Ad Code

Moses Hess dari Rabbi Komunis ke Bapak Zionisme

Pada tahun 1961, sebuah peti mati seng yang telah terkubur selama 86 tahun di Köln, Jerman, diangkat dari peristirahatannya. Jenazah di dalamnya dibawa melintasi benua dan dimakamkan kembali di tepi Danau Galilea, di Kinneret, sebuah kibbutz, simbol kolektivisme sosialis di Tanah Israel yang baru lahir. Di nisannya terpatri kalimat yang merangkum paradoks kehidupannya: "Penulis Rome and Jerusalem, bapak pendahulu sosialisme dunia, dan pewarta negara Israel" (Weiß 7). Jenazah itu adalah Moses Hess, seorang pemikir yang hidupnya terbelah di antara dua arus ideologi besar yang akan membentuk abad ke-20: komunisme dan Zionisme.

Pemindahan jenazah Hess pada 1961 bukanlah sekadar tindakan simbolis penghormatan. Tindakan itu sendiri adalah peristiwa politik yang sarat makna kolonial. Sebagaimana dicatat oleh sejarawan Assaf Shelleg, pemindahan jenazah para pemikir Zionis awal ke tanah Israel adalah bagian dari "proyek teritorialisasi ingatan" yang bertujuan membangun legitimasi historis bagi klaim Yahudi atas Palestina (Shelleg 89). Dengan menguburkan Hess di Kinneret, negara Israel yang baru berusia 13 tahun itu sedang melakukan klaim genealogis: bahwa Zionisme bukanlah proyek kolonial abad ke-20, melainkan pemenuhan takdir historis yang telah dirintis oleh para pemikir abad ke-19. Namun, klaim genealogis semacam ini justru mengungkap ketegangan yang tak terselesaikan dalam proyek Zionis itu sendiri, ketegangan yang telah ada sejak awal dalam pemikiran Hess.

Moses Hess, mentor Karl Marx yang beralih dari komunisme ke Zionisme. Analisis kritis pascakolonial atas warisannya bagi Palestina.

Hess adalah sosok anomali. Dijuluki "Rabbi Komunis" (The Communist Rabbi) karena latar belakangnya dan dedikasinya pada gerakan sosialis, ia justru lebih dikenang sebagai "Bapak Zionisme Buruh" (Weiss 11). Namun, jauh sebelum ia menyerukan kebangkitan nasional Yahudi, Hess adalah arsitek intelektual yang meletakkan fondasi bagi pemikiran Karl Marx. Tulisan ini berargumen bahwa perjalanan intelektual Hess, dari sosialisme universal ke nasionalisme partikular, bukanlah pengkhianatan terhadap cita-cita emansipatoris, melainkan upaya untuk memperluas dan mengoreksi universalisme sosialis agar mampu menjawab persoalan penindasan etnis yang diabaikan oleh Marx. Namun, pada saat yang sama, kritik pascakolonial menuntut kita untuk mengakui bahwa solusi yang ditawarkan Hess bagi "pertanyaan Yahudi" justru melahirkan "pertanyaan Palestina" yang hingga kini belum terselesaikan. Hess adalah jembatan yang terlupakan antara dua gerakan pembebasan yang kerap dipandang bertentangan, tetapi jembatan itu sendiri dibangun di atas fondasi yang retak: kegagalan untuk melihat bangsa lain yang juga tertindas.


"Spinozis Muda" dan Pertemuan dengan Marx


Hess lahir pada 21 Januari 1812 di Bonn, dari keluarga Yahudi Ortodoks. Kakeknya mengajarinya Alkitab dan Talmud, namun Hess muda justru melarikan diri dari ortodoksi religius menuju filsafat sekuler (Avineri, Moses Hess 7-9). Pada 1837, dengan nama pena Ein Jünger Spinozas ("Seorang Murid Spinoza"), ia menerbitkan karya pertamanya, Die heilige Geschichte der Menschheit (Sejarah Suci Umat Manusia) (Hess, Holy History 1). Buku ini adalah traktat sosialis pertama yang terbit di Jerman, dan ia mensintesiskan etika Yahudi-Kristen melalui lensa filsafat Spinoza menuju masyarakat ideal yang sosialis (Avineri, "Introduction" ix).

Yang menarik, bahkan dalam karya awal ini, Hess sudah menunjukkan kepedulian pada dimensi etis dan spiritual dari pembebasan manusia. Ia tidak memandang sosialisme semata-mata sebagai persoalan ekonomi, melainkan sebagai rekonstruksi moral umat manusia yang berakar pada warisan profetik Yahudi. Dalam kerangka ini, Hess meyakini bahwa "sejarah suci umat manusia" bergerak menuju "kerajaan Allah di bumi", sebuah masyarakat tanpa eksploitasi dan penindasan (Hess, Holy History 45). Inilah benih yang kelak membedakannya dari materialisme Marx: bagi Hess, sosialisme adalah panggilan etis, bukan sekadar hasil logis dari kontradiksi material.

Pada awal 1840-an, Hess bergabung dengan lingkaran radikal "Hegelian Muda" di Köln. Di sanalah, pada September 1841, ia bertemu dengan Karl Marx, seorang pemuda berusia 23 tahun. Hess, yang saat itu berusia 29 tahun, langsung terpesona. Dalam suratnya kepada Berthold Auerbach, ia menulis dengan penuh antusiasme:

"Dr. Marx, demikian nama idola saya, adalah seorang pemuda yang amat belia … Bayangkan Rousseau, Voltaire, Lessing, Heine, dan Hegel disatukan dalam satu pribadi, saya katakan disatukan, bukan dicampur aduk begitu saja, maka Anda akan mendapatkan Dr. Marx" (Weiß 28).

Hess-lah yang pertama kali memperkenalkan Marx pada gagasan komunisme secara sistematis. Sebagai salah satu pendiri dan editor Rheinische Zeitung, Hess adalah yang paling radikal di lingkaran redaksi (Weiß 31). Sejarawan Volker Weiß mencatat, "Dapat diasumsikan bahwa Marx dalam perdebatannya dengan Hess untuk pertama kalinya bersentuhan secara lebih mendalam dengan ide komunisme" (28). Hess juga disebut-sebut sebagai orang yang "mengonversi" Friedrich Engels dari posisi Hegelian muda menuju komunisme (Avineri, Moses Hess 23).

Namun, di balik kekaguman itu, sudah ada perbedaan mendasar yang mengintip. Hess tetap seorang humanis religius yang percaya bahwa sosialisme harus berakar pada etika cinta kasih dan solidaritas kemanusiaan. Marx, sebaliknya, mulai bergerak menuju materialisme ilmiah yang menolak landasan etis-idealistis semacam itu. Perbedaan ini bukan sekadar soal gaya berpikir; ia menyangkut pertanyaan fundamental: apakah pembebasan manusia dicapai melalui transformasi moral atau melalui perubahan struktural? Jawaban yang berbeda atas pertanyaan ini akan membawa keduanya ke jalan yang berseberangan.


Perpecahan: Utopia versus "Ilmiah"


Perpecahan antara Hess dengan Marx dan Engels mencapai puncaknya pada paruh kedua 1840-an dan bersifat fundamental. Hess adalah perwakilan utama dari apa yang disebut Der wahre Sozialismus ("Sosialisme Sejati"), sebuah varian sosialisme etis yang menekankan cinta kasih, solidaritas kemanusiaan, dan transformasi moral, ketimbang perjuangan kelas dan revolusi kekerasan (Koltun-Fromm 45).

Marx dan Engels memandang "Sosialisme Sejati" Hess sebagai utopia yang berbahaya karena mengalihkan perhatian dari konflik material yang nyata. Dalam Manifesto Komunis (1848), mereka melancarkan serangan sengit terhadapnya, meskipun tanpa menyebut nama Hess secara eksplisit. Mereka mengejeknya sebagai "kaum sosialis borjuis" yang ingin "mencapai sosialisme tanpa perjuangan kelas, melalui cara-cara yang damai dan reformasi kecil-kecilan" (Marx dan Engels 38).
Untuk memahami kedalaman perpecahan ini, kita perlu melihat perbedaan filosofis antara keduanya secara lebih rinci.


Perbandingan Fondasi Filosofis: Etika versus Materialisme


Perbedaan paling mendasar antara Hess dan Marx terletak pada antropologi filosofis mereka, pemahaman tentang hakikat manusia dan sumber keterasingannya.

