Dengan bahasa yang mudah dicerna, esai ini akan mengupas tuntas fondasi teori Wallerstein: Bagaimana ia menolak unit analisis negara-bangsa dan menggantinya dengan sistem dunia, bagaimana ia membagi dunia ke dalam tiga zona hierarkis, inti (core), semi-pinggiran (semi-periphery), dan pinggiran (periphery), dan bagaimana mekanisme pertukaran tidak setara (unequal exchange) membuat si kaya semakin kaya dan si miskin semakin miskin. Lebih jauh, esai ini akan mendudukkan teori Wallerstein dalam konteks abad ke-21: Mulai dari perang dagang AS-Tiongkok, kebangkitan ekonomi digital, krisis lingkungan global, isu wabah, hingga posisi Indonesia yang terjebak dalam “jebakan semi-pinggiran”. Tidak ketinggalan, berbagai kritik terhadap teori ini, dari yang menuduhnya terlalu ekonomistik hingga yang mempersoalkan determinisme strukturalnya, akan dibahas secara berimbang.
Pada akhirnya, esai ini berargumen bahwa di era yang oleh banyak pihak disebut sebagai “poli-krisis” (polycrisis) ini, Teori Sistem Dunia tetap menawarkan lensa yang sangat relevan, bukan sebagai kitab suci yang sempurna, melainkan sebagai kompas moral dan analitis yang mengingatkan kita: selama kita hanya melihat “pohon” (negara masing-masing) dan mengabaikan “hutan” (sistem global), kita tidak akan pernah memahami akar ketimpangan dunia, apalagi mengatasinya.
Coba bayangkan sejenak. Anda duduk di sebuah kafe di Jakarta, menyeruput kopi Gayo espresso, sambil menggulir layar ponsel pintar buatan Korea Selatan yang prosesornya dirancang di Amerika Serikat dan dirakit di Tiongkok. Kopi Anda ditanam oleh petani di dataran tinggi Aceh, diekspor mentah-mentah ke Eropa untuk dipanggang, lalu sebagian diimpor kembali ke Indonesia dengan harga berkali-kali lipat. Anda membayar kopi itu menggunakan aplikasi dompet digital yang dikembangkan oleh perusahaan rintisan lokal, tapi dengan modal ventura dari Lembah Silikon.
Apa yang baru saja saya gambarkan bukanlah sekadar serangkaian kebetulan. Itu adalah potret mini dari apa yang oleh Immanuel Wallerstein disebut sebagai sistem dunia (world-system), sebuah jaringan ekonomi global yang terintegrasi namun secara fundamental timpang, di mana nilai, kekuasaan, dan keuntungan mengalir secara sistematis dari satu zona ke zona lainnya.
Immanuel Wallerstein
Wallerstein bukan sekadar akademisi menara gading. Lahir di New York pada 1930, ia menyaksikan sendiri bagaimana dekolonisasi pasca-Perang Dunia II melahirkan puluhan negara baru yang merdeka secara politik, tetapi tetap terbelenggu secara ekonomi. Ia menghabiskan masa mudanya mempelajari Afrika pasca-kolonial, dan dari sanalah ia mulai meragukan narasi arus utama yang populer pada masa itu: Teori modernisasi.Pada tahun 1950-an dan 1960-an, ilmu sosial arus utama, terutama yang lahir dari rahim universitas-universitas Amerika, didominasi oleh apa yang disebut teori modernisasi. Para teoritisi seperti Walt Whitman Rostow (1960) menawarkan resep yang tampak sederhana dan optimistis. Dalam bukunya yang berpengaruh, The Stages of Economic Growth, Rostow mengajukan lima tahapan pembangunan yang harus dilalui setiap negara: dari masyarakat tradisional, lepas landas (take-off), menuju kematangan (maturity), hingga akhirnya mencapai tahap konsumsi massa tinggi (high mass consumption).
Ibaratnya, sejarah adalah eskalator. Setiap negara tinggal naik, mengikuti langkah yang persis sama dengan yang pernah ditempuh Inggris, Amerika Serikat, atau Jerman. Jika ada negara yang masih miskin, itu karena mereka belum “dewasa” secara kultural atau institusional. Solusinya? Buka pasar, undang investasi asing, tiru nilai-nilai Barat, dan bersabarlah. Kemakmuran pasti datang.
Bagi Wallerstein, narasi ini bukan hanya naif, tetapi juga berbahaya secara intelektual. Mengapa? Karena ia sepenuhnya mengabaikan konteks global. Teori modernisasi memperlakukan setiap negara seolah-olah berada dalam ruang hampa, padahal kenyataannya, negara-negara itu terhubung satu sama lain dalam sebuah struktur kekuasaan dan ekonomi yang sudah mengkristal selama berabad-abad. “The unit of analysis was not the state but the modern world-system” (Wallerstein, 2011, p. 7).
Dengan kata lain, Wallerstein membalik logika modernisasi. Jangan tanya “Mengapa negara A miskin?” dalam isolasi. Namun, tanyalah, “Bagaimana posisi negara A dalam sistem global telah membuatnya miskin, sementara pada saat yang sama membuat negara B kaya?” Inilah lompatan epistemologis yang revolusioner.
Untuk memahami betapa visionernya pemikiran Wallerstein, dan betapa relevannya ia hingga hari ini, esai ini akan disusun dalam sejumlah sub analisis. Sub-sub analisis tersebut adalah fondasi teoritis Sistem Dunia, termasuk definisi, tiga zona hierarkis, dan akar intelektualnya dari Marxisme hingga Mazhab Annales. Selain itu juga akan dibahas kelahiran historis sistem ini pada “abad ke-16 yang panjang” dan bagaimana kapitalisme, menurut Wallerstein, bukanlah sistem yang “ramah” melainkan sistem yang sejak lahirnya bersifat monopolis dan eksploitatif. Sub lainnya adalah mendedahkan kerja internal sistem: Mekanisme pertukaran tidak setara, akumulasi modal, dan hegemoni siklus. Esai ini juga akan membahas posisi unik dan problematis semi-pinggiran, dan selanjutnya menghadirkan kritik-kritik utama terhadap teori ini. Kemudian esai juga akan memproyeksikan relevansi Sistem Dunia di abad ke-21, mulai dari perang dagang, kapitalisme digital, krisis iklim, hingga pandemi. Sub analisis juga akan secara khusus mendiskusikan posisi Indonesia dalam kerangka ini, disusul sintesis kritis, diskusi, dan kesimpulan.
