Ad Code

Peshmerga dan Azeri, Calon Pitt-Bull Netty-Trumpstein?

Serangan udara Trumpie atas Iran boros sekali. Bayangkan 31 Juta Dollar cuma mampu membunuh sejumlah pemimpin Iran. Sementara kepemimpinan Iran mudah sekali melakukan reproduksi personil karena kuatnya faktor ideologi di sana. Dan, tentu saja seperti di agresi-agresi AS pra Trumpie, mereka cuma bisa melakukan "genosida" atas penduduk sipil.
Penulis menyatakan simpati yang sedalam-dalamnya kepada rakyat Amerika Serikat, dengan mana 31 juta Dollar sesungguhnya bisa digunakan untuk memberikan perumahan bagi para gelandangan aneka ras manusia yang hidup di AS. Tuna wisma Amerika Serikat semakin merebak bak jamur di musim hujan. Di sisi lain, sejak Perang Irak duet penulis Albert Somit dan Steven Peterson melansir bahwa fasilitas Pendidikan di Amerika Serikat terus mengalami deklanasi sejak tahun 2003. Itu terus berlangsung hingga kini dan bahkan semakin parah.


 


Sergey Poletaev, seorang editor di Proyek Vatfor menambahkan analisis yang akan semakin membuat rakyat Amerika Serikat terpuruk akibat perang "slebor" Trumpie. Latihan Trumpie di Venezuela, yang dengan mudahnya melakukan regime change sama sekali tidak terjadi di Iran kendati pun selama satu minggu penuh Trumpie-Netty memerintahkan para tentaranya "yang tak berdosa" memborbardir Iran. Poletaev menyatakan bahwa serangan udara saja tidak akan bisa menundukkan Iran. Untuk menang perang, Trumpie-Netty harus berhadap face-to-face dengan rakyat Iran. Inilah "neraka" yang sesungguhnya bagi tentara orang yang sebenarnya "sudah mulai ogah" menuruti kedua "tiran" negara demokrasi prosedural tersebut.

Sudah cukup jelas, tentara organik "boneka Trumpie" sudah mulai berpikir-ulang dalam mendukung kampanye Israel First ini. Keluarga mereka masih ingat pengalaman buruk Perang Irak, dengan mana putra-putri mereka gugur bukan sebagai pahlawan, tetapi akibat membela musuh kemanusiaan Bush (semak) Junior. Lalu, bagaimana IDF yang komposisi awalnya terdiri atas para pelaku terror Askhenazi asal Rusia? Rata-rata mereka adalah generasi milenial dan Gen-Z yang cenderung ingin menikmati hidup. Jika generasi orang tua mereka mungkin masih militant dalam berperang. Namun, generasi milenial dan Gen Z IDF berbeda. Mereka sedikit "melankolis" karena kini mereka berada di masa muda, masa yang paling menggairahkan dalam menikmati hidup. Ingat, rata-rata mereka adalah sekularis, arelijius, dan cenderung carpe diem. Jadi, siapa yang mau perang darat dengan Iran?

Sama seperti di Irak, strategi Trumpie-Netty sudah terbaca. Mereka akan menggunakan "legiun asing." Pertama, adalah etnis Kurdi. Etnis ini tidak punya negara dan dulu sejak tahun 2003 mereka dijanjikan untuk punya negara dan merdeka oleh Bush (semak) Junior. Dan hingga kini janji kemerdekaan tersebut sekadar pepesan kosong. Mereka justru dirugikan karena Pangkalan Militer AS di Erbil sajalah yang didirikan. Dan ini tentu saja menjadi incaran rudal-rudal dan drone-drone Iran. Kehidupan ekonomi Kurdi bakal mulai lagi dari titik nol.

Secara geografis, pasca runtuhnya Kesultanan Usmaniyah, etnis Kurdi tersebar di Turki, Suriah, Iran, dan Irak. Di negara-negara tersebut mereka adalah kalangan minoritas. Namun, agama mereka adalah Islam dan seringkali ikatan agama mampu melampaui perbedaan etnis. Penulis tidak tahu bagaimana perasaan para pimpinan etnis Kurdi ketika duet Trumpie-Netty membujuk mereka untuk ikut menyerang Iran. Pelajaran pahit pernah mereka dapat pasca penjajahan AS atas Irak: Mereka ditinggalkan begitu saja dan harus mempertahankan diri sendiri dari sikap sinis orang-orang Arab karena mereka begitu militan dalam membantu Bush (semak) Junior mengejar Saddam Hussein yang notabene beretnis Arab.