Hess berangkat dari tradisi humanisme Spinozis dan Hegelian kiri. Baginya, manusia adalah makhluk yang pada dasarnya sosial dan berakal budi, tetapi telah teralienasi dari esensinya oleh institusi-institusi yang menindas: properti pribadi, negara, dan agama yang dilembagakan. Solusinya adalah rekonstruksi etis: manusia harus menyadari kembali hakikat sosialnya dan menciptakan institusi-institusi yang selaras dengan kesadaran itu (Koltun-Fromm 52). Dalam kerangka ini, sosialisme adalah proyek pendidikan moral sekaligus proyek politik.

Hess menulis dalam The Essence of Money (1845):

"What God is to man, money is to the individual man. Money is the alienated wealth of mankind, the externalized ability of all men" (Hess, Holy History 98).

Terjemahan:

Apa arti Tuhan bagi manusia, maka itulah arti uang bagi individu. Uang adalah kekayaan umat manusia yang telah tercerabut dari dirinya sendiri, kemampuan kolektif kita yang berubah menjadi kekuatan asing di luar kendali kita.

Kutipan ini menunjukkan bahwa bagi Hess, keterasingan manusia terjadi terutama dalam kesadaran, manusia menyembah uang sebagaimana ia dahulu menyembah Tuhan, tanpa menyadari bahwa keduanya adalah proyeksi dari dirinya sendiri. Oleh karena itu, pembebasan sejati adalah pembebasan kesadaran.

Kalimat ini ditulis oleh Moses Hess dalam bukunya The Essence of Money (1845). Di sini Hess ingin menyampaikan gagasan yang dalam dan cukup radikal untuk zamannya. Pertama, Uang Bekerja Seperti "Tuhan". Hess membandingkan uang dengan Tuhan. Maksudnya bukan dalam arti agama, tetapi dalam arti kekuasaan yang disembah dan ditakuti oleh manusia. Dahulu, manusia menggantungkan harapan, rasa aman, dan makna hidupnya kepada Tuhan. Sekarang, di masyarakat modern, banyak orang menggantungkan harapan, rasa aman, dan makna hidupnya kepada uang. Uang menjadi pusat kehidupan, seakan-akan punya kekuatan mutlak: bisa menyelamatkan, bisa menghukum, bisa mengubah nasib.

Kedua, Uang Sebenarnya Milik Kita, Tapi Terasa Asing. Hess berkata bahwa uang itu sebenarnya adalah kekayaan umat manusia yang teralienasi (tercerabut, terasing). Artinya begini: Uang tidak punya nilai dari dirinya sendiri. Uang hanya punya nilai karena manusia yang bekerja, berproduksi, dan bersepakat memberinya nilai. Jadi, uang itu sebenarnya adalah hasil kerja dan kemampuan manusia. Tapi anehnya, setelah uang itu lahir dari tangan manusia, ia berbalik menguasai manusia. Kita merasa kecil, takut, dan tunduk di hadapan uang, padahal kitalah yang menciptakannya. Ini seperti cerita tentang boneka yang dibuat oleh dalang, tapi kemudian boneka itu malah mengendalikan dalangnya.
 
Ketiga, Apa Itu "Alienasi" atau Keterasingan? Ini konsep penting yang juga dipakai oleh Karl Marx. Alienasi berarti: Sesuatu yang sebenarnya berasal dari diri kita, tetapi kemudian terpisah dari kita, lalu berbalik menindas kita. Contoh sederhana: 1) Kamu bekerja keras menghasilkan barang; 2) Barang itu dijual, menghasilkan uang; 3) Uang itu lalu mengatur hidupmu: apa yang boleh dan tidak boleh kamu lakukan, bahkan menentukan harga dirimu di mata orang lain. Padahal uang itu ya dari kamu juga.
Hess ingin bilang: manusia lupa bahwa dirinyalah pemilik sejati dari kekuatan sosial itu. Mengapa Ini Penting? Pernyataan Hess ini penting karena: 1) Menjelaskan kritik terhadap kapitalisme dengan bahasa yang filosofis dan spiritual; 2) Membedakan pendekatannya dengan Karl Marx: Hess menekankan kesadaran dan moral (kita harus sadar dulu bahwa uang itu berhala), Marx menekankan struktur ekonomi (kita harus ubah sistemnya, bukan cuma kesadarannya); 3) Menjadi dasar dari gagasan sosialisme etis Hess, bahwa pembebasan sejati dimulai dari perubahan cara pandang manusia, bukan sekadar perubahan sistem politik atau ekonomi.
 
Marx, sebaliknya, menolak antropologi filosofis yang abstrak. Baginya, esensi manusia tidak dapat didefinisikan di luar konteks material dan historisnya. Dalam Theses on Feuerbach (1845), Marx menulis:

"The essence of man is no abstraction inherent in each single individual. In its reality it is the ensemble of the social relations" (Marx, "Theses" 143).

Terjemahan:

Esensi manusia itu bukan sesuatu yang abstrak yang menempel pada tiap individu secara sendiri-sendiri. Kenyataannya, esensi manusia adalah kumpulan dari hubungan-hubungan sosial yang melingkupinya.

Kalimat ini ditulis oleh Karl Marx dalam Theses on Feuerbach (1845). Di sini Marx sedang mengkritik cara pandang filsafat lama tentang manusia, dan menawarkan cara pandang baru yang lebih konkret dan historis.

Pertama, Apa Itu "Esensi Manusia"? Kata "esensi" artinya hakikat atau inti dasar dari sesuatu. Contohnya: Esensi air adalah H₂O; Esensi api adalah panas dan pembakaran. Lalu apa esensi manusia? Nah, di sinilah para filsuf berbeda pendapat. Sebagian filsuf lama bilang: esensi manusia itu sesuatu yang sudah bawaan lahir, seperti: 1) Manusia pada dasarnya makhluk yang egois; 2) Manusia pada dasarnya makhluk sosial; 3) Manusia pada dasarnya bebas. Mereka menganggap sifat-sifat ini melekat pada setiap individu sejak lahir, seperti bakat atau takdir. Marx menolak pandangan ini. Menurutnya, itu terlalu abstrak, terlalu "melayang di udara".

Kedua, "Bukan Abstraksi yang Melekat pada Individu." Maksud Marx begini: Tidak ada "manusia murni" yang bisa dilepaskan dari lingkungannya. Kamu tidak bisa bicara tentang "manusia pada dasarnya" tanpa melihat: 1) Di mana dia lahir?; 2) Dalam masyarakat seperti apa dia dibesarkan?; 3) Apa pekerjaan orang tuanya?; 4) Bagaimana sistem ekonominya?; 5) Bagaimana budayanya memperlakukan dia? Menurut Marx, semua itu membentuk siapa dirimu. Jadi, tidak ada esensi manusia yang bersifat "abstrak" dan "menempel" pada setiap individu secara terpisah.

Ketiga, Manusia = Kumpulan Hubungan Sosial. Marx lalu memberi jawaban yang lebih konkret: Esensi manusia adalah kumpulan hubungan sosialnya. Artinya, kamu adalah hasil dari relasi-relasi sosialmu. Contoh sederhana: 1) Kamu tidak lahir sebagai "pemikir kritis". Kamu menjadi pemikir kritis karena dididik oleh guru tertentu, dipengaruhi oleh buku tertentu, atau terlibat dalam diskusi tertentu; 2) Kamu tidak lahir sebagai "pekerja keras". Kamu dibentuk oleh tuntutan keluargamu, kondisi ekonominya, dan tekanan dari lingkunganmu; 3) Kamu tidak lahir sebagai "pribadi yang santun". Kamu dibentuk oleh cara orang tuamu berbicara, cara masyarakatmu menghargai sopan santun, dan sebagainya. Singkatnya: manusia tidak pernah sendirian. Kita selalu berada dalam jaringan hubungan, dengan keluarga, teman, tempat kerja, kelas sosial, bangsa, agama, dan seterusnya. Jaringan inilah yang membentuk kita.
Keempat, mengapa ini penting? Karena kalau manusia dibentuk oleh hubungan sosial, maka untuk mengubah manusia, kamu harus mengubah hubungan sosialnya. Ini berbeda dengan cara pandang moralis yang bilang: “"Ayo jadi orang baik"; "Ayo sadar, jangan serakah."

Marx bilang itu tidak cukup. Selama sistem sosial dan ekonominya tetap kapitalistis, yang menghargai keuntungan pribadi dan eksploitasi, maka manusia tetap akan terdorong untuk serakah dan kompetitif, tidak peduli seberapa banyak nasihat moral yang diberikan. Jadi, untuk membebaskan manusia, kita harus mengubah struktur hubungan sosialnya, bukan sekadar mengubah kesadaran pribadinya.
Bagi Marx, keterasingan bukanlah terutama masalah kesadaran, melainkan realitas material, manusia teralienasi dari produk kerjanya, dari aktivitas kerjanya sendiri, dan dari sesama manusia karena struktur kapitalisme. Oleh karena itu, pembebasan tidak dapat dicapai melalui perubahan kesadaran, melainkan melalui revolusi struktural yang mengubah hubungan-hubungan produksi.

