafat abstrak tentang hakikat "kenyataan," mereka menukik ke fondasi paling remeh dan konkret: Realitas kehidupan sehari-hari (the reality of everyday life). Realitas ini, tulis mereka, "hadir begitu saja sebagai kenyataan yang teratur, yang sudah diobjektivikasikan, yang terdiri dari tatanan objek-objek yang ditetapkan sebagai objek sebelum saya hadir di panggung" (Berger & Luckmann, 1966, hlm. 35). Sederhananya: Ketika kita lahir, dunia sosial sudah ada di sana, ada aturan, ada lembaga, ada makna, seolah-olah semua itu bersifat kodrati, bukan buatan manusia. Tapi justru di situlah letak "tipuan" ontologis yang hendak dibongkar oleh sosiologi pengetahuan.
 
Jantung teori Berger dan Luckmann adalah proses dialektis tiga langkah yang berlangsung terus-menerus dan simultan (Berger & Luckmann, 1966, hlm. 78-79). Mari kita pahami satu per satu. Manusia adalah makhluk yang tidak selesai secara biologis dan memerlukan lingkungan sosial-budaya untuk bertahan hidup (Berger & Luckmann, 1966, hlm. 66). Karena itulah, manusia terus-menerus "mencurahkan" aktivitasnya ke dunia: Berbicara, bekerja, menciptakan benda, dan membangun hubungan. Hasil curahan ini, baik berbentuk material seperti gedung maupun non-material seperti bahasa, adalah produk manusia.

Bayangkan sebuah desa nelayan di pesisir Teluk Persia. Para nelayan, melalui aktivitas sehari-hari mereka, menciptakan pola: "Kita pergi melaut subuh, pulang siang, berbagi hasil tangkapan." Pola ini belum menjadi "institusi"; ia masih berupa aktivitas yang dieksternalisasikan oleh individu-individu konkret.

Seiring waktu, aktivitas yang dicurahkan itu membeku menjadi pola yang habitual. Kebiasaan melaut subuh tadi berubah menjadi "aturan tak tertulis," lalu menjadi lembaga "koperasi nelayan." Yang semula fleksibel kini menjadi kaku, seakan-akan memiliki kehidupan sendiri di luar para penciptanya. Di sinilah objektivasi terjadi: "Produk-produk aktivitas manusia memperoleh karakter objektivitas... Dunia yang diproduksi manusia mencapai status realitas objektif dan berbalik menghadapi para produsernya" (Berger & Luckmann, 1966, hlm. 78).

Dalam bahasa yang lebih sederhana, objektivasi adalah momen ketika ciptaan melupakan penciptanya. Mahasiswa baru memasuki kampus dan menemukan "Budaya Akademik" seolah sudah ada sejak zaman Nabi Adam, padahal budaya itu dibentuk oleh mahasiswa dan dosen sebelumnya. Inilah reifikasi, "pemahaman produk-produk aktivitas manusia seolah-olah mereka adalah sesuatu yang lain dari produk manusia, misalnya fakta alam, hasil hukum kosmis, atau manifestasi kehendak ilahi" (Berger & Luckmann, 1966, hlm. 106).

Agar realitas objektif itu bertahan lintas generasi, ia harus ditanamkan ke dalam kesadaran individu baru melalui sosialisasi. Anak-anak desa nelayan itu, melalui orang tua dan guru, belajar bahwa "melaut subuh adalah cara hidup kita." Mereka tidak menciptakan aturan itu; mereka menyerapnya sebagai sesuatu yang memang sudah begitu adanya. Internalisasi adalah "pemahaman langsung atas suatu peristiwa objektif sebagai pengungkapan makna... pemahaman atas sesama manusia, dan pemahaman atas dunia sebagai realitas sosial yang bermakna" (Berger & Luckmann, 1966, hlm. 150).

Sosialisasi primer (keluarga) dan sekunder (sekolah, media, pekerjaan) adalah mesin internalisasi. Melaluinya, individu menjadi anggota masyarakat yang "tahu" bagaimana menjalani kehidupan sosial, tahu mana yang tabu, mana yang mulia, siapa "kita," dan siapa "mereka."

Eksternalisasi adalah manusia menciptakan dunia; objektivasi adalah dunia yang tercipta melupakan asal-usulnya dan tampak alami; internalisasi adalah manusia menyerap dunia itu ke dalam kesadaran. Siklus ini berputar terus-menerus, saling memperkuat.

Bagaimana aktivitas longgar berubah menjadi lembaga yang kokoh? Mekanismenya adalah habitualisasi: "Setiap tindakan yang sering diulangi akan membentuk pola, yang kemudian dapat direproduksi di masa depan dengan cara yang sama dan dengan upaya ekonomis yang sama" (Berger & Luckmann, 1966, hlm. 71). Habitualisasi mendahului institusionalisasi.

Ketika pola habitual itu dilembagakan, muncullah institusi, pola tindakan yang dibakukan, diatur oleh aturan dan simbol, serta dilengkapi dengan peran (roles). Guru, tentara, presiden, jurnalis, pemimpin agama: semua adalah peran yang mewakili tatanan institusional. "Dengan menjalankan peran," tulis Berger dan Luckmann, "individu berpartisipasi dalam dunia sosial; dengan menginternalisasi peran-peran itu, dunia yang sama menjadi bermakna secara subjektif baginya" (1966, hlm. 92).

Peran penting karena ia menjembatani dunia mikro interaksi tatap muka dengan dunia makro institusi. Seorang prajurit Iran yang mengenakan seragam Garda Revolusi tidak hanya menjalankan fungsi militer, ia menubuhkan seluruh konstruksi identitas "pembela revolusi Islam" yang telah dibangun sejak 1979. Seragam, postur hormat, dan jargon "Marg bar Amrika" (Mati Amerika) adalah penanda objektif dari realitas subjektif yang tertanam dalam-dalam.

