Ad Code

Membaca Krisis Demokrasi Israel Melalui Lensa Pesimisme Aristoteles

Demokrasi, sebuah konsep yang akarnya tertanam dalam praktik bernegara di Polis Yunani Kuno, tengah diuji secara fundamental di salah satu negara yang kerap menyandang predikat "satu-satunya demokrasi di Timur Tengah". 

Esai ini bertujuan mengkaji krisis konstitusional dan politik yang melanda Israel kontemporer, khususnya pada periode 2025-2026, melalui lensa teoretis pemikiran Aristoteles tentang polis, konstitusi, dan demokrasi. Dengan menggunakan metode analisis kualitatif berbasis studi literatur, tulisan ini pertama-tama akan menguraikan fondasi teoretis Aristoteles yang pesimistis terhadap demokrasi, menekankan konsep zoon politikon, eudaimonia, dan kategorisasi konstitusi. Selanjutnya, analisis akan memetakan dinamika politik Israel terkini, yang diwarnai oleh reformasi peradilan (judicial overhaul) kontroversial, fragmentasi koalisi, serta perpecahan sipil-religius yang akut. 

Analisis krisis demokrasi Israel 2025-2026 melalui lensa pesimisme Aristoteles: reformasi peradilan dan perpecahan polis modern.

Argumen sentral yang dibangun adalah bahwa krisis di Israel merupakan manifestasi nyata dari ketakutan Aristotelian akan degenerasi demokrasi menjadi tirani mayoritas (mob rule) ketika "yang banyak" memerintah demi kepentingan segelintir kelompok, mengabaikan kebaikan bersama (common good). Dengan merujuk pada data dari lembaga-lembaga seperti Israel Democracy Institute (IDI) dan Freedom House, serta pandangan para analis politik internasional, esai ini menyimpulkan bahwa tanpa adanya konstitusi yang disepakati bersama dan komitmen pada keadilan substantif, polis modern seperti Israel berisiko kehilangan esensi demokratisnya dan terjerumus ke dalam oligarki atau bahkan tirani.

Esai Lengkap Dapat Anda Baca di Research Gate

Membaca Krisis Demokrasi Israel Melalui Lensa Pesimisme Aristoteles
April 2026
DOI: 10.13140/RG.2.2.30632.53761

Posting Komentar

0 Komentar