Perbedaan ini memiliki implikasi politik yang besar. Bagi Hess, sosialisme dapat dicapai melalui persuasi moral dan pendidikan, melalui penciptaan komunitas-komunitas alternatif yang menunjukkan jalan menuju masa depan. Bagi Marx, pendekatan semacam itu adalah utopia yang naif; kapitalisme hanya dapat dijatuhkan melalui perjuangan kelas yang revolusioner.


Perbandingan Pandangan tentang Agama dan Yahudi


Perbedaan kedua yang tak kalah penting adalah pandangan keduanya tentang agama pada umumnya dan Yudaisme pada khususnya.

Marx memandang agama sebagai "candu rakyat" (das Opium des Volks), sebuah ilusi yang menghibur kaum tertindas tanpa mengubah kondisi material mereka (Marx, "Contribution" 131). Dalam esainya On the Jewish Question (1844), Marx bahkan lebih keras lagi. Ia mengkritik Bruno Bauer yang menuntut agar kaum Yahudi melepaskan agama mereka sebagai syarat emansipasi politik. Namun, alih-alih membela kaum Yahudi, Marx justru mereduksi Yudaisme menjadi metafora untuk semangat kapitalis: "Money is the jealous god of Israel, in face of which no other god may exist" (Marx, "Jewish Question" 50). "Uang adalah tuhan yang cemburu bagi Israel, yang di hadapannya tidak boleh ada tuhan lain." Kalimat ini ditulis oleh Karl Marx dalam esainya On the Jewish Question (1844). Kalimat ini sangat kontroversial dan sering dianggap mengandung unsur antisemitisme. Mari kita bedah maknanya, konteksnya, dan mengapa ia bermasalah.

Dari mana kalimat ini berasal? Marx menulis esai ini sebagai tanggapan terhadap perdebatan tentang emansipasi (pembebasan) orang Yahudi di Jerman pada masa itu. Temannya, Bruno Bauer, berpendapat bahwa orang Yahudi harus melepaskan agama mereka dulu sebelum bisa mendapat hak-hak politik yang setara. Marx tidak setuju dengan Bauer, tapi bukan karena dia membela agama Yahudi. Marx justru memakai argumen yang lain: menurutnya, persoalan "Yahudi" bukan soal agama, tapi soal uang dan kapitalisme. Dan di sinilah dia memakai bahasa yang tajam dan bermasalah.

Kemudian, apa maksud “uang adalah Tuhan yang cemburu bagi Israel?” Marx sedang meminjam bahasa agama monoteistik (yang percaya pada satu Tuhan) untuk mengkritik kapitalisme. Dalam agama Yahudi, ada ajaran bahwa Tuhan adalah Tuhan yang cemburu, artinya umat tidak boleh menyembah tuhan lain selain Dia. Nah, Marx memutar baliknya: dia bilang bahwa dalam masyarakat modern, uang telah menggantikan posisi Tuhan. Uang menjadi "tuhan" yang disembah, dan "tuhan" ini juga cemburu, artinya uang menuntut kesetiaan penuh, tidak boleh ada nilai lain yang lebih tinggi. Dengan kata lain, Marx sedang bilang bahwa dalam dunia kapitalis, orang Yahudi (dan sebenarnya semua orang) sudah tidak lagi menyembah Tuhan agama, melainkan menyembah uang.

Kenapa kalimat ini dianggap antisemit? Masalahnya, Marx tidak memakai kata "Israel" atau "Yahudi" secara netral. Ia mengaitkan sifat khas Yahudi dengan uang dan perdagangan. Ini adalah stereotip lama yang sudah dipakai oleh orang-orang Eropa untuk membenci dan mendiskriminasi orang Yahudi selama berabad-abad. Meskipun niat Marx sebenarnya adalah mengkritik kapitalisme, bukan menghina orang Yahudi, tetap saja bahasanya ikut melanggengkan prasangka buruk. Banyak sejarawan dan filsuf, termasuk Edward Said, mengkritik Marx karena dalam esai ini ia gagal membedakan antara agama Yahudi yang nyata dengan karikatur "Yahudi" sebagai simbol pedagang uang.

Bagi Marx, pertanyaan Yahudi adalah pertanyaan tentang emansipasi politik universal; jika negara melepaskan diri dari semua agama, maka pertanyaan Yahudi akan terselesaikan dengan sendirinya.
Dalam konteks yang lebih besar bagaimana pandangan Marx dengan emansipasi Yahudi. Sebenarnya, dalam esai yang sama, Marx juga menolak pandangan bahwa emansipasi politik cukup untuk membebaskan orang Yahudi. Ia bilang:
"Emansipasi orang Yahudi, seperti juga emansipasi seluruh umat manusia, hanya mungkin melalui penghapusan total esensi praktis dari Yudaisme, yaitu perdagangan dan prasyarat-prasyaratnya."

Artinya, Marx ingin menghapus kapitalisme, dan dengan itu dia pikir "pertanyaan Yahudi" akan selesai dengan sendirinya. Tapi caranya tetap bermasalah: dia mereduksi Yudaisme menjadi sekadar "semangat kapitalis" dan mengabaikan pengalaman nyata orang Yahudi sebagai korban penindasan.

Pelajaran yang dapat kita petik dari bahasan ini adalah bahwa bahkan pemikir besar seperti Marx bisa terjebak dalam prasangka zamannya. Ini juga menunjukkan bahwa kritik terhadap sistem ekonomi tidak boleh mengorbankan martabat kelompok tertentu. Bagi kaum awam, intinya: 1) Jangan meniru gaya bahasa Marx yang mengaitkan agama atau etnis tertentu dengan uang. Itu stereotip berbahaya; 2) Kritik terhadap kapitalisme boleh dan perlu, tapi harus adil dan tidak memakai cap negatif pada satu kelompok; 3) Sejarah pemikiran penuh dengan contoh pemikir hebat yang juga punya sisi gelap. Kita perlu kritis dan dewasa dalam membacanya.
 
Posisi Marx ini menunjukkan universalisme abstrak yang menjadi ciri khas pemikirannya. Ia menolak memberikan perhatian khusus pada penindasan terhadap orang Yahudi sebagai orang Yahudi, karena baginya semua penindasan berakar pada struktur ekonomi yang sama. Namun, kritik pascakolonial dan feminis telah menunjukkan bahwa universalisme semacam ini sering kali justru menyembunyikan kekhususan pengalaman kelompok-kelompok tertindas. Sebagaimana ditulis oleh Edward Said dalam Orientalism:

"The universalizing discourses of modern Europe and the United States, to say nothing of their political and economic practices, assume the silence, willing or otherwise, of the non-European world" (Said, Orientalism 33).

Terjemahan:

Cara pandang Eropa modern dan Amerika Serikat yang mengklaim nilai-nilai mereka berlaku universal untuk semua orang, apalagi praktik politik dan ekonomi mereka, selalu menganggap diamnya dunia non-Eropa sebagai hal yang wajar, entah diam itu terjadi karena terpaksa atau karena sukarela.

Mari kita bedah kalimat ini pelan-pelan. Kalimat ini ditulis oleh Edward Said dalam bukunya yang sangat terkenal, Orientalism (1979). Buku ini menjadi salah satu fondasi utama dari apa yang sekarang disebut kajian pascakolonial, cabang ilmu yang mempelajari dampak kolonialisme terhadap cara berpikir, berpengetahuan, dan berkuasa.

Pertama, apa itu "universalizing discourses"? Kata discourse (wacana) artinya cara berbicara, cara berpikir, dan cara menggambarkan dunia yang sudah menjadi kebiasaan dalam suatu masyarakat. Kata universalizing artinya mengklaim sesuatu berlaku untuk semua orang di semua tempat. Jadi, universalizing discourses adalah: Cara pandang Eropa dan Amerika yang menganggap bahwa nilai-nilai, standar, dan kebenaran versi mereka adalah kebenaran untuk seluruh umat manusia. Contohnya: 1) "Demokrasi adalah sistem terbaik untuk semua bangsa"; 2) "Kemajuan berarti mengikuti jalan yang sudah ditempuh Barat"; 3) "Hak asasi manusia versi kami adalah standar yang harus dipakai semua orang"; dan 4) "Ilmu pengetahuan modern adalah satu-satunya cara untuk memahami dunia." Nada bicaranya seolah-olah semua itu netral dan alami, padahal sebenarnya lahir dari sejarah dan budaya tertentu, yaitu Eropa dan Amerika.