Institusi tidak cukup hanya ada; ia harus dibenarkan agar diterima oleh anggota masyarakat. Di sinilah legitimasi berperan. Legitimasi adalah proses "menjelaskan" dan "membenarkan" tatanan institusional, memberikan validitas kognitif pada makna-makna yang telah terobjektivasi (Berger & Luckmann, 1966, hlm. 111).

Berger dan Luckmann mengidentifikasi empat tingkat legitimasi (1966, hlm. 112-113). Tingkat pertama adalah legitimasi inkorporatif, kosa kata sederhana seperti "Begini lho, Nak, caranya kita di sini." Tingkat kedua berbentuk pepatah, legenda, dan cerita rakyat. Tingkat ketiga adalah teori eksplisit, misalnya, "Revolusi Islam membebaskan Iran dari cengkeraman imperialisme." Tingkat keempat adalah universum simbolik, kerangka makna paling komprehensif yang mengintegrasikan seluruh pengalaman, bahkan kematian dan tragedi, ke dalam satu sistem koheren (agama, ideologi besar, sains). Universum simbolik adalah "kanopi suci" (sacred canopy) yang melindungi tatanan sosial dari kekacauan makna (Berger, 1967).

Ketika sebuah rezim berkuasa, ia tidak hanya mengandalkan polisi dan tentara; ia juga mengerahkan machineries of universe-maintenance, perangkat pemelihara semesta simbolik: Ritual keagamaan, kurikulum pendidikan, media massa, hingga parade militer (Berger & Luckmann, 1966, hlm. 125). Semua ini bekerja untuk meyakinkan bahwa tatanan yang ada adalah sah, wajar, dan merupakan satu-satunya yang mungkin.

Persamaan dan Perbedaan

The Social Construction of Reality adalah buah kolaborasi dua pemikir yang sama-sama dibesarkan dalam tradisi fenomenologi Alfred Schütz. Keduanya berbahasa ibu Jerman, belajar di Eropa, dan kemudian berkarier di Amerika Serikat, kombinasi yang menyuburkan perspektif teoretis mereka (Wickert, 2025; Berger, 2011 dalam Cultural Sociology).

Pertama, fondasi fenomenologis. Baik Berger maupun Luckmann mewarisi dari Schütz perhatian yang mendalam pada Lebenswelt (dunia-kehidupan) dan common-sense knowledge (pengetahuan sehari-hari). Mereka sepakat bahwa sosiologi pengetahuan harus dimulai dari realitas subjektif kehidupan sehari-hari, bukan dari abstraksi filosofis tingkat tinggi (Berger & Luckmann, 1966, hlm. 33-34). Pendekatan ini membedakan mereka dari tradisi Marxis yang berangkat dari struktur ekonomi.
Kedua, tekanan pada dialektika individu dan masyarakat. Keduanya menolak determinisme struktural (individu semata produk struktur) maupun voluntarisme naif (individu benar-benar bebas). Sebaliknya, mereka melihat hubungan individu-masyarakat sebagai dialektika, "Masyarakat adalah produk manusia. Masyarakat adalah realitas objektif. Manusia adalah produk sosial" (Berger & Luckmann, 1966, hlm. 79).

Ketiga, sentra peran bahasa. Keduanya memandang bahasa sebagai sistem tanda paling penting dalam konstruksi realitas. Bahasa memungkinkan objektivasi, pengalaman subjektif menjadi tersedia bagi orang lain, dan menyediakan kerangka tipikasi untuk mengorganisasi pengalaman (Berger & Luckmann, 1966, hlm. 51-55).

Keempat, ketertarikan pada agama dan makna ultim. Meskipun buku mereka berbicara tentang sosiologi pengetahuan, minat Berger pada sosiologi agama sangat menonjol. Konsep "universum simbolik" yang menjadi tingkat legitimasi tertinggi sangat dipengaruhi ketertarikan Berger pada bagaimana agama menyediakan kanopi makna yang menyeluruh (Berger, 1967). Luckmann, yang juga menulis The Invisible Religion (1967), berbagi minat ini meskipun dengan pendekatan berbeda.

Kelima, ambisi mensistematisasi sosiologi pengetahuan. Keduanya ingin membebaskan subdisiplin ini dari keterbatasan analisis ideologi Marxis dan mengembalikannya pada misi awal: memahami bagaimana pengetahuan, dalam arti seluas-luasnya, dari lelucon dapur hingga teori fisika, memperoleh status "realitas" dalam kesadaran manusia (Berger & Luckmann, 1966, hlm. 14-15).

Meskipun buku ditulis bersama, perjalanan intelektual Berger dan Luckmann setelah 1966 menunjukkan penekanan dan arah yang berbeda. Perbedaan ini bukan kontradiksi tajam, melainkan nuansa yang memperkaya.

Pertama, orientasi kelembagaan vs. pengalaman subjektif. Berger cenderung bergerak ke analisis makro: Bagaimana institusi, khususnya agama, memproduksi dan memelihara makna. Karyanya The Sacred Canopy (1967) dan A Rumor of Angels (1969) memperlihatkan minatnya pada "struktur-struktur plausibilitas" (plausibility structures) yang menjaga keyakinan tetap hidup. Luckmann, sebaliknya, semakin memperdalam analisis mikro: Pengalaman subjektif, kesadaran, dan proses komunikasi. Karyanya The Invisible Religion (1967) lebih menekankan pada bagaimana individu mengonstruksi makna transenden dari pengalaman hidup sehari-hari.

