Ad Code

Teori Mobilitas Sosial Pitirim A. Sorokin

Di era yang serba cepat ini, kita adalah saksi dari sebuah dinamika tanpa henti. Setiap hari, kita mendengar kisah tentang seorang anak petani yang berhasil menjadi sarjana dan bekerja di perusahaan multinasional, atau sebaliknya, tentang seorang pengusaha sukses yang jatuh bangkrut. Kita juga mungkin mengenal seseorang yang pindah keyakinan, atau yang memutuskan untuk pindah kewarganegaraan demi kehidupan yang dianggap lebih baik. Semua fenomena ini, pada hakikatnya, adalah potret dari satu konsep inti dalam sosiologi: Mobilitas sosial.

Konsep ini bukanlah sekadar istilah akademis yang kaku. Ia adalah nadi yang mengalir dalam tubuh masyarakat, yang menentukan seberapa dinamis atau kaku sebuah tatanan sosial. Untuk benar-benar memahami irama dan alur pergerakan ini, kita perlu kembali ke gagasan salah seorang peletak fondasinya, seorang pemikir brilian yang karya monumentalnya hingga kini masih relevan, bahkan terasa semakin menemukan konteksnya: Pitirim A. Sorokin.

Sosiolog asal Rusia-Amerika ini bukanlah sekadar ilmuwan "zaman dulu" yang teorinya berdebu di rak perpustakaan. Sorokin adalah seorang visioner yang meletakkan dasar-dasar analitis untuk membedah bagaimana dan mengapa manusia, dan juga objek sosial, bergerak dalam ruang sosial. Dalam karya magnum opus-nya, Social Mobility (1927), ia tidak hanya mendefinisikan mobilitas sosial, tetapi juga meramalkan pola-pola pergerakan yang kini kita saksikan dalam skala global.

Tulisan ini mengajak Anda, untuk menyelami lautan pemikiran Sorokin. Kita akan membedah konsep mobilitas vertikal dan horizontal, menjelajahi "saluran-saluran" yang menjadi tangga atau eskalator sosial, dan yang paling penting, menguji kesaktian teori ini dalam menghadapi realitas kompleks abad ke-21. Dari riuhnya platform ekonomi digital hingga isu ketimpangan akses pendidikan di pelosok Indonesia, dari janji manis meritokrasi hingga bayang-bayang "pseudo-meritokrasi", kita akan melihat bagaimana lensa Sorokin membantu kita melihat masalah klasik dengan cara yang baru. Mari kita mulai perjalanan intelektual ini.

Pitirim A. Sorokin

Untuk memahami gagasan, kita perlu mengenal sang pemikir. Pitirim Alexandrovich Sorokin bukanlah sosiolog yang lahir dari kenyamanan ruang kuliah. Ia lahir pada 1889 di sebuah desa terpencil di Rusia Utara, dari keluarga petani sederhana. Kehidupannya adalah sebuah kisah mobilitas sosial vertikal yang dramatis.

Sorokin muda adalah seorang aktivis politik yang menentang rezim Tsar, beberapa kali dipenjara, tetapi kemudian menjadi sekretaris Perdana Menteri Alexander Kerensky dalam pemerintahan Rusia pasca-revolusi. Namun, revolusi Oktober 1917 yang membawa Bolshevik ke tampuk kekuasaan membuatnya menjadi buronan. Ia dijatuhi hukuman mati, namun berhasil melarikan diri dan akhirnya diasingkan dari Uni Soviet pada 1922 (Mangone, 2018, hlm. 5).

Esai populer tentang teori mobilitas sosial Pitirim A. Sorokin: mobilitas vertikal, horizontal, saluran mobilitas, dan relevansinya di era digital, pe


Pengalaman hidup yang penuh gejolak inilah yang membentuk perspektif uniknya. Sesampainya di Amerika Serikat, Sorokin membangun karier akademik yang cemerlang. Ia mendirikan Departemen Sosiologi di Universitas Harvard pada 1930, dan di sanalah ia menghasilkan karya-karya besar yang menempatkannya sebagai salah satu pendiri sosiologi modern. Ironisnya, Sorokin yang dulunya dianggap radikal, di Harvard justru berkonflik dengan aliran struktural-fungsional yang dipimpin Talcott Parsons. Sorokin mengkritik pendekatan yang terlalu kuantitatif dan "mekanistik" dalam melihat fenomena sosial, yang menurutnya gagal menangkap esensi realitas sosiokultural yang hidup dan berubah (Mangone, 2018).