Kedua, "to say nothing of" = apalagi. Ini ungkapan bahasa Inggris yang artinya "apalagi" atau "belum lagi". Maksud Said begini: Bahkan cara berbicara mereka saja sudah bermasalah. Apalagi tindakan nyata mereka, invasi, penjajahan, eksploitasi ekonomi, pemaksaan sistem politik, dll. Itu jauh lebih bermasalah. Jadi, Said sedang menyindir: kalau ucapannya saja sudah menganggap dunia non-Eropa tidak punya suara, bagaimana dengan perbuatannya?

Ketiga, "assume the silence" = menganggap diam sebagai hal yang wajar. Ini inti dari kritik Said. Eropa dan Amerika menganggap remeh suara dunia non-Eropa. Ketika mereka berbicara tentang "kemanusiaan", "peradaban", "kemajuan", mereka tidak pernah benar-benar bertanya:
"Apa pendapat orang-orang Asia, Afrika, Timur Tengah, atau Amerika Latin tentang semua ini?"

Mereka menganggap bahwa dunia non-Eropa itu diam, tidak punya pendapat, tidak punya pengetahuan, tidak punya sesuatu yang penting untuk dikatakan. Dunia non-Eropa hanya dianggap sebagai objek yang dibicarakan, bukan subjek yang ikut berbicara.

Keempat, "willing or otherwise" = entah karena terpaksa atau sukarela. Said menambahkan catatan penting: diamnya dunia non-Eropa itu bisa karena dua hal: 1) Diam karena terpaksa, mereka dibungkam oleh kekuasaan kolonial. Kalau melawan, mereka dihukum, dijajah, atau dibunuh; 2) Diam karena terlanjur percaya, setelah sekian lama dijajah, banyak orang di dunia non-Eropa akhirnya menginternalisasi pandangan penjajah. Mereka merasa pendapatnya sendiri tidak berharga, tidak ilmiah, tidak modern, dan akhirnya memilih diam atau meniru Barat. Dua-duanya sama-sama dianggap wajar oleh Barat. Barat tidak merasa perlu bertanya kenapa dunia non-Eropa diam. Mereka sudah nyaman dengan diam itu.

Kelima, kenapa ini penting? Karena Said sedang membongkar akar dari ketidakadilan global yang sering tidak terlihat. Kita sering mengira kolonialisme sudah berakhir. Padahal, menurut Said, kolonialisme bukan cuma soal tentara dan penjajahan fisik. Ia juga hidup dalam: 1) Cara kita berpikir tentang "kemajuan"; 2) Cara kita menilai pengetahuan mana yang "benar"; 3) Cara kita menganggap suara siapa yang penting; 4) Cara media Barat menggambarkan dunia Timur sebagai terbelakang, aneh, atau berbahaya. Inilah yang disebut Said sebagai Orientalisme: cara Barat membangun citra tentang "Timur" (Orient) sebagai sesuatu yang inferior, pasif, dan butuh diselamatkan.

Keenam, contoh sederhana dalam kehidupan kita. Bayangkan sebuah rapat internasional tentang perubahan iklim. Negara-negara Barat datang dengan data ilmiah, rencana kebijakan, dan kerangka kerja. Negara-negara Selatan, yang justru paling terdampak, jarang diberi ruang untuk berbicara dengan bahasa dan cara mereka sendiri. Kalau mereka bicara pun, suaranya sering dianggap "tidak ilmiah", "terlalu emosional", atau "tidak relevan". Itulah yang dimaksud Said. Suara non-Eropa dianggap sudah diam, padahal mereka sering kali berbicara, hanya tidak didengarkan.

Hess, sebaliknya, memulai dari pengalaman partikular penindasan Yahudi dan menolak untuk meleburkannya ke dalam narasi universal. Baginya, emansipasi politik formal yang ditawarkan oleh liberalisme, dan yang diamini oleh Marx, tidak cukup karena penindasan terhadap Yahudi bukan hanya soal struktur ekonomi, melainkan juga soal identitas etnis dan budaya. Hess menulis:

"The race struggle is the primal struggle, and the class struggle is secondary" (Hess, Rome and Jerusalem 5).

Terjemahan:

Perjuangan ras adalah perjuangan yang paling mendasar, sedangkan perjuangan kelas hanyalah nomor dua.

Kalimat ini ditulis oleh Moses Hess dalam bukunya Rome and Jerusalem (1862). Ini adalah salah satu kalimat paling penting dan paling kontroversial dari Hess, karena di sini ia secara terang-terangan membalik prioritas yang selama ini dipegang oleh Karl Marx dan kaum sosialis pada umumnya. Mari kita bedah pelan-pelan.

Pertama, apa itu “perjuangan kelas.” Ini adalah konsep utama dalam pemikiran Karl Marx. Perjuangan kelas artinya: Konflik antara kelompok masyarakat yang berbeda berdasarkan posisi ekonominya. Dalam masyarakat kapitalis, ada dua kelas utama: 1) Borjuis: pemilik modal, pabrik, tanah, alat produksi, dan 2) Proletar: buruh atau pekerja yang hanya punya tenaga untuk dijual.

Kedua, apa itu "perjuangan ras"? Hess memakai kata "ras" di sini, tetapi dalam konteks abad ke-19, kata itu lebih dekat maknanya dengan bangsa atau etnis, bukan ras dalam pengertian biologis yang kaku. Perjuangan ras artinya: Konflik antara kelompok bangsa atau etnis yang satu dengan yang lain. Contoh yang paling nyata bagi Hess adalah: 1) Bangsa Jerman (mayoritas, berkuasa) menindas bangsa Yahudi (minoritas, tertindas) dan 2) Bangsa-bangsa Eropa menjajah bangsa-bangsa di Asia, Afrika, dan Timur Tengah. Hess menyaksikan sendiri bahwa meskipun kapitalisme dikritik habis-habisan oleh kaum sosialis, kebencian terhadap orang Yahudi tidak hilang. Bahkan di kalangan sosialis sendiri, antisemitisme masih ada. Artinya, penindasan terhadap orang Yahudi bukan semata-mata soal ekonomi; ada lapisan kebangsaan dan identitas yang lebih dalam.

Ketiga, apa sesungguhnya maksud Hess dalam kutifan di atas? Hess ingin bilang:
"Marx salah. Konflik paling dasar dalam sejarah manusia bukan konflik antara buruh dan majikan. Konflik yang paling dalam adalah konflik antara bangsa yang menindas dan bangsa yang ditindas."


Dengan kata lain: Sebelum orang berpikir sebagai "pekerja", dia sudah lebih dulu dianggap sebagai "orang Yahudi", "orang Arab", "orang kulit hitam", dan seterusnya. Identitas etnis dan nasional lebih kuat dan lebih mendasar daripada identitas kelas. Oleh karena itu, perjuangan pembebasan nasional (misalnya Zionisme untuk Yahudi) tidak bisa ditunda sampai revolusi sosialis dunia datang. Itu harus diperjuangkan sekarang, sebagai prioritas utama.

Keempat, kenapa masalah kutifan Hess ini jadi kontroversial? Karena ini adalah pukulan langsung terhadap Marx dan seluruh tradisi sosialis. Marx bilang:

"Fokuslah pada perjuangan kelas. Kalau kapitalisme sudah tumbang, semua bentuk penindasan lain, termasuk penindasan rasial, akan hilang dengan sendirinya."

Hess membalas:

"Tidak. Penindasan rasial dan etnis punya akarnya sendiri. Kalau orang Yahudi menunggu revolusi proletar dunia, mereka akan punah dulu sebelum revolusi itu datang."

Jadi, Hess memilih mendahulukan pembebasan bangsa Yahudi daripada menunggu pembebasan seluruh umat manusia lewat revolusi sosialis.

Kelima, terdapat sisi gelap dari argumen ini. Nah, di sinilah kritik pascakolonial masuk. Hess benar bahwa penindasan etnis dan rasial itu nyata dan tidak bisa direduksi menjadi sekadar masalah ekonomi. Tetapi, ketika ia memprioritaskan "perjuangan ras" bangsa Yahudi, ia menjadi buta terhadap bangsa lain yang juga tertindas, yaitu bangsa Arab Palestina.

Hess menganggap tanah Palestina sebagai "tanah kosong" yang menunggu bangsa Yahudi. Ia tidak melihat bahwa di sana sudah ada bangsa Arab yang hidup dan berakar. Jadi, perjuangan pembebasan yang ia canangkan untuk bangsanya sendiri justru menjadi penindasan baru bagi bangsa lain.