Tujuan esai ini sama sekali bukan hendak mendewakan Wallerstein, melainkan guna menunjukkan bahwa di tengah banjir informasi dan klaim-klaim dangkal tentang globalisasi, kita memerlukan kerangka berpikir yang struktural, historis, dan kritis. Itulah yang ditawarkan Teori Sistem Dunia.
Anatomi Sistem Dunia
Langkah pertama dan paling radikal yang diambil Wallerstein adalah mendefinisikan ulang unit analisis ilmu sosial. Sejak abad ke-19, ilmu sosial, terutama sosiologi, ilmu politik, dan ekonomi, telah terperangkap dalam apa yang kemudian disebut sebagai “nasionalisme metodologis” (methodological nationalism). Asumsinya sederhana: Masyarakat sama dengan negara-bangsa. Untuk memahami kemiskinan di Nigeria, telitilah Nigeria. Untuk memahami pertumbuhan ekonomi di Jepang, telitilah Jepang.Wallerstein menolak mentah-mentah asumsi ini. Baginya, unit analisis yang tepat bukanlah negara, melainkan sistem dunia itu sendiri. Dalam World-Systems Analysis: An Introduction (2004), Wallerstein mendefinisikan world-system bukan sekadar “sistem di dunia”, melainkan:
“A world-system is a social system, one that has boundaries, structures, member groups, rules of legitimation, and coherence.” (Wallerstein, 2004, p. 23)
Sistem dunia, tegasnya, adalah sebuah realitas sosial yang terdiri dari negara-negara, perusahaan-perusahaan, rumah tangga, kelas-kelas sosial, dan kelompok-kelompok identitas yang saling terhubung (Wallerstein, 2004, p. 17). Ia adalah sebuah entitas tunggal dengan pembagian kerja (division of labor) yang terintegrasi secara geografis dan disatukan oleh pasar dunia (Oxford Bibliographies, 2019).
Hal yang paling penting, sistem dunia yang kita huni saat ini adalah sistem dunia kapitalis (capitalist world-system). Ini bukan satu-satunya sistem dunia yang pernah ada dalam sejarah manusia. Wallerstein mengidentifikasi setidaknya dua bentuk lain: Sistem mini (mini-systems) yang bersifat lokal dan subsisten, serta kerajaan dunia (world-empires) seperti Romawi atau Tiongkok kuno yang menyatukan wilayah luas melalui dominasi politik dan militer (Wallerstein, 2004, pp. 12–14).
Namun, yang membuat sistem dunia kapitalis unik adalah bahwa ia dibangun di atas ekonomi-dunia (world-economy), bukan world-empire. Artinya, wilayah geografisnya yang luas tidak disatukan oleh satu struktur politik tunggal, melainkan oleh logika akumulasi kapital tanpa henti (ceaseless accumulation of capital) yang bertahan justru karena adanya pluralitas negara di dalamnya yang saling bersaing.
Dalam pandangan Wallerstein, jika sistem dunia dianggap sebagai sebuah bangunan, maka arsitekturnya tidaklah datar. Ia adalah sebuah hierarki tiga tingkat yang menjadi jantung analisis Wallerstein.
Di satu spektrum berdirilah Negara Inti (Core). Ini adalah pusat komando perekonomian global. Negara-negara inti seperti Amerika Serikat, Jerman, Jepang, dan Inggris dicirikan oleh industrialisasi maju, teknologi tinggi, upah buruh yang relatif tinggi, birokrasi negara yang kuat, dan, yang paling krusial, kemampuan untuk memonopoli aktivitas ekonomi yang paling menguntungkan (Boundless Sociology Textbook). Mereka adalah rumah bagi perusahaan-perusahaan multinasional, pusat-pusat riset dan inovasi, serta lembaga keuangan yang mengendalikan aliran modal dunia. Secara politis, mereka memiliki negara yang kuat dan mampu melindungi kepentingan kapitalisnya di panggung global.
Di ujung lain spektrum terdapat Negara Pinggiran (Periphery) atau pinggiran seperti banyak negara di Afrika Sub-Sahara, sebagian Asia Selatan, dan Amerika Tengah. Ciri khas mereka adalah ketergantungan pada ekspor komoditas primer (bahan mentah, hasil pertanian), upah buruh yang sangat rendah, teknologi sederhana, dan negara yang relatif lemah atau mudah diintervensi oleh kekuatan asing. Fungsi utama mereka dalam sistem global adalah memasok tenaga kerja murah dan sumber daya alam, sambil menyediakan pasar bagi produk-produk jadi dari negara inti. “Peripheral countries are dependent on core countries for capital and have underdeveloped industry” (Boundless Sociology Textbook).
Di antara kedua spektrum terdapat Negara Semi-Pinggiran (Semi-Periphery). Inilah kategori yang paling menarik sekaligus paling problematis. Negara-negara semi-pinggiran, contoh klasiknya adalah Brasil, India, Indonesia, Afrika Selatan, Turki, menempati posisi antara (intermediate position). Mereka bukanlah inti, tetapi juga bukan pinggiran murni. Mereka memiliki sektor industri yang cukup maju, kelas menengah yang tumbuh, dan negara yang cukup kuat untuk menegosiasikan posisinya. Namun, mereka masih bergantung pada teknologi, modal, dan akses pasar dari negara inti. “Semi-peripheral countries share characteristics of both core and peripheral countries” (Boundless Sociology Textbook).
