Biopolitik memandang Otoritarianisme sebagai mode otomatis (default) cara memerintah di kelompok primate, termasuk Homo sapiens (manusia). Studi diarahkan pada invididu yang kontroversial yaitu Presiden Donald J. Trump. Artikel ini hendak menjelaskan mengapa Trump mempertahankan Perang Iran dari sudut analisis teori Somit-Peterson tentang Model Default kepemimpinan manusia.
Perilaku Donald J. Trump dalam mempertahankan perang Iran 2026 tidak dapat dipahami hanya melalui lensa ideologi atau strategi geopolitik. Menggunakan kerangka biopolitik teori Somit-Peterson, artikel ini menunjukkan bahwa otoritarianisme adalah model default kepemimpinan manusia, bukan anomali.
Artikel ini menyimpulkan bahwa demokrasi warisan genetik harus diperjuangkan melawan sistem otoritarian alami yang berakar dalam warisan evolusioner primata.Pada kesempatan ini penulis hendak menulis seputar perilaku otoritarianisme sebagai model default kepemimpinan politik. Sudut pandang yang penulis ambil adalah menganalisis masalah melalui teori Biopolitik seputar perilaku politik Donald J. Trump dalam Perang Iran tahun 2026. Perilaku politik Donald J. Trump dalam mempertahankan perang di Iran, kendati pun dihadapkan pada demonstrasi massal yang melibatkan jutaan warga AS, tidak dapat dipahami hanya melalui lensa ideologi atau strategi geopolitik.
Artikel ini menyimpulkan bahwa untuk memahami Trump, kita harus melihatnya bukan hanya sebagai politisi, tetapi sebagai manifestasi dari warisan biologis manusia. Juga kenyataan bahwa demokrasi, sebagai sistem yang tidak alami, harus terus diperjuangkan melawan kecenderungan bawaan ini.
Reaksi ini tidak dapat dijelaskan hanya dengan analisis politik konvensional. Ia harus dianalisis sebagai manifestasi dari otoritarianisme sebagai kecenderungan bawaan manusia, sebagaimana dijelaskan oleh Albert Somit dan Steven A. Peterson dalam The Failure of Democratic Nation Building: Ideology Meets Evolution (2005).
Somit dan Peterson juga menekankan bahwa kepatuhan adalah warisan evolusioner yang kuat dalam manusia. Kepatuhan tersebut bukan hanya karena takut, tetapi juga karena adanya manfaat adaptif . Kepatuhan terhadap otoritas membantu individu menghindari konflik fisik, menghemat energi, dan meningkatkan peluang reproduksi. Somit dan Peterson menyatakan:
Dominasi, Prediktabilitas, dan Stabilitas dalam Kebijakan Perang Trump
Trump sebagai Manifestasi Otoritarianisme Evolusioner
Kesimpulan
Dalam artikel kali ini penulis akan menggunakan perspektif Biopolitik Neo-Darwinis untuk membedah kepemimpinan Donald. J. Trump, khususnya di periode kedua saat ia memutuskan membantu Israel dalam Perang Iran. Hal yang cukup sulit diterima oleh masyarakat internasional adalah bahwa serangan atas Iran tersebut berlangsung di tengah proses diplomasi, dengan mana pihak Amerika Serikat dan Iran melakukan negosiasi dengan Oman sebagai mediator. Untuk teori Biopolitik yang digunakan telah penulis terakan di artikel berjudul Otoritarianisme Itu Laten dan Lestari.
Latar Kisah
Perilaku politik Donald J. Trump dalam mempertahankan perang di Iran, kendati pun dihadapkan pada demonstrasi massal yang melibatkan jutaan warga AS, tidak dapat dipahami hanya melalui lensa ideologi atau strategi geopolitik. Sebab itu, artikel ini akan menganalisis perilaku Trump melalui kerangka teori biopolitik Albert Somit dan Steven A. Peterson, yang menyatakan bahwa otoritarianisme adalah model default kepemimpinan manusia, yang berakar pada warisan evolusioner primata sosial.
Dengan menggunakan pendekatan biologis-sosial, artikel ini menunjukkan bahwa Trump tidak hanya memimpin, melainkan ia juga mendominasi, memanfaatkan kecenderungan bawaan manusia akan hierarki, kepatuhan, dan prediktabilitas. Artikel ini berusaha menunjukkan bahwa keteguhan Trump dalam perang Iran bukanlah kegagalan pribadi, melainkan ekspresi dari otoritarianisme sebagai kecenderungan alamiah, yang memungkinkannya mempertahankan basis pendukungnya meskipun berhadapan dengan tekanan publik yang besar.
Artikel ini menyimpulkan bahwa untuk memahami Trump, kita harus melihatnya bukan hanya sebagai politisi, tetapi sebagai manifestasi dari warisan biologis manusia. Juga kenyataan bahwa demokrasi, sebagai sistem yang tidak alami, harus terus diperjuangkan melawan kecenderungan bawaan ini.
