Esai ini bertujuan untuk mengupas tuntas teori tersebut dengan gaya yang mudah dicerna. Kita akan menelusuri latar belakang lahirnya teori ini sebagai "jalan tengah" yang brilian, membedah konsep-konsep kuncinya seperti dualitas struktur, agensi, dan keterampilan (knowledgeability) agen, serta menjelajahi bagaimana gagasan ini menemukan relevansi yang segar di era digital, ekonomi gig, dan kesadaran lingkungan saat ini. Lebih dari sekadar teori kuno, Teori Strukturasi menawarkan lensa yang ampuh untuk memahami tarian rumit antara individu dan masyarakat, serta membekali kita dengan harapan bahwa di dalam "belenggu" struktur, selalu ada ruang bagi agensi untuk menari dan menciptakan perubahan.
Bayangkan Anda sedang menunggu di halte bus. Bus yang Anda tunggu tak kunjung datang. Sebagai seorang individu, Anda memiliki kebebasan penuh untuk memutuskan: Tetap menunggu dengan sabar, berjalan kaki, atau mungkin memesan taksi online. Keputusan itu sepenuhnya ada di tangan Anda. Itulah yang disebut agensi, kapasitas individu untuk bertindak secara mandiri dan membuat pilihan bebas.
Namun, di sisi lain, tindakan "menunggu di halte" itu sendiri bukanlah sesuatu yang lahir dari ruang hampa. Ada struktur sosial yang tak kasat mata namun sangat kuat mengatur perilaku Anda: Jadwal dan rute bus yang telah ditetapkan oleh perusahaan transportasi, peraturan lalu lintas, norma kesopanan untuk mengantre, hingga ekspektasi sosial bahwa Anda harus tiba di tempat kerja tepat waktu. Struktur-struktur ini, dalam kadar tertentu, "memaksa" dan membatasi pilihan Anda.
Nah, sejak lama, dalam dunia ilmu sosiologi, dua kubu besar ini, agensi dan struktur, sering digambarkan bak minyak dan air yang tak pernah bisa bersatu. Di satu sudut, para pemikir "subyektivis" begitu terpukau oleh kekuatan individu yang kreatif, seolah-olah manusia adalah superhero yang bisa berbuat sesuka hati tanpa terikat aturan apa pun. Sementara di sudut yang berseberangan, para "obyektivis" melihat masyarakat seperti papan catur raksasa, di mana manusia hanyalah bidak-bidak catur yang digerakkan oleh aturan main (struktur sosial) yang telah baku. Perdebatan ini berlangsung puluhan tahun tanpa kesepakatan yang memuaskan.
Lalu, muncullah seorang pemikir asal Inggris, Anthony Giddens, yang dengan jemawanya menolak untuk memilih salah satu kubu. Bagi Giddens, perdebatan agensi versus struktur ini adalah sebuah kekeliruan fundamental. Ia mengajukan sebuah solusi yang amat elegan, yang ia sebut sebagai Teori Strukturasi, yang dirumuskan secara paling komprehensif dalam magnum opus-nya, The Constitution of Society: Outline of the Theory of Structuration (1984). Giddens tidak melihat agensi dan struktur sebagai dua entitas yang bertentangan (dualisme), melainkan sebagai dualitas: dua sisi dari satu mata uang yang sama. Keduanya saling membentuk dan terus-menerus diproduksi ulang melalui praktik-praktik sosial kita sehari-hari.
Dalam metafora yang lebih puitis, Giddens mengajak kita untuk membayangkan masyarakat bukan sebagai benda mati, melainkan sebagai sebuah tarian. Struktur adalah koreografi dan musiknya, aturan, ritme, dan pola yang memandu gerakan. Agensi adalah para penarinya, yang dengan keterampilan, improvisasi, dan kreativitasnya, menghidupkan koreografi tersebut. Penari tidak bisa menari tanpa musik, namun musik tak akan berarti apa-apa tanpa penari yang mewujudkannya. Begitu pula, struktur tidak akan eksis tanpa agensi yang mempraktikkannya, dan agensi tidak akan bisa beroperasi tanpa struktur yang memandunya. Keduanya tercipta dan terus diciptakan (reproduced) secara rekursif dalam setiap "adegan" kehidupan sosial, persis seperti yang dijelaskan Giddens bahwa struktur adalah medium dan hasil (medium and outcome) dari praktik yang diaturnya (Giddens, 1984, hlm. 25).