Warisan intelektualnya sangat luas, mencakup studi tentang revolusi, perang, altruisme, hingga dinamika budaya. Namun, sumbangsihnya yang paling dasar dan terus menjadi rujukan adalah teorinya tentang stratifikasi sosial dan mobilitas sosial, yang terutama tertuang dalam buku Social Mobility (1927) dan kemudian diperluas dalam Social and Cultural Mobility (1959).

Sebelum berbicara tentang gerak, kita harus memahami panggung tempat gerak itu terjadi. Bagi Sorokin, panggung itu adalah stratifikasi sosial. Ia mendefinisikan stratifikasi sosial sebagai "pembagian penduduk ke dalam kelas-kelas yang hierarkis." Ini adalah karakteristik permanen dari setiap masyarakat yang terorganisir. Pernyataannya yang terkenal, "Setiap kelompok sosial yang terorganisir selalu merupakan tubuh sosial yang terstratifikasi. Tidak ada dan tidak pernah ada kelompok sosial permanen yang 'datar' dan di mana semua anggotanya setara," menegaskan bahwa ketimpangan adalah keniscayaan struktural, bukan sekadar penyimpangan (Sorokin, 1927, hlm. 10).

Menurut Sorokin, stratifikasi sosial memiliki tiga dimensi utama yang saling berkaitan erat: Ekonomi, politik, dan pekerjaan (Sorokin, 1927, hlm. 87-104). Stratifikasi ekonomi tercermin dari perbedaan kekayaan dan pendapatan. Stratifikasi politik berkaitan dengan kekuasaan, otoritas, dan hierarki dalam organisasi. Stratifikasi pekerjaan merujuk pada pembedaan profesi berdasarkan prestise dan kepentingan fungsionalnya.

Di sinilah letak relevansi pertama pemikiran Sorokin di masa kini. Ketika kita berbicara tentang kesenjangan ekonomi yang melebar, fenomena "1% " melawan "90%", atau polarisasi politik yang tajam, kita sedang menyaksikan tiga dimensi stratifikasi Sorokin bekerja secara simultan. Struktur inilah yang menciptakan "ruang sosial" bertingkat, dan mobilitas sosial pada dasarnya adalah perpindahan individu atau kelompok dari satu posisi ke posisi lain dalam ruang tersebut.

Mobilitas Sosial

Inilah jantung dari teori Sorokin. Ia mendefinisikan mobilitas sosial sebagai "setiap perpindahan individu atau objek sosial, yaitu segala sesuatu yang diciptakan atau dimodifikasi oleh aktivitas manusia, dari satu posisi sosial ke posisi lainnya" (Sorokin, 1927, hlm. 133). Definisi ini sangat luas, mencakup bukan hanya manusia, tetapi juga ide, artefak, dan nilai-nilai budaya. Sorokin kemudian membagi mobilitas menjadi dua tipe utama.

Mobilitas vertikal itu ibarat tangga “naik-turun.” Ini adalah jenis mobilitas yang paling sering kita bicarakan. Mobilitas vertikal adalah perpindahan individu atau kelompok dari satu strata sosial ke strata lain yang berbeda tingkatannya, yang disertai dengan perubahan status sosial (Sorokin, 1927, hlm. 134). Sorokin mengibaratkannya seperti naik atau turun tangga dalam sebuah gedung bertingkat.

Mobilitas vertikal memiliki dua arah, yaitu vertikal naik (ascending) dan vertikal turun (descending). Contoh vertikal naik yang klasik adalah seorang guru honorer yang lolos seleksi menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS), atau seorang anak buruh yang menjadi direktur perusahaan. Sementara itu, vertikal turun terjadi ketika seorang pengusaha bangkrut dan jatuh miskin, atau seorang pejabat yang terjerat kasus korupsi dan kehilangan jabatan serta kehormatannya.

Menariknya, Sorokin menegaskan bahwa tidak ada masyarakat yang sepenuhnya terbuka atau tertutup. Ia mengajukan konsep intensitas (seberapa banyak langkah vertikal yang terjadi) dan universalitas (seberapa besar proporsi populasi yang mengalami pergerakan vertikal) untuk mengukur derajat mobilitas dalam suatu masyarakat (Sorokin, 1927, hlm. 136-137). Yang lebih penting lagi, Sorokin berpendapat bahwa tingkat mobilitas vertikal dalam suatu masyarakat tidak menunjukkan tren linier yang konsisten (naik terus atau turun terus), melainkan berfluktuasi dalam siklus-siklus tertentu (Sorokin, 1927, hlm. 152-160).