Fungsi utama semi-pinggiran bukan hanya ekonomi, tetapi juga politis. Wallerstein berargumen bahwa keberadaan zona tengah ini berfungsi sebagai peredam konflik (buffer zone) yang mencegah polarisasi total antara si kaya dan si miskin (Tayfur, 2018). Jika hanya ada inti dan pinggiran, kemarahan kaum tertindas akan langsung terarah ke pusat. Dengan adanya semi-pinggiran, ada harapan (meskipun seringkali ilusif) bahwa mobilitas vertikal itu mungkin. “Lihatlah Brasil! Negara itu dulu pinggiran, sekarang mulai naik. Mungkin giliran kamu berikutnya!”, narasi ini, secara sistematis, membantu menstabilkan sistem yang pada dasarnya eksploitatif (Rublik Depok, 2025).
Tabel Immanuel Wallerstein
Akar Intelektual Wallerstein
Mustahil memahami Wallerstein tanpa memahami akar intelektual yang membentuknya. Setidaknya ada tiga sumber utama pemikirannya.Pertama, Karl Marx dan tradisi Marxis. Dari Marx, Wallerstein mewarisi fokus pada akumulasi modal sebagai motor penggerak sejarah, serta konsep pertentangan kelas dan eksploitasi. Namun, Wallerstein tidak sekadar “memperbesar” analisis Marx ke skala global. Ia melakukan inovasi yang signifikan.
Dalam teori Marx klasik, kapitalisme didefinisikan oleh hubungan produksi antara pemilik modal (bourgeoisie) dan pekerja upahan (proletariat) yang berlangsung di dalam suatu negara. Wallerstein memperluas definisi ini: Kapitalisme adalah sistem yang ditandai oleh produksi untuk pertukaran di pasar dengan tujuan akumulasi tanpa henti, dan eksploitasi terjadi bukan hanya antar-kelas di dalam negara, tetapi juga antar-zona di seluruh sistem dunia (Skocpol, 2012, pp. 9–10). Sebagaimana dicatat oleh peneliti, “Marx had defined capitalism as commodity production based on wage labor. The world-system theorists have argued that modern slavery and serfdom constituted forms of peripheral capitalism” (Oxford Bibliographies, 2019).
Kedua, Mazhab Annales, khususnya sejarawan besar Prancis Fernand Braudel. Dari Braudel, Wallerstein belajar pentingnya sejarah struktural dan analisis jangka panjang (longue durée). Struktur-struktur ekonomi dan sosial, kata Braudel, berubah sangat lambat, seperti gerakan lempeng tektonik di bawah samudra peristiwa-peristiwa harian. Wallerstein menerapkan perspektif ini untuk melacak asal-usul sistem dunia kapitalis hingga abad ke-16, menunjukkan bahwa ketimpangan yang kita lihat hari ini adalah hasil dari proses akumulasi selama lima abad, bukan fenomena kontemporer (Mudzakkir, 2021).
Ketiga, semangat intelektual dan politik dari Gerakan 1968. Bukan kebetulan bahwa volume pertama The Modern World-System diterbitkan pada 1974, tidak lama setelah gelombang protes global 1968 mengguncang kemapanan akademik dan politik Barat. Perspektif Sistem Dunia “emerged during the world revolution of 1968 when social scientists contemplated the meaning of Latin American dependency theory for Africa” (Oxford Bibliographies, 2019). Di tahun-tahun itu, teori dependensi (dependencia) dari pemikir-pemikir Amerika Latin seperti Andre Gunder Frank, Fernando Henrique Cardoso, dan Theotonio Dos Santos sedang naik daun. Teori dependensi berargumen bahwa “keterbelakangan” (underdevelopment) Dunia Ketiga bukanlah kondisi asali, melainkan produk dari hubungan eksploitatif dengan negara-negara pusat. Wallerstein mengambil wawasan ini, tetapi melangkah lebih jauh: Ia menolak dikotomi sederhana “pusat-pinggiran” dan memperkenalkan kategori semi-pinggiran, serta menempatkan seluruh analisis dalam kerangka sejarah global yang lebih ambisius. Kombinasi dari ketiga sumber ini menghasilkan sebuah paradigma yang, dalam kata-kata Skocpol, “aims to achieve a clean conceptual break with theories of 'modernization'” (2012).
Setiap sistem besar lahir dari krisis sistem sebelumnya. Bagi Wallerstein, sistem dunia kapitalis lahir dari krisis feodalisme Eropa yang mencapai puncaknya pada abad ke-14 dan ke-15. Feodalisme, sebagai sistem ekonomi-politik yang didasarkan pada hubungan tuan tanah dan petani penggarap (serf), mengalami stagnasi teknologi, penurunan produktivitas tanah, wabah pes (Black Death), dan konflik kelas yang meningkat.
Menghadapi krisis ini, para elite feodal Eropa Barat tidak punya pilihan selain mencari jalan keluar. Namun, alih-alih mengintensifkan eksploitasi domestik (yang berisiko memicu pemberontakan), mereka memilih jalur ekspansi eksternal. Inilah titik awal dari apa yang oleh Wallerstein disebut “abad ke-16 yang panjang” (the long sixteenth century), yang berlangsung kira-kira dari 1450 hingga 1640. Dalam periode inilah fondasi sistem dunia kapitalis diletakkan (Wallerstein, 2011, hlm. 24–35; ).
Ekspansi maritim Portugis dan Spanyol ke Afrika, Asia, dan Amerika bukanlah sekadar petualangan heroik atau misi penyebaran agama. Ia adalah respons struktural terhadap krisis ekonomi di Eropa. Penemuan rute laut ke India dan penaklukan Amerika membuka akses ke dua hal yang sangat dibutuhkan: sumber daya alam (emas, perak, rempah-rempah, kayu) dan tenaga kerja murah (yang kemudian diorganisasikan melalui sistem encomienda dan perdagangan budak trans-Atlantik).
Di sinilah kita tiba pada salah satu argumen Wallerstein yang paling provokatif sekaligus paling sering disalahpahami: Kapitalisme sejati, dalam bentuknya yang paling murni, adalah anti-pasar. Kedengarannya paradoks? Mari kita urai.