Esai ini akan mengajak Anda menyelami tarian intelektual yang memukau ini. Pertama, kita akan membedah anatomi Teori Strukturasi, mengupas konsep-konsep kuncinya, dualitas struktur, agensi, keterampilan agen, aturan dan sumber daya, hingga dimensi waktu-ruang, agar kita benar-benar memahami "koreografi" pemikiran Giddens. Setelah itu, kita akan membawa teori ini keluar dari menara gading dan mengujinya di medan kehidupan abad ke-21. Seberapa relevankah gagasan yang lahir di era 1980-an ini untuk memahami kompleksitas dunia modern, mulai dari cara kita membangun identitas di media sosial, bertahan hidup di tengah ekonomi gig yang serba tak pasti, hingga berjuang melawan krisis iklim di bawah bayang-bayang algoritma? Mari kita buktikan bersama bahwa Teori Strukturasi bukan sekadar fosil intelektual, melainkan sebuah lensa yang amat jernih untuk membaca zaman now.
Teori Strukturasi
Untuk menyelami Samudra Strukturasi, kita perlu mengenali dulu pulau-pulau konsep yang membentuknya. "Bagaimana masyarakat itu terbentuk?" adalah pertanyaan mendasar yang coba dijawab oleh Giddens dalam bukunya The Constitution of Society (1984). Jawabannya bukan terletak pada individu semata, bukan pula pada struktur sosial yang abstrak, melainkan pada keduanya secara bersamaan, yang terus-menerus terlibat dalam proses saling mencipta, atau yang disebut Giddens sebagai strukturasi.Teori ini sejatinya adalah sebuah "jalan tengah" yang cerdas. Untuk memperkuat argumennya, Giddens memulai penjelajahannya dengan mendudukkan kembali para pemikir klasik yang telah meletakkan fondasi perdebatan panjang ini. Dalam karyanya, Capitalism and Modern Social Theory (1971), ia melakukan pembacaan ulang yang tajam terhadap karya-karya Karl Marx, Émile Durkheim, dan Max Weber. Langkah ini bukan sekadar ritual akademis, melainkan upaya sadar untuk menemukan sintesis baru di antara warisan pemikiran yang sering kali dipertentangkan: Antara determinisme ekonomi (Marx), kekuatan fakta sosial yang mengekang (Durkheim), dan tindakan sosial bermakna yang subyektif (Weber). Dengan memahami peta perdebatan klasik inilah Giddens kemudian melangkah untuk merumuskan "jalan ketiga" yang otentik, yang ia sebut sebagai Teori Strukturasi (Cohen, 1989).
Dalam bab kedua dari The Constitution of Society, Giddens secara apik membedah "kesadaran, diri, dan perjumpaan sosial" sebagai fondasi awal untuk membangun teori sosial yang lebih utuh. Ia menekankan bahwa kesadaran manusia bersifat reflektif, dan inilah kunci untuk memahami bagaimana agensi bekerja. Aktor sosial, menurutnya, secara konstan memonitor aliran tindakan mereka sendiri, konteks sosial di mana mereka berada, dan bahkan memonitor proses monitoring itu sendiri. Kesadaran diskursif dan praktis inilah yang membedakan tindakan manusia dari sekadar gerak reflek. Seperti yang ia nyatakan dengan lugas, "tindakan manusia terjadi sebagai suatu durée, suatu aliran kontinu dari perilaku" (Giddens, 1984, hlm. 3). Ini adalah fondasi pemikirannya tentang agensi yang akan kita jelajahi lebih dalam. Untuk membedahnya secara lebih runut, mari kita lihat pilar-pilar utamanya satu per satu.
Struktur vs. Agen
Seperti yang sudah sedikit kita singgung di pendahuluan, sejarah sosiologi dihantui oleh "perang dingin" antara dua kubu. Kubu pertama, yang disebut Giddens sebagai "imperialisme subyek", adalah para teoritisi yang menempatkan individu dan tindakannya sebagai pusat dari segala analisis sosial (seperti fenomenologi dan etnometodologi). Sementara itu, kubu kedua, "imperialisme obyek", adalah para pemikir strukturalis dan fungsionalis (seperti Talcott Parsons dan Louis Althusser) yang melihat struktur sosial sebagai kekuatan yang begitu dominan, seolah-olah memiliki "nyawa" sendiri dan mendeterminasi tindakan individu sepenuhnya.Giddens menilai, kedua kubu ini sama-sama melakukan reduksi yang berlebihan. Ia menawarkan untuk membalik logika pertanyaan. Alih-alih bertanya "apakah individu yang menentukan masyarakat atau sebaliknya?", Giddens bertanya, "bagaimana tatanan sosial itu terus-menerus diproduksi dan direproduksi melalui praktik sehari-hari?" Fokusnya bergeser dari entitas (individu vs. masyarakat) ke proses (praktik sosial). Dalam kerangka berpikir Giddens, analisis tidak boleh terpaku pada pengalaman subyektif individu semata, atau pada keberadaan masyarakat sebagai totalitas yang membeku. Ia justru menekankan untuk memahami "praktik-praktik sosial yang diatur melintasi ruang dan waktu" (Giddens, 1984, hlm. 2). Praktik-praktik yang berulang dan terpola inilah yang menjadi "batu bata" yang menyusun bangunan masyarakat.
