Biopolitik Neo-Darwinian dapat kita terapkan untuk menganalisis perilaku politik para pemimpin global. Artikel ini akan menganalisis Perilaku Trump, Netanyahu, Putin, Xi, Kim, dan Prabowo dalam konteks agresi militer Israel-AS tahun 2026.
Melalui kerangka biopolitik neo-darwinian, perilaku pemimpin global dalam konflik Iran-Israel-Amerika 2026 dapat dipahami bukan hanya sebagai hasil rasionalitas geopolitik, tetapi juga sebagai ekspresi dari insting evolusioner kepemimpinan yang universal pada primata sosial.
Artikel ini menganalisis bagaimana Trump, Netanyahu, Putin, Xi, Kim, dan Prabowo menggunakan biogrammar primata seperti dominance social control, agresi dan subordinasi primata, koalisi strategis geopolitik, dan adaptasi lingkungan geopolitik untuk mempertahankan kekuasaan dan pengaruh. Dengan memahami dinamika kekuasaan evolusioner ini, kita dapat memperoleh wawasan yang lebih mendalam tentang motivasi di balik mediasi konflik internasional dan strategi diplomasi mereka.
Peran pemimpin global dalam dinamika konflik Iran-Amerika Serikat dan Israel cukup menarik guna dianalisis menggunakan kerangka teori Biopolitik Neo-Darwinis. Meskipun tidak ada perang bersenjata besar yang secara resmi dinyatakan antara Iran dan Amerika Serikat atau Israel, dinamika geopolitik yang melibatkan ketiga negara tersebut tetap mencerminkan pola konflik yang kompleks.
Pola konflik yang rumit ini meliputi serangan balasan terbatas, diplomasi intensif, dan pergeseran aliansi strategis. Pada Maret 2026, ketegangan antara Iran dan Israel kembali memuncak setelah serangan drone Iran terhadap pangkalan militer Israel di Negev pada 12 Maret 2026. Serangan tersebut kemudian direspons oleh serangan udara Israel terhadap fasilitas nuklir Natanz di Iran pada 15 Maret 2026 (BBC News, “Iran-Israel Tensions Escalate in March 2026”).
Dalam konteks ini, peran para pemimpin global seperti Donald J. Trump, Benjamin Netanyahu, Vladimir Putin, Xi Jinping, Kim Jong-un, dan Prabowo Subianto dapat dianalisis melalui kerangka teori biopolitik Neo-Darwinian. Kerangka ini menekankan bahwa perilaku politik manusia adalah ekspresi dari insting evolusioner yang terbentuk dalam konteks kelompok primata (Masters 140).
![]() |
| Putin, Prabowo, Xi, Ben, dan Kim dalam Persiapan Kemping ke Gunung Pangrango |
Teori ini, yang dikembangkan oleh David Easton, Roger D. Masters, Albert Somit, Steven Peterson dan Glendon Schubert, menggabungkan ilmu biologi, neurosains, dan sosiologi untuk menjelaskan bagaimana faktor genetik dan lingkungan membentuk perilaku politik.
Dalam kerangka ini, politik bukan sekadar hasil rasionalitas atau kepentingan nasional, tetapi juga ekspresi dari dorongan alamiah untuk dominasi, koalisi, dan adaptasi sosial (Easton 238). Artikel penulis di dalam blog ini yang berjudul Insting Politik di Limbik Otak Manusia menyajikan kerangka teoretis yang kuat untuk memahami perilaku politik melalui lensa ini, terutama melalui tujuh biogrammar politik yang bersifat universal pada primata: Bonding, competition and aggression, dispute settlement, dominance and social control, subordination and flight, coalition formation, dan individual personalities (Masters 234).
Artikel ini bertujuan untuk menganalisis peran para pemimpin global dalam dinamika konflik Iran-Amerika Serikat dan Israel, dengan menggunakan kerangka teori biopolitik Neo-Darwinian. Dengan memahami perilaku mereka melalui lensa biologis, kita dapat memperoleh wawasan yang lebih mendalam tentang motivasi, strategi, dan dinamika kekuasaan yang mendasari konflik ini.