Memang, pasca perang Irak, etnis Kurdi Irak hampir berhasil meraih kemerdekaan. Mereka bahkan mampu menguasai Irak bagian utara. Kegiatan ekonomi mereka mampu berjalan (walau hanya sejenak dalam kurun sejarah) yang ditunjang oleh pengamanan oleh milisi Kurdi mereka: Peshmerga. Komunitas Kurdi juga terdapat di sepanjang perbatasan Iran dengan Irak. Peshmerga inilah yang kini tengah dilirik oleh Trumpie-Netty. Kembali, Trumpie tidak memberikan uang untuk rakyat Amerika. Uang kini akan mengalir deras ke Peshmerga.

Pada lain pihak, skenario jumud Trumpie yang a la Bush (semak) Junior mudah sekali dibaca Iran. Anda masih ingat Perang Iran-Irak tahun 1980an? Dalam perang tersebut, pasukan Irak di bawah Saddam Hussein tidak ada yang mau masuk ke teritori Iran karena itu sama saja dengan bunuh diri. Hal yang sama pun akan terjadi dengan Peshmerga: Kini mereka tentu telah menyadari bahwa pengakuan kemerdekaan tidak akan datang dan abadi dari dua negara aggressor yaitu Israel dan AS. Peshmerga tentu berpikir secara global, bahwa jika pun mereka meraih kemerdekaan dan hanya diakui AS dan Israel, maka kehidupan ekonomi mereka tidak akan tenang. Mereka akan lebih banyak bergantung pada negara-negara seperti Iran, Turki, Rusia, dan Cina. Mereka juga tahu bahwa AS kini tengah mengalami krisis ekonomi internal sementara Israel sedang dikejar-kejar warganegaranya sendiri yang menuntut ganti rugi atas kerusakan rumah-rumah mereka. Mereka menuntut Netty, bukan Pemerintah Iran.

Kembali, Peshmerga adalah kandidat Utama duet "slebor" Trumpie-Netty dalam menyerang Iran dari darat. Pasukan organik AS tidak akan kuat dengan iklim Iran yang begitu keras, sementara IDF sebagian besar terdiri atas kaum muda yang "melo." Mereka akan lebih sibuk mengurus kerusakan kulit dan kecantikan/ketampanan mereka ketimbang menembaki tentara Iran.

Iran pun sudah memulai antisipasi serangan darat Trumpie-Netty. Iran telah meluncurkan serangan pre-emptive terhadap pemukiman Kurdi di Erbil. Namun, bodohnya, Netty justru melakukan serangan udara atas Bukan, sebuah kota Kurdi di dalam perbatasan Iran. Tentu saja, orang Kurdi menyangka serangan atas Bukan itu dilakukan oleh Iran, tetapi mereka akan cepat sadar siapa otak di balik serangan atas Bukan.

Terdapat rumor bahwa Peshmerga (milisi Kurdi) telah melakukan serangan dari arah Kurdistan Irak menuju Iran. Namun, seperti telah dijelaskan tadi, itu bukanlah serangan Peshmerga melainkan serangan udara Netty atas Bukan. Penulis belum memperoleh info bagaimana marahnya Peshmerga atas Netty, calon sekutu "rabies" mereka.

Bagaimana kondisi Pesgmerga yang sesungguhnya? Peshmerga memiliki kekuatan sekitar 12 batalyon yang masing-masing terdiri atas 3000 s.d. 5000 pasukan, dan ini belum termasuk personil potensial yang akan menambah kekuatan mereka. Namun, Peshmerga itu milisi yang sangat heterogen dalam hal asal-usul, agama, dan motivasi. Ini jauh berbeda dengan tentara dan rakyat Iran yang homogen dalam ketiga unsur primordial tersebut. Di samping itu, secara aktual (tanpa bantuan Trumpie-Netty) hanya punya satu tank bekas Uni Sovyet sebagai unit tempur darat. Taruhlah, orang-orang Kurdi di Iran mempersilakan Peshmerga masuk Iran, maka paling maksimal mereka hanya akan berkutat di region Kurdi Iran. Mereka akan terlokalisir di sana dan tentu saja, rudal-rudal "murah" tapi banyak dari Iran akan menjadi hujan sehari-hari. Terlebih jika Pangkalan AS Erbil benar-benar sudah disfungsi, Peshmerga akan terjepit antara hidup-mati.