Keenam, pelajaran yang bisa kita tarik dari aneka konsekuensi pendapat Hess ini ada tiga. Pertama, penindasan itu berlapis-lapis. Manusia bisa tertindas sebagai pekerja, sebagai orang miskin, sebagai perempuan, sebagai kelompok etnis, sebagai pemeluk agama tertentu, semuanya sekaligus. Tidak bisa disederhanakan hanya pada satu faktor. Kedua, jangan mengorbankan satu kelompok demi kelompok lain. Perjuangan pembebasan yang hanya memikirkan nasib kelompok sendiri dan menutup mata pada penderitaan kelompok lain akan melahirkan penindasan baru. Ketiga, kritik terhadap Marx juga perlu.
Marx hebat dalam melihat ketidakadilan ekonomi, tapi ia lemah dalam memahami ketidakadilan rasial, etnis, dan kolonial. Hess mengingatkan kita akan hal itu, meskipun solusinya sendiri juga bermasalah.
Marx percaya bahwa sejarah manusia pada dasarnya adalah sejarah perjuangan kelas. Semua konflik besar, perbudakan, feodalisme, kapitalisme sebenarnya adalah pertarungan antara kelas yang menindas dan kelas yang ditindas. Dan solusi akhirnya adalah revolusi proletar yang akan menghapus kelas-kelas itu selamanya.

Dalam kerangka ini, Hess justru lebih dekat dengan para pemikir pascakolonial seperti Frantz Fanon yang menekankan bahwa pembebasan dari penindasan kolonial dan rasial memiliki logikanya sendiri yang tidak dapat direduksi menjadi perjuangan kelas. Fanon menulis:

"The analysis of colonial society reveals that the challenge of the colonized world is not to promote a universal abstract humanism, but to create its own path toward liberation" (Fanon 12).

Terjemahan:

Analisis terhadap masyarakat kolonial menunjukkan bahwa tantangan terbesar bagi dunia yang terjajah bukanlah mempromosikan humanisme universal yang abstrak, melainkan menciptakan jalannya sendiri menuju pembebasan.

Namun, di sinilah paradoksnya: Hess yang membela partikularitas Yahudi justru buta terhadap partikularitas bangsa lain, yaitu bangsa Arab Palestina yang akan terdampak oleh proyek Zionisnya.
Jika kita merujuk pada pendapat Frantz Fanon di atas, maka kalimat tersebut ditulis oleh Frantz Fanon, seorang psikiater dan filsuf asal Martinik yang menjadi salah satu pemikir paling berpengaruh dalam gerakan dekolonisasi dan kajian pascakolonial. Kutipan ini berasal dari bukunya yang terkenal, The Wretched of the Earth (1961). Terdapat sejumlah pendapat kunci dari Fanon yang relevan dengan tulisan mengenai Hess ini.
 
Pertama apa itu “masyarakat kolonial”? Masyarakat kolonial adalah masyarakat yang terbentuk di bawah sistem kolonialisme yaitu ketika satu bangsa menguasai, menjajah, dan mengeksploitasi bangsa lain. Dalam masyarakat kolonial, ada dua kelompok besar: 1) Penjajah (kolonialis): Bangsa yang datang dan menguasai tanah, sumber daya, dan penduduk setempat, dan 2) Terjajah (koloni): Bangsa yang tanahnya diambil, budayanya direndahkan, dan ekonominya dikendalikan oleh penjajah. Fanon menekankan bahwa masyarakat kolonial bukan sekadar masyarakat yang dikuasai secara militer, tetapi juga dikuasai secara mental dan budaya. Orang yang terjajah diajarkan bahwa dirinya lebih rendah, bodoh, biadab, dan tidak beradab.

Kedua, apa itu “humanisme universal abstrak”? Humanisme adalah pandangan yang menekankan nilai, martabat, dan potensi manusia sebagai manusia. Humanisme universal berarti: Pandangan bahwa semua manusia, di mana pun, pada dasarnya sama, dan karena itu layak diperlakukan dengan standar yang sama. Kedengarannya bagus, bukan? Tapi Fanon dan banyak pemikir pascakolonial melihat masalah besar di dalamnya. Masalahnya ada pada kata abstrak. Humanisme universal yang abstrak adalah humanisme yang: 1) Mengabaikan kenyataan konkret bahwa ada penjajah dan ada yang terjajah; 2) Mengabaikan perbedaan sejarah, kekuasaan, dan penderitaan, dan 3) Menggunakan bahasa-bahasa indah seperti "kemanusiaan" dan "persaudaraan universal", tetapi tetap membiarkan penjajahan berlangsung. Fanon menangkap kemunafikan ini. Penjajah sering kali bicara tentang "kemanusiaan", "peradaban", dan "kemajuan", tetapi pada saat yang sama mereka membunuh, merendahkan, dan mengeksploitasi bangsa yang dijajah. Jadi, bagi Fanon, humanisme abstrak itu seperti: "Kita semua manusia, jadi mari bersaudara. Tapi kamu tetap di bawah, saya tetap di atas."

Ketiga, apa yang dimaksud dengan “menciptakan jalan sendiri menuju pembebasan?” Ini inti dari pesan Fanon. Dia berkata: bangsa yang terjajah tidak perlu meniru jalan Barat. Mereka tidak perlu menunggu penjajah memberi mereka "hadiah kemanusiaan". Mereka harus menemukan dan menciptakan cara mereka sendiri untuk merdeka. Mengapa harus jalan sendiri? Karena: 1) Jalan Barat sudah terbukti menghasilkan kolonialisme dan penindasan; 2) Nilai-nilai universal yang ditawarkan Barat sering kali hanya kedok untuk kepentingan mereka sendiri, dan 3) Setiap bangsa punya sejarah, budaya, dan konteks yang berbeda. Maka, solusinya juga harus berbeda. Fanon bahkan lebih radikal: ia percaya bahwa dalam konteks kolonial, kekerasan untuk melawan penjajah adalah sah. Baginya, penjajah tidak akan pergi dengan sendirinya hanya karena diajak bicara tentang "kemanusiaan". Bangsa yang terjajah harus merebut kemerdekaannya, karena kemerdekaan tidak pernah diberikan cuma-cuma oleh penjajah.

Keempat, mengapa penulis panjang nian membahas pendapat Fanon ini? Pertama, karena kutipan ini menjadi salah satu pukulan telak terhadap kolonialisme yang menyamar sebagai "misi peradaban".
Penjajah bilang: "Kami datang untuk membangun kalian, mendidik kalian, dan membuat kalian maju." Fanon membalas: "Kalian datang untuk menguasai, mengeksploitasi, dan merendahkan kami. Jangan bicara soal kemanusiaan di depan kami." Kedua, universalisme palsu yang menyembunyikan kekuasaan. Barat bilang: "Nilai-nilai kami berlaku universal untuk semua." Fanon membalas: "Kalian memaksakan nilai-nilai itu sambil menindas kami. Itu bukan universal, itu dominasi." Ketiga, kaum intelektual terjajah yang gemar meniru Barat. Sebagian orang dari bangsa terjajah berpikir: "Agar maju, kita harus meniru Barat sepenuhnya." Fanon membalas: "Tidak. Kita harus menemukan jalan sendiri. Kalau kita meniru penjajah, kita hanya menjadi budak yang berpakaian rapi."

Kelima, penulis akan sajikan contoh sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Bayangkan ada sebuah komunitas adat yang tanahnya diambil oleh perusahaan besar. Lalu datang aktivis dari kota yang bilang: "Kalian harus berjuang lewat jalur hukum internasional dan kampanye media global. Itu cara yang paling benar dan universal." Mungkin Fanon akan bertanya: "Apakah cara itu lahir dari kebutuhan dan budaya komunitas itu sendiri? Atau itu cara yang dipaksakan dari luar? Siapa yang menentukan 'cara paling benar'?" Bagi Fanon, bangsa atau komunitas yang tertindas harus merumuskan sendiri strategi perjuangannya. Mereka boleh belajar dari orang lain, tapi keputusan akhir dan jalannya harus lahir dari kesadaran dan kebutuhan mereka sendiri.

Keenam, dengan demikian ada sejumlah pelajaran yang bisa kita tarik dari kutifan Fanon di atas. Pertama, jangan mudah terpesona oleh kata-kata indah seperti "kemanusiaan universal" jika di baliknya masih ada ketidakadilan nyata. Kedua, setiap bangsa dan komunitas punya hak untuk menentukan nasibnya sendiri. Pembebasan tidak boleh dipaksakan dari luar, apalagi oleh kelompok yang pernah menindas. Ketiga, keadilan yang sejati tidak bisa diseragamkan. Apa yang cocok untuk satu bangsa belum tentu cocok untuk bangsa lain. Maka, jalan menuju keadilan juga harus beragam. Keempat, berpihaklah pada yang tertindas, bukan pada yang tampak "paling universal". Jangan sampai kita memakai bahasa "kemanusiaan" untuk meredam jeritan mereka yang tertindas.