Di lain pihak terdapat pula mobilitas horizontal, dengan masyarakat bergerak tanpa “naik-turun.” Mobilitas horizontal adalah perpindahan individu atau objek sosial dari satu kelompok sosial ke kelompok sosial lain yang setingkat. Dalam jenis mobilitas ini, tidak terjadi perubahan status sosial yang signifikan (Sorokin, 1927, hlm. 133). Seringkali mobilitas horizontal dipandang sebelah mata, seolah-olah "bukan apa-apa" karena tidak mengubah derajat sosial. Namun, bagi Sorokin, mobilitas horizontal memiliki arti penting tersendiri.

Contoh paling sederhana adalah seorang dokter yang pindah rumah sakit dari satu kota ke kota lain dengan jabatan yang sama, atau seorang insinyur yang beralih profesi menjadi konsultan IT. Status sosial ekonomi mereka mungkin tidak berubah drastis, tetapi terjadi perpindahan geografis, organisasi, atau bahkan afiliasi profesi. Adapun contoh di tingkat yang lebih makro adalah migrasi penduduk dari satu pulau ke pulau lain dengan tujuan yang belum jelas untuk menaikkan status, atau perubahan afiliasi keagamaan.

Jenis mobilitas horizontal yang signifikan dan semakin relevan saat ini adalah mobilitas teritorial. Sorokin sendiri telah mengamati bahwa era modern ditandai dengan peningkatan luar biasa dalam mobilitas teritorial. Perpindahan penduduk, perjalanan, dan migrasi menjadi ciri khas peradaban modern (Sorokin, 1927, hlm. 381-395). Di era globalisasi dan digital nomad saat ini, mobilitas teritorial mencapai puncaknya. Seseorang bisa bekerja untuk perusahaan di Silicon Valley sambil tinggal di Bali, ini adalah bentuk mobilitas horizontal yang dahsyat dan membentuk lanskap sosial-ekonomi baru.

Social Elevator

Sorokin tidak hanya memetakan arah gerak, tetapi juga "jalurnya". Ia mengidentifikasi institusi-institusi sosial tertentu yang berfungsi sebagai saluran mobilitas vertikal (channels of vertical circulation). Lembaga-lembaga ini berperan sebagai "lift" atau "eskalator" yang memungkinkan individu naik (atau turun) dari satu lantai ke lantai lain dalam gedung sosial (Sorokin, 1927, hlm. 164-210). Mari kita lihat saluran-saluran klasik ini dan bagaimana wujudnya di masa kini.
  1. Angkatan Bersenjata. Di masa lalu, dan di beberapa negara hingga kini, militer adalah saluran mobilitas yang ampuh. Seorang prajurit yang menunjukkan keberanian di medan perang bisa naik pangkat menjadi jenderal, meningkatkan status sosialnya secara dramatis. Di Indonesia, kisah Jenderal Soedirman adalah contoh nyata. Di masa damai, militer masih menjadi saluran, terutama melalui program seperti AKABRI yang menjamin akses pendidikan dan karier terstruktur.
  2. Lembaga Keagamaan. Dalam hierarki gereja, pesantren, atau organisasi keagamaan lainnya, seseorang dari latar belakang sederhana bisa mencapai posisi tinggi yang dihormati, seperti menjadi uskup, kiai, atau pemimpin organisasi keagamaan besar. Saluran ini tetap relevan, meskipun pengaruhnya mungkin tidak sekuat di masa pra-modern.
  3. Organisasi Politik. Bergabung dengan partai politik adalah jalan klasik menuju kekuasaan dan status. Banyak tokoh yang berasal dari keluarga biasa berhasil menjadi anggota legislatif, menteri, bahkan presiden melalui kerja politik. Di era sekarang, fenomena "Jokowi" adalah contoh paling mutakhir dari mobilitas vertikal melalui saluran politik di Indonesia.
  4. Organisasi Ekonomi dan Kewirausahaan. Dunia bisnis adalah saluran mobilitas yang sangat dinamis. Seorang pemulung yang ulet bisa menjadi pengusaha daur ulang sukses. Seorang startup founder dengan ide cemerlang bisa menjadi miliarder dalam semalam. Saluran ini di era modern menjelma menjadi sangat kuat, terutama dengan munculnya "ekonomi kreatif" dan "ekonomi digital" yang memungkinkan siapa pun dengan koneksi internet untuk merintis bisnis.
  5. Pendidikan atau Organisasi Keahlian. Inilah yang sering disebut Sorokin sebagai "the social elevator" yang paling utama. Sekolah dan universitas berfungsi sebagai mekanisme "seleksi sosial" (social sieve) yang menyaring dan menyalurkan individu ke posisi-posisi yang sesuai dengan bakat dan kemampuannya (Sorokin, 1959, hlm. 186). Di Indonesia, pendidikan adalah saluran mobilitas yang paling didambakan. Gelar sarjana dianggap sebagai tiket untuk naik kelas sosial.
  6. Perkawinan. Menikah dengan seseorang dari kelas sosial yang lebih tinggi adalah saluran mobilitas yang telah ada lintas zaman. Dalam masyarakat modern, meskipun unsur "cinta" lebih diutamakan, perkawinan tetap bisa menjadi sarana untuk mengonsolidasikan atau meningkatkan status sosial.
  7. Warisan/Pewarisan. Saluran ini menunjukkan bahwa mobilitas tidak selalu soal prestasi. Menerima warisan kekayaan, nama besar, atau koneksi keluarga dapat langsung mendongkrak status seseorang tanpa usaha keras. Ini juga menjadi kritik terhadap meritokrasi murni, yang akan kita bahas nanti.

