![]() |
| Karl Marx, "Accumulate, accumulate! That is Moses and the prophets!" Foto dari: https://kwize.com/quote/5290: |
Kembali ke pikiran Marx, bahwa akibat perbedaan penikmatan keuntungan hasil produksi dan waktu luang yang dimiliki, satu kelas selalu lebih beruntung ketimbang kelas lain. Hal ini membuat struktur sosial senantiasa timpang. Ketimpangan sosial ini bersifat permanen di setiap masyarakat sekaligus merupakan inti pendekatan konflik yang digagas oleh Marx. Ketimpangan sosial senantiasa membuat hubungan antar kelas ekonomi berada dalam ketegangan. Dua kelas selalu berhadapan secara diametral.
Bagi Marx, bukan gagasan yang menciptakan masyarakat melainkan cara-cara produksi material-lah yang menciptakan gagasan. Justru cara-cara produksi-lah yang menciptakan aneka gagasan manusia seputar masyarakat. Inilah penjelasan singkat mengenai Materialisme Historis. Karena Marx menggunakan cara produksi ekonomi sebagai monofaktor kekuatan penggerak perubahan masyarakat maka ia dikenal menganut determinisme ekonomi. Padahal kenyataannya tidaklah demikian dikarenakan banyak teknologi, yaitu alat produksi, justru tercipta karena adanya gagasan, khususnya gagasan untuk mempermudah pekerjaan.
Marx lalu membelah struktur masyarakat menjadi dua: Infrastruktur dan suprastruktur. Infrastruktur merupakan basis (dasar) suatu masyarakat yaitu cara produksi di bidang ekonomi. Suprastruktur terdiri atas : (1) Lembaga sosial dan (2) Gagasan dan nilai. Infrastruktur adalah fundamen yang membentuk suprastruktur.

Cara produksi ekonomi memunculkan aneka institusi sosial seperti politik, agama, pendidikan, atau keluarga. Institusi-institusi tersebut lalu mengembangkan gagasan dan nilai-nilai aktual yang berlaku di tengah masyarakat. Menurut Marx, gagasan dan nilai-nilai dalam suatu masyarakat hanya dibuat oleh kelas dominan dalam cara produksi, yaitu mereka yang menguasai atau memiliki alat-alat produksi.
Telah dipaparkan bahwa suprastruktur yang terdiri atas intitusi sosial, gagasan, serta nilai hanya beroperasi (atau tercipta) guna mendukung cara produksi ekonomi yang ada. Dengan demikian, suprastruktur tidak lain merupakan cerminan dari infrastruktur.
Marx hidup di dalam masyarakat industrial yang tengah berkembang. Dalam masyarakat ini, menurut Marx, terdapat dua kelas utama yaitu kelas yang berkuasa (kapitalis, pemilik alat produksi) dan kelas yang teropresi (proletar, tidak punya alat produksi, pekerja/buruh). Kelas terakhir sekadar menjual tenaga kepada kelas pertama. Marx mempersamakan hubungan kapitalis-protelar era industrial serupa dengan tuan-budak di zaman kuno ataupun tuan tanah feodal-penggarap di era agraris. Kapitalis memperlakukan proletar tidak lebih sebagai alat produksi. Hubungan konfliktual antara kapitalis-proletar bersumber pada penguasaan alokasi kekuasaan dan kesejahteraan hanya di satu kelas. Hubungan yang mungkin hanyalah satu kelas mempertahankan, kelas lain berupaya merebutnya.
Situasi konfliktual ditandai pula peran uang yang telah muncul sebelumnya. Secara pesimis, Marx melihat uang sebagai tanda keterasingan manusia dari lingkungannya. Saat uang belum ditemukan, kepemilikan ditandai benda-benda riil misalnya ternak, gandum, gerobak, yang menunjukkan hubungan langsung manusia dengan alam. Saat uang ditemukan, ternak dikonversi menjadi uang, gandum dikonversi menjadi uang, dan gerobak dikonversi menjadi uang. Manusia tidak lagi berhubungan dengan benda-benda riil (alamiah) melainkan lewat simbol-nya: Uang. Manusia dijauhkan dan menjadi terasing dari alam.