Dalam imajinasi populer dan ajaran ekonomi neoklasik, kapitalisme identik dengan “pasar bebas”, persaingan sempurna di mana banyak penjual dan pembeli bertransaksi tanpa ada yang bisa mendikte harga. Wallerstein menolak definisi ini. Mengikuti jejak Braudel, ia membedakan antara pasar (market) dan kapitalisme (capitalism). Pasar adalah arena transaksi kecil-kecilan, tempat harga benar-benar ditentukan oleh penawaran dan permintaan. Kapitalisme, sebaliknya, adalah zona anti-pasar (anti-market), di mana para pemain besar, baik itu perusahaan multinasional maupun negara adidaya, berusaha sekuat tenaga untuk menyingkirkan persaingan dan menciptakan monopoli (atau setidaknya oligopoli) demi meraih keuntungan sebesar-besarnya.
“Capitalism is not a system of free markets but a system of monopolies,” demikian inti argumennya. Sejarah sistem dunia kapitalis, dari abad ke-16 hingga hari ini, adalah sejarah tentang bagaimana para aktor kuat, mulai dari Perusahaan Hindia Timur Belanda (VOC) abad ke-17 hingga Google dan Amazon abad ke-21, menggunakan kekuasaan politik, militer, dan teknologi untuk menciptakan dan mempertahankan keunggulan monopolistik mereka.
Pembentukan sistem dunia kapitalis tidak bisa dipisahkan dari kekerasan. Dalam volume pertama The Modern World-System, Wallerstein secara rinci menggambarkan bagaimana Eropa mengorganisasikan tiga “zona” produksi yang berbeda:
- Eropa Barat Laut (Inggris, Belanda, Prancis utara) menjadi inti (core), yang mengkhususkan diri pada produksi manufaktur bernilai tinggi, perbankan, dan perdagangan jarak jauh.
- Eropa Timur dan Amerika Latin menjadi pinggiran (periphery), yang dipaksa berspesialisasi pada produksi bahan mentah dan tanaman komersial menggunakan tenaga kerja paksa: Perbudakan di perkebunan gula Karibia dan Brasil, serta “perbudakan kedua” (second serfdom) di Polandia dan Prusia.
- Eropa Mediterania (Spanyol, Portugal, Italia utara) perlahan-lahan meluncur menjadi semi-pinggiran (semi-periphery): Mereka pernah jaya di era awal ekspansi, tetapi kemudian tertinggal oleh kekuatan-kekuatan Atlantik Utara yang lebih dinamis.
Pola ini dengan gamblang menunjukkan bahwa “keterbelakangan” Amerika Latin dan Eropa Timur bukanlah warisan dari masa pra-kapitalis yang “tradisional”. Ia adalah produk langsung dari cara mereka diintegrasikan ke dalam sistem dunia kapitalis. Perbudakan di Brasil dan perhambaan di Polandia, dalam analisis Wallerstein, bukanlah sisa-sisa feodalisme, melainkan bentuk-bentuk kapitalisme perifer yang sangat fungsional bagi akumulasi modal di pusat (Oxford Bibliographies, 2019).
Mekanisme Sistem Dunia Kapitalis
Jika ada satu konsep yang menjadi “jantung” dari Teori Sistem Dunia, itulah pertukaran tidak setara (unequal exchange). Konsep ini menjelaskan bagaimana nilai surplus (surplus value) dipompa secara sistematis dari zona pinggiran ke zona inti.Mekanismenya kira-kira begini. Pasar dunia menetapkan harga untuk komoditas yang diperdagangkan secara internasional. Negara-negara pinggiran, karena posisi tawar mereka yang lemah, terpaksa menjual produk mereka, katakanlah, kopi, tembaga, atau minyak sawit, dengan harga yang relatif rendah. Sementara itu, negara-negara inti menjual produk manufaktur berteknologi tinggi, semikonduktor, perangkat lunak, pesawat terbang, dengan harga yang sangat tinggi. Perbedaan harga ini bukan sekadar cerminan “biaya produksi” yang berbeda, melainkan cerminan dari asimetri kekuasaan. Negara inti memiliki monopoli teknologi, paten, dan akses ke modal finansial yang memungkinkan mereka mendikte syarat-syarat perdagangan (terms of trade).
Dengan demikian, dalam setiap pertukaran antara inti dan pinggiran, terjadi transfer nilai tersembunyi. Sebagian dari nilai kerja yang dihasilkan oleh buruh di perkebunan atau tambang di negara pinggiran, pada akhirnya, dinikmati oleh pemilik modal dan konsumen di negara inti.
Mekanisme kedua yang menjaga sistem ini tetap berputar adalah dorongan menuju akumulasi modal tanpa henti (ceaseless accumulation). Ini adalah “DNA” kapitalisme. Para kapitalis, secara individual maupun kolektif, terus-menerus mencari cara untuk mengakumulasi lebih banyak modal, dan sistem memberi penghargaan kepada mereka yang berhasil dan menghukum mereka yang gagal.
Namun, bertentangan dengan mitos “pasar bebas”, Wallerstein menekankan bahwa akumulasi ini tidak mungkin terjadi tanpa peran aktif negara. Negara-negara inti menggunakan kekuasaan mereka untuk:
- Melindungi pasar domestik dari persaingan asing (proteksionisme).
- Memberikan subsidi kepada industri-industri strategis nasional.
- Membangun infrastruktur (pelabuhan, jalan, jaringan komunikasi) yang menunjang akumulasi modal.
- Menggunakan kekuatan militer untuk membuka pasar baru atau mengamankan akses ke sumber daya alam.
- Menciptakan dan menegakkan rezim hak kekayaan intelektual (paten, merek dagang) yang melindungi monopoli teknologi.
Sejarah hegemoni dalam sistem dunia, dari Belanda abad ke-17, Inggris abad ke-19, hingga Amerika Serikat abad ke-20, adalah sejarah tentang bagaimana kekuatan ekonomi dan politik bergabung untuk menciptakan tatanan dunia yang menguntungkan kekuatan dominan, setidaknya untuk satu periode waktu.