Sorokin menyebut proses pergerakan melalui saluran-saluran ini sebagai sirkulasi sosial (social circulation). Ini adalah mekanisme vital yang mencegah masyarakat menjadi kaku dan meledak akibat ketidakpuasan. Dengan adanya sirkulasi, "darah segar" terus mengalir ke lapisan atas, sementara mereka yang kurang kompeten bisa "turun". Namun, Sorokin dengan tajam mengingatkan bahwa fungsi saluran ini sangat bergantung pada seberapa terbuka struktur masyarakatnya.

Relevansi Sorokin di Era Digital

Sekarang, mari kita bawa Sorokin berdialog langsung dengan realitas abad ke-21. Apakah konsep-konsepnya masih ampuh? Salah satu relevansi terlihat manakala "social elevator" pendidikan mulai macet. Dari semua saluran mobilitas, pendidikan dianggap sebagai yang paling adil dan meritokratis. Teorinya sederhana: Siapa yang paling cerdas dan paling bekerja keras di sekolah, dialah yang pantas naik ke puncak. Sorokin sendiri menempatkan pendidikan sebagai "seleksi sosial" yang vital. Namun, di abad ke-21, "eskalator" ini mulai tersendat-sendat, dan dalam banyak kasus, justru memperkuat ketimpangan yang ada.

Di Indonesia misalnya, data dari berbagai riset menunjukkan bahwa kualitas pendidikan sangat timpang antara Pulau Jawa dan luar Jawa, antara kota dan desa. Anak-anak dari keluarga kaya dapat mengakses sekolah-sekolah unggulan, les tambahan, dan beragam fasilitas penunjang lainnya. Sementara itu, banyak anak dari keluarga kurang mampu, terutama di daerah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal), harus berjuang melawan keterbatasan sarana dan minimnya guru berkualitas. Akibatnya, kompetisi untuk masuk universitas negeri terbaik pun menjadi tidak setara. Seperti yang diungkapkan oleh sebuah penelitian, "pendidikan yang seharusnya menjadi jalan mobilitas vertikal justru memperkuat struktur kelas yang sudah ada" (Tribun-timur.com, 2025).

Fenomena ini bukan monopoli Indonesia. Di Amerika Serikat, misalnya, biaya kuliah yang meroket menyebabkan krisis utang mahasiswa, yang secara efektif menjadi beban seumur hidup yang menahan mobilitas vertikal mereka. Sosiolog John Goldthorpe dalam studinya tentang mobilitas sosial di Inggris bahkan menyimpulkan bahwa kebijakan pendidikan memiliki batas (limit) dalam mendorong mobilitas sosial, karena faktor latar belakang kelas sosial (seperti modal budaya dan jaringan sosial) masih sangat dominan (Goldthorpe, 2013).