Kebangkitan Kesadaran Nasional: Rome and Jerusalem dan Awal Mula "Pertanyaan Palestina"


Titik balik besar dalam hidup Hess terjadi pada 1862 dengan penerbitan karyanya yang paling berpengaruh, Rom und Jerusalem, die letzte Nationalitätsfrage (Roma dan Yerusalem: Pertanyaan Kebangsaan Terakhir). Buku ini menandai "kepulangannya" pada Yudaisme dan akar nasionalnya, yang selama ini ia tekan di bawah bayang-bayang sosialisme universalis (Koltun-Fromm 43). Hess menyatakan bahwa ia telah menjadi seorang ba'al t'shuvah, seorang "peniten" yang kembali ke akar spiritualnya (Abelman).

Di tengah gelombang kebangkitan nasionalisme Eropa, Hess menyaksikan bahwa asimilasi Yahudi telah gagal total. Antisemitisme bukanlah sekadar prasangka usang yang akan lenyap oleh modernitas, melainkan fenomena yang mengakar dan tak terhindarkan. Dalam Rome and Jerusalem, ia menulis:

"Bahkan jika seorang Yahudi berpindah agama menjadi Kristen, kebencian terhadap keyahudiannya tetap tidak akan pernah bisa dihapus. Hidung Yahudi tidak akan pernah bisa direformasi" (Hess, Rome and Jerusalem 61).

Yang membuat argumen Hess lebih dalam daripada sekadar reaksi terhadap antisemitisme adalah kerangka filosofisnya. Ia berargumen bahwa bangsa adalah organisme historis yang nyata, bukan sekadar kontrak politik artifisial. Dalam hal ini ia dipengaruhi oleh pemikiran Johann Gottfried Herder dan Hegel, tetapi juga oleh gerakan Risorgimento Italia. Ia melihat perjuangan Mazzini dan Garibaldi untuk menyatukan Italia sebagai model bagi kebangkitan nasional Yahudi (Avineri, Moses Hess 101). Kesimpulannya radikal: kaum Yahudi adalah sebuah bangsa (Volk), bukan sekadar komunitas agama, dan mereka harus memiliki tanah air sendiri di Palestina (Avineri, Moses Hess 112).

Namun, yang sering dilupakan, dan yang menjadi fokus kritik pascakolonial, adalah bagaimana Hess memahami tanah Palestina dan penduduknya. Dalam Rome and Jerusalem, Hess menulis:

"The land of the Patriarchs is waiting for its children to return to it. It is a land without a people, waiting for a people without a land" (Hess, Rome and Jerusalem 45).

Terjemahan:
 
Tanah para leluhur sedang menunggu anak-anaknya untuk kembali. Ini adalah tanah tanpa rakyat, yang sedang menunggu bangsa yang tak punya tanah.

Kalimat ini ditulis oleh Moses Hess dalam bukunya Rome and Jerusalem (1862). Kutipan ini menjadi salah satu kalimat paling terkenal, dan paling bermasalah, dalam sejarah awal Zionisme. Mari kita bedah makna dan dampaknya secara jernih.

Penulis perlu sajikan konteks mengapa Hess melontarkan kutifan di atas. Pada abad ke-19, orang Yahudi di Eropa mengalami penindasan dan pengucilan yang luar biasa. Mereka tidak punya negara sendiri, tersebar di berbagai negeri, dan sering dijadikan kambing hitam atas masalah sosial dan ekonomi.
Hess, yang sebelumnya adalah pendukung gagasan asimilasi, bahwa orang Yahudi cukup berbaur dan beradaptasi dengan masyarakat Eropa, akhirnya berubah pikiran. Ia menjadi yakin bahwa orang Yahudi tidak akan pernah benar-benar diterima di Eropa. Satu-satunya jalan keluar adalah kembali ke tanah leluhur mereka, yaitu Palestina, dan mendirikan tanah air sendiri di sana. Maka, Hess menulis kalimat yang sedang kita bahas ini sebagai ungkapan harapan dan keyakinan bahwa: 1) Tanah Palestina sedang "menunggu" kedatangan kembali orang Yahudi, dan 2) Orang Yahudi adalah "bangsa tanpa tanah" yang sedang mencari rumah.

Lalu apa yang Hess maksud sebagai Tanah Leluhur? Ini merujuk pada Palestina, yang dalam tradisi Yahudi disebut Eretz Yisrael (Tanah Israel). Menurut kitab suci dan tradisi, tanah ini dijanjikan oleh Tuhan kepada Abraham dan keturunannya. Hess memakai istilah "tanah para leluhur" untuk membangkitkan ikatan emosional dan spiritual antara orang Yahudi modern dengan nenek moyang mereka yang dulu pernah tinggal di sana ribuan tahun silam.

Pernyataan "tanah tanpa rakyat" (land without a people) adalah salah satu mitos paling berbahaya dalam sejarah kolonialisme. Maksudnya, ia menganggap bahwa tanah Palestina itu kosong atau hampir kosong, tidak dihuni oleh bangsa yang berdaulat dan beradab. Dengan kata lain, ia melihat Palestina sebagai tempat yang "terbengkalai" dan "menunggu" untuk diolah oleh bangsa Yahudi. Sebagaimana ditunjukkan oleh Edward Said dalam The Question of Palestine, mitos ini digunakan untuk menyangkal keberadaan penduduk Arab Palestina yang telah tinggal di sana selama berabad-abad (Said, Question 15-16). Hess, yang begitu peka terhadap penindasan terhadap orang Yahudi di Eropa, ternyata tidak mampu melihat bangsa lain yang juga menjadi korban.

Bagaimana sebenarnya konteks kontroversial pendapat Hess? Masalahnya sangat besar. Palestina bukan tanah kosong. Pada abad ke-19, ketika Hess menulis ini, Palestina sudah dihuni oleh ratusan ribu orang Arab Palestina, petani, pedagang, nelayan, dan penduduk kota. Mereka punya rumah, tanah, masjid, gereja, pasar, dan kampung halaman. Jadi, klaim "tanah tanpa rakyat" adalah mitos yang tidak sesuai kenyataan. Namun, mitos ini sangat berguna bagi gerakan Zionis karena: 1) Jika Palestina dianggap kosong, maka klaim Yahudi atasnya terasa sah dan tidak bermasalah; 2) Jika tidak ada rakyatnya, maka tidak ada yang perlu ditaklukkan atau diusir; 3) Jika tanah itu "menunggu", maka kedatangan pemukim Yahudi tampak sebagai pemenuhan takdir, bukan penjajahan. Sejarawan Palestina seperti Rashid Khalidi menyebut ini sebagai "buta epistemologis" ketidakmampuan untuk melihat penduduk asli karena cara berpikir kolonial sudah tertanam dalam.

Akibat dari mitos ini sungguh merusak. Mitos "tanah tanpa rakyat" memiliki konsekuensi yang sangat nyata dan tragis. Ketika gerakan Zionis mulai mendatangkan pemukim Yahudi ke Palestina pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, mereka menghadapi kenyataan yang berbeda dari yang mereka bayangkan. Tanah itu ternyata berpenghuni. Maka, yang terjadi bukan "bangsa tanpa tanah pulang ke tanah tanpa rakyat", melainkan benturan antara dua bangsa yang sama-sama mengklaim tanah yang sama. Puncaknya terjadi pada tahun 1948, ketika Negara Israel diproklamasikan. Bagi orang Yahudi, itu adalah hari kemerdekaan. Tetapi bagi orang Palestina, itu adalah Nakba, bencana besar, karena ratusan ribu orang Palestina terusir dari rumah dan tanah mereka. Sampai hari ini, konflik Israel-Palestina belum selesai. Akarnya salah satunya ada di sini: pada keyakinan awal bahwa Palestina adalah tanah kosong yang bisa diambil tanpa perlu mempedulikan penduduk aslinya.

Kritik pascakolonial terhadap Hess dapat penulis rinci sebagai berikut. Para pemikir pascakolonial seperti Edward Said mengkritik keras Hess dan para Zionis awal lainnya. Said menulis: "Mereka tidak pernah melihat orang Arab sebagai manusia yang setara, hanya sebagai objek yang harus disingkirkan atau diabaikan." Artinya, Hess bukan sekadar keliru soal fakta. Ada masalah yang lebih dalam: cara berpikirnya sudah terlanjur kolonial. Ia memandang dunia non-Eropa, termasuk Palestina, sebagai ruang kosong yang menunggu diisi oleh peradaban Eropa. Dalam kerangka ini, Hess adalah contoh dari apa yang disebut para pemikir dekolonial sebagai "kolonialitas dalam pembebasan": Ia sendiri adalah korban penindasan di Eropa, tetapi ketika mencari jalan keluar, ia justru meniru cara berpikir penjajahnya: menganggap tanah orang lain sebagai tidak berpenghuni dan sah untuk diambil.
Dengan demikian terdapat sejumlah pelajaran yang bisa kita ambil dari kutifan Hess ini. 