Kedua, sikap terhadap "konstruktivisme" sebagai label. Ada ironi yang menarik di sini. The Social Construction of Reality sering dipuji sebagai "teks pendiri konstruktivisme sosial." Namun, Berger sendiri sangat menolak label itu. Dalam wawancara setengah abad setelah publikasi bukunya, ia menyebut konstruktivisme sebagai "bias ideologis" yang berbeda dari proyek intelektualnya bersama Luckmann (Spasić, 2019, hlm. 15-16). Berger bersikeras bahwa bukunya adalah sosiologi pengetahuan, bukan manifesto konstruktivis. Luckmann, di sisi lain, lebih terbuka terhadap perkembangan konstruktivisme komunikatif yang dikembangkan oleh murid-muridnya, meskipun ia juga mengklarifikasi "kesalahpahaman" tentang istilah social construction (Cultural Sociology, 2016).

Ketiga, politik dan ideologi. Berger dikenal sebagai pemikir konservatif moderat yang sering mengkritik "kiri kultural." Luckmann, meskipun tidak vokal secara politik, memiliki pendekatan yang lebih apolitis dan fokus pada fenomenologi murni. Perbedaan temperamen politik ini penting untuk dicatat, meskipun tidak secara langsung membelah argumen dalam buku mereka.

Keempat, kelanjutan teoretis. Berger setelah 1966 banyak menulis tentang modernisasi, pluralisme, dan kapitalisme sebagai fenomena kultural. Luckmann melanjutkan penelitian tentang komunikasi, bahasa, dan communicative construction of reality bersama penerusnya (Knoblauch, 2021). Murid-murid Luckmann mengembangkan "konstruktivisme komunikatif" yang menekankan bahwa realitas tidak hanya dikonstruksi melalui interaksi tatap muka, tetapi melalui tindakan komunikatif termediasi (Couldry & Hepp, 2016).

Tabel Perbandingan Pikiran Berger dan Luckmann

Esai populer-ilmiah tentang Konstruksi Sosial Realitas Peter L. Berger & Thomas Luckmann, studi kasus perang Iran-Israel-AS 2026.


Bagaimana Realitas Konflik Diciptakan?

Untuk memahami bagaimana realitas perang dikonstruksi, kita perlu memahami dulu konteks singkat konflik ini.

Perang dimulai pada 28 Februari 2026 ketika AS-Israel melancarkan serangan udara terhadap fasilitas nuklir dan militer Iran, menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei (Press TV, 2026; New Republic, 2026). Serangan ini didahului oleh pertemuan Trump-Netanyahu di White House Situation Room pada 11 Februari 2026 (Press TV, 2026). AS menyatakan perang atas "permintaan sekutu Israel"-nya, meskipun Trump berulang kali membantah bahwa Israel yang menyeretnya ke dalam konflik (Press TV, 2026; Truth Social, 2026).

Iran membalas dengan hampir setiap hari meluncurkan rudal dan drone ke Israel dan aset AS di Teluk Persia, menutup Selat Hormuz, dan menargetkan kapal-kapal komersial yang terkait dengan AS-Israel (AP News, 24 Maret 2026; Viva.co.id, 26 April 2026). Setelah 40 hari perang, lebih dari 2.000 orang tewas (Reuters, 24 Maret 2026), harga minyak dunia melonjak 40% (AP News, 2026), dan negosiasi gencatan senjata yang dimediasi Pakistan berulang kali gagal (CNN Indonesia, 28 April 2026).

Hal yang menarik bagi kita bukanlah detail militernya, melainkan bagaimana setiap pihak membangun realitas paralel. Mari kita lacak tiga momen dialektis pada masing-masing aktor.

Dalam terminologi Berger dan Luckmann, eksternalisasi adalah momen ketika manusia mencurahkan aktivitas dan maknanya ke dunia. Konflik tidak muncul dari ruang hampa; ia adalah produk dari rangkaian panjang tindakan eksternalisasi.

Kasus Iran: Sejak Revolusi Islam 1979, rezim Iran secara aktif mengeksternalisasi identitas "negara revolusioner penentang hegemoni." Israel diposisikan bukan sekadar sebagai negara tetangga yang bersaing, melainkan sebagai "entitas Zionis" yang mewakili ketidakadilan global terhadap Palestina dan dunia Islam. Identitas ini disusun melalui pidato Jumat, buku pelajaran sekolah, mural anti-Amerika di jalanan Tehran, hingga film-film propaganda (Takeyh, 2009, hlm. 34-37). Setiap tahun, peringatan Hari Al-Quds menjadi ritual massal yang menegaskan kembali konstruksi ini. Akumulasi puluhan tahun aktivitas eksternalisasi ini menghasilkan cadangan makna yang siap diaktifkan ketika perang meletus.

Kasus Israel: Di sisi lain, Israel mengeksternalisasi "trauma eksistensial." Sejarah Holocaust, perang 1948, 1967, dan 1973 membentuk narasi bahwa Israel adalah "negara kecil yang dikelilingi musuh yang ingin menghancurkannya." Program nuklir Iran, dalam kerangka ini, bukan sekadar isu teknis-proliferasi, ia adalah "ancaman eksistensial" yang mengaktifkan kembali trauma kolektif (Barnett, 1999, hlm. 19-21). Doktrin militer "serangan pre-emptive" (serangan pendahuluan) adalah produk eksternalisasi dari pengalaman sejarah ini. Netanyahu, melalui pidato-pidatonya di PBB dan Knesset, terus-menerus memproduksi dan memperkuat narasi ini.