Sistem dunia kapitalis, kata Wallerstein, tidak bergerak dalam garis lurus menuju kemajuan. Ia bergerak dalam siklus-siklus (cyclical rhythms) dan tren-tren sekuler (secular trends). Siklus yang paling terkenal adalah siklus Kondratiev, yaitu gelombang naik-turun ekonomi selama 50–60 tahun yang terdiri dari fase ekspansi (fase-A) dan fase stagnasi (fase-B) (Terlouw, 1992).
Setiap kali sistem memasuki fase-B (stagnasi), terjadilah pergeseran kekuatan. Para kapitalis berusaha memotong biaya, memindahkan produksi ke wilayah dengan upah lebih rendah, atau berinvestasi dalam teknologi baru. Proses ini dapat mengakibatkan bangkitnya pusat-pusat akumulasi baru dan merosotnya pusat-pusat lama. Sejarah sistem dunia modern dapat dibaca sebagai suksesi hegemoni: Dari Provinsi-provinsi Bersatu (Belanda) pada pertengahan abad ke-17, ke Inggris Raya pada pertengahan abad ke-19, dan kemudian ke Amerika Serikat pada pertengahan abad ke-20. Setiap hegemoni bersifat sementara. Pada akhirnya, biaya untuk mempertahankan imperium melampaui keuntungannya, dan kekuatan baru yang lebih efisien muncul untuk menantangnya.
Posisi Semi-Pinggiran
Kita telah menyinggung semi-pinggiran sebagai “peredam konflik”. Namun, posisi ini layak mendapat perhatian lebih karena di sinilah sebagian besar dinamika paling menarik dalam sistem dunia kontemporer terjadi.Secara struktural, semi-pinggiran adalah zona abu-abu. Negara-negara ini bukan sekadar “korban” pasif. Mereka memiliki agensi. Mereka dapat menggunakan kekuasaan negara untuk melakukan industrialisasi, menaikkan taraf hidup, dan, dalam beberapa kasus, naik kelas menuju status inti. Kisah sukses Korea Selatan dan Taiwan, yang dalam setengah abad berhasil melompat dari pinggiran menjadi (setidaknya mendekati) inti, adalah bukti bahwa mobilitas ke atas, meskipun sangat sulit, tidak mustahil.
Namun, lebih sering posisi semi-pinggiran adalah jebakan. Negara-negara ini terjebak dalam “perangkap negara berpenghasilan menengah” (middle-income trap). Mereka terlalu kaya untuk bersaing dengan negara pinggiran dalam upah rendah, tetapi terlalu miskin secara teknologi untuk bersaing dengan negara inti dalam inovasi. Akibatnya, mereka terus-menerus bergantung pada investasi asing dan ekspor komoditas setengah jadi.
Secara politis, negara semi-pinggiran seringkali menjadi ajang pertarungan proksi antara kekuatan-kekuatan inti yang bersaing. Amerika Latin selama Perang Dingin adalah contoh klasik, di mana AS dan Uni Soviet berlomba-lomba menanamkan pengaruh. Kini, kita melihat dinamika serupa di Asia Tenggara dan Afrika, di mana “Perang Dingin Baru” antara AS dan Tiongkok dimainkan.
Tidak ada teori besar yang lolos dari kritik, dan Teori Sistem Dunia adalah sasaran empuk. Berikut adalah beberapa kritik paling signifikan.
Kritik paling klasik adalah bahwa teori ini terlalu ekonomistik (overly economistic). Wallerstein dituduh mereduksi seluruh kompleksitas sejarah manusia, budaya, agama, ideologi, gender, menjadi sekadar “cerminan” dari basis material. Para kritikus dari tradisi pasca-kolonial dan studi budaya mempertanyakan: Di manakah tempat agensi manusia, resistensi sehari-hari, dan makna-makna kultural dalam skema besar Wallerstein? Benton (1996) mencatat bahwa pendekatan institusional dan teori kultural pasca-kolonial muncul sebagai tantangan serius terhadap kerangka kerja Wallerstein yang dianggap terlalu strukturalis (ERIC, 1996).
Kategori semi-pinggiran, meskipun cerdas, juga menuai kritik tajam. Bagaimana kita menentukan secara tepat negara mana yang masuk semi-pinggiran? Kriterianya seringkali terkesan ad hoc dan tumpang tindih. Para peneliti mencatat bahwa “introducing the concept of a semi-periphery… a number of problems arise, how to determine the state belonging to the semi-periphery, as well as the problem of the role of the semi-periphery in the functioning of the capitalist world-system” (Naukaru08, 2022). Apakah Indonesia, Brasil, India, dan Turki benar-benar berada dalam “posisi” yang setara secara struktural? Ataukah kategori ini terlalu luas sehingga kehilangan daya analitisnya?
Ironisnya, meskipun Wallerstein mengkritik nasionalisme metodologis, beberapa ahli hubungan internasional berpendapat bahwa ia justru meremehkan peran negara sebagai aktor independen. Dalam pandangan realis struktural seperti Kenneth Waltz, sistem internasional didefinisikan oleh anarki dan persaingan antar-negara untuk keamanan, bukan oleh logika akumulasi modal semata. Negara, dalam pandangan ini, bukanlah sekadar “komite eksekutif kaum borjuis”; ia memiliki kepentingannya sendiri yang seringkali bertentangan dengan logika kapital murni (Neliti, 2017).
Kritik fundamental lainnya menyangkut teori perubahan sosial dalam kerangka Wallerstein. Menurut sebuah kritik di jurnal International Sociology (1988), “World system theory is a theory of the world system without a system theory… This is one of the fundamental conceptual problems of world system theory: it shares this difficulty in conceptualising structure change” (Scilit, 1988). Jika sistem begitu kokoh dan mampu menyerap semua guncangan, lalu bagaimana kita bisa membayangkan transisi menuju sistem yang lebih adil? Wallerstein sendiri belakangan meramalkan bahwa sistem kapitalis sedang menuju krisis struktural yang tidak akan terselesaikan dan akan digantikan oleh sesuatu yang lain, tapi apa “sesuatu” itu dan bagaimana kita bisa sampai ke sana, tetap menjadi titik terlemah dalam teorinya.