Pada 28 Maret 2026, jutaan warga Amerika Serikat turun ke jalan dalam demonstrasi “No Kings” untuk menuntut Presiden Donald J. Trump menghentikan perang di Iran . Namun, Trump tidak hanya menolak. Ia justru memperkuat retorika perang, menyebut Iran sebagai “ancaman eksistensial” dan menegaskan bahwa “Amerika harus kuat, musuh harus takut” .
Reaksi ini tidak dapat dijelaskan hanya dengan analisis politik konvensional. Ia harus dianalisis sebagai manifestasi dari otoritarianisme sebagai kecenderungan bawaan manusia, sebagaimana dijelaskan oleh Albert Somit dan Steven A. Peterson dalam The Failure of Democratic Nation Building: Ideology Meets Evolution (2005).
Somit dan Peterson, dua pemikir biopolitik yang jarang disebut dalam jurnal-jurnal arus utama, menyatakan bahwa manusia, sebagai primata sosial, secara evolusioner telah dibekali dengan kecenderungan bawaan (innate predisposition) untuk menerima struktur sosial dan politik yang hirarkis, dominatif, dan otoriter . Dalam artikel ini, kita akan menguji bagaimana teori ini menjelaskan keteguhan Trump dalam mempertahankan konflik militer, serta mengapa ia mampu mempertahankan basis pendukungnya meskipun berhadapan dengan tekanan publik yang besar.
Biopolitik: Otoritarianisme adalah Model Default Kekuasaan
Somit dan Peterson menyatakan bahwa manusia, sebagai primata sosial, secara evolusioner telah dibekali dengan kecenderungan bawaan (innate predisposition) untuk menerima struktur sosial dan politik yang hirarkis, dominatif, dan otoriter . Mereka menegaskan bahwa:
“Biologically speaking, humans are social primates ... evolution has endowed the social primates with an innate predisposition ... for hierarchical social and political structures.”
Dalam konteks ini, kepemimpinan Trump yang menonjolkan kekuasaan, kekuatan, dan ketegasan bukanlah anomali, melainkan ekspresi dari model kepemimpinan default manusia. Trump tidak hanya memimpin, ia mendominasi. Ia menempatkan dirinya sebagai “alpha male” dalam hierarki politik, mengklaim otoritas mutlak atas kebijakan luar negeri, termasuk perang di Iran, dan menolak kompromi atau dialog yang dianggap melemahkan posisinya.
Somit dan Peterson juga menekankan bahwa kepatuhan adalah warisan evolusioner yang kuat dalam manusia. Kepatuhan tersebut bukan hanya karena takut, tetapi juga karena adanya manfaat adaptif . Kepatuhan terhadap otoritas membantu individu menghindari konflik fisik, menghemat energi, dan meningkatkan peluang reproduksi. Somit dan Peterson menyatakan:
“... among our species’ most powerful and persistent evolutionary legacies is a readiness to give ‘obedience to those in authority’ ... a readiness hardly conducive to either the emergence or the survival of democratic governance.”
Bagi pendukung Trump, kepatuhan ini bukanlah kelemahan. Kepatuhan atau obedience bagi mereka adalah bentuk keamanan. Dengan mempercayai Trump, mereka merasa aman, terlindungi, dan memiliki posisi dalam hierarki sosial.
Dominasi, Prediktabilitas, dan Stabilitas dalam Kebijakan Perang Trump
Salah satu alasan mengapa manusia menerima dominasi adalah karena dominasi menghasilkan prediktabilitas. Adanya prediktabilitas memungkinkan stabilitas yang diperlukan untuk kelangsungan hidup dan reproduksi suatu negara. Trump, dalam retorika dan kebijakannya, menciptakan narasi yang jelas bahwa “Amerika harus kuat, musuh harus takut, dan kelemahan adalah kekalahan.” Narasi ini memberi rasa aman dan kepastian kepada pendukungnya, terutama kelompok yang merasa terpinggirkan oleh perubahan sosial dan ekonomi.
Dalam konteks perang Iran, Trump tidak hanya bertindak sebagai komandan militer, tetapi sebagai simbol dominasi. Ia menggambarkan Iran sebagai ancaman eksistensial, dan perang sebagai bentuk “pemulihan kejayaan” Amerika. Ini adalah strategi yang sangat efektif dalam memobilisasi basis otoritarian, yaitu kelompok yang lebih menghargai kekuatan daripada dialog, dan stabilitas daripada kebebasan. Untuk itu, Somit dan Peterson menyatakan:
“Dominance relations yield predictability. Individuals soon learn where they stand with one another with respect to access to valued resources.”
Bagi pendukung Trump, perang bukanlah kegagalan melainkan suatu bentuk kontrol. Dengan mempertahankan perang, Trump menegaskan bahwa ia masih berkuasa, masih dominan, dan masih mampu mengatur akses terhadap “sumber daya” simbolik: Kehormatan nasional, keamanan, dan identitas.