Kasus AS: Eksternalisasi AS berlapis: Di tingkat strategis, ada konstruksi "Pax Americana" yang menempatkan AS sebagai penjamin stabilitas dunia; di tingkat politik domestik, Trump mengeksternalisasi narasi "America First" dan janji kampanye untuk mengakhiri "perang abadi." Namun, dalam pertemuan 11 Februari 2026, Netanyahu berhasil mengeksternalisasi ancaman Iran sedemikian rupa sehingga Trump, yang sebelumnya skeptis terhadap intervensi militer, terinspirasi (atau terprovokasi) untuk melancarkan perang (Press TV, 2026). Para panglima militer AS bahkan menilai rencana Netanyahu "farcical" (menggelikan), tetapi pada titik itu Trump sudah terlanjur mengeksternalisasi keputusan perangnya (Press TV, 2026).

Pola umum: Ketiga pihak mengeksternalisasi bukan sekadar "kepentingan nasional" abstrak, melainkan identitas moral, narasi tentang siapa yang baik, siapa yang jahat, siapa korban, siapa agresor. Inilah fondasi dari konstruksi realitas konflik.

Momen objektivasi terjadi ketika produk eksternalisasi membeku menjadi institusi dan "fakta" yang tampak objektif. Konstruksi "Iran sebagai ancaman" atau "Israel sebagai penjajah" tidak lagi dipahami sebagai interpretasi yang bisa diperdebatkan, melainkan sebagai fakta yang memang begitu adanya.
Objektivasi di Iran: Setelah 1979, identitas anti-Zionis terinstitusionalisasi dalam konstitusi, doktrin militer, dan struktur pemerintahan. Garda Revolusi Islam (IRGC) bukan sekadar korps militer; ia adalah penubuhan (embodiment) objektif dari narasi revolusioner. Ketika pada 28 Februari 2026 pemimpin tertinggi terbunuh, Iran tidak perlu "menciptakan" kemarahan, kemarahan sudah terobjektivasi dalam bentuk institusi yang siap bereaksi. Media pemerintah Iran, termasuk Tasnim News dan Press TV, menjadi pabrik objektivasi yang memproduksi video AI yang menampilkan Iran "unggul" dalam perang (Newsweek, 2026; Boston Globe, 2026).

Objektivasi di Israel: Sistem pertahanan Iron Dome bukan hanya teknologi; ia adalah simbol objektif dari narasi "Israel yang bertahan." Ketika sirene berbunyi di Tel Aviv dan Iron Dome mencegat rudal Iran (AP News, 24 Maret 2026), peristiwa itu memperkuat objektivasi: "Lihat, kita diserang, dan kita bertahan." Media Israel, khususnya Jerusalem Post dan Times of Israel, mengobjektivasi konflik sebagai "Israel melawan teror Iran." Kata terror di sini penting: Ia bukan deskripsi netral, melainkan label objektif yang menutup ruang perdebatan.

Objektivasi di AS: Di Washington, objektivasi terjadi melalui aparat keamanan nasional, Departemen Pertahanan, dan media arus utama. Pentagon mengeluarkan pernyataan resmi yang mendefinisikan perang sebagai "operasi melawan rezim Iran yang memproduksi teror." Istilah Operation Epic Fury yang digunakan oleh militer AS adalah contoh sempurna objektivasi: perang diberi nama, diberi logo, dan dijual kepada publik sebagai misi heroik (Newsweek, 2026). Oil prices yang melonjak 40% juga menjadi indikator objektif yang memengaruhi persepsi publik: "Perang ini nyata, karena harga bensin naik."

Reifikasi dalam konflik: Puncak objektivasi adalah reifikasi. Ketiga pihak kini memperlakukan konstruksi mereka sebagai realitas yang tak terbantahkan. "Iran adalah ancaman eksistensial" bukan lagi klaim politik yang bisa diperdebatkan; ia menjadi "fakta keamanan." "Israel adalah penjajah apartheid" bukan lagi posisi politik; ia menjadi "kebenaran moral." Reifikasi inilah yang membuat konflik tampak inevitable (tak terelakkan) bagi semua pihak yang terlibat.

Agar konstruksi objektif bertahan, ia harus ditanamkan ke dalam kesadaran individu melalui internalisasi. Di sinilah peran media, pendidikan, dan propaganda menjadi sentral.
Internalisasi di Iran: Seorang remaja Iran yang tumbuh setelah 1979 telah menyerap narasi anti-Zionis melalui sosialisasi primer (keluarga) dan sekunder (sekolah, media pemerintah). Buku teks sekolah di Iran mengajarkan sejarah perlawanan terhadap imperialisme dan penderitaan Palestina. Setiap hari Jumat, khotbah Imam Jumat menggemakan tema yang sama. Ketika perang meletus pada 2026, narasi yang telah terinternalisasi ini langsung aktif: "Kita diserang oleh musuh abadi kita, dan kita harus melawan." Namun, perlu dicatat bahwa internalisasi tidak pernah total. Banyak rakyat Iran, terutama generasi muda perkotaan, memiliki sikap yang jauh lebih kompleks dan bahkan kritis terhadap rezim (Jerusalem Post, 2026). Inilah sumber ketegangan internal yang akan kita bahas nanti.

Internalisasi di Israel: Warga Israel, melalui sistem pendidikan dan wajib militer, menginternalisasi narasi "bangsa yang terkepung." Ketika sirene rudal berbunyi, respons psikologis yang terinternalisasi adalah "kita diserang karena kita ada; kita harus mempertahankan diri." Media Israel, seperti Channel 12 dan Ynet, menampilkan gambar-gambar kerusakan akibat rudal Iran yang memperkuat internalisasi. Kematian 2.000 orang lebih (Reuters, 2026) bukan sekadar statistik; ia menjadi martir dalam narasi pertahanan diri nasional.