Para akademisi feminis menunjukkan bahwa analisis Wallerstein hampir sepenuhnya buta gender. Shelley Feldman, dalam esainya untuk The Anthem Companion to Immanuel Wallerstein (2023), mengeksplorasi bagaimana kerja-kerja reproduksi dan domestik, yang secara tidak proporsional ditanggung oleh perempuan, merupakan fondasi tersembunyi dari sistem dunia kapitalis, tetapi absen dari analisis Wallerstein (el-Ojeili & Hayden, 2023). Kerja mengasuh anak, mengurus rumah tangga, dan kerja-kerja perawatan (care work) yang tidak dibayar atau dibayar rendah telah lama menjadi “subsidi tersembunyi” bagi akumulasi kapital, dan teori yang mengklaim sebagai “analisis total” tidak bisa lagi mengabaikannya.
Pikiran Wallerstein dan Dunia Kiwari
Meskipun lahir setengah abad yang lalu, Teori Sistem Dunia menunjukkan vitalitas yang mengejutkan dalam menjelaskan berbagai fenomena kontemporer.Ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat dan Tiongkok yang meletus sejak 2018 adalah ilustrasi sempurna dari fase kemunduran hegemoni. Wallerstein meramalkan bahwa kemunduran AS sebagai kekuatan hegemonik adalah keniscayaan struktural. Dalam sebuah artikel (2025), para peneliti mencatat bahwa “contemporary systemic instabilities within the capitalist world-system are marked by the intensification of economic competition [and] geopolitical rivalries... reflecting historical patterns of systemic chaos during prior hegemonic transitions” (CORE UK, 2025). Kebangkitan Tiongkok, perang dagang, dan tren proteksionisme global bukanlah “kegilaan sesaat”, melainkan gejala klasik dari sistem dunia yang sedang bergolak karena sebuah kekuatan baru menantang tatanan lama.
Di abad ke-21, wajah kapitalisme global semakin ditentukan oleh platform digital dan ekonomi data. Pada pandangan pertama, ini adalah dunia yang sama sekali baru. Namun, dari perspektif Sistem Dunia, kapitalisme digital hanyalah babak terbaru dari cerita lama. “Platform or digital capitalism [attempts] to monopolize market access,” demikian catatan Friedrich Lenger dalam jurnal Socio (2021). Perusahaan seperti Google, Apple, dan Amazon beroperasi persis seperti para kapitalis monopolis era sebelumnya: Mereka menggunakan teknologi, hak kekayaan intelektual, dan kekuatan pasar untuk menciptakan “tembok” yang mencegah pesaing masuk, sekaligus mengekstraksi nilai dari pengguna dan pekerja di seluruh dunia (Dellsystem, 2019).
Relevansi yang lebih menarik adalah bagaimana kapitalisme digital menciptakan bentuk baru pertukaran tidak setara. Negara-negara inti, tempat perusahaan-perusahaan teknologi itu bermarkas, memonopoli fase riset, desain, dan “ekstraksi data”, sementara negara-negara pinggiran dan semi-pinggiran menjadi lokasi ekstraksi bahan mentah (lithium, kobalt) dan “pekerjaan kasar digital” (digital piecework) seperti moderasi konten dan pelabelan data, yang dilakukan oleh buruh berupah rendah di belahan bumi Selatan.
Krisis iklim telah menjadi “medan pembuktian” utama bagi relevansi Teori Sistem Dunia. Penelitian terbaru menunjukkan korelasi kuat antara posisi suatu negara dalam sistem dunia dan emisi karbon dioksidanya, serta kerentanannya terhadap dampak perubahan iklim. Paul Prew (2010) menemukan bahwa “there is a strong relationship between carbon dioxide emissions and position in the world-economy” (JWSR, 2010). Negara-negara inti adalah penghasil emisi karbon terbesar secara historis, sementara negara-negara pinggiran, yang paling sedikit berkontribusi pada krisis ini, justru paling rentan terhadap bencana iklim seperti kekeringan, banjir, dan badai.
Sebuah artikel konseptual terbaru bahkan mengintegrasikan Teori Sistem Dunia dengan gerakan degrowth (de-growth). Artikel itu berargumen bahwa “an ecological rendering of world-systems theory can clarify some of the most important quandaries of the degrowth movement in regards to global justice, decolonialism, [and] the excessive material throughput of the Global North” (Scholarworks, 2023). Singkatnya, Anda tidak bisa menyelesaikan krisis iklim tanpa membongkar hierarki inti-pinggiran dalam ekonomi politik global.
Isu wabah sering digambarkan sebagai “penyamarataan yang dahsyat” (the great equalizer). Virusnya memang tidak peduli paspor. Namun, konsekuensinya sangat peduli. Akses terhadap vaksin, kapasitas sistem kesehatan, kemampuan negara untuk memberikan stimulus ekonomi, semuanya sangat timpang dan mencerminkan hierarki inti-pinggiran secara persis.
Kelly F. Austin, dalam The Anthem Companion to Immanuel Wallerstein (2023), menggunakan perspektif Sistem Dunia untuk memahami pandemi. Negara-negara inti mampu mengamankan pasokan vaksin, menggelontorkan stimulus triliunan dolar, dan melindungi rakyatnya secara relatif lebih baik. Sementara itu, banyak negara pinggiran menghadapi kehancuran ekonomi akibat lockdown tanpa jaring pengaman sosial yang memadai, dengan sistem kesehatan yang sudah bobrok sebelum pandemi melanda (el-Ojeili & Hayden, 2023, Bab 10).
Wallerstein selalu menaruh perhatian pada gerakan-gerakan anti-sistemik (anti-systemic movements). Dalam analisisnya, gerakan-gerakan ini, dari gerakan buruh abad ke-19, gerakan dekolonisasi abad ke-20, hingga gerakan alter-globalisasi dan keadilan iklim abad ke-21, adalah respons dialektis terhadap kontradiksi sistem. Menariknya, beberapa studi kontemporer menghubungkan kembali Teori Sistem Dunia dengan momen kebangkitan gerakan populis dan anti-sistemik di seluruh dunia. “World System Theory suggests structural systemic crisis triggers anti-systemic movements as 'struggles of imagination' for a different world,” catat sebuah artikel (eScholarship, 2025), menghubungkan kerangka Wallerstein dengan ledakan kemarahan publik terhadap ketimpangan dan kegagalan neoliberalisme. Kekuatan lobi Zionis di Amerika Serikat dipandang sebagai pemicu politik luar negeri AS yang agresif, ekspansif, dan eksploitatif.