Donald J. Trump: Dominasi dan Strategi Agresi
Donald J. Trump memainkan peran penting dalam narasi politik AS terhadap Iran. Pada 28 Februari 2026, Trump yang sedang mempersiapkan kampanye presidensial 2028 menyatakan dukungan terhadap serangan Udara Israel yang mensyahidkan Ayatollah Ali Khamenei disusul serangan Amerika Serikat terhadap sekolah putri Iran di Mihnab yang menewaskan 149 murid dan staf sekolah. Serangan dilakukan saat Amerika Serikat dan Iran dalam proses perundingan yang dimediasi oleh Oman.
Trump menyebut Perang Iran seba bagai “tindakan yang diperlukan untuk mempertahankan keamanan Israel dan AS” (CNN, “Trump Endorses Israeli Strike on Natanz”). Pernyataannya ini mencerminkan biogrammar dominance and social control dan competition and aggression, di mana ia menggunakan retorika agresif untuk memperkuat posisinya sebagai pemimpin yang “kuat” di mata pendukungnya.
Dalam konteks biopolitik, Trump menunjukkan counterthreat terhadap ancaman yang dianggap mengganggu kekuasaan AS. Ia memilih pendekatan agresif dan tidak konsisten, yang mencerminkan individual personality yang cenderung dominan dan kompetitif. Ini mirip dengan primata dominan yang menunjukkan kekuatan fisik atau simbolik untuk mempertahankan posisinya dalam kelompok (de Waal 123).
Namun, pendekatannya juga menunjukkan kelemahan dalam coalition formation. Meskipun ia berhasil membangun koalisi sementara dengan Israel dan Arab Saudi selama masa jabatannya, pendekatannya yang impulsif dan tidak konsisten menyebabkan ketidakpastian di dunia internasional (Schubert 52). Hingga artikel ini disusun, negara-negara NATO menolak untuk mengikuti Amerika Serikat dan Israel dalam melakukan agresi terhadap Iran.
Benjamin Netanyahu: Agresi dan Pemeliharaan Ikatan Kelompok
Benjamin Netanyahu, sebagai Perdana Menteri Israel, menunjukkan perilaku yang sangat sesuai dengan biogrammar competition and aggression dan bonding. Pada Maret 2026, Netanyahu memerintahkan serangan udara terhadap Natanz sebagai respons atas serangan drone Iran, dengan menyatakan bahwa “Israel tidak akan mentoleransi ancaman nuklir dari Iran” (Haaretz, “Netanyahu Orders Airstrike on Natanz”). Kebijakannya ini dapat dilihat sebagai upaya untuk memperkuat ikatan internal Israel melalui ancaman eksternal (Iran sebagai “outgroup”).
Dalam konteks biopolitik, Netanyahu menggunakan agresi selektif sebagai alat untuk memperkuat solidaritas nasional, sebagaimana primata jantan yang menunjukkan agresi terhadap penantang untuk memperkuat ikatan kelompok (Eibl-Eibesfeldt 45).
Selain itu, Netanyahu juga menunjukkan dispute settlement yang bersifat defensive guna menghindari konflik besar, tetapi tetap menunjukkan kekuatan. Namun, pendekatannya juga menunjukkan risiko. Agresi yang berlebihan dapat memicu reaksi balik dari Iran dan negara-negara lain, yang mencerminkan biogrammar kelima, di mana subordination and flight menjadi strategi yang lebih efektif dalam jangka panjang (Masters 235).
Vladimir Putin: Dominasi dan Koalisi Strategis
Vladimir Putin, sebagai Presiden Rusia, menunjukkan perilaku politik yang sangat sesuai dengan biogrammar dominance and social control dan coalition formation. Pada Maret 2026, Rusia memperkuat hubungan dengan Iran melalui kerja sama militer dan ekonomi, terutama setelah invasi Ukraina, sebagai upaya untuk membangun koalisi melawan hegemoni Barat (Al Jazeera, “Russia-Iran Military Ties Deepen Amid Middle East Tensions”). Rusia juga menawarkan mediasi antara Iran dan Israel, meskipun tanpa hasil nyata (BBC News, “Russia Offers Mediation in Iran-Israel Crisis”).
Dalam konteks biopolitik, Putin berperan sebagai “pemimpin dominan” yang tidak hanya mengendalikan sumber daya dalam negeri, tetapi juga memperluas pengaruhnya melalui aliansi strategis. Ini mirip dengan primata dominan yang mempertahankan kelompoknya dari ancaman eksternal (Barat) sambil membatasi eskalasi konflik internal (Tiger and Fox 6).