Inilah inti dari seluruh bangunan pemikiran Giddens. Dualitas struktur adalah gagasan bahwa "struktur sosial dibentuk oleh agensi manusia, dan pada saat yang sama, struktur itu pula yang menjadi medium (sarana) bagi pembentukan itu" (Giddens, 1984, hlm. 25). Sederhananya, struktur dan agensi tidak bisa dipisahkan secara analitis karena keduanya adalah dua aspek yang berbeda dari satu realitas yang sama: Praktik sosial. Seperti yang dirangkum oleh berbagai sarjana, sentralitas gagasan ini terletak pada pemahaman bahwa struktur adalah medium dan hasil dari praktik yang diaturnya secara rekursif, sehingga "struktur dan agensi bukanlah hal yang sama, tetapi juga tidak bisa dianggap sebagai dualistik" (Adams & Sydie, 2001, hlm. 33).
Kita ambil contoh sederhana: Bahasa. Bahasa adalah sebuah struktur. Ia memiliki aturan tata bahasa, kosakata, dan sintaksis yang mengikat. Ketika kita berbicara, kita "dipaksa" untuk mengikuti aturan-aturan itu agar ucapan kita bisa dimengerti orang lain. Di sini, struktur bahasa bertindak sebagai medium yang membatasi dan memungkinkan kita untuk bertindak (berbicara). Namun, bahasa tidak akan eksis sebagai entitas yang hidup jika tidak ada seorang pun yang menggunakannya. Setiap kali kita berbicara, menulis, atau menciptakan istilah slang baru, kita sedang mempraktikkan, mereproduksi, dan bahkan secara perlahan mengubah struktur bahasa itu sendiri. Di sini, struktur bahasa adalah hasil dari praktik kita. Inilah dualitasnya. Konsep ini menekankan sifat rekursif dari kehidupan sosial, sebuah siklus tanpa henti di mana tindakan menciptakan struktur, dan struktur membentuk tindakan selanjutnya.
Salah satu sumbangan Giddens yang paling manusiawi adalah penekanannya pada "keterampilan" (knowledgeability) para aktor sosial. Bagi Giddens, kita bukanlah "orang-orang bodoh budaya" (cultural dopes) yang sekadar menjalankan perintah struktur secara mekanis seperti robot. Sebaliknya, kita adalah aktor-aktor sosial yang sangat cerdas dan reflektif. Kita memiliki pemahaman yang mendalam tentang aturan-aturan sosial yang berlaku di sekitar kita dan kita menggunakan pemahaman itu untuk menjalani kehidupan sehari-hari. Struktur bahkan dikatakan berada dalam "ingatan manusia" dan baru diwujudkan melalui praktik-praktik sosial yang dilakukan oleh aktor yang cerdas ini (Giddens, 1984, hlm. 17).
Giddens membedakan dua jenis kesadaran yang kita miliki. Pertama, adalah kesadaran diskursif (discursive consciousness), yaitu kemampuan kita untuk menjelaskan atau memberi alasan mengapa kita melakukan suatu tindakan. Misalnya, "Saya antre di sini karena itu peraturannya." Kedua, yang lebih fundamental, adalah kesadaran praktis (practical consciousness), yaitu pengetahuan implisit yang kita miliki tentang cara "menjalani" dunia sosial tanpa harus memikirkannya secara sadar. Pengetahuan inilah yang memungkinkan kita untuk berinteraksi dengan orang asing, berpakaian dengan pantas untuk berbagai acara, atau merasakan "canggung" ketika seseorang melanggar norma ruang pribadi kita, semua dilakukan tanpa perlu berpikir panjang. Giddens menyebut ini sebagai kemampuan "untuk terus menjalani kehidupan sosial sehari-hari" (Giddens, 1984, hlm. xxiii). Lebih jauh, Giddens juga menyoroti dimensi motivasi tak sadar (unconscious motivation), yang memberikan dorongan mendasar bagi banyak tindakan kita, terutama yang berkaitan dengan kebutuhan akan rasa aman ontologis (ontological security), sebuah rasa percaya dasar bahwa dunia sosial dan alamiah itu stabil dan dapat diprediksi.