1. Alienasi dari tindakan bekerja.
2. Alienasi dari hasil pekerjaan.
3. Alienasi dari pekerja lain.
4. Alienasi dari potensi kemanusiaan.
Kini ada baiknya kita simak sejumlah konsep dari Karl Marx, terutama di mana yang dikategorikan oleh Ali Syari’ati sebagai Marx Matang atau Marx Ilmiah. Konsep-konsep tersebut mungkin saja masih ada relevansinya dengan era kiwari atau malah sebaliknya, sudah usang dan tinggal tulisan hitam di atas putih dalam buku-buku teori yang emoh mengobservasi realitas.
Alienation (Alienasi atau Keterasingan)
Seperti telah dijelaskan di bagian atas, Alienasi atau Keterasingan merujuk pada suatu proses, dengan mana satu individu didominasi oleh produk yang mereka ciptakan sendiri. Kata kunci dalam proses ini adalah dominasi. Orang atau masyarakat yang terasing atau teralienasi adalah masyarakat di mana hasil ciptaan mereka (melalui kerja) tampak aneh atau asing bagi mereka sehingga alih-alih mengendalikan ciptaannya, mereka membiarkan mereka, yaitu komoditas hasil ciptaan mereka, justru mendominasi kedirian mereka.
Pekerja pabrik mobil Audi, hanya melongo bahwa mobil yang ia buat tidak mungkin mereka miliki dengan gaji yang bahkan tidak cukup untuk membayar pajak tahunannya. Pekerja pabrik permen lama kelamaan akan merasa muak sebab hanya memproduksi permen dan permen dan ... permen.
Gagasan Alienasi atau Keteraingan ini dikembangkan oleh Marx melalui sejumlah hasil karya Ludwig Feuerbach.
Class (Kelas)
Kelas, dalam pemahaman Marx mengacu pada determinisme ekonomi. Selalu ada dua kelas yang berposisi diametral: Pemilik Alat Produksi dan Pekerja. Hal ini perlu saya tekankan karena sejumlah teoretisi seperti Vilfredo Pareto dan Gaetano Mosca juga menggunakan istilah kelas yang luas, tidak melulu determinisme ekonomi, kendati kekayaan tetap merupakan suatu formula politik (Mosca) dan modal untuk memaksakan sirkulasi elit (Pareto).
Pada lain pihak, kaum Marxis menggunakan istilah Kelas guna menunjukkan hubungan yang dimiliki seseorang dengan alat-alat produksi. Analisis kelas kemudian melibatkan studi peristiwa politik dalam kaitannya dengan aktor yang menempati posisi berbeda dalam kaitannya dengan kepemilikan modal.
Materialisme Dialektis
Materialisme Dialektis adalah dasar filosofis teori Marxis. Terdapat kontroversi mengenai apakah materialisme dialektis diciptakan oleh Engels atau Lenin ketimbang Karl Marx. Meskipun kemudian disajikan dengan sangat skematis oleh Engels maupun Lenin, Materialisme Dialektis adalah konsep yang mendasari analisis Marx tentang masyarakat, sejarah, dan dunia itu sendiri.
Dialektika dapat diartikan sebagai fluiditas “segala gerakan dan perubahannya.” Dialektika adalah konsep yang menempatkan perubahan merupakan keniscayaan di dalam berbagai hal. Pandangan dialektis seputar kapitalisme sendiri menunjukkan fakta bahwa kapitalisme tumbuh dari sistem sebelumnya dan harus berubah dengan sendirinya. Perubahan ini dipandang sebagai' abadi', dengan kata lain sesuatu yang harus selalu terjadi. Marx mengambil konsep Dialektika dari G.W.F. Hegel, filsuf Jerman, yang menekankan pada sesuatu yang immaterial yaitu Ide Mutlak. Teori Hegel melihat perubahan dialektis sebagai perkembangan pikiran, dan dapat dikatakan bahwa teori ini tanpa disadari melanggar dialektika sejauh didasarkan pada cita-cita yang terbentang, dan idealisme ini mendalilkan awal dan akhir.
Pada lain pihak, Materialisme adalah teori yang mendalilkan bahwa dunia material ada secara independen. Ia berada di luar kesadaran (di luar gagasan atau ide manusia). Ini adalah teori yang menyatakan bahwa pengetahuan atas gagasan yang valid adalah gagasan yang mencerminkan realitas independen secara akurat-serta teori keberadaan atau ontologi. Dalam arti, ia harus bicara mengenai “hal-hal yang nyata terjadi” bukan “hal-hal yang ada dalam imaji otak manusia.” Otak adalah “materi yang berpikir” sehingga ide-ide yang paling fantastis pun dihasilkan oleh orang-orang yang berpikir di dunia nyata. Bahkan ide-ide prasangka buruk seperti rasisme, misalnya, muncul sebagai refleksi dari realitas material, meskipun refleksi ini dangkal dan sepihak.