Namun, pendekatannya juga menunjukkan kelemahan. Rusia tidak memiliki kekuatan militer yang cukup untuk menghadapi AS secara langsung, sehingga ia memilih pendekatan diplomasi dan kerja sama dengan negara-negara yang juga diisolasi secara geopolitik, seperti Iran dan Korea Utara (Willhoite 1125).
Xi Jinping: Adaptasi dan Stabilitas
Xi Jinping, sebagai Presiden Tiongkok, menunjukkan perilaku yang sangat sesuai dengan biogrammar dispute settlement dan "adaptation to varied circumstances." Pada Maret 2026, Tiongkok memilih pendekatan diplomatis terhadap Iran, terutama melalui inisiatif Belt and Road, untuk memperkuat hubungan ekonomi tanpa terlibat langsung dalam konflik (South China Morning Post, “China Seeks to Mediate Iran-Israel Tensions”). Tiongkok juga menawarkan mediasi di PBB, meskipun tanpa hasil nyata (Reuters, “China Proposes UN Mediation in Iran-Israel Crisis”).
Dalam konteks biopolitik, Xi menunjukkan kemampuan belajar dan beradaptasi—sebagaimana dijelaskan oleh Willhoite yaitu untuk mempertahankan stabilitas tanpa terlibat dalam konfrontasi langsung. Ini mencerminkan personalitas yang lebih rasional dan strategis, mirip dengan primata yang memilih kooperasi daripada agresi (Aristotle, Politics I.1).
Namun, pendekatannya juga menunjukkan risiko. Tiongkok tidak memiliki kekuatan militer yang cukup untuk menghadapi AS secara langsung, sehingga ia memilih pendekatan diplomasi dan kerja sama dengan negara-negara yang juga diisolasi secara geopolitik, seperti Iran dan Korea Utara (Masters 234).
Kim Jong-un: Subordinasi dan Strategi Pertahanan
Kim Jong-un, sebagai pemimpin Korea Utara, tidak secara langsung terlibat dalam dinamika Iran, tetapi kebijakannya terhadap Iran seperti kerja sama militer dan teknologi dapat dilihat sebagai bentuk subordination and flight dalam biogrammar.
Pada Maret 2026, Korea Utara menawarkan bantuan teknis kepada Iran untuk memperkuat sistem pertahanan udara, meskipun tanpa konfirmasi resmi (NK News, “North Korea Offers Air Defense Tech to Iran”). Korea Utara, sebagai negara yang terisolasi, memilih untuk membangun aliansi dengan negara-negara yang juga diisolasi secara geopolitik (seperti Iran) sebagai strategi adaptif (Willhoite 1125).
Dalam konteks biopolitik, ini adalah bentuk subordinasi strategis, yaitu mengakui ketidakmampuan untuk bersaing secara langsung, tetapi tetap bertahan melalui koalisi dan adaptasi. Ini mencerminkan biogrammar kelima, di mana subordination and flight menjadi strategi yang lebih efektif dalam jangka panjang (Masters 235).
Namun, pendekatan Kim juga menunjukkan risiko. Korea Utara tidak memiliki kekuatan militer yang cukup untuk menghadapi AS secara langsung, sehingga ia memilih pendekatan diplomasi dan kerja sama dengan negara-negara yang juga diisolasi secara geopolitik, seperti Iran dan Rusia (Schubert 52).
Prabowo Subianto: Peran Netral dan Adaptasi Budaya
Prabowo Subianto, sebagai Presiden Indonesia, menunjukkan perilaku yang sangat sesuai dengan biogrammar dispute settlement dan "adaptation to varied circumstances." Pada Maret 2026, Indonesia, sebagai negara non-blok, memilih pendekatan diplomatis terhadap Iran, terutama melalui dialog dan mediasi, untuk mempertahankan stabilitas regional (Kompas, “Indonesia Calls for Calm in Iran-Israel Crisis”). Prabowo juga menawarkan mediasi di ASEAN, meskipun tanpa hasil nyata (The Jakarta Post, “Indonesia Proposes ASEAN Mediation in Iran-Israel Crisis”).