Struktur
Jika struktur bukanlah "kerangkeng besi" yang mengekang dari luar, lalu apa bentuknya? Giddens mendefinisikan ulang konsep 'struktur' secara radikal. Baginya, struktur tidak memiliki eksistensi fisik atau konkret; ia ada sebagai sifat-sifat yang menstrukturkan (structuring properties), yang memungkinkan adanya "pengikatan" praktik-praktik sosial yang serupa melintasi ruang dan waktu (Giddens, 1984, hlm. 17). Sifat-sifat ini terdiri dari dua elemen kunci: Aturan (rules) dan sumber daya (resources).Aturan adalah prosedur atau formula umum yang kita pahami dan terapkan dalam praktik sosial. Ini bukanlah aturan tertulis yang kaku seperti peraturan perundang-undangan, melainkan lebih seperti "resep" untuk bertindak. Aturan-aturan ini bisa bersifat konstitutif (mendefinisikan sesuatu, seperti aturan dalam permainan catur) atau regulatif (mengatur perilaku, seperti norma antre). Sementara itu, sumber daya adalah segala sesuatu yang memungkinkan aktor untuk mencapai tujuannya. Giddens membaginya menjadi dua: Sumber daya alokatif (kontrol atas obyek material, barang, dan kekayaan) dan sumber daya otoritatif (kontrol atas orang lain, koordinasi, dan organisasi). Kekuasaan (power) dalam kerangka Giddens bukanlah sesuatu yang dimiliki, melainkan kapasitas untuk memobilisasi aturan dan sumber daya ini untuk mencapai hasil tertentu. Singkatnya, di mana ada agensi, di situ ada kekuasaan.
Untuk lebih memperjelas bagaimana aturan dan sumber daya bekerja, Giddens mengidentifikasi tiga dimensi struktural yang saling terkait dalam setiap praktik sosial:
- Struktur Signifikasi (Signification). Ini berkaitan dengan skema interpretatif dan produksi makna. Aturan-aturan di sini bersifat semantik dan kognitif, bagaimana kita memahami dunia dan berkomunikasi satu sama lain. Contohnya adalah bahasa, kode berpakaian, atau simbol-simbol budaya yang memungkinkan kita menafsirkan makna dari suatu interaksi.
- Struktur Dominasi (Domination). Ini berkaitan dengan distribusi kekuasaan melalui kontrol atas sumber daya (baik alokatif maupun otoritatif). Ini adalah dimensi yang paling material dari struktur. Siapa yang memiliki akses ke uang, teknologi, atau jaringan sosial akan memiliki kapasitas yang lebih besar untuk bertindak. Dimensi ini menunjukkan bahwa setiap interaksi sosial selalu diwarnai oleh relasi kuasa yang asimetris.
- Struktur Legitimasi (Legitimation). Ini berkaitan dengan tatanan normatif dan sanksi. Aturan-aturan di sini bersifat moral dan etis, yang menentukan apa yang dianggap benar dan salah, pantas dan tidak pantas. Dimensi ini menstabilkan tatanan sosial melalui norma dan hukum, memberikan pembenaran bagi praktik-praktik tertentu dan menghukum yang lainnya.
Di antara struktur dan interaksi sosial, terdapat modalitas (modalities) yang menjembataninya. Modalitas ini adalah "kendaraan" yang digunakan aktor untuk menerjemahkan struktur ke dalam tindakan. Untuk Signifikasi, modalitasnya adalah skema interpretatif; untuk Dominasi, modalitasnya adalah fasilitas (kemampuan memobilisasi sumber daya); dan untuk Legitimasi, modalitasnya adalah norma. Aktor menggunakan modalitas ini untuk berinteraksi, dan melalui interaksi itulah struktur diproduksi ulang atau diubah.
Meskipun Giddens menekankan betapa cerdasnya aktor sosial, ia juga mengakui bahwa kita tidak pernah sepenuhnya bisa mengontrol hasil dari tindakan kita. Sejarah manusia dipenuhi dengan contoh di mana tindakan individu atau kelompok menghasilkan konsekuensi yang sama sekali tidak direncanakan. Ini adalah tema yang mendapat perhatian khusus dalam analisis Giddens tentang tindakan strategis (strategic conduct) (Giddens, 1984, hlm. 293-296).
Meskipun Giddens menekankan betapa cerdasnya aktor sosial, ia juga mengakui bahwa kita tidak pernah sepenuhnya bisa mengontrol hasil dari tindakan kita. Sejarah manusia dipenuhi dengan contoh di mana tindakan individu atau kelompok menghasilkan konsekuensi yang sama sekali tidak direncanakan. Ini adalah tema yang mendapat perhatian khusus dalam analisis Giddens tentang tindakan strategis (strategic conduct) (Giddens, 1984, hlm. 293-296).
Fenomena lockdown akibat isu wabah adalah contoh yang amat relevan. Kebijakan pembatasan sosial (struktur legitimasi baru yang muncul sebagai respons terhadap krisis) adalah hasil dari agensi para pembuat kebijakan. Namun, konsekuensi tak disengaja dari kebijakan ini sangatlah luas: Gelombang PHK massal, peningkatan masalah kesehatan mental akibat isolasi, hingga merebaknya fenomena panic buying. Tindakan individu yang berbondong-bondong memborong masker dan hand sanitizer, sebuah tindakan agensi yang rasional di tingkat individu, justru menciptakan kelangkaan barang di tingkat makro, sebuah struktur masalah baru yang tak direncanakan.
