Juga, mengapa pemerintahan sedikit disebut Aristokrasi? Aristokrasi adalah pemerintahan yang dilakukan kalangan bangsawan, yang tentu punya uang, tetapi tetap berusaha mencapai kebaikan bersama. Manakala kekuasaan yang sedikit dan berdasarkan kekayaan ini tidak melampaui kepentingan dirinya, dan justru kekuasaan dimanfaatkan untuk sekadar memelihara kekayaan bahkan menambahnya, maka jatuhlah ia menjadi Oligarki.
Kembali ke masalah Oligarki. Aristoteles menyatakan Oligarki akan berlawanan dengan kaum miskin yang jumlahnya banyak. Demokrasi akan berantagonisme dengan kaum kaya, yang jumlahnya sedikit tetapi sangat berpengaruh.
Aristoteles juga menulis bahwa keenam jenis kekuasaannya, terdapat perbedaan kekuasaan politik. Sebagian memiliki banyak kekuasaan, pihak lainnya kekurangan. Misalnya, dalam Oligarki, standarisasinya dalah distribusi kekayaan.
Dalam Demokrasi, lanjut Aristoteles, yang didistribusikan adalah kewarganegaraan, bukan kekayaan. Kekuasaan, sebab itu, didistribusikan antara penduduk laki-laki dewasa, dan tidak melulu yang berpredikat warganegara. Namun, penduduk yang berstatus kewarganegaraan akan menerima lebih, ketimbang yang tidak berstatus.
Thomas Aquinas juga sekurangnya bicara tentang Oligarki ini. Dalam merekomendasikan kepemimpinan kerajaannya dalam Summa Theologiae ia menyebut kerajaan yang baik itu sebaiknya diembeli oleh elemen Demokrasi dan Oligarki. Pemahaman Demokrasi dan Oligarki Aquinas ini dipinjam dari Aristoteles. Mengapa bisa demikian?
Masalah Oligarki ini terus mencuat hingga era saat ini. Muncul idom-idiom seperti partai politik dikuasai Oligarki, pemerintah disetir kelompok Oligarki, Oligarki politik kembali terjadi, dan sebagainya. Ini mendorong seorang penulis politik Jeffrey Winters menulis buku bertajuk Oligarki. Tujuannya mendefinisikan Oligarki secara definitif dan mencari varian-variannya.
Dalam konsep Oligarki terdapat konsep Oligark dan Oligarki. Untuk sampai pada definisi Oligarki, terlebih dulu harus didefinisikan Oligark secara tepat.
Menurut Winters, Oligark adalah :
Pelaku yang menguasai dan mengendalikan konsentrasi besar sumber daya material yang bisa digunakan untuk mempertahankan atau meningkatkan kekayaan pribadi dan posisi sosial eksklusifnya. Sumber daya itu harus tersedia untuk digunakan demi kepentingan pribadi, biarpun tidak harus dimiliki sendiri. Jika kekayaan pribadi ekstrem mustahil dimiliki atau tidak ada, maka Oligark juga tidak ada. (Winters, 2011: 9).
Dari definisi Oligark ini muncul tiga perkara. Pertama, kekayaan adalah bentuk kekuasaan material yang beda dari sega sumber daya kekuasaan lain yang bisa terkonsentrasi di tangan minoritas. Kedua, bahwa penguasaan dan pengendalian sumber daya dilakukan untuk kepentingan pribadi, bukan lembaga. Ketiga, definisi Oligark tetap konstan di berbagai zaman dan kasus.
“Kekayaan” adalah konsep kunci dalam Oligarki. Sebab itu, definisi Oligarki harus clear masalah pertahanan kekayaan ini. Oligark adalah kelompok yang luar biasa kaya, tetapi mereka menghadapi masalah dan tantangan politik terkait langsung dengna sumber daya kekausaan material yag mereka miliki dan gunakan di masyarakat yang bertingkat-tingkat kemampuan ekonominya. Hanya Oligark yang mampu menggunakan kekayaan untuk mempertahankan kekayaannya.
Pertahanan kekayaan Oligark ada dua perkara. Pertama, property defense yaitu mengamankan klaim dasar atas kekayaan dan milik. Kedua, income defence yaitu menjaga sebanyak mungkin pendapatan dan laba dari kekayaan di dalam kondisi hak milik yang aman.