Isu wabah memberikan tamparan keras. Pembelajaran jarak jauh (PJJ) yang diterapkan selama wabah, alih-alih menjembatani, justru memperlebar jurang "digital divide". Sebuah studi yang melihat fenomena ini melalui lensa teori Sorokin menyimpulkan bahwa PJJ "tidak secara tepat menjalankan fungsi penting pendidikan tinggi sebagai seleksi sosial" (Pidkurkova, 2020). Anak-anak tanpa akses internet dan gawai memadai praktis "tertinggal", menunjukkan bahwa terjadi kemunduran (mobilitas vertikal turun) yang bersifat struktural.

Relevansi lainnya adalah janji palus meritokrasi yang melahirkan "Pseudo-Meritokrasi." Sorokin tidak secara eksplisit menggunakan istilah "meritokrasi" sepopuler sekarang, tetapi gagasannya tentang "social sieve" sangat terkait. Meritokrasi menjanjikan bahwa posisi sosial didistribusikan berdasarkan merit atau prestasi. Namun, yang terjadi kini adalah munculnya apa yang bisa kita sebut "pseudo-meritokrasi".

Pseudo-meritokrasi adalah situasi di mana merit didefinisikan secara sempit dan dimanipulasi untuk melegitimasi hak istimewa kelompok yang sudah mapan. Contoh paling nyata adalah industri bimbingan belajar. Mereka yang mampu secara finansial dapat "membeli" keunggulan kompetitif dalam ujian masuk perguruan tinggi, sehingga yang lolos bukanlah yang paling cerdas secara inheren, melainkan yang paling terlatih secara instan. "Mereka yang berada di atas memandang ke bawah dengan rasa jijik, seakan kegagalan orang lain adalah aib pribadi, bukan produk struktur sosial," tulis seorang penulis mengomentari racun meritokrasi ini (Fajar.co.id, 2025). Lensa Sorokin membantu kita melihat bahwa saluran mobilitas, dalam hal ini pendidikan, telah terdistorsi dan justru melestarikan stratifikasi yang ada.

Selain itu, terdapat pula relevansi pikiran Sorokin dengan munculnya disrupsi positif di era digital yang melahirkan aneka saluran mobilitas baru. Kritik di atas bukan berarti membawa kita pada pesimisme total. Justru di era disrupsi inilah, beberapa prediksi Sorokin menemukan relevansi yang lebih membebaskan. Ekonomi digital dan platform daring telah menciptakan saluran mobilitas vertikal baru yang relatif lebih demokratis.

Ambil contoh industri konten kreator di YouTube, TikTok, atau Instagram. Seorang anak muda dari desa terpencil, dengan modal ponsel pintar dan kreativitas, bisa meraih ketenaran, pengaruh, dan pendapatan yang melampaui seorang manajer senior di perusahaan multinasional. Ini adalah mobilitas vertikal naik yang terjadi di luar saluran tradisional seperti birokrasi atau perusahaan formal.
 
Ekonomi gig (pekerjaan serabutan berbasis aplikasi) juga menunjukkan dualitas yang menarik. Di satu sisi, seorang sopir ojek online mungkin mengalami mobilitas horizontal dan bahkan vertikal turun dari pekerjaan pabrik yang lebih stabil. Namun, di sisi lain, bagi banyak orang yang sebelumnya menganggur, menjadi driver atau kurir bisa menjadi mobilitas vertikal naik dari status pengangguran menjadi pekerja dengan pendapatan mandiri. Fleksibilitas ini sejalan dengan konsep mobilitas intra-profesional Sorokin, di mana seseorang dapat bergerak secara horizontal antar pekerjaan sebelum akhirnya menemukan lintasan vertikal yang sesuai (Sorokin, 1927, hlm. 443-467).

Lebih jauh lagi, konsep mobilitas horizontal Sorokin menemukan makna yang lebih dalam di era digital. Seorang pekerja IT yang memilih menjadi "digital nomad" dan berpindah-pindah negara setiap bulan bukanlah sekadar melakukan mobilitas teritorial. Ia sedang berpartisipasi dalam mobilitas objek sosial, nilai, ide, dan praktik kerja yang dibawanya dari satu budaya ke budaya lain menciptakan difusi inovasi yang sangat cepat (Sorokin, 1927, hlm. 250-270). Virusnya tren global, musik K-Pop, atau gerakan sosial seperti MeToo adalah manifestasi dari mobilitas horizontal objek sosial dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya. Sebuah studi mutakhir menyimpulkan bahwa "aliran informasi dan kelengkapannya dapat dianggap sebagai bukti dari mobilitas objek sosial yang lebih dinamis" (Briket, 2024, hlm. 96), mengonfirmasi visi Sorokin.

