Goffman, melalui karya monumentalnya The Presentation of Self in Everyday Life (1959), mengajak kita melihat kehidupan sosial sebagai sebuah panggung teater yang megah. Kita semua adalah aktor yang secara konstan memainkan peran, mengelola impresi, dan berganti topeng demi mencapai tujuan sosial tertentu. Idenya yang revolusioner ini melahirkan pendekatan dramaturgi, sebuah cara pandang yang memperlakukan interaksi sosial sehari-hari sebagai drama yang penuh strategi.
Puluhan tahun berlalu, dunia telah berubah drastis. Panggung fisik kini memiliki kembaran digital yang lebih luas: Media sosial. Di sinilah letak keajaiban pemikiran Goffman. Teori yang ia rumuskan dengan mengamati interaksi tatap muka di pertengahan abad ke-20 justru menemukan relevansi yang meledak-ledak di abad ke-21. Esai ini akan mengupas tuntas gagasan brilian Goffman dengan bahasa yang mudah dicerna, dan menunjukkan mengapa di era Instagram, TikTok, dan LinkedIn, kita semua menjadi aktor yang jauh lebih canggih, sekaligus lebih rapuh, dari yang pernah ia bayangkan.
Panggung Kehidupan
Untuk memahami cara kita “bermain” di kehidupan nyata maupun maya, kita perlu berkenalan dengan konsep-konsep kunci dalam dramaturgi Goffman:1. Panggung Depan (Front Stage) dan Panggung Belakang (Back Stage)
Ini adalah dualisme paling fundamental dalam teori Goffman.
- Panggung Depan (Front Stage) adalah ruang di mana pertunjukan berlangsung. Di sini, aktor (individu) menampilkan diri sesuai dengan norma, harapan audiens, dan citra ideal yang ingin ia proyeksikan. Seorang kasir yang selalu tersenyum ramah kepada setiap pelanggan, seorang dosen yang berbicara dengan artikulatif dan berwibawa di kelas, atau seorang pramugari yang gesturnya sempurna saat menyambut penumpang, semuanya sedang berada di panggung depan. Tujuannya satu: Manajemen impresi (impression management), yaitu mengendalikan kesan yang ditangkap oleh audiens agar sesuai dengan keinginan kita (Goffman, 1959, hlm. 22).
- Panggung Belakang (Back Stage) adalah ruang pribadi, di mana sang aktor bisa “keluar dari karakternya.” Di sini, ia bisa bersikap lebih santai, mengekspresikan kelelahan, atau bahkan melontarkan keluhan yang tidak akan pernah terdengar di panggung depan. Kasir yang tadi tersenyum manis, di ruang istirahat karyawan mungkin sedang mengomel tentang pelanggan yang menjengkelkan. Inilah panggung belakang, tempat di mana “penampilan yang ditampilkan di depan secara terbuka dipertentangkan” (Goffman, 1959, hlm. 112).
Pertunjukan seringkali bukan aksi solo. Goffman memperkenalkan konsep “tim” sebagai sekelompok individu yang bekerja sama untuk menampilkan satu definisi realitas tunggal di hadapan audiens. Anggota tim saling bergantung untuk menjaga agar pertunjukan tetap berjalan mulus dan meyakinkan. Contoh yang sempurna adalah sebuah tim marketing yang sedang presentasi di depan klien. Setiap anggota memiliki “peran” masing-masing, dan mereka semua bertanggung jawab untuk mendukung narasi bahwa perusahaan mereka adalah yang terbaik, meskipun di panggung belakang mereka mungkin tahu ada celah dalam proposal mereka.
3. Stigma
Dalam bukunya yang lain, Stigma: Notes on the Management of Spoiled Identity (1963), Goffman mengeksplorasi apa yang terjadi pada interaksi sosial ketika seorang individu memiliki atribut yang sangat mendiskreditkan dirinya di mata masyarakat. Stigma adalah jurang antara identitas virtual (siapa kita menurut asumsi orang lain) dan identitas aktual (siapa kita sebenarnya). Individu yang terstigma, baik karena cacat fisik, asal-usul ras, orientasi seksual, atau bahkan status sebagai mantan narapidana, akan terus-menerus terlibat dalam manajemen informasi untuk mengendalikan ketegangan dalam setiap interaksi sosialnya.