Salah satu kontribusi Giddens yang paling visioner adalah memasukkan dimensi waktu dan ruang sebagai elemen sentral dalam teori sosial, bukan sekadar latar belakang. Ia mengamati bahwa modernitas secara fundamental telah mengubah pengalaman kita tentang ruang dan waktu, sebuah proses yang ia sebut sebagai pemisahan ruang dan waktu (time-space distanciation). Dalam masyarakat pra-modern, 'kapan' dan 'di mana' sebuah peristiwa terjadi selalu terikat erat. Namun, modernitas "melepaskan" waktu dari ruang. Dengan adanya teknologi seperti jam, kalender global, dan terutama alat komunikasi elektronik, kita bisa berinteraksi secara instan dengan seseorang di belahan dunia lain tanpa harus berbagai ruang fisik yang sama.
Proses ini memungkinkan terjadinya apa yang oleh Giddens disebut sebagai pencabutan (disembedding) sistem sosial dari konteks lokalnya. Hubungan-hubungan sosial kita kini tidak lagi terbatas pada tatap muka. Bayangkan seorang pekerja freelance di kota kecil di Indonesia yang bisa bekerja untuk sebuah perusahaan rintisan di Silicon Valley; atau seorang aktivis lingkungan yang bisa menggalang solidaritas global melalui media sosial tanpa harus meninggalkan desanya. Ruang dan waktu "diregangkan" sedemikian rupa, sehingga peristiwa di tempat yang jauh bisa berdampak langsung pada kehidupan kita, dan sebaliknya. Konsep ini menjadi sangat krusial untuk memahami globalisasi dan era digital yang kita hidupi saat ini, di mana kehadiran dan ketidakhadiran saling terkait dalam cara-cara yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Relevansi Giddens di Abad ke-21
Setelah membedah kerangka konseptualnya, pertanyaan besarnya adalah: Apa gunanya Teori Strukturasi untuk kita hari ini, di tengah pusaran perubahan yang begitu cepat? Jawabannya: Sangat relevan. Justru di era yang ditandai oleh disrupsi digital, ketidakpastian ekonomi, dan krisis eksistensial seperti perubahan iklim inilah daya analitis Teori Strukturasi menemukan panggungnya yang paling spektakuler.Giddens, dalam bukunya Modernity and Self-Identity: Self and Society in the Late Modern Age (1991), telah meramalkan bahwa di era modernitas akhir, identitas bukan lagi sesuatu yang "given" atau diturunkan secara turun-temurun. Sebaliknya, identitas telah menjadi sebuah proyek refleksif. Kita semua adalah arsitek bagi narasi diri kita sendiri. "Kita bukanlah apa adanya, melainkan apa yang kita perbuat dari diri kita sendiri," demikianlah kira-kira inti dari gagasan Giddens (Giddens, 1991, hlm. 75).
Platform seperti Instagram, LinkedIn, dan TikTok adalah manifestasi paling sempurna dari proyek refleksif ini. Profil media sosial kita adalah "kit" identitas yang kita bangun, poles, dan revisi secara konstan. Di sini, dualitas struktur bekerja dengan sangat dinamis. Platform menyediakan struktur (aturan main seperti format konten, algoritma, dan metrik seperti likes dan followers) yang menjadi medium bagi agensi kita untuk berkarya, berekspresi, dan membangun personal branding. Namun, pada saat yang sama, setiap kali kita membuat konten, memberikan like, atau berkomentar, kita sedang memproduksi ulang dan memperkuat struktur platform itu sendiri. Kita "menari" mengikuti ritme algoritma, tetapi tarian kitalah yang membuat algoritma itu tetap hidup dan relevan.
Ambivalensi adalah warna utama dari tarian ini. Di satu sisi, agensi kita menemukan panggung yang tak terbatas. Seorang musisi indie bisa terkenal tanpa label rekaman besar, seorang aktivis bisa menyuarakan isu lingkungan ke seluruh dunia, dan seorang seniman tato bisa membangun klien global lewat postingan Instagramnya. Namun, di sisi lain, struktur algoritma yang dirancang untuk memaksimalkan interaksi juga bisa menjadi "penjara" yang menciptakan echo chamber dan filter bubble, memperkuat polarisasi sosial, serta menimbulkan kecemasan akan validasi sosial. Lebih jauh, kajian kontemporer menunjukkan bagaimana platform media sosial menciptakan "ruang gema" yang memperkuat keyakinan yang sudah ada dan menciptakan polarisasi politik yang semakin tajam, sekaligus berkontribusi pada penurunan tingkat membaca tradisional dan naiknya budaya konten sensasional di kalangan generasi muda (Anisin, 2025). Teori Strukturasi memungkinkan kita untuk melihat ini bukan sebagai kesalahan individu atau kesalahan teknologi semata, melainkan sebagai hasil dari interaksi rekursif yang kompleks antara keduanya.