Awal Dialektika
Awalnya, Dialektika diasumsikan sebagai metode penalaran, terkait dengan logika formal. Pendekatan Dialektis melibatkan mengajukan pertanyaan seperti dalam dialog Plato untuk mengungkap kontradiksi dalam posisi lawan. Ini akan memberikan efek atas jawaban yang diberikan atas sebuah pernyataan menjadi koheren dan dapat dipertahankan.
Marx mengklaim telah membalikkan metode dialektis Hegel, sehingga menciptakan apa yang kemudian disebut Materialisme Dialektis. Jika Hegel menggagas “Ide-lah yang mengubah kenyataan” (gagasan Hegel ini kemudian dipakai oleh Max Weber, sosiolog Jerman lainnya) maka Karl Marx menyatakan “Kenyataannya yang mengubah ide.”
Marx tidak melihat dialektika sebagai sesuatu yang sifatnya selalu antagonistik (jika yang dimaksud dengan ini adalah oposisi yang keras) meskipun proses dialektis dalam masyarakat yang terbagi kelas tidak akan selalu lepas dri konflik kekerasan. Pendapatnya adalah bahwa komunisme bukanlah akhir dari sejarah, tetapi masyarakat itu sendiri terbentuk secara Dialektis yang didasarkan atas ketegangan antara kekuatan dan hubungan produksi, antara pemilik alat produksi dan para pekerja, yaitu manusia yang menjalankannya.
Materialisme Sejarah
Konsep ini mengacu pada teori masyarakat Marxis. Ini adalah argumen mengenai apakah materialisme sejarah adalah teori yang hanya berlaku untuk kapitalisme, atau dapat digunakan untuk menafsirkan sejarah secara keseluruhan. Teori tersebut berpendapat bahwa kehidupan sosial didasarkan pada produksi material. Orang harus menghasilkan barang dan jasa untuk bertahan hidup, dan perbedaan penting harus ada antara kekuatan dan hubungan produksi. Kekuatan produksi mengacu pada teknologi dan sains yang terlibat dalam proses produksi seperti penggunaan mesin dan komputer di tempat kerja kontemporer.
Hubungan produksi mengacu pada pertanyaan seputar kepemilikan dan kontrol dalam proses produksi, sehingga Marx percaya bahwa di bawah kapitalisme, misalnya, ada konflik yang berkembang antara kekuatan produksi yang dilakukan oleh para pekerja dan kepemilikannya alat-alat produksi tersebut oleh individu-individu tertentu.
Teori tersebut menegaskan bahwa dalam semua masyarakat terdapat ketegangan antara kekuatan dan hubungan produksi. Wujud paling tegas terdapat dalam masyarakat yang terbagi ke dalam sekurangnya dua kelas. Ketegangan ini, pada titik tertentu, mencapai proporsi yang antagonistik, karena kelompok-kelompok tertentu memiliki kepentingan untuk melanggengkan serangkaian hubungan produktif. Antagonisme antara kekuatan dan hubungan produksi, bagi Marx, adalah alasan mengapa revolusi tidak dapat dihindari, meskipun harus dikatakan bahwa di semua masyarakat ada ketegangan antara keduanya akan ada.
Inilah sebabnya mengapa Marx percaya bahwa masyarakat komunis bukanlah akhir dari sejarah (walaupun banyak sarjana menafsirkannya teorinya dengan cara ini), tetapi tahap baru di mana umat manusia dapat secara sadar mengendalikan perkembangannya.
[01] Kelas produsen dan konsumen adalah inisiatif penulis. Analisis Marx hanya sampai masyarakat industrial.
[02] John J. Macionis, Sociology, 14th Edition (Boston: Pearson, 2011) p. 87-8.


https://orcid.org/0000-0002-1420-4288
2 Komentar
Bacaan yang menarik, dapat saya pahami dan izin saya jadikan referensi bahan ajar untuk anak didik saya terkait materi **revolusi industri. Terimakasih.
BalasHapusTerima kasih atas apresiasinya. Semoga bermanfaat.
HapusSilakan tulis komentar Anda.