Relevansi lain yang tak kalah penting adalah krisis iklim. Sorokin, meskipun tidak membahasnya secara langsung, memberikan kerangka untuk memahami fenomena pengungsian akibat bencana alam dan kerusakan lingkungan. Secara teori, peningkatan frekuensi bencana memaksa jutaan orang untuk melakukan mobilitas horisontal, berpindah tempat tinggal. Namun, realitasnya seringkali menjadi mobilitas vertikal turun yang pahit.

Petani di pesisir utara Jawa yang tanahnya terendam rob dan terpaksa pindah ke kota untuk menjadi buruh bangunan, pada dasarnya mengalami kedua jenis mobilitas tersebut: Horizontal karena pindah geografis dan profesi, dan vertikal turun karena kehilangan mata pencaharian tetap dan status sebagai pemilik lahan (mobilitas vertikal turun). Analisa Sorokin tentang fluktuasi ekonomi strata membantu kita memahami bahwa guncangan eksternal ini secara langsung merombak struktur stratifikasi dan memaksa terjadinya sirkulasi sosial yang traumatis. Ini adalah area penelitian yang sangat potensial untuk diperdalam di Indonesia, mengingat kerentanannya sebagai negara kepulauan terhadap dampak krisis iklim.

Sirkulasi Sosial di Indonesia

Indonesia adalah laboratorium yang sempurna untuk menguji teori Sorokin. Sebagai negara berkembang dengan demokrasi muda, potret mobilitas sosialnya penuh dengan kontras tajam. Apakah "sirkulasi sosial" di Indonesia berjalan lancar, atau justru tersumbat?
 
Dapat dikatakan bahwa telah terjadi mobilitas struktural di Indonesia, manakalah seluruh kelompok sosial bergerak. Salah satu kontribusi penting Sorokin adalah analisisnya tentang mobilitas yang disebabkan oleh perubahan struktural. Di sinilah letak kisah sukses sekaligus paradoks Indonesia. Program transmigrasi yang dimulai sejak era Orde Baru adalah contoh mobilitas teritorial dan sosial yang direkayasa negara. Secara teori, program ini bertujuan memindahkan penduduk dari Jawa yang padat ke luar Jawa, memberi mereka lahan, dan membuka kesempatan untuk mobilitas vertikal naik.
Penelitian tentang mobilitas sosial pada keluarga transmigrasi di Aceh Singkil memberikan gambaran yang lebih bernuansa. Studi tersebut menemukan bahwa "mobilitas sosial dominan terjadi pada generasi kedua dibandingkan dengan generasi pertama," terutama melalui saluran pendidikan (ETD Unsyiah, 2023). Artinya, efek "eskalator sosial" seringkali tidak dirasakan oleh generasi pertama yang harus berjuang membuka lahan, tetapi baru dinikmati oleh anak-cucu mereka yang berhasil mengenyam pendidikan tinggi.

Studi kasus pada bangsawan Palopo di Sulawesi Selatan menunjukkan bagaimana struktur tradisional bernegosiasi dengan modernitas. Penelitian ini menemukan adanya strategi aktif dari para bangsawan untuk mempertahankan status kebangsawanannya dengan memasuki saluran-saluran modern seperti birokrasi pemerintahan dan politik, menunjukkan bahwa saluran mobilitas tidak hanya berfungsi untuk naik, tetapi juga untuk mempertahankan posisi elite (Repository IAIN Palopo, 2025).
Di sisi lain, potret mobilitas pekerja industri menunjukkan dinamika yang berbeda. Sebuah studi di Cilegon, Banten, menemukan bahwa pekerja industri mengalami kedua bentuk mobilitas: Vertikal (kenaikan jabatan dari operator ke supervisor) dan horizontal (perpindahan antar departemen atau perusahaan tanpa perubahan status signifikan) (Repository UIN Jakarta, 2018). Ini menunjukkan bahwa dalam struktur pekerjaan modern, mobilitas intra-perusahaan adalah mekanisme kunci.