Mereka yang terstigma mungkin akan berusaha untuk “lewat” (passing), menyembunyikan atribut mereka, atau “menutupi” (covering), mengurangi dampak dari atribut yang sudah diketahui, demi menjaga situasi sosial tetap terkendali (Goffman, 1963, hlm. 120-125).
Medsos sebagai Panggung Baru
Ratusan juta orang kini menghabiskan waktu mereka di atas panggung digital. Media sosial, yang awalnya dipandang sebagai alat komunikasi biasa, telah berevolusi menjadi teater global di mana setiap pengguna adalah kreator, aktor, sekaligus anggota audiens. Di sinilah konsep-konsep Goffman mendapatkan tantangan dan perwujudan paling ekstremnya.Instagram, dengan fokusnya pada visual, adalah contoh paling nyata dari panggung depan yang dikurasi secara ekstrem. Setiap foto, filter, dan caption adalah properti pertunjukan yang dirancang untuk membangun narasi tertentu. Sebuah riset oleh Song dan Shin (2022) secara khusus menunjukkan pola ini. Dalam studi mereka terhadap 450 unggahan, ditemukan bahwa ketika pengguna ingin menampilkan “diri ideal” (ideal self), 98% dari mereka menggunakan teknik menyembunyikan tagar (hidden hashtags). Mengapa? Karena tagar yang terlihat terlalu banyak menunjukkan “kerja keras” di balik layar. Mereka ingin panggung depan tampak tanpa usaha (effortless), seolah-olah kesempurnaan itu alami dan spontan (Song & Shin, 2022, hlm. 24-25).
Fenomena finsta (fake Instagram) versus rinsta (real Instagram) di kalangan anak muda juga merupakan adaptasi murni dari konsep panggung depan dan belakang. Rinsta adalah akun “resmi” yang menampilkan diri ideal untuk audiens yang luas (termasuk orang tua, dosen, atau calon atasan). Sementara finsta adalah akun privat dengan pengikut terbatas, di mana mereka bisa melucu, curhat, dan menampilkan sisi “berantakan” yang lebih otentik (Wang, 2026).
Jika Instagram adalah panggung untuk estetika, LinkedIn adalah panggung untuk ambisi. Platform ini mewadahi pertunjukan diri profesional yang sangat strategis. Sebuah studi menegaskan bahwa para profesional di LinkedIn secara sadar menggunakan strategi linguistik, pengalaman yang dikurasi, hingga taktik engagement untuk membangun merek pribadi (personal branding). Mereka secara konstan menyeimbangkan antara autentisitas dan visibilitas, menciptakan sebuah persona profesional yang harus tampak kompeten dan mudah didekati sekaligus. Di panggung LinkedIn, identitas personal bertransformasi menjadi modal profesional (Gilbert, 2026, hlm. 4).
Cairnya Front dan Back Stage
Salah satu tantangan terbesar bagi teori Goffman di era digital adalah batas antara panggung depan dan belakang yang menjadi sangat cair. Sebuah studi oleh Wang (2026) pada mahasiswa di China menemukan bahwa mereka menggunakan akun resmi dan akun alternatif secara bersamaan. Akun resmi adalah panggung depan yang dikurasi dengan hati-hati, sementara akun alternatif ditujukan untuk ekspresi yang lebih bebas dan jujur.Namun, menariknya, Wang menemukan bahwa di akun alternatif yang dianggap “privat” pun, para mahasiswa tetap melakukan manajemen impresi. Meskipun lebih spontan, ekspresi mereka tetap strategis dan diperhitungkan untuk audiens yang terbatas. Ini membuktikan bahwa panggung depan dan belakang di era digital tidak lagi terpisah secara hitam-putih, melainkan lebih seperti gradasi abu-abu di mana kita terus-menerus “manggung” pada tingkat yang berbeda-beda (Wang, 2026, hlm. 5).