Mari kita beralih ke dunia kerja. Munculnya platform ekonomi gig seperti Gojek, Grab, Shopee, dan Maxim adalah contoh brilian lainnya dari Teori Strukturasi yang sedang beraksi. Platform-platform ini menyediakan struktur baru berupa aturan algoritmik (sistem rating, penentuan harga dinamis, alokasi order), yang menjadi medium bagi jutaan agen (para driver dan freelancer) untuk menjalankan aktivitas ekonomi mereka.
Narasi populer yang dijual oleh perusahaan-perusahaan ini adalah "Jadilah Bos untuk Dirimu Sendiri" atau "Bekerja Sesukamu". Ini adalah undangan agensi yang sangat kuat, menjanjikan fleksibilitas waktu, kebebasan dari bos yang menyebalkan, dan potensi penghasilan yang tak terbatas. Banyak driver ojek online yang merasakan betul sisi positif ini. Mereka bisa mengatur jam kerjanya sendiri, bekerja sambil mengurus keluarga, atau menjadikan ini sebagai batu loncatan finansial.
Namun, di balik janji manis itu, terdapat struktur kekuasaan dan dominasi yang sangat tidak setara. Algoritma yang menjadi "bos tak kasat mata" memiliki kontrol yang luar biasa besar. Sistem rating yang rendah bisa langsung mematikan orderan seorang driver. Struktur biaya dan insentif bonus yang rumit seringkali lebih menguntungkan perusahaan daripada mitra kerjanya. Para pekerja gig ini pada dasarnya beroperasi dalam struktur yang sumber daya otoritatifnya (kendali atas pekerjaan) sangat minimal, sementara sumber daya alokatifnya (pendapatan) sangat tidak menentu. Dengan kerangka Teori Strukturasi, kita bisa memahami bahwa kebebasan dan fleksibilitas yang dipromosikan oleh ekonomi gig selalu berkelindan dengan bentuk-bentuk kontrol dan dominasi baru yang di-embed dalam kode-kode teknologi. Ini adalah dualitas antara pemberdayaan dan eksploitasi yang harus terus-menerus dinegosiasikan.
Di tingkat yang lebih makro dan eksistensial, Teori Strukturasi memberikan kerangka yang kuat untuk memahami krisis perubahan iklim, sebuah contoh klasik dari konsekuensi yang tak disengaja (unintended consequences). Revolusi Industri yang melahirkan modernitas adalah puncak agensi manusia untuk menaklukkan alam. Struktur-struktur kapitalisme industri yang kita bangun, pabrik, sistem transportasi berbasis bahan bakar fosil, pertanian monokultur massal, telah sukses mensejahterakan sebagian umat manusia. Namun, akumulasi dari triliunan tindakan agensi yang seolah-olah "rasional" ini secara tak sengaja menghasilkan konsekuensi yang mengerikan: Emisi gas rumah kaca yang merusak atmosfer dan memicu perubahan iklim global.
Kini, struktur yang dulu menjadi medium kemakmuran itu telah berubah menjadi struktur ancaman eksistensial yang membatasi pilihan-pilihan agensi kita di masa depan. Namun, justru di titik inilah agensi menemukan momentumnya kembali. Dari "rahim" struktur yang mengancam ini, lahirlah gerakan-gerakan sosial baru sebagai respons. Gerakan "Fridays for Future" yang dipelopori oleh Greta Thunberg adalah bukti paling nyata.
Apa yang dilakukan Greta adalah contoh sempurna dari agensi yang secara sadar dan berani "berbenturan" dengan struktur. Sebagai seorang siswi yang bolos sekolah, ia menggunakan sumber daya yang ada padanya (tubuhnya, spanduknya, dan trotoar di depan gedung parlemen) untuk melawan struktur legitimasi (sistem politik dan ekonomi yang dianggap gagal menangani krisis iklim) dan struktur dominasi (kekuatan korporasi bahan bakar fosil). Tindakan kecil yang awalnya dianggap remeh ini kemudian bergema dan direproduksi oleh jutaan pelajar di seluruh dunia, menciptakan struktur baru sebuah gerakan sosial global. Gerakan ini, pada gilirannya, memengaruhi wacana publik dan mendorong perubahan kebijakan (restrukturisasi). Di sini kita melihat siklus penuh dari dualitas struktur: struktur (kapitalisme, sistem politik) membentuk tindakan (eksploitasi alam), yang menghasilkan konsekuensi tak disengaja (krisis iklim), yang kemudian membentuk agensi kontra (gerakan lingkungan), yang pada akhirnya berjuang untuk mengubah struktur itu sendiri.