Internalisasi di AS: Publik Amerika menerima konstruksi perang melalui kanal-kanal yang beragam. Fox News dan media konservatif menyajikan perang sebagai "pertahanan kebebasan melawan teror." New York Times dan media liberal mungkin mengkritik strategi, tetapi tetap beroperasi dalam kerangka "Iran adalah masalah." Podcast dan media sosial menambah kompleksitas. Hal yang menarik, Newsweek (2026) melaporkan fenomena copium, campuran "cope" dan "opium", di mana publik Amerika mengembangkan mekanisme psikologis untuk merasionalisasi perang yang semakin memakan biaya: "Ini akan selesai cepat," "Kita memenangkan ini," "Mereka layak mendapatkannya."
Kini kita bisa melihat bagaimana keempat tingkat legitimasi Berger dan Luckmann beroperasi dalam konflik ini.
  1. Tingkat 1: Legitimasi inkorporatif. Contohnya adalah jargon sehari-hari. "Marg bar Amrika" ("Mati Amerika") di Iran, "Never Again" di Israel, "Freedom isn't free" di AS. Frasa-frasa pendek ini tidak memerlukan teori; mereka langsung dipahami dan diterima sebagai "cara kita di sini."
  2. Tingkat 2: Legitimasi naratif. Cerita-cerita tentang pertempuran heroik, pengorbanan, dan penderitaan. "Khamenei adalah martir yang gugur di jalan Allah." "Anak-anak Israel berlindung di bomb shelter sementara roket Iran berjatuhan." "Prajurit Amerika bertempur untuk melindungi kebebasan kita." Narasi-narasi ini, yang disebarkan oleh media dan diperkuat oleh budaya populer, memberikan kerangka makna yang lebih terstruktur.
  3. Tingkat 3: Legitimasi teoretis eksplisit. Ini adalah ranah think tank, akademisi, dan ahli strategi. Di AS, para ahli di CSIS, RAND Corporation, dan Brookings merumuskan teori tentang "rezim Iran yang tidak rasional vs. deterens rasional." Di Israel, lembaga seperti INSS memproduksi analisis tentang "ancaman eksistensial." Di Iran, lembaga-lembaga penelitian merumuskan teori "perlawanan asimetris."
  4. Tingkat 4: Universum simbolik. Inilah tingkat tertinggi. Bagi Iran, ini adalah semesta Islam Revolusioner: Perang ini adalah bagian dari pertempuran kosmis antara mustad'afin (kaum tertindas) melawan mustakbirin (kaum penindas), yang akan berujung pada kemenangan Ilahi. Bagi Israel, semestanya adalah Yahudi yang abadi (Am Yisrael Chai): Bangsa yang selamat dari Holocaust, yang dipilih untuk bertahan melawan musuh-musuhnya, dengan Yerusalem sebagai pusat spiritual. Bagi AS, semestanya adalah Manifest Destiny versi Modern: Amerika sebagai "kota di atas bukit" (city upon a hill) yang memiliki takdir untuk menyebarkan demokrasi dan kebebasan, bahkan dengan kekuatan militer.

Universum simbolik inilah yang menjawab pertanyaan paling sulit: Mengapa anak muda harus mati di negeri asing? Mereka mati, dalam narasi ini, demi sesuatu yang lebih besar dari diri mereka sendiri, demi Islam, demi kelangsungan Yahudi, demi kebebasan. Inilah kanopi suci yang melindungi perang dari kutukan moral. Cvetković (2016) menekankan bahwa analisis institusional melalui legitimasi memberi kita pengetahuan tentang "struktur institusional sebagaimana dilihat oleh anggota masyarakat," menjembatani celah antara institusi formal dan informal (hlm. 23).

Konstruksi Realitas Paralel di Era Digital

Perang ini unik karena berlangsung di era digital dewasa. Teori Berger dan Luckmann, yang ditulis tahun 1966, jauh sebelum internet, menekankan interaksi tatap muka sebagai fondasi utama konstruksi realitas. Namun, perang 2026 menunjukkan bahwa media telah menjadi panggung utama konstruksi realitas.

The New Yorker (31 Maret 2026) menulis esai provokatif tentang "spektakel perang." Menggunakan konsep Guy Debord tentang spectacle, penulisnya mencatat bahwa "alih-alih melihat bangunan yang dihancurkan bom, kita melihat wajah para komentator dan mendengarkan klip video berdurasi tiga puluh detik" (New Yorker, 2026). Realitas perang tidak dialami secara langsung, melainkan dimediasi oleh layar dan algoritma.

Newsweek menambahkan dimensi ini dengan laporan tentang "Copium Wars." Iran menggunakan video AI yang menampilkan Khamenei yang sudah meninggal sebagai pahlawan yang menang. Gedung Putih merilis cuplikan perang bergaya video game. Kedua belah pihak memproduksi realitas yang "nyaman" bagi konstituen mereka (Newsweek, 30 Maret 2026).

Dalam kerangka Berger-Luckmann, media adalah mesin objektivasi yang sangat kuat. Ia tidak hanya merefleksikan realitas; ia menciptakan realitas dengan membingkai, memilih, dan mengecualikan. Ketika Fox News menampilkan peta Iran yang disorot merah menyala dengan label "Axis of Evil," ia sedang mengobjektivasi konstruksi "Iran sebagai ancaman." Ketika Press TV Iran merilis video "560 tentara Amerika tewas", jauh di atas angka resmi Pentagon (Boston Globe, 2026), ia sedang mengobjektivasi konstruksi "Iran menang."