Dramaturgi Goffman tidak hanya membantu kita memahami cara kita ber-selfie ria. Lebih dalam lagi, ia menyediakan perangkat untuk membedah fenomena sosial yang lebih kompleks dan seringkali menyakitkan di era digital.
Internet, dengan janji anonimitasnya, membuka kemungkinan baru untuk mengelola stigma. Bagi individu dengan “identitas rusak”, seperti penyandang disabilitas, penderita penyakit kronis, atau korban kekerasan, platform digital bisa menjadi ruang untuk menemukan komunitas dan menampilkan diri tanpa perlu menghadapi tatapan menghakimi secara langsung. Ini sesuai dengan konsep Goffman tentang strategi “lewat” (passing) dan “menutupi” (covering), namun dalam skala yang lebih besar.
Namun, internet juga bisa menjadi alat untuk memperkuat stigma. Analisis mengenai stigma pasca-stroke menunjukkan bagaimana penderita bernegosiasi dengan identitas mereka di dunia maya, sebuah proses yang seringkali penuh dengan dilema antara kebutuhan untuk berbagi pengalaman dan keinginan untuk menghindari stereotip negatif (Taubner et al., 2018). Sisi gelapnya, seperti yang diungkap dalam buku Stigma 2.0, ejekan dan penghinaan di internet telah menjadi “hiburan publik” dan alat kontrol sosial yang berbahaya, di mana panggung digital menjadi arena untuk merendahkan dan menghakimi (Smith, 2020).
Di media sosial, pertunjukan kebaikan seringkali lebih penting daripada kebaikan itu sendiri. Ini disebut sebagai performative activism atau “slacktivism”. Orang-orang mengubah foto profil menjadi warna tertentu atau membagikan poster informatif, bukan karena benar-benar tergerak, tetapi karena khawatir akan dihakimi jika tidak ikut serta. Panggung depan mereka menampilkan solidaritas, sementara panggung belakang, tindakan nyata, seringkali kosong.
Fenomena “cancel culture” juga dapat dibaca sebagai sebuah drama Goffmanian yang brutal. Figur publik atau individu biasa tiba-tiba diseret ke atas panggung, bukan untuk dipuja, tetapi untuk dihujat. Audiens berubah menjadi massa yang menghakimi, menuntut pertunjukan permintaan maaf yang sempurna. Sebuah drama “pertobatan” publik harus dimainkan, dan jika audiens tidak puas, sang aktor akan “dihapus” dari panggung sosial secara sepihak (McGrath, 2021).
Masih Relevankah Goffman?
Seiring dengan perkembangan teknologi, terutama kehadiran algoritma, beberapa akademisi mulai mempertanyakan kecukupan model dramaturgi Goffman. Kritikus utama seperti Hogan (2010) berpendapat bahwa konsep “pertunjukan” Goffman yang sinkron dan terikat pada kehadiran fisik sudah tidak sepenuhnya memadai untuk menggambarkan realitas media sosial. Ia menawarkan konsep “pameran” (exhibition) .Di media sosial, unggahan kita bukan hanya pertunjukan yang terjadi dalam “situasi” tatap muka. Unggahan itu adalah artefak digital yang dikurasi oleh sebuah “kurator virtual”, yaitu algoritma, yang kemudian mendistribusikannya kepada audiens yang asinkron dan seringkali tidak dikenal. Feed Instagram yang menampilkan foto liburan dari tiga minggu lalu, misalnya, lebih merupakan sebuah pameran di galeri digital daripada pertunjukan teater real-time (Hogan, 2010, hlm. 383).
Gran (2025) bahkan lebih tegas lagi. Ia berargumen bahwa model Goffman “telah menjadi usang” dan riset presentasi diri daring memerlukan pendekatan teoretis yang benar-benar baru. Menurut Gran, fokus seharusnya bergeser dari “apa” yang ditampilkan (identitas, peran) ke “bagaimana” ia ditampilkan, gaya akting, penggunaan alat peraga, kostum, dan simbol-simbol visual yang unik di setiap platform (Gran, 2025, hlm. 3-4).