Indonesia Sang Semi-Pinggiran
Mari kita “pulangkan” teori ini ke Indonesia. Menggunakan kerangka Wallerstein, di manakah posisi Indonesia? Jawaban singkatnya: Indonesia adalah semi-pinggiran klasik.Lihatlah struktur ekonomi Indonesia. Data Bank Dunia menunjukkan bahwa lebih dari 40% ekspor Indonesia masih berupa bahan mentah atau produk olahan rendah (Rublik Depok, 2025). Indonesia adalah pengekspor utama batu bara, minyak sawit, dan nikel, semuanya komoditas primer. Pada saat yang sama, Indonesia mengimpor barang modal, mesin-mesin canggih, dan komponen elektronik dari Tiongkok, Jepang, dan Jerman. Ini adalah pola klasik hubungan perdagangan semi-pinggiran: Mengekspor komoditas setengah jadi, mengimpor teknologi tinggi.
Namun, bukan berarti pasrah. Ambisi Indonesia untuk “naik kelas” dari semi-pinggiran menuju inti adalah narasi yang nyata. Kebijakan hilirisasi yang digencarkan oleh pemerintah, yang paling terkenal adalah larangan ekspor bijih nikel mentah pada 2020, adalah contoh buku teks dari upaya negara semi-pinggiran untuk menggunakan kekuasaannya guna meningkatkan posisi dalam rantai nilai global.
Apakah berhasil? Hasilnya ambivalen. Di satu sisi, investasi masif Tiongkok di kawasan industri Morowali telah berhasil meningkatkan nilai tambah ekspor nikel hingga berkali-kali lipat (Rublik Depok, 2025). Indonesia kini mengekspor stainless steel dan bahan baku baterai kendaraan listrik, bukan sekadar bijih mentah. Ini adalah lompatan yang patut dicatat. Namun, di sisi lain, proses ini menciptakan ketergantungan baru: Ketergantungan pada modal, teknologi, dan tenaga kerja asal Tiongkok. Ekonomi politik kawasan industri Morowali menunjukkan ciri-ciri “daerah kantong” (enclave) yang terintegrasi secara vertikal dengan ekonomi Tiongkok namun terisolasi dari ekonomi lokal sekitarnya. Apakah ini “naik kelas” atau hanya “ganti majikan”? Pertanyaan ini harus diajukan dengan jujur.
Pencapaian Indonesia dalam pembangunan sosial juga penuh kontradiksi. Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), yang sering disebut sebagai sistem asuransi kesehatan universal terbesar di dunia, adalah kebanggaan yang sah. Namun, ia juga menghadapi masalah ketimpangan regional dan keberlanjutan finansial yang akut (Rublik Depok, 2025). Ini adalah ciri khas semi-pinggiran: Cukup kuat untuk membangun institusi negara kesejahteraan, tetapi terlalu lemah untuk membiayainya secara mandiri dan merata.
Setelah menelusuri fondasi, sejarah, mekanisme, kritik, dan aplikasi kontemporer dari Teori Sistem Dunia, tibalah kita pada refleksi yang lebih dalam. Kekuatan utama Teori Sistem Dunia terletak pada kemampuannya untuk menyediakan peta. Di tengah arus informasi yang membanjiri kita setiap hari, berita tentang perang dagang, krisis iklim, lonjakan harga pangan, kebangkrutan negara, teori ini menawarkan semacam GPS intelektual yang menghubungkan semua titik-titik itu ke dalam satu sistem tunggal. Ia mengingatkan kita bahwa krisis di satu tempat seringkali diciptakan oleh “kesuksesan” di tempat lain.
Bagi negara-negara Global South, teori ini juga menawarkan validasi. Ia memberi bahasa untuk menjelaskan mengapa kemerdekaan politik tidak otomatis membawa kemerdekaan ekonomi. Ia menjelaskan mengapa kerja keras saja tidak cukup jika posisi struktural kita dalam sistem global sudah “diprogram” untuk tidak menguntungkan.
Di sisi lain, kita harus jujur tentang kelemahan teori ini. Stigmatisasi sebagai “deterministik” dan “fungsionalis” tidak sepenuhnya salah. Ada nada pesimisme yang kuat dalam tulisan-tulisan Wallerstein. Kadang-kadang, ia menulis seolah-olah sistem dunia adalah mesin raksasa yang bergerak dengan logika besinya sendiri, dan para aktor manusia, apakah itu pengusaha, buruh, negarawan, atau aktivis, hanya menjalankan peran yang sudah ditentukan oleh posisi mereka dalam mesin tersebut.
Selain itu, analisis budaya dalam Teori Sistem Dunia tetap merupakan tambal sulam. Konsep geokultur (geoculture) yang diperkenalkan Wallerstein untuk menjelaskan dimensi ideologis dari sistem dunia, yaitu, bagaimana liberalisme sentris menjadi ideologi dominan yang menopang sistem, memang brillian. Tapi ia tidak cukup kuat untuk menjelaskan kebangkitan politik identitas, nasionalisme agama, atau perang budaya yang kini merobek jalinan sosial di banyak negara, baik di utara maupun selatan.
Lalu, ke mana arah Teori Sistem Dunia? Para penerus intelektual Wallerstein terus mengembangkannya. The Anthem Companion to Immanuel Wallerstein (2023) adalah bukti bahwa percakapan ini masih hidup. Area-area baru seperti ekologi politik, studi gender, kesehatan global, dan dekolonialitas mulai diintegrasikan ke dalam kerangka Sistem Dunia (el-Ojeili & Hayden, 2023). Ini adalah perkembangan yang menggembirakan. Sebuah teori besar hanya akan bertahan jika ia mampu berevolusi, mengakui kelemahannya, dan berdialog dengan kritik-kritiknya. Teori Sistem Dunia sedang dalam proses itu.