Berdasarkan pemahaman atas pertahanan kekayaan dan definisi Oligark, maka definisi Oligarki menurut Winters adalah:
Merujuk kepada politik pertahanan kekayaan oleh pelaku yang memiliki kekayaan material. Pertahanan kekayaan oleh Oligark mencakup tantangan dan kapasitas tertentu yang tak dimiliki bentuk dominasi atau eksklusi minoritas lain. Oligarki menjabarkan cara pertahanan dilakukan – proses yang amat beragam di berbagai konteks politik dan periode sejarah. Definisi Oligarki tetap, tapi oligarki punya berbagai bentuk. (Winters, 2011: 10).
Itulah definisi Oligarki dari Winters.
Bagi Winters, pemahaman yang jernih atas konsep Oligarki akan bermanfaat dalam memahami politik. Bahwa ternyata Aristoteles menyatakan konsep Oligarki bukan berdasarkan jumlah yang sedikit, melainkan kekayaan yang ada pada orang yang berkuasa itu. Dengan demikian, dasar utama untuk menyusun konsep Oligarki adalah aspek material, kekayaan. Dengan mengutip Whibley 1896, Winters menyatakan “unsur kekayaan biasa diakui sebagai syarat penting oligarki.” (Winters, 2011: 4).
Dalam memberikan definisi Oligarki di atas, Winters terlebih dahulu mendefinisikan konsep Oligark dan Oligarki. Dalam mendefinisikan keduanya ada sejumlah pertimbangan. Pertama, dasar kekuasaan minoritas Oligarkis.
Winters juga menekankan bahwa pemahaman atas Oligark dan Oligarki selalu diawali pengamatan adanya ketidaksetaraan material ekstrem yang kemudian menghasilkan ketidaksetaraan politik ekstrem.
Kendati sama-sama minoritas, konsep Elit berbeda dengan Oligarki. Memang, Elit dan Oligark sama-sama menggunakan kekuasaan dan pengaruh minoritas. Namun, kemampuan mereka melakukan itu berdasar jenis kekuasaan yang berbeda, sehingga hasil politiknya pun berbeda. (Winters, 2011: 12).
Perbedaan mendasar Elit dan Oligark adalah hampir semua bentuk pengaruh minoritas elit telah ditantang lewat pergulatan dan perubahan demokratis, sementara kekuasaan Oligarkis, karena hakikatnya belum beda (pertahanan kekayaan dan penambahan pendapatan) belum bisa ditantang.
Demokrasi dan Oligarki tidak saling meniadakan, bahkan berjalan seiring. Dalam Demokrasi banyak Oligark itu mengatur jalannya pemerintahan. Keduanya bisa berjalan bareng karena epistemologi mereka berbeda. Demokrasi merujuk pada kekuasaan politik formal tersebar berdasarkan hak, prosedur, dan tingkat partisipasi rakyat.
Di Indonesia sebagai misal, Oligark duduk di pemerintahan baik langsung maupun lewat wakil-wakil mereka di legislatif, eksekutif, yudikatif, maupun birokrasi. Rakyat masih banyak yang hidup miskin tetapi mereka tidak bisa mengklaim kekayaan yang dimiliki para Oligark karena para Oligark ini mungkin menampilkan politik kebajikan tetapi yang terpenting melindungi properti kekayaan mereka lewat aneka undang-undang dan alat pemaksa negara yang siap menegakkan hukum atas nama mereka.
Oligark yang apes terjerat KPK pun tidak lantas miskin melainkan terus mempertahankan bahkan menambah income mereka dari balik jeruji penjara sementara. Ini berbeda dengan sekadar elit yang masuk penjara korupsi, biasanya langsung mereka jatuh miskin.
Terdapat lima sumber kekuasaan yaitu hak politik formal, kekuasaan jabatan resmi, kekuasaan pemaksaan, kekuasaan mobilisasi, dan kekuasaan material.
Kekuasaan berdasar hak politik formal adalah sumber kekuasaan yang paling tidak langka, tersebar di tingkat individu. Hak ini disebut sebagai kebebasan liberal yang mencakup satu suara bagi tiap orang, kebebasan berpendapat tanpa ditindas, akses atas informasi publik, berkumpul dan berserikat.