Sebuah studi lainnya menunjukkan bahwa identitas digital kini telah menjadi entitas yang “terkorporatisasi” (corporatised identities), di mana presentasi diri kita tidak bisa sepenuhnya kita kendalikan karena disaring melalui logika bisnis dan algoritma platform yang memprioritaskan konten yang bisa dimonetisasi (Smith, 2020).
Penutup
Terlepas dari kritik-kritik yang sahih, pemikiran Erving Goffman tidak menjadi tidak relevan; ia justru menjadi fondasi yang darinya kita bisa memahami metamorfosis sosial yang dibawa oleh teknologi. Kehadiran media sosial tidak menyangkal dramaturgi; ia justru mendemokratisasikan dan mengintensifkannya. Kini, kita semua memiliki akses ke panggung, properti, dan audiens global. Kita semua merasakan tuntutan untuk terus-menerus tampil, untuk menciptakan, memelihara, dan kadang-kadang, mati-matian melindungi “merek” pribadi kita.Dilema yang dihadapi manusia modern bukan lagi sekadar “bagaimana saya tampil di depan orang lain?”, melainkan “sisi diri saya yang mana yang harus saya tampilkan hari ini, di platform mana, dan kepada audiens yang mana?”. Ketika panggung sudah ada dalam genggaman kita 24 jam sehari, 7 hari seminggu, pertanyaannya kini bukan lagi tentang bagaimana kita berakting, melainkan bisakah kita, untuk sesaat, berhenti?
Goffman, dengan puitis tetapi jujur, mengingatkan kita bahwa “diri” bukanlah sesuatu yang kita miliki, melainkan sebuah produk yang lahir dari interaksi dramatik antara aktor dan audiensnya. Pencarian akan “diri yang otentik” di tengah lautan pertunjukan digital barangkali adalah drama terhebat yang akan terus kita mainkan. Dan di atas panggung kehidupan yang kini telah melebur antara fisik dan digital, sandiwara itu belum akan berakhir.
Referensi
Gilbert, M. A. (2026). Selling the self: Personal branding and impression management on LinkedIn. AMTP Proceedings 2026, 79. https://digitalcommons.georgiasouthern.edu/amtp-proceedings_2026/79Goffman, E. (1959). The presentation of self in everyday life. Anchor Books.
Goffman, E. (1963). Stigma: Notes on the management of spoiled identity. Prentice-Hall.
Gran, A.-B. (2025). Performing not-not-me in SoMe: A new theatrical typology of self-presentation online. Social Media + Society, 2025(1), 1–18. https://doi.org/10.1177/20563051251315256
Hogan, B. (2010). The presentation of self in the age of social media: Distinguishing performances and exhibitions online. Bulletin of Science, Technology & Society, 30(6), 377–386. https://doi.org/10.1177/0270467610385893
McGrath, J. (2021, July 14). McGrath ’24: All the web’s a stage: Social performance and the rise of Internet slacktivism. The Brown Daily Herald. https://www.browndailyherald.com
Smith, C. H. (2020). Corporatised identities ≠ digital identities: Algorithmic filtering on social media and the commercialisation of presentations of self. PhilArchive. https://philarchive.org/rec/SMICID
Song, S., & Shin, H. (2022). Presentation of self and SNS posting styles: Focusing on Goffman’s impression management framework. Korean Journal of Culture and Arts Management, 13(7), 21–31.
Taubner, H., Hallén, M., & Wengelin, Å. (2018). Signs of aphasia: Online identity and stigma management in post-stroke aphasia. Cyberpsychology: Journal of Psychosocial Research on Cyberspace, 11(1), article 6. https://doi.org/10.5817/CP2017-1-6
Wang, Z. (2026). Dual account self presentation and the digital erosion of Goffman’s front back distinction among Chinese undergraduates. In Proceedings of the 2025 8th International Conference on Humanities Education and Social Sciences (ICHESS 2025). Atlantis Press. https://doi.org/10.2991/978-2-38476-551-5_125

https://orcid.org/0000-0002-1420-4288
0 Komentar
Silakan tulis komentar Anda.