Lalu, ke mana arah Teori Sistem Dunia? Para penerus intelektual Wallerstein terus mengembangkannya. The Anthem Companion to Immanuel Wallerstein (2023) adalah bukti bahwa percakapan ini masih hidup. Area-area baru seperti ekologi politik, studi gender, kesehatan global, dan dekolonialitas mulai diintegrasikan ke dalam kerangka Sistem Dunia (el-Ojeili & Hayden, 2023). Ini adalah perkembangan yang menggembirakan. Sebuah teori besar hanya akan bertahan jika ia mampu berevolusi, mengakui kelemahannya, dan berdialog dengan kritik-kritiknya. Teori Sistem Dunia sedang dalam proses itu.
Penutup
Esai ini telah membawa kita dalam sebuah perjalanan panjang: Dari krisis feodalisme di Eropa abad ke-14 hingga perang dagang AS-Tiongkok di abad ke-21. Di sepanjang perjalanan itu, satu pesan utama Wallerstein terus bergema: Dunia adalah satu sistem. Ketimpangan dan kemiskinan yang kita saksikan bukanlah sekadar “masalah lokal” yang bisa diselesaikan dengan resep-resep parsial seperti bantuan luar negeri, reformasi birokrasi, atau “pemberantasan korupsi” semata. Ia adalah produk sistemik dari cara kerja kapitalisme global yang, secara inheren, menguntungkan segelintir pihak dengan mengorbankan banyak pihak.Apakah ini berarti kita harus putus asa? Sama sekali tidak. Justru dengan memahami logika sistem, kita bisa mengidentifikasi celah-celah dan kontradiksi-kontradiksinya. Gerakan buruh, gerakan petani, gerakan perempuan, gerakan lingkungan, gerakan masyarakat adat, semuanya adalah “ganjalan” dalam mesin besar sistem dunia. Jika mesin itu suatu hari nanti berhenti dan digantikan oleh sesuatu yang lebih adil, itu bukan karena mesinnya rusak sendiri, melainkan karena cukup banyak orang yang memahami cara kerjanya dan memilih untuk melawannya.
Menutup esai ini, kita patut mengingat bahwa Immanuel Wallerstein sendiri, hingga akhir hayatnya pada 2019, tetap mendedikasikan diri untuk memikirkan kemungkinan-kemungkinan transisi tersebut. Baginya, ilmu sosial bukanlah sekadar alat untuk menafsirkan dunia, melainkan juga, meminjam tesis XI Marx tentang Feuerbach, alat untuk mengubahnya. Di era “poli-krisis” sekarang ini, kita membutuhkan lebih banyak lagi pemikiran dengan ambisi seperti itu: Pemikiran yang berani melihat “hutan” (sistem global), bukan hanya “pohon” (negara masing-masing), dan yang tidak takut untuk membayangkan sebuah tatanan dunia yang lebih setara, lebih berkelanjutan, dan lebih manusiawi.
Referensi
Benton, L. (1996). From the world-systems perspective to institutional world history: Culture and economy in global theory. Journal of World History, 7(2), 261–295.Boundless Sociology. (n.d.). World-Systems Theory. Lumen Learning. https://library.snls.org.sz/
CORE UK. (2025). Rethinking "world wars" through a world-systems lens: A relational and contextual approach. https://core.ac.uk/
CORE UK. (2025). Rethinking "world wars" through a world-systems lens: A relational and contextual approach. https://core.ac.uk/
el-Ojeili, C., & Hayden, P. (Eds.). (2023). The Anthem Companion to Immanuel Wallerstein. Anthem Press.
eScholarship. (2025). Exploring the “next system” after neoliberalism: A political social network analysis. https://escholarship.org/
Kuran, İ. (2024). Are dependency theory and modern world-system analysis relevant today? Politik Ekonomik Kuram.
Lenger, F. (2021). Wallerstein on early modern capitalism and global inequality: A reevaluation. Socio, (14), 49–70.
Mudzakkir, A. (2021, Januari 21). Globalisasi dan sistem dunia Immanuel Wallerstein. LIPI Indonesia. https://lipindonesia.com/
Naukaru08. (2022). Core-periphery relations in world-system analysis: Political aspects. Institute of Philosophy of RAS. https://naukaru08.ru/
Oxford Bibliographies. (2019, November 26). World-System Theory. https://www.oxfordbibliographies.com/
Prew, P. (2010). World-economy centrality and carbon dioxide emissions: A new look at the position in the capitalist world-system and environmental pollution. Journal of World-Systems Research, 16(2), 162–191.
Rostow, W. W. (1960). The Stages of Economic Growth: A non-communist manifesto. Cambridge University Press.
Rublik Depok. (2025, November 4). Wallerstein ungkap ketimpangan global: Indonesia semi-periferi. Pikiran Rakyat Depok. https://depokraya.pikiran-rakyat.com/
Scholarworks. (2023). Integrating degrowth and world-systems theory: Toward a research agenda. Perspectives on Global Development & Technology. https://scholarworks.merrimack.edu/
Scilit. (1988). A critique of world system theory. International Sociology. https://www.scilit.net/
Skocpol, T. (2012). Wallerstein's world capitalist system: A theoretical and historical critique. In T.
Skocpol, Social Revolutions in the Modern World (Chapter 2). Cambridge University Press. (Karya asli diterbitkan 1994)
Tayfur, F. (2018). World-system analysis and the concept of semiperiphery. In Semiperiphery (Chapter 1). Taylor & Francis.
Terlouw, C. P. (1992). The regional geography of the world-system: External arena, periphery, semiperiphery, core. Nederlandse geografische studies, 144.
Wallerstein, I. (2004). World-Systems Analysis: An Introduction. Duke University Press.
Wallerstein, I. (2011). The Modern World-System I: Capitalist agriculture and the origins of the European world-economy in the sixteenth century (With a new prologue). University of California Press. (Karya asli diterbitkan 1974)


https://orcid.org/0000-0002-1420-4288
0 Komentar
Silakan tulis komentar Anda.