Kekuasaan berdasarkan jabatan resmi adalah jabatan tinggi di pemerintahan, organisasi besar (baik sekuler maupun agama), atau perusahaan (pribadi dan publik) adalah sumber daya kekuasaan yang punya pengaruh dramatis pada profil kekuasaan segelintir individu.
Kekuasaan pemaksaan adalah kekuasaan yang sifatnya sebagai komponen profil kekuasaan individu, didasarkan atas asumsi negara birokrasi moderen punya kekuatan dan kekuasaan untuk melakukan pemaksaan secara legal terhadap siapapun.
Kekuasaan mobilisasi punya dua dimensi, yaitu merujuk pada kapasitas individu untuk menggerakkan atau mempengaruhi orang lain dan merujuk pada pada perubahan yang kadang tajam pada profil kekuasaan individual pelaku yang berada dalam keadaan mobilisasi para periode tertentu.
Kekuasaan material menyediakan dasar untuk tegaknya Oligark sebagai pelaku politik yang tangguh. Sumber daya material dalam berbagai bentuk (yang paling dikenal adalah uang tunai) sudah lama dikenali sebagai sumber kekuasaan sosial, ekonomi, dan politik. Orang dengan kekayaan pasti bisa berkuasa, kendati mereka tidak mau.
Jenis-jenis Oligarki
Karena Oligarki bisa digolongkan ke dalam 4 ciri utama, maka tipe Oligarki pun dibagi menjadi empat. Pertama, kadar keterlibatan langsung Oligark dalam melakukan pemaksaan yang menyokong klaim atau hak milik atas harga dan kekayaan. Kedua, keterlibatan oligark dalam kekuasaan atau pemerintahan. Ketiga, sifat keterlibatan dalam pemaksaan dan kekuasaan, itu terpecah atau kolektif. Keempat, apakah Oligark bersifat jinak atau liar. (Winters, 2011: 48).
Berdasarkan ciri-ciri utama Oligarki, Winters lalu membuat empat tipe ideal Oligarki yaitu: Oligarki Panglima (Warring Oligarchy), Oligarki Penguasa Kolektif (Ruling Oligarchy), Oligarki Sultanistik (Sultanistic Oligarchy), dan Civilian Oligarchy (Oligarki Sipil).
Oligarki Panglima adalah dunia panglima. Perpecahan antar Oligark ada di tingkat tertinggi. Persekutuan tidak stabil dalam konteks persaingan keras yang selalu berubah. Dominasi Oligark paling unggul hanya bisa berkuasa sementara. Ini misalnya terjadi di Kekaisaran Byzantium di mana kekuasaan tidak bersifat turun menurun, melainkan hanya turun kepada “panglima” yang paling kuat.
Oligarki Penguasa Kolektif adalah saat para Oligark masih bermain kekerasan secara individual mereka bergabung dalam suatu lembaga kolektif yang memiliki norma-norma yang mereka setujui. Namun, lembaga kolektif Oligark ini sama seperti Oligarki Panglima, sifatnya tidak stabil.
Oligarki Sultanistik adalah saat monopoli sarana pemaksaan berada di tangan satu Oligark, bukan terlembaga ke dalam negara yang dibatasi hukum. Di dalamnya, marak hubungan patron-klien dengan norma perilaku dan kewajiban yang terkait. Wewenang kekerasan hanya ada di pucuk pimpinan Oligarki.
Oligarki Sipil adalah mirip Oligarki Sultanistik, tetapi pada Oligarki Sipil sepenuhnya tidak bersenjata dan tidak berkuasa langsung selain secara sporadis selaku tokoh politik individual, bukan dalam kapasitas Oligarkis. Yang menggantikan individu tunggal sebagai pelaksana pemaksaan yang mempertahankan harta Oligarki, ada lembaga pelaku yang dikendalikan oleh hukum.
Ian Adams & R. W. Dyson, Fifty Major Political Thinkers, Second Edition (Oxon: Routledge, 2007)
David Boucher & Paul Kelly, eds., Political Thinkers from Socrates to the Present (Oxford: Oxford University Press, 2003)
Jeffrey A. Winters, Oligarki (Jakarta: Gramedia, 2011)


https://orcid.org/0000-0002-1420-4288
0 Komentar
Silakan tulis komentar Anda.