Hal lainnya adalah, jikapun orang-orang Kurdi Irak melibatkan diri dalam pertempuran darat di dalam wilayah Iran, mereka harus siap menerima risiko serangan dari Angkatan bersenjata Irak. Ini akibat Angkatan Bersenjata Irak menganggap bahwa Peshmerga adalah Gerakan Separatis, sama seperti Tamil Eelam di Srilanka, Pattani di Thailand, Moro di Filipina, dan OPM/KKB di Indonesia. Justru dengan masuk ke Iran, posisi Peshmerga di Irak melemah dan menjadi sasaran empuk tentara Irak.

Taktik "fitnah" Netty pun terjadi di Azerbaijan. Fitnah ini pernah terjadi sebelumnya, saat agen Mossad meledakkan kilang Saudi dan drone menyerang pangkalan Inggris di Akrotiri Siprus. Siprus utara adalah wilayah yang mayoritas berwarga Turki, sementara Siprus selatan adalah wilayah yang mayoritas berwarga Yunani. Kembali ke masalah Azerbaijan.

Hari Selasa kemarin, sebuah drone "Iran" menyerang bandara Nakhchivan, Azerbaijan. Mayoritas penduduk Azerbaijan punya permusuhan masa lampau baik dengan Turki maupun Iran. Namun, pihak Azerbaijan cerdas, sama seperti Saudi, muslihat Netty yang terkenal sebagai "juru dusta level dunia" gagal. Mengapa Netty menyerang Nakhchivan? Sama alasannya dengan serangan Netty atas kaum Kurdi Iran. Wilayah utara Iran itu banyak dihuni oleh orang-orang Azerbaijan. Secara primordial, wilayah utara Iran itu rentan, sehingga Netty yang sudah "ngebet" mau perang darat dengan Iran secara pengecut "menyuruh" orang-orang Azerbaijan. Modalitas "fitnah" mereka cukup kuat karena cenderung terdapat motivasi dari Presiden Azerbaijan Ilham Aliyev untuk menguasai bagian dara utara Iran dan bagian Laut Kaspia milik Iran.

Namun, syahwat Aliyev bukan tanpa hambatan. Ia harus puasa dahulu karena minyak, sebagai komoditas alam Azerbaijan menempati posisi puncak. Produksi minyak Azerbaijan Sebagian besar bertumpu di Laut Kaspia. Jika Aliyev "nekad" ikuti rencana si "slebor" Netty, drone-drone Iran dengan mudah menjangkau rig-rig minyak Azerbaijan di Kaspia. Mudah-mudahan Aliyev belum "digigit" Netty.

Sekutu potensial Netty-Trumpstein adalah Pakistan. Pakistan adalah negara mayoritas Sunni, yang punya hubungan kurang baik dengan India Hindu. Namun, Pakistan tentu berhitung, India tergabung di dalam BRICS+ bersama Rusia, Cina, Iran, Indonesia, UEA, Afrika Selatan, Brazil, dan Mesir. Presiden Mesir dan Pakistan sama-sama dari "junta" militer. Kalau mau serang Iran, tentu ia harus konsultasi dulu dengan Mesir. Mesir sendiri punya "dendam" dengan Iran setelah Perang 6 hari tahun 1967.

Terlepas dari itu semua, seluruh negara-negara Arab Sunni punya potensi untuk "membebek" pada kegilaan Netty-Trumpstein. Namun, potensi itu semakin lama semakin berkurang mengingat kekuatan udara sebagai pelindung kekuatan darat Iran tenyata sangat mematikan. Mereka harus berpikir ulang jika ikut campur, langsung maupun tak langsung. Semua negara Arab ada dalam jangkauan Rudal al-Jahannam milik Iran. Terlebih, mereka juga tahu bahwa Rusia, Cina, dan Korea Utara ada di belakang Iran.

Harapan satu-satunya bagi Netty-Trumpstein adalah "rabies otak" yang mereka derita segera sampai pada stadium maksimum sehingga Perang Darat dengan Iran segera diputuskan tanpa pandang bulu. Hanya itulah cara mengakhiri perang yang digagas Netty-Trumpstein.

Sampai jumpa di tulisan kami selanjutnya.

Posting Komentar

0 Komentar