Dengan menggunakan pendekatan kualitatif berbasis studi pustaka dan analisis dokumen, artikel ini menunjukkan bahwa transisi demokrasi Indonesia tidak menghasilkan pemerintahan mayoritas sebagaimana diidealkan oleh teori demokrasi liberal, melainkan reproduksi dan konsolidasi kelas politik yang semakin terpusat.
Temuan utama artikel ini meliputi: (1) keberlanjutan struktur oligarki pasca-Orde Baru melalui adaptasi institusional; (2) peran kekayaan bergerak (mobile wealth) sebagai basis superioritas kelas politik kontemporer; (3) kecenderungan dislokasi kekuatan lama dan kemunculan kekuatan baru yang dikendalikan oleh logika koalisi kartel; dan (4) fenomena "kabinet gemuk" serta kooptasi partai politik sebagai manifestasi mutakhir dari konsolidasi kelas politik Mosca.
Melalui dialog antara teori Mosca, literatur oligarki kontemporer (Winters, Hadiz, Robison), dan pemikiran politik Islam (Ibn Khaldun, al-Mawardi), artikel ini menawarkan kerangka analitis baru untuk memahami paradoks demokrasi Indonesia: semakin inklusif prosedur elektoral, semakin terpusat dan tertutup sirkulasi elit yang sesungguhnya.
https://orcid.org/0000-0002-1420-4288
0 Komentar
Silakan tulis komentar Anda.