Konsep kunci dalam analisis konflik adalah identitas "kita" vs. "mereka." Dalam perspektif konstruksi sosial, batas antara ingroup dan outgroup bukanlah garis alamiah; ia adalah produk konstruksi yang terus-menerus dirawat.

Gorontalopost (2 April 2026) menulis analisis yang sangat baik tentang bagaimana identitas dan permusuhan antara Iran, Israel, dan AS terbentuk. "Konflik ini tidak dapat dijelaskan secara memadai melalui distribusi kekuatan material semata," tulisnya. "Ia adalah produk konstruksi identitas, norma, dan interaksi sosial yang berlangsung selama beberapa dekade" (Rizal Tohopi, 2026). Analisis ini sejalan dengan argumen Alexander Wendt (1992) bahwa "anarki adalah apa yang negara-negara buat darinya" (anarchy is what states make of it).

Proses konstruksi musuh melalui beberapa tahap:
  1. Tahap 1: Kategorisasi dan pelabelan. Iran melabeli Israel sebagai "entitas Zionis" dan "Rezim Apartheid." Israel melabeli Iran sebagai "rezim teror" dan "ancaman eksistensial." AS melabeli Iran sebagai "poros kejahatan" (axis of evil). Label ini bukan deskripsi netral; ia adalah tindakan objektivasi yang membingkai persepsi.
  2. Tahap 2: Dehumanisasi. Musuh direduksi menjadi abstraksi yang bisa dibenci tanpa rasa bersalah. Warga sipil Iran yang terbunuh oleh bom AS-Israel menjadi "kerusakan kolateral" (collateral damage). Tentara Israel yang tewas oleh rudal Iran menjadi "penjajah Zionis yang pantas mati." Dehumanisasi adalah syarat psikologis untuk kekerasan.
  3. Tahap 3: Narasi ancaman. Program nuklir Iran didefinisikan sebagai "jalan menuju genosida Yahudi kedua" (narasi Israel). Kehadiran militer AS di Teluk Persia didefinisikan sebagai "imperialisme yang menghisap darah Muslim" (narasi Iran). Narasi ancaman ini memperkuat urgensi tindakan militer.

Belitong Ekspres (5 April 2026) mencatat bahwa konstruksi identitas musuh dan kawan "bukan sesuatu yang alamiah, tetapi dibentuk lewat proses sosial, komunikasi, dan pengetahuan sehari-hari" (Faujian, 2026). Ini adalah ringkasan yang tepat dari gagasan Berger dan Luckmann tentang habitualisasi dan institusionalisasi identitas.

Hal yang membuat situasi ini sangat eksplosif adalah bahwa ketiga pihak memiliki konstruksi realitas yang sama sekali berbeda dan saling bertentangan. Bagi Iran, ini adalah perang defensif melawan agresi imperialis. Bagi Israel, ini adalah perang preventif melawan ancaman eksistensial. Bagi AS, ini adalah operasi strategis untuk stabilitas kawasan. Ketiga realitas ini saling meniadakan, dan tidak ada pengadilan netral yang bisa memutuskan realitas siapa yang "benar."

Di sinilah kita menyaksikan keterbatasan sekaligus kekuatan kerangka Berger-Luckmann. Kekuatannya: ia mampu menjelaskan bagaimana setiap pihak sampai pada keyakinan bahwa realitas mereka adalah satu-satunya yang benar. Keterbatasannya: ia tidak memberi tahu kita bagaimana menyelesaikan tabrakan antar-realitas ini.

Berger dan Luckmann sendiri sadar akan masalah ini. Mereka menulis tentang alternation, perubahan radikal dalam realitas subjektif yang dialami individu, mirip dengan konversi agama (Berger & Luckmann, 1966, hlm. 176-177). Namun, alternation adalah pengalaman individu, bukan resolusi konflik antar-kelompok.

Satu kritik penting terhadap kerangka Berger dan Luckmann adalah bahwa mereka kurang memberi perhatian pada dimensi kekuasaan dan koersi dalam konstruksi realitas. Realitas sosial tidak hanya dikonstruksi melalui interaksi sukarela dan legitimasi; ia juga dipaksakan melalui kekerasan dan ancaman.

Artikel dari jurnal Comparative Sociology tentang Yordania selama isu wabah menunjukkan bahwa "konstruksi realitas sosial terkadang membutuhkan intervensi koersif" (Comparative Sociology, 2021). Dalam konteks perang Iran-Israel-AS, unsur koersi sangat menonjol:
  • Di Iran: Rezim yang terluka tetap mempertahankan kontrol internal melalui tindakan keras terhadap perbedaan pendapat. "Blokade informasi" dan penangkapan aktivis anti-perang adalah contoh koersi dalam memaksakan realitas resmi.
  • Di Israel: Tekanan militer dan politik terhadap suara-suara yang mempertanyakan perang. Netanyahu menghadapi koalisi oposisi yang menantang (CNN Indonesia, 2026), tetapi mesin militer terus berputar.
  • Di AS: Manipulasi informasi, intimidasi terhadap jurnalis kritis, dan narasi bahwa "menentang perang adalah tidak patriotik."

Fraser dan Turcan (2025), dalam artikel mereka di British Journal of Sociology, menawarkan tipologi menarik yang melengkapi kerangka Berger-Luckmann. Mereka mengidentifikasi empat cara konstruksi sosial dapat dicapai: instantiating (kemunculan kausal mutual), realizing (legitimasi menuju institusionalisasi), aspiring (legitimasi dari institusionalisasi), dan missing (supresi kausal mutual, potensi tak terwujud). Dalam konteks perang ini, kita melihat campuran realizing (legitimasi perang melalui institusi yang ada) dan missing (hilangnya potensi perdamaian karena konstruksi musuh yang rigid).