Pertama, jangan percaya begitu saja pada slogan yang indah. Kalimat "tanah tanpa rakyat, bangsa tanpa tanah" terdengar puitis dan menyentuh. Tetapi di balik keindahannya, ia menyembunyikan penyangkalan terhadap keberadaan orang lain.

Kedua, selalu tanyakan: "Siapa yang tidak terlihat dalam cerita ini?" Hess berbicara tentang tanah dan leluhur, tetapi ia tidak menyebut siapa pun yang sudah tinggal di sana. Kita harus terbiasa bertanya: siapa yang diabaikan? Siapa yang dianggap tidak ada?

Ketiga, pembebasan satu bangsa tidak boleh mengorbankan bangsa lain. Kita boleh berempati pada penderitaan orang Yahudi di Eropa. Itu nyata dan mengerikan. Tetapi empati itu tidak boleh membuat kita menutup mata terhadap penderitaan orang Palestina yang muncul kemudian. Keadilan sejati harus mempertimbangkan semua pihak.

Keempat, kritik terhadap ideologi pembebasan juga perlu. Hess adalah orang baik yang tulus ingin menyelamatkan bangsanya. Tetapi niat baik tidak cukup. Kita harus memeriksa juga dampak nyata dari gagasan-gagasan kita terhadap orang lain.


Kritik Pascakolonial terhadap Hess


Kritik pascakolonial terhadap Hess tidak boleh direduksi menjadi tuduhan sederhana bahwa ia adalah seorang "kolonialis." Sebaliknya, kritik yang lebih produktif adalah melihat bagaimana struktur pemikiran kolonial bekerja bahkan di dalam proyek emansipatoris. Hess adalah contoh sempurna dari apa yang disebut oleh para pemikir dekolonial sebagai "kolonialitas dalam pembebasan" (coloniality of liberation).

Pertama, Hess mewarisi orientalisme yang mendalam. Dalam karyanya, ia menggambarkan tanah Palestina sebagai tempat yang "terbelakang" dan "menunggu" untuk dihidupkan kembali oleh para pemukim Yahudi yang membawa peradaban Eropa. Ia menulis:

"The Jews will bring to the land of their ancestors the gifts of European civilization, and will transform it into a garden of Eden for the benefit of all its inhabitants" (Hess, Rome and Jerusalem 78).

Terjemahan:

Orang-orang Yahudi akan membawa hadiah-hadiah peradaban Eropa ke tanah leluhur mereka, dan akan mengubahnya menjadi taman Eden untuk kepentingan semua penduduknya.

Kalimat ini juga ditulis oleh Moses Hess dalam bukunya Rome and Jerusalem (1862). Di permukaan, kalimat ini terdengar indah dan penuh niat baik. Tetapi jika kita bedah lebih dalam, kita akan menemukan cara berpikir kolonial yang sangat bermasalah di dalamnya. Mari kita bongkar pelan-pelan.
Hess percaya bahwa Eropa adalah pusat peradaban yang paling maju. Dalam pikirannya, Eropa punya ilmu pengetahuan, teknologi, sistem pemerintahan, dan budaya yang lebih tinggi dibandingkan tempat-tempat lain di dunia. Jadi, ketika ia berkata bahwa orang Yahudi akan membawa "hadiah peradaban Eropa" ke Palestina, maksudnya adalah:

"Orang Yahudi yang sudah terdidik dan terbiasa dengan kemajuan Eropa akan datang ke Palestina untuk membangun tanah itu menjadi modern dan maju."

Di satu sisi, ini adalah ungkapan harapan agar tanah Palestina berkembang. Tetapi di sisi lain, ada asumsi tersembunyi yang sangat merendahkan:

"Tanah Palestina itu terbelakang, dan penduduknya tidak mampu memajukannya sendiri. Maka, mereka butuh orang Eropa (termasuk Yahudi Eropa) untuk menyelamatkan mereka."

Asumsi inilah yang disebut orientalisme, cara pandang Barat yang menganggap dunia Timur sebagai tempat yang kuno, pasif, dan tidak beradab, sehingga pantas untuk "diperadabkan" oleh Barat.

Taman Eden adalah istilah dari tradisi agama yang menggambarkan surga dunia, tempat yang indah, subur, penuh kedamaian, dan berkelimpahan. Hess memakai istilah ini untuk menggambarkan impiannya: Palestina yang tadinya dianggap gersang dan terbelakang akan diubah menjadi tanah yang subur, makmur, dan indah berkat kedatangan orang Yahudi. Kedengarannya mulia. Tetapi masalahnya adalah siapa yang menentukan apa itu "taman Eden"? Dalam kerangka Hess, "taman Eden" dibayangkan menurut standar Eropa: 1) Pertanian modern; 2) Kota yang tertata; 3) Teknologi dan industri; dan 4) Sistem ekonomi pasar yang "maju." Artinya, Hess tidak benar-benar bertanya: "Apa yang diinginkan oleh penduduk yang sudah ada di sana?" Ia sudah punya gambaran sendiri tentang tanah itu dan apa yang harus dilakukan terhadapnya.

Bagian akhir kalimat Hess di atas pun terkesan sangat baik: "for the benefit of all its inhabitants" (untuk kepentingan semua penduduknya). Hess seolah ingin berkata: "Kami datang bukan untuk mengusir, tapi untuk membangun bersama dan semua orang akan ikut menikmati hasilnya." Tetapi sejarah membuktikan sebaliknya. Yang terjadi kemudian bukanlah kerja sama yang saling menguntungkan, melainkan: 1) Pembelian tanah besar-besaran oleh pemukim Yahudi dari pemilik tanah yang sering kali tinggal jauh di kota besar; 2) Pengusiran petani Palestina dari tanah yang sudah mereka garap turun-temurun; 3) Ketegangan dan bentrokan antara pendatang dan penduduk asli; dan 4) Puncaknya: pengusiran massal orang Palestina pada tahun 1948. Jadi, klaim "untuk kepentingan semua penduduk" ternyata hanyalah retorika manis yang menutupi kenyataan pahit: kepentingan penduduk asli Palestina justru dikorbankan.

Kritik pascakolonial membantu kita melihat masalah mendasar di sini. Pertama, menganggap Tanah Jajahan itu kosong atau terbelakang. Hess memandang Palestina bukan sebagai rumah bagi bangsa yang hidup dan berbudaya, melainkan sebagai lahan yang "menunggu" untuk diperadabkan. Ini adalah pola pikir khas kolonialisme. Kedua, menganggap peradaban Eropa lebih tinggi. Hess tidak pernah benar-benar menghargai budaya, pengetahuan, dan cara hidup penduduk Arab Palestina. Baginya, mereka hanyalah orang-orang "terbelakang" yang perlu diselamatkan oleh kehadiran orang Eropa. Ketiga, menyamarkan niat baik dengan bahasa yang indah. Kalimat Hess terdengar sangat humanis: ia ingin membangun "taman Eden" untuk "semua penduduk". Tetapi di balik bahasa indah itu, ada proyek kolonial yang pada akhirnya menyingkirkan penduduk asli. Inilah yang disebut oleh para pemikir dekolonial sebagai "kolonialitas dalam pembebasan": Korban penjajahan di Eropa (orang Yahudi) akhirnya memakai logika penjajah yang sama terhadap bangsa lain di luar Eropa.

Bayangkan ada keluarga yang rumahnya sederhana tapi nyaman. Lalu datang orang dari kota yang berkata: "Saya akan bantu kalian. Saya akan bangun rumah ini jadi lebih modern, lebih bagus, lebih maju. Semua untuk kebaikan kalian juga, kok." Tetapi orang itu tidak pernah bertanya: "Apakah kalian merasa butuh bantuan? Apakah kalian suka rumah kalian yang sekarang? Apa yang kalian inginkan?" Ia sudah memutuskan sendiri bahwa rumah itu "kurang bagus" menurut standarnya, dan ia merasa berhak mengubahnya. Di akhir cerita, keluarga itu malah kehilangan kendali atas rumahnya sendiri, bahkan mungkin terusir. Kira-kira begitulah cara berpikir Hess terha dap Palestina.
 