Kita Diawasi Kode Digital
Kita hidup di era di mana keputusan-keputusan krusial, mulai dari kelayakan kredit, seleksi lamaran kerja, hingga vonis awal pengadilan, semakin banyak dibuat oleh sistem algoritmik atau yang kita kenal dengan Kecerdasan Buatan (AI). Ini adalah medan baru yang paling kompleks bagi para penjelajah teori sosiologi. Dalam konteks ini, kerangka dualitas struktur menjadi alat analisis yang sangat vital.Di satu sisi, algoritma adalah struktur dalam pengertian Giddens yang paling murni. Ia adalah seperangkat aturan dan prosedur, yang sering kali buram dan tak kasat mata, yang mengikat dan mengatur praktik-praktik sosial kita. Namun, algoritma tidak muncul dari ruang hampa. Ia adalah hasil dari agensi manusia: Para ilmuwan data, insinyur perangkat lunak, dan manajer produk yang mendesainnya. Di sinilah letak bahaya dan harapannya. Jika data historis yang digunakan untuk melatih AI mengandung bias (struktur signifikasi yang bias dari masa lalu), maka AI akan belajar dari bias tersebut dan, melalui proses otomatisasi, memproduksi ulang dan bahkan memperkuat bias itu dalam skala masif ke masa depan.
Beberapa studi terbaru bahkan mulai menerapkan Teori Strukturasi sebagai kerangka kerja fundamental untuk menata kelola sistem AI multi-agen yang kompleks. Para peneliti memetakan konsep-konsep kunci Giddens, struktur, agensi, dualitas, refleksivitas, ke dalam aplikasi AI, dengan argumen bahwa interaksi co-produktif antara struktur sistem dan perilaku agen (baik manusia maupun agen AI) harus menjadi pusat perhatian dalam tata kelola AI (Rice, 2025a). Bahkan, ada sebuah model baru yang diusulkan bernama MAS Structuration Model, yang secara eksplisit menempatkan AI bukan hanya sebagai artefak teknologi, melainkan sebagai partisipan aktif dalam pembentukan rekursif sistem sosial dan norma-norma tata kelola (Rice, 2025b). Ini adalah pengembangan yang sangat radikal, yang menunjukkan bahwa di bawah pengawasan kode, tarian antara manusia dan struktur teknologis menjadi semakin rumit dan membutuhkan kerangka etis yang benar-benar baru.
Setinggi apa pun kita melangit bersama teori ini, penting untuk tetap membumi. Teori Strukturasi bukanlah kitab suci yang tanpa cela. Berbagai kritik tajam telah dilontarkan, terutama oleh sosiolog Inggris terkemuka, Margaret Archer. Dalam bukunya Realist Social Theory: The Morphogenetic Approach (1995), Archer melontarkan kritik paling fundamentalnya terhadap gagasan dualitas. Baginya, untuk memahami bagaimana agensi bisa mengubah struktur, kita harus bisa memisahkan keduanya secara analitis. Jika struktur dan agensi selalu dianggap sebagai dualitas yang tak terpisahkan, lalu bagaimana kita bisa menjelaskan perubahan struktural yang fundamental? Bagaimana kita bisa membedakan antara periode stabilitas dan periode transformasi sosial yang revolusioner?
Archer menawarkan pendekatan morfogenetik, di mana agensi dan struktur dipandang memiliki siklus otonomnya sendiri dalam kerangka waktu yang berbeda. Struktur yang terbentuk dari tindakan masa lalu akan menjadi kondisi awal yang "menghadang" tindakan agen di masa sekarang. Agen bereaksi terhadap kondisi ini, dan hasil dari interaksi itu akan memproduksi struktur baru atau elaborasi struktural di masa depan. Pendekatan Archer ini, yang memisahkan agensi dan struktur, memungkinkan analisis yang lebih jernih tentang bagaimana perubahan terjadi.
Kritik lain datang dari para peneliti yang menganggap Teori Strukturasi terlalu abstrak dan sulit diterapkan secara empiris. Teori ini, menurut mereka, kaya akan konsep ontologis yang indah, tetapi miskin dalam panduan metodologis konkret. Para peneliti di bidang sistem informasi, misalnya, mengakui bahwa menerapkan kerangka strukturasi untuk meneliti interaksi manusia dan teknologi informasi bukanlah perkara mudah karena abstraksi tingkat tinggi dari teori ini (Pozzebon & Pinsonneault, 2005). Namun, kritik ini tidak lantas membuat teori ini ditinggalkan. Justru, ia memicu lahirnya pengembangan seperti "Teori Strukturasi Kuat" (Strong Structuration Theory) oleh Rob Stones (2005), yang mencoba untuk "membumikan" ide-ide Giddens ke dalam kerangka yang lebih empiris dan terstruktur. Alih-alih menjadi kelemahan, kompleksitas dan sifatnya yang terbuka untuk diperdebatkan justru menunjukkan daya hidup dan relevansi teori ini yang berkelanjutan.