Setelah membedah kasus ini, kita bisa menilai sejauh mana kerangka Berger dan Luckmann relevan dalam memahami konflik kontemporer. Kekuatan utama kerangka ini:
  1. Penjelasan tentang "bagaimana realitas mengambil alih." Teori ini brilian dalam menjelaskan bagaimana sesuatu yang dikonstruksi secara sosial bisa terasa begitu nyata. Dalam konteks perang, ini membantu kita memahami mengapa orang rela mati untuk konstruksi seperti "tanah air" atau "umat", karena konstruksi itu, melalui objektivasi dan internalisasi, telah menjadi realitas subjektif yang dalam.
  2. Perhatian pada proses, bukan esensi. Alih-alih bertanya "Apakah Iran benar-benar ancaman?", kerangka ini mengarahkan kita untuk bertanya "Bagaimana Iran menjadi ancaman dalam persepsi aktor X?" Pergeseran dari ontologi ke proses ini sangat berharga untuk analisis konflik.
  3. Menjembatani level analisis. Konsep peran (roles) memungkinkan kita menghubungkan interaksi tatap muka dengan struktur institusional makro. Seorang prajurit yang menekan tombol peluncur rudal tidak bertindak dalam ruang hampa; ia menubuhkan seluruh sejarah, institusi, dan legitimasi yang telah mengonstruksi perannya.

Keterbatasan yang perlu diakui:
  1. Minimnya analisis kekuasaan material. Konstruksi realitas tidak terjadi dalam ruang hampa kekuasaan. Siapa yang mengontrol media, militer, dan sumber daya ekonomi memiliki kapasitas lebih besar untuk memaksakan konstruksi mereka. Kerangka Berger-Luckmann, yang berakar pada fenomenologi dan interaksionisme, cenderung kurang memberi perhatian pada asimetri kekuasaan struktural.
  2. Kurangnya dimensi konflik dan perubahan. Meskipun dialektika mereka mengimplikasikan perubahan, fokus Berger dan Luckmann lebih pada bagaimana tatanan dipelihara daripada bagaimana tatanan ditantang dan ditransformasi. Gerakan sosial, revolusi, dan resistensi adalah topik yang relatif kurang berkembang dalam buku mereka.
  3. Mediasi digital. Buku ini ditulis sebelum revolusi digital. Konsep mereka tentang interaksi tatap muka sebagai fondasi konstruksi realitas kini harus diperluas untuk mencakup interaksi termediasi oleh layar, media sosial, dan AI. Fenomena "Copium Wars" dan propaganda AI yang diproduksi Iran adalah dimensi baru yang membutuhkan perangkat teoretis tambahan.
  4. Peran emosi dan afek. Konstruksi realitas dalam konflik tidak hanya melibatkan kognisi, tetapi juga emosi yang kuat: kemarahan, ketakutan, kebencian, cinta patriotik. Dimensi afektif ini kurang mendapatkan tempat dalam analisis Berger dan Luckmann yang cenderung kognitif.

Pelajaran untuk Perdamaian

Jika realitas perang dikonstruksi secara sosial, maka perdamaian juga harus dikonstruksi secara sosial. Ini bukan sekadar soal menghentikan tembakan; ini soal mendekonstruksi dan merekonstruksi realitas.
Langkah-langkah yang bisa diambil berdasarkan kerangka Berger-Luckmann:
  1. Delegitimasi narasi perang. Perang bertahan karena legitimasi yang diberikan padanya. Proses perdamaian harus mencakup delegitimasi secara sistematis terhadap narasi yang mendefinisikan pihak lain sebagai "jahat absolut."
  2. Menciptakan habitualisasi perdamaian. Perang telah menjadi "kebiasaan" (habit) dalam hubungan Iran-Israel-AS. Perdamaian membutuhkan pembiasaan baru: serangkaian tindakan kecil yang berulang, pertemuan diplomatik, kerja sama ekonomi, pertukaran budaya, yang akhirnya menjadi pola yang diterima begitu saja (habitual).
  3. Alternation sosial: pertobatan kolektif. Konsep alternation, perubahan radikal dalam realitas subjektif, bisa diadaptasi ke level kolektif. Ini mirip dengan apa yang terjadi di Afrika Selatan pasca-apartheid atau Irlandia Utara pasca-konflik: sebuah transformasi identitas nasional yang memungkinkan pihak yang sebelumnya bermusuhan untuk melihat diri mereka sebagai bagian dari komunitas yang sama.
  4. Membangun universum simbolik baru. Dibutuhkan narasi besar yang melampaui nasionalisme sempit. Ini bisa berupa visi bersama tentang Timur Tengah yang damai, atau etika kemanusiaan universal. Tanpa "kanopi suci" yang baru, konstruksi lama akan terus membayangi.

Mari kita akhiri bagian ini dengan catatan penting: Analisis ini sendiri adalah konstruksi realitas. Esai ini, dengan memilih sumber tertentu, menekankan aspek tertentu, dan mengabaikan aspek lain, sedang mengonstruksi realitas "perang Iran 2026" versi tertentu. Tidak ada pengamat yang sepenuhnya netral. Kesadaran akan posisi ini adalah salah satu kontribusi terbesar dari pendekatan konstruksi sosial: ia membuat kita rendah hati secara epistemologis.

Berger sendiri, menjelang akhir hayatnya, merefleksikan ironi ini: "Kami menulis buku tentang bagaimana realitas dikonstruksi, dan kemudian orang menggunakan buku kami untuk mengonstruksi realitas yang tidak pernah kami bayangkan" (Cultural Sociology, 2016).