Trump sebagai Manifestasi Otoritarianisme Evolusioner
Trump bukan hanya seorang politisi, tetapi ia pun merupakan manifestasi dari otoritarianisme evolusioner. Tindakan Trump tidak bertentangan dengan naluri atau insting manusia dan justru ia memanfaatkannya. Dalam konteks biopolitik, Trump adalah contoh nyata dari model kepemimpinan default manusia: Dominatif, hierarkis, dan otoriter.
Somit dan Peterson menyatakan bahwa demokrasi bukanlah sistem alami, melainkan konstruksi yang memerlukan kondisi khusus: Kondisi material, sosial, dan psikologis yang tidak selalu tersedia di semua masyarakat . Di Amerika Serikat, meskipun demokrasi telah berakar, ia tetap rentan terhadap tekanan otoritarian, terutama ketika masyarakat merasa tidak aman, tidak adil, atau tidak stabil.
Perang Iran, dalam konteks ini, bukan hanya konflik militer tetapi sekaligus merupakan adalah uji coba bagi demokrasi. Demonstrasi massal yang menuntut penghentian perang adalah upaya untuk mempertahankan “enabling conditions” demokrasi: Kebebasan berpendapat, keadilan, dan partisipasi politik. Namun, Trump sebagai representasi otoritarianisme akan menolak mengakui kekuatan ini. Ia memilih untuk mempertahankan dominasi, bukan dialog. Seperti dinyatakan Somit dan Peterson:
“Democracy demand such special enabling conditions is to be found not in our stars but in our genes.”
Artinya, ketika kondisi demokrasi tidak terpenuhi, yaitu ketika masyarakat merasa tidak aman, tidak adil, atau tidak stabil, maka kecenderungan alamiah manusia akan kembali ke otoritarianisme. Dan Trump, dengan retorika dan kebijakannya, memanfaatkan kecenderungan ini.
Kesimpulan
Perilaku politik Donald J. Trump dalam mempertahankan perang di Iran bukanlah kegagalan pribadi, melainkan ekspresi dari otoritarianisme sebagai warisan evolusioner manusia. Ia tidak hanya memimpin melainkan ia juga mendominasi. Ia tidak hanya memerintah melainkan ia juga dipatuhi. Dan ia tidak hanya menolak kompromi melainkan ia berupaya menciptakan prediktabilitas (kepastian, kementuan) yang dibutuhkan oleh basis pendukungnya.
Dalam kerangka teori biopolitik Somit-Peterson, Trump adalah contoh nyata dari model kepemimpinan default manusia: Dominatif, hierarkis, dan otoriter. Ia tidak bertentangan dengan naluri manusia, malah justru ia memanfaatkannya. Dan dalam konteks demokrasi yang rentan, ia menunjukkan bahwa otoritarianisme bukan ancaman dari luar, sebaliknya ia adalah potensi yang selalu ada di dalam diri kita.
Untuk mempertahankan demokrasi, kita tidak hanya perlu melawan Trump, tetapi kita perlu memahami mengapa ia bisa eksis. Karena, seperti kata Somit dan Peterson:
Untuk mempertahankan demokrasi, kita tidak hanya perlu melawan Trump, tetapi kita perlu memahami mengapa ia bisa eksis. Karena, seperti kata Somit dan Peterson:
“The primary reason for the prevalence of authoritarian governments, for the rarity of democracy, and for why democracy demand such special enabling conditions is to be found not in our stars but in our genes.”
Daftar Pustaka
The New York Times. “Millions March Across U.S. in ‘No Kings’ Protests Against Trump’s War in Iran.” 29 Maret 2026.
CNN. “Trump Vows to ‘Finish the Job’ in Iran, Defying Mass Protests.” 28 Maret 2026.
Somit, Albert, and Steven A. Peterson. The Failure of Democratic Nation Building: Ideology Meets Evolution. New York: Palgrave MacMillan, 2005.
ibid., hlm. 1.
ibid., hlm. 3.
ibid., hlm. 16.
ibid., hlm. 16.
ibid., hlm. 20.
ibid., hlm. 20.
ibid., hlm. 1.
ibid., hlm. 3.
ibid., hlm. 3.
CNN. “Trump Vows to ‘Finish the Job’ in Iran, Defying Mass Protests.” 28 Maret 2026.
Somit, Albert, and Steven A. Peterson. The Failure of Democratic Nation Building: Ideology Meets Evolution. New York: Palgrave MacMillan, 2005.
ibid., hlm. 1.
ibid., hlm. 3.
ibid., hlm. 16.
ibid., hlm. 16.
ibid., hlm. 20.
ibid., hlm. 20.
ibid., hlm. 1.
ibid., hlm. 3.
ibid., hlm. 3.
Disclaimer
Artikel ini tidak bermaksud membenarkan kebijakan Trump, melainkan memahaminya secara ilmiah, bukan hanya sebagai politik, tetapi sebagai ekspresi dari warisan biologis manusia. Dengan memahami ini, kita dapat membangun demokrasi yang lebih tangguh, bukan hanya melawan otoritarianisme, tetapi juga memahami akar biologisnya.

https://orcid.org/0000-0002-1420-4288
0 Komentar
Silakan tulis komentar Anda.