Penutup
Sampailah kita di penghujung penjelajahan. Dari sebuah halte bus yang sederhana, kita telah melanglang buana menembus dunia digital hingga ke atmosfer yang memanas. Esai ini telah berusaha membuktikan bahwa Teori Strukturasi Anthony Giddens bukanlah sekadar "teori tua" yang harus dihafalkan di bangku kuliah, melainkan sebuah lensa konseptual yang sangat hidup dan relevan untuk membaca zaman.Di inti teori ini, kita mempelajari pelajaran paling fundamental dalam sosiologi: Bahwa kita adalah pencipta sekaligus produk dari dunia kita. Kita bukanlah superhero yang bebas dari segala ikatan, namun kita juga bukanlah robot yang tak berdaya. Kita adalah penari, yang gerakannya dipandu oleh musik dan koreografi struktur sosial, namun melalui setiap gerakan itulah kita menghidupkan, menafsirkan, memperkuat, atau bahkan mengubah musik itu sendiri. Giddens menyebutkan bahwa "setiap tindakan yang berkontribusi pada reproduksi sebuah struktur juga merupakan tindakan produksi, sebuah inisiatif yang segar" (Giddens, 1984, hlm. 26). Takdir kita tidak pernah sepenuhnya ditentukan oleh struktur, karena dalam setiap pengulangan praktik sosial, selalu ada celah bagi agensi untuk melakukan improvisasi.
Di era yang ditandai oleh kecemasan akan kendali algoritma, ketidakpastian ekonomi, dan ancaman kiamat iklim, pesan ini menjadi sangat krusial. Teori Strukturasi membekali kita dengan kesadaran kritis bahwa struktur-struktur raksasa yang tampak begitu kokoh dan tak tergoyahkan, kapitalisme, teknologi, negara, budaya, adalah produk dari praktik-praktik sosial yang terus-menerus kita reproduksi setiap hari. Dan justru karena kita adalah bagian integral dari (re)produksinya, kita memiliki kapasitas dan kekuatan untuk mengubahnya. Setiap kali Anda memilih untuk menggunakan transportasi publik daripada kendaraan pribadi, Anda sedang berpartisipasi dalam mereproduksi struktur mobilitas perkotaan yang berbeda. Setiap kali Anda menyebarkan pesan perdamaian di media sosial alih-alih kebencian, Anda sedang menenun benang-benang struktur wacana publik yang lebih inklusif.
Di luar sana, di persimpangan antara agensi dan struktur yang rumit, tari itu terus berlangsung: Tarian dari struktur yang menari, dalam ritme agensi yang tak pernah berhenti mengetuk genderang kehidupan. Dan kabar baik yang disampaikan oleh Giddens kepada kita semua adalah: Anda diundang untuk ikut menari, dan di dalam setiap langkah kecil Anda, terdapat benih-benih perubahan untuk dunia yang lebih baik. Selamat menari.
Referensi
Adams, B. N., & Sydie, R. A. (2001). Sociological theory. Thousand Oaks, CA: Pine Forge Press.Anisin, A. (2025). How the Internet changed America. Birkhäuser.
Archer, M. (1995). Realist social theory: The morphogenetic approach. Cambridge: Cambridge University Press.
Cohen, I. J. (1989). Structuration theory: Anthony Giddens and the constitution of social life. London: Macmillan.
Giddens, A. (1971). Capitalism and modern social theory: An analysis of the writings of Marx, Durkheim and Max Weber. Cambridge: Cambridge University Press.
Giddens, A. (1984). The constitution of society: Outline of the theory of structuration. Cambridge: Polity Press.
Giddens, A. (1991). Modernity and self-identity: Self and society in the late modern age. Stanford, CA: Stanford University Press.
Pozzebon, M., & Pinsonneault, A. (2005). Challenges in conducting empirical work using structuration theory: Learning from IT research. Organization Studies, 26(9), 1353-1376.
Rice, G. (2025a). Governing AI systems as recursive structures: Applying Giddens' structuration theory to multi-agent governance. SSRN Electronic Journal. https://doi.org/10.2139/ssrn.5278197
Rice, G. (2025b). The MAS structuration model: Positioning structuration theory as a framework for AI governance. SSRN Electronic Journal. https://doi.org/10.2139/ssrn.5359461
Stones, R. (2005). Structuration theory. Basingstoke: Palgrave Macmillan.

https://orcid.org/0000-0002-1420-4288
0 Komentar
Silakan tulis komentar Anda.