Kutipan ini mengajarkan beberapa hal penting. Pelajaran yang dapat kita tarik dari pernyataan Hess di atas ada beberapa. Pertama, niat baik tidak cukup. Hess mungkin tulus ingin membangun tanah Palestina. Tetapi niat baik yang tidak disertai penghormatan terhadap penduduk asli akan berubah menjadi penindasan. Kedua, jangan memaksakan standar kita kepada orang lain. Apa yang kita anggap "maju" atau "indah" belum tentu sesuai dengan kebutuhan dan keinginan orang lain. Kita harus bertanya dan mendengarkan, bukan datang dengan membawa "hadiah" yang sebenarnya tidak diminta. Ketiga, waspadai bahasa yang terlalu indah. Kalimat-kalimat seperti "untuk kepentingan semua orang", "demi kemajuan bersama", atau "membangun peradaban" sering dipakai untuk menutupi praktik kekuasaan yang sebenarnya merugikan kelompok tertentu. Keempat, selalu tanyakan: "Siapa yang menentukan apa itu kebaikan?" Dalam konflik kolonial, penjajah selalu merasa tahu apa yang terbaik untuk yang dijajah. Padahal, yang dijajah punya hak untuk menentukan sendiri apa yang baik bagi mereka.

Juga pernyataan dalam bahasa Inggris Hess dalam bahasa Inggris di atas adalah klasik dalam retorika kolonial: tanah jajahan digambarkan sebagai ruang kosong atau terbelakang yang membutuhkan "hadiah" peradaban dari penjajah. Sebagaimana ditunjukkan oleh Ania Loomba dalam Colonialism/Postcolonialism, narasi semacam ini berfungsi untuk melegitimasi penaklukan dengan menyangkal agensi dan kemanusiaan penduduk asli (Loomba 63).

Kedua, Hess mengabaikan kemungkinan koeksistensi antara pemukim Yahudi dan penduduk Arab. Dalam Rome and Jerusalem, ia tidak pernah secara serius membahas pertanyaan: "Apa yang akan terjadi pada orang Arab yang sudah tinggal di Palestina?" Seperti dicatat oleh sejarawan Julius H. Schoeps, para pemikir Zionis awal seperti Hess "sebagian besar mengabaikan 'Pertanyaan Arab', apa yang harus dilakukan dengan populasi Arab yang tinggal di Palestina, dengan mengabaikannya atau merendahkan orang Palestina sebagai primitif dan terbelakang" (Schoeps 6). Fakta bahwa Hess menyebut tanah Palestina "berpenduduk sangat jarang" adalah mitos yang menjadi fondasi bagi narasi Zionis yang menyangkal keberadaan penduduk asli (Lockman 45).

Ketiga, kritik yang lebih mendalam datang dari para pemikir dekolonial yang menunjukkan bahwa proyek Zionis Hess adalah produk dari Eropa yang sakit. Hess adalah korban antisemitisme Eropa, dan solusinya adalah melarikan diri dari Eropa dengan menciptakan koloni di luar Eropa. Namun, dengan melakukan itu, ia justru mereplikasi logika kolonial Eropa yang telah menindasnya. Sebagaimana ditulis oleh pemikir dekolonial Walter Mignolo:

"The colony is the dark side of European modernity. Those who were victims of European racism within Europe itself often found no better solution than to export that same racism to other parts of the world" (Mignolo 45).

Terjemahan:

Koloni adalah sisi gelap dari modernitas Eropa. Mereka yang menjadi korban rasisme Eropa di dalam Eropa sendiri sering kali tidak menemukan solusi yang lebih baik selain mengekspor rasisme yang sama itu ke bagian-bagian dunia lain.

Namun, kita juga harus adil kepada Hess. Sebagaimana dicatat oleh para kritikus yang lebih berimbang, Hess bukanlah seorang rasis dalam pengertian biologis abad ke-19. Ia berulang kali menekankan persaudaraan semua bangsa dan menolak chauvinisme. Ia membayangkan bahwa kebangkitan nasional Yahudi akan menjadi model bagi kebangkitan bangsa-bangsa tertindas lainnya, termasuk bangsa Arab. Namun, niat baik ini tidak mengubah fakta bahwa struktur kolonial dari proyeknya, pemukiman kembali di tanah yang sudah berpenduduk, pasti akan menghasilkan konflik dan penindasan.

Kalimat ini ditulis oleh Walter Mignolo, seorang pemikir dekolonial asal Argentina, dalam bukunya The Darker Side of Western Modernity (2011). Ini adalah salah satu kalimat kunci dalam kritik dekolonial terhadap sejarah Eropa dan dampaknya ke seluruh dunia. Mari kita bedah pelan-pelan.

Modernitas Eropa adalah istilah untuk menggambarkan periode sejarah ketika Eropa mengalami kemajuan besar dalam ilmu pengetahuan, teknologi, ekonomi, dan sistem pemerintahan, kira-kira sejak abad ke-16 hingga sekarang. Kemajuan ini sering diceritakan sebagai kisah yang gemilang: 1) Renaissance (kebangkitan seni dan ilmu); 2) Pencerahan (lahirnya akal sehat dan hak asasi); 3) Revolusi Industri (kemajuan teknologi); dan 4) Demokrasi modern (pemerintahan rakyat). Semua ini dianggap sebagai "hadiah" Eropa untuk dunia. Eropa dilihat sebagai pusat peradaban, tempat lahirnya kemajuan umat manusia. Namun, Mignolo dan para pemikir dekolonial lainnya berkata: cerita ini hanya separuh dari kebenaran.

Mignolo menyebut koloni sebagai the dark side (sisi gelap) dari modernitas. Maksudnya begini: Kemajuan Eropa tidak terjadi dengan sendirinya. Kemajuan itu dibangun di atas darah, keringat, dan penderitaan bangsa-bangsa yang dijajah. Emas dan perak dari Amerika Latin dirampas dan dibawa ke Eropa. Rempah-rempah dari Asia dikuasai dengan kekerasan. Orang Afrika diculik, diperbudak, dan diperdagangkan seperti barang. Tanah di Amerika, Asia, dan Afrika dirampas dari penduduk asli. Jadi, sementara Eropa menikmati "pencerahan" dan "kemajuan", di belahan dunia lain orang-orang menderita di bawah penjajahan Eropa. Ini seperti orang yang membangun rumah megah, tetapi bahan bangunannya diambil dari rumah orang lain yang dibakar. Rumahnya bagus, tetapi ada sisi gelap yang tidak boleh dilupakan: kemegahan itu dibangun di atas kehancuran orang lain.

Lalu, apa maksud dari "mengekspor rasisme"? Bagian kedua kalimat ini lebih tajam dan lebih dalam. Mignolo berkata: orang-orang yang menjadi korban rasisme di Eropa sendiri, misalnya orang Yahudi, orang Irlandia, atau kelompok etnis yang dianggap "rendah" oleh bangsa Eropa yang dominan, sering kali tidak menemukan jalan keluar yang lebih baik selain melakukan hal yang sama kepada bangsa lain di luar Eropa. Contoh paling nyata adalah yang sedang kita bahas: Moses Hess dan gerakan Zionis awal. Orang Yahudi di Eropa menjadi korban antisemitisme selama berabad-abad. Mereka dihina, diusir, dibantai, dan dianggap sebagai bangsa asing yang tidak pantas tinggal di Eropa. Ketika mencari tanah air sendiri, sebagian dari mereka, termasuk Hess, memandang Palestina dengan cara yang mirip dengan cara orang Eropa memandang tanah jajahan: sebagai tanah "kosong", "terbelakang", dan "menunggu untuk diperadabkan". Dengan kata lain, mereka mengekspor cara pandang rasis yang pernah menimpa mereka sendiri, lalu menerapkannya kepada bangsa Palestina. Mignolo menyebut ini sebagai ironi yang tragis: korban rasisme berubah menjadi pelaku rasisme baru.

Mengapa hal ini dapat terjadi? Pertanyaan yang wajar: kenapa korban bisa berubah menjadi pelaku? Mignolo menjelaskan bahwa ini terjadi karena cara berpikir kolonial sudah begitu meresap ke dalam kesadaran orang-orang Eropa, termasuk mereka yang menjadi korban. Orang yang dijajah secara mental sering kali menginternalisasi (menyerap tanpa sadar) cara berpikir penjajahnya. Mereka belajar bahwa: 1) Dunia terbagi menjadi bangsa yang "maju" dan bangsa yang "terbelakang"; 2) Tanah yang "terbelakang" boleh diambil oleh bangsa yang "maju"; 3) Penduduk asli yang "terbelakang" tidak punya hak yang sama dengan bangsa "maju". Ketika orang Yahudi Eropa mencari tanah air, mereka