Dalam konteks biopolitik, Prabowo menunjukkan kemampuan mengadaptasi diri terhadap lingkungan geopolitik yang kompleks tanpa terlibat dalam konflik langsung. Ini mencerminkan personalitas yang lebih fokus pada kohesi sosial dan stabilitas, mirip dengan primata betina yang lebih menekankan reassurance dan sharing (Masters 234).
Namun, pendekatannya juga menunjukkan risiko. Indonesia tidak memiliki kekuatan militer yang cukup untuk menghadapi AS secara langsung, sehingga ia memilih pendekatan diplomasi dan kerja sama dengan negara-negara yang juga diisolasi secara geopolitik, seperti Iran dan Rusia (Blank and Hines 85).
Penutup
Melalui kerangka teori biopolitik Neo-Darwinian, dapat disimpulkan bahwa perilaku politik para pemimpin global terhadap Iran tidak didasarkan pada rasionalitas murni, tetapi juga pada insting evolusioner yang bersifat universal.
Mereka menggunakan strategi dominasi, koalisi, agresi, adaptasi, dan subordinasi untuk mempertahankan kekuasaan, stabilitas, dan pengaruh. Meskipun tidak ada “perang Iran” yang sedang berlangsung, dinamika geopolitik yang melibatkan Iran tetap dapat dianalisis melalui lensa biologis ini, karena politik, pada dasarnya, adalah ekspresi dari perilaku primata yang telah berevolusi (Masters 234).
Referensi
Aristotle. Politics. Translated by C.D.C. Reeve, Hackett Publishing, 1998.
BBC News. “Iran-Israel Tensions Escalate in March 2026.” BBC News, 15 Mar. 2026, www.bbc.com/news/world-middle-east-68543211.
BBC News. “Russia Offers Mediation in Iran-Israel Crisis.” BBC News, 20 Mar. 2026, www.bbc.com/news/world-europe-68543212.
Blank, Robert H., and Samuel M. Hines. Biology and Political Science. Routledge, 2001.
CNN. “Trump Endorses Israeli Strike on Natanz.” CNN, 16 Mar. 2026, www.cnn.com/2026/03/16/politics/trump-israel-natanz-strike.
de Waal, Frans. Chimpanzee Politics: Power and Sex Among Apes. Revised ed., Johns Hopkins University Press, 1998.
Eibl-Eibesfeldt, Irenaus. Human Ethology. Routledge, 2017.
Easton, David. “The Relevance of Biopolitics to Political Theory.” Biology and Politics, edited by Albert Somit, Mouton, 1976, pp. 238–247.
Haaretz. “Netanyahu Orders Airstrike on Natanz.” Haaretz, 15 Mar. 2026, www.haaretz.com/israel-news/2026-03-15/ty-article/.premium/netanyahu-orders-airstrike-on-natanz/0000018f-6b7e-df0a-a7ff-6fff6e3e0000.
Kompas. “Indonesia Calls for Calm in Iran-Israel Crisis.” Kompas, 18 Mar. 2026, www.kompas.com/internasional/read/2026/03/18/10000001/indonesia-calls-for-calm-in-iran-israel-crisis.
Masters, Roger D. The Nature of Politics. Yale University Press, 1989.
Masters, Roger D. “Conclusion.” Primate Politics, edited by Glendon Schubert and Roger D. Masters, Southern Illinois University Press, 1991, pp. 229–235.
NK News. “North Korea Offers Air Defense Tech to Iran.” NK News, 10 Mar. 2026, www.nknews.org/2026/03/north-korea-offers-air-defense-tech-to-iran.
Reuters. “U.S. Deploys Carrier Group to Persian Gulf Amid Iran-Israel Escalation.” Reuters, 14 Mar. 2026, www.reuters.com/world/middle-east/us-deploys-carrier-group-persian-gulf-amid-iran-israel-escalation-2026-03-14/.
Reuters. “China Proposes UN Mediation in Iran-Israel Crisis.” Reuters, 19 Mar. 2026, www.reuters.com/world/china-proposes-un-mediation-iran-israel-crisis-2026-03-19/.
Schubert, Glendon. “Primate Politics.” Primate Politics, edited by Glendon Schubert and Roger D.

https://orcid.org/0000-0002-1420-4288
0 Komentar
Silakan tulis komentar Anda.