Penutup

Lebih dari setengah abad setelah publikasinya, The Social Construction of Reality karya Peter L. Berger dan Thomas Luckmann tetap menawarkan lensa yang tajam untuk membaca dunia yang kacau. Dalam pusaran perang Iran-Israel-AS 2026, lensa ini memperlihatkan kepada kita bahwa:
  1. Realitas "ancaman" dan "pertahanan diri" bukanlah data objektif, melainkan produk dari rangkaian panjang eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi yang telah terinstitusionalisasi dan dilegitimasi selama puluhan tahun.
  2. Perang bukan hanya bentrokan militer, tetapi juga bentrokan universum simbolik, pertempuran antara Islam Revolusioner, Yahudi Abadi, dan Demokrasi Penebus, yang masing-masing memberi makna ultim pada kematian dan penderitaan.
  3. Meskipun Berger dan Luckmann memiliki perbedaan penekanan, Berger lebih makro-institusional, Luckmann lebih mikro-fenomenologis, sintesis mereka dalam buku tahun 1966 tetap merupakan fondasi yang tak tergantikan untuk sosiologi pengetahuan dan analisis konflik.
  4. Keterbatasan kerangka ini, terutama dalam menganalisis kekuasaan material dan dinamika digital, membuka ruang untuk pengembangan teoretis lebih lanjut, termasuk konstruktivisme komunikatif dan sosiologi emosi.

Tesis paling subversif dari Berger dan Luckmann adalah ini: jika manusia yang menciptakan realitas, maka manusia juga bisa mengubahnya. Realitas sosial adalah produk manusia yang terlupakan asal-usulnya; tugas sosiolog adalah mengingatkan kembali bahwa "begini lho, ini sebenarnya buatan kita, dan kita bisa membuat yang lain."

Darah yang mengalir di Tehran, Tel Aviv, dan kapal-kapal di Selat Hormuz adalah nyata. Tetapi makna yang diberikan pada darah itu, apakah ia darah martir, darah agresor, atau "kerusakan kolateral", adalah konstruksi. Di sinilah letak tanggung jawab etis kita: konstruksi mana yang kita pilih untuk dipercaya, dan konstruksi mana yang kita pilih untuk dibongkar.

Perang yang dimulai pada 28 Februari 2026 pada akhirnya akan berakhir, dengan atau tanpa kemenangan militer. Tetapi pascaperang akan menjadi medan pertempuran baru: pertempuran untuk mendefinisikan apa yang telah terjadi, siapa yang benar, siapa yang salah, dan bagaimana kita akan hidup bersama setelah ini semua. Dalam pertempuran itulah, warisan intelektual Peter L. Berger dan Thomas Luckmann akan terus menyala sebagai obor.

Referensi

Barnett, M. (1999). Culture, strategy and foreign policy change: Israel's road to Oslo. European Journal of International Relations, 5(1), 5-36.

Berger, P. L. (1967). The sacred canopy: Elements of a sociological theory of religion. Doubleday.

Berger, P. L., & Luckmann, T. (1966). The social construction of reality: A treatise in the sociology of knowledge. Anchor Books. (Halaman yang dirujuk: 14-15, 30, 33-35, 51-55, 66, 71, 78-79, 92, 106, 111-113, 125, 150, 176-177)

Cvetković, V. (2016). Legitimation and institutions: Revisiting Berger and Luckmann. Facta Universitatis, Series: Philosophy, Sociology, Psychology and History, 23-35.

Faujian, A. (2026, 5 April). Perang AS–Israel dan Iran: Membaca konflik global melalui lensa sosiologi. Belitong Ekspres. https://belitongekspres.bacakoran.co/opini/read/25349/

Fraser, N., & Turcan, R. V. (2025). Reconstructing the social construction of reality. British Journal of Sociology, 76(3), 657-662. https://doi.org/10.1111/1468-4446.13190

Knoblauch, H. (2021). The communicative construction of reality. Dalam H. Knoblauch (Ed.), The communicative construction of reality. Routledge.

Newsweek. (2026, 30 Maret). Everyone is fighting the Copium Wars. https://www.newsweek.com/iran-war-trump-copium-11756721

Press TV. (2026, 25 April). State Department confirms Israel dragged US into war on Iran. https://www.presstv.ir/Detail/2026/04/25/767512/

Rizal Tohopi, M. (2026, 2 April). Mengulik variabel identitas, norma, dan reproduksi permusuhan pada konflik Iran-Israel-Amerika Serikat. Gorontalopost. https://gorontalopost.co.id/2026/04/02/

Spasić, I. (2019). Social construction of reality and constructionism: A misunderstanding which (perhaps) isn't one. Glasnik Etnografskog instituta SANU, 67(1), 15-32. https://doi.org/10.2298/GEI1901015S

Takeyh, R. (2009). Guardians of the revolution: Iran and the world in the age of the Ayatollahs. Oxford University Press.

The New Yorker. (2026, 31 Maret). The spectacle of war and the struggle to protest. https://www.newyorker.com/news/fault-lines/the-spectacle-of-war-and-the-struggle-to-protest

Wendt, A. (1992). Anarchy is what states make of it: The social construction of power politics. International Organization, 46(2), 391-425.

Wickert, C. (2025). Peter L. Berger and Thomas Luckmann – The Social Construction of Reality (1966). SozTheo. https://soztheo.com/sociology/key-works-in-sociology/peter-l-berger-and-thomas-luckmann-the-social-construction-of-reality-1966/

Posting Komentar

0 Komentar