Namun, teori Sorokin juga harus dikritisi, terutama dalam konteks relasi kuasa yang timpang. Di Indonesia, saluran mobilitas tidak pernah benar-benar "netral". Kekuatan oligarki, politik uang, dan budaya patron-klien (sistem "Bapak-Anak Buah") secara sistematis mendistorsi sirkulasi sosial. Seseorang yang cerdas dan berprestasi tinggi belum tentu bisa memasuki saluran politik jika tidak memiliki modal finansial yang cukup untuk "mahar politik" atau koneksi ke elite partai. Demikian pula, dalam dunia korporasi, fenomena "orang dalam" (insider) seringkali lebih menentukan promosi jabatan ketimbang kinerja objektif. Di sinilah konsep Sorokin tentang "universalitas" mobilitas diuji: Seberapa besar peluang yang benar-benar sama bagi setiap warga negara, tanpa memandang latar belakang suku, agama, atau koneksi politiknya?

Sebagai sebuah teori klasik, pemikiran Sorokin tentu tidak lepas dari kritik. Keterbatasan inilah yang justru membuka ruang untuk pengayaan dan reformulasi.
  1. Generalisasi yang terlalu luas. Sorokin cenderung merumuskan "hukum-hukum" universal tentang fluktuasi mobilitas. Kritik dari sosiolog kontemporer adalah bahwa generalisasi semacam ini seringkali abai terhadap variasi historis dan konteks lokal yang sangat spesifik. Pola mobilitas di Eropa abad pertengahan yang dipelajari Sorokin belum tentu sama persis dengan pola di Asia Tenggara kontemporer.
  2. Konsep mobilitas horizontal yang kurang tajam. Seperti dicatat Briket (2024, hlm. 98), salah satu masalah utama dalam penelitian kontemporer adalah "membedakan mobilitas vertikal dan horizontal." Seringkali, perpindahan yang tampak horizontal sebenarnya menyimpan bibit-bibit perubahan vertikal, atau sebaliknya. Misalnya, seorang sekretaris yang pindah ke divisi strategis perusahaan mungkin belum naik jabatan secara formal, tetapi aksesnya terhadap informasi dan lingkaran kekuasaan telah meningkat secara vertikal.
  3. Kurangnya analisis interseksional. Sorokin menulis pada masa sebelum konsep interseksionalitas berkembang. Ia memperlakukan dimensi stratifikasi (ekonomi, politik, pekerjaan) secara terpisah, dan kurang menyoroti bagaimana identitas seperti gender, ras, atau etnisitas saling beririsan dan menciptakan pengalaman mobilitas yang berbeda. Di Indonesia, menjadi perempuan dari etnis minoritas dan kelas bawah jelas menciptakan hambatan mobilitas yang berlapis, sebuah dimensi yang tidak secara detail dibahas Sorokin.
  4. Terlalu fokus pada individu. Meskipun ia membahas mobilitas kelompok dan objek, unit analisis utamanya tetaplah individu. Pendekatan yang lebih kontemporer, seperti analisis jaringan sosial (social network analysis), menunjukkan bahwa mobilitas seringkali dihasilkan bukan dari aksi individu semata, melainkan dari posisi seseorang dalam jaringan relasi. Anda bisa naik jabatan bukan karena prestasi, tetapi karena Anda berteman dengan "orang yang tepat".

Meskipun demikian, keterbatasan ini tidak meniadakan nilai Sorokin. Justru dengan mengkritiknya, kita bisa memperbarui dan memperkaya teorinya. Emiliana Mangone (2018), dalam bukunya Social and Cultural Dynamics: Revisiting the Work of Pitirim A. Sorokin, menunjukkan bahwa pendekatan "integralisme" Sorokin, yang melihat perubahan sosiokultural sebagai hasil dari kombinasi kekuatan internal dan eksternal, masih sangat relevan untuk membangun analisis mobilitas yang multidimensi dan transdisipliner.

Penutup

Perjalanan kita menelusuri pemikiran Pitirim A. Sorokin telah membawa kita pada satu kesimpulan: Teorinya bukanlah artefak usang, melainkan peta jalan dinamis yang membantu kita menjelajahi lanskap sosial yang kian rumit. Dari koridor birokrasi hingga linimasa media sosial, dari ruang kuliah hingga lahan pertanian yang terendam banjir rob, jejak-jejak mobilitas vertikal dan horizontal terus membentuk ulang wajah masyarakat kita.

Sorokin mengajarkan kita bahwa mobilitas sosial adalah pedang bermata dua. Di satu sisi, ia adalah "katup pengaman" (safety valve) yang menjaga stabilitas dengan memberi harapan untuk naik kelas. Namun, di sisi lain, mobilitas yang tidak terkendali, atau sebaliknya, kemacetan total dalam sirkulasi sosial, bisa menjadi bom waktu. Ketika eskalator sosial macet karena pendidikan yang timpang, janji meritokrasi dikhianati oleh praktik oligarki, atau jutaan orang terpaksa melakukan mobilitas turun karena krisis iklim, maka yang terjadi bukanlah sekadar masalah statistik, melainkan ancaman nyata bagi kohesi sosial.

Di sinilah letak kebijaksanaan Sorokin yang paling abadi. Ia melihat mobilitas sosial bukan hanya sebagai fenomena, tetapi sebagai proyek peradaban. Masyarakat yang sehat adalah yang mampu mengelola "sirkulasi"-nya dengan cara yang manusiawi dan berkeadilan. Baginya, studi tentang mobilitas pada akhirnya adalah studi tentang derajat kemanusiaan kita.

Tantangan bagi Indonesia dan dunia saat ini adalah merancang ulang saluran-saluran mobilitas agar lebih inklusif, tanpa menciptakan turbulensi sosial yang merusak. Ini berarti menginvestasikan sumber daya besar-besaran untuk membuat "eskalator pendidikan" benar-benar berfungsi untuk semua orang. Ini berarti menciptakan ekosistem ekonomi digital yang tidak hanya melahirkan segelintir unicorn, tetapi juga memberdayakan jutaan pekerja. Ini berarti membangun jaring pengaman sosial yang kokoh agar mobilitas turun tidak selalu berarti kemiskinan ekstrem dan kehilangan martabat.

Dengan menempatkan ajaran Sorokin dalam dialog dengan realitas kontemporer, dari ketimpangan digital hingga krisis iklim, kita tidak hanya menghidupkan kembali karya klasik, tetapi juga mempertajam pisau analisis kita. Warisan terbesar Sorokin bukanlah sekadar konsep-konsepnya, melainkan pertanyaan-pertanyaan yang ia wariskan untuk kita jawab: Seberapa terbuka masyarakat kita? Ke mana saluran mobilitas mengalir? Dan, pada akhirnya, kisah perubahan status seperti apa yang ingin kita tulis bersama, demi masa depan yang lebih bermartabat? Pitirim A. Sorokin telah meletakkan fondasinya, kini saatnya kita membangun rumah keadilan sosial di atasnya.

Referensi

Briket, D. N. (2024). Horizontal mobility and possibilities of its actualization. Semiotic Research, 4(4), 94–99. https://doi.org/10.18287/2782-2966-2024-4-4-94-99

Goldthorpe, J. H. (2013). Understanding – and Misunderstanding – Social Mobility in Britain: The Entry of the Economists, the Confusion of Politicians and the Limits of Educational Policy. Journal of Social Policy, 42(4), 641–661. https://doi.org/10.1017/S0047279413000244

Mangone, E. (2018). Social and Cultural Dynamics: Revisiting the Work of Pitirim A. Sorokin. Springer. https://doi.org/10.1007/978-3-319-68309-6

Pidkurkova, I. (2020). The problem of social selection in the system of higher education in the conditions of distance learning (through the prism of Pitrim Sorokin’s theory of social mobility). Youth in Central and Eastern Europe, 7(11). https://doi.org/10.24917/20829583.11.4

Sorokin, P. A. (1927). Social mobility. Harper & Brothers.

Sorokin, P. A. (1959). Social and cultural mobility. Free Press.

Tribun-timur.com. (2025, 2 Mei). Menuju Arah Pendidikan yang Inklusif dan Kontekstual. Tribun Timur. https://makassar.tribunnews.com/2025/05/02/menuju-arah-pendidikan-yang-inklusif-dan-kontekstual

Fajar.co.id. (2025, 11 September). Pseudo-meritokrasi. Rakyat Sulsel. https://rakyatsulsel.fajar.co.id/2025/09/11/pseudo-meritokrasi/

Repository IAIN Palopo. (2025). Dinamika Stratifikasi Sosial Bangsawan Kota Palopo. https://repository.iainpalopo.ac.id

ETD Unsyiah. (2023). Mobilitas Sosial Pada Keluarga Transmigrasi (Studi Deskriptif Kuantitatif di Kecamatan Singkohor Kabupaten Aceh Singkil). https://etd.usk.ac.id

Repository UIN Jakarta. (2018). Mobilitas Sosial Pekerja Industri (Studi Atas Pekerja Industri PT Restu Enjenering Kontruksi Di Kota Cilegon). https://www.repository.uinjkt.ac.id

Posting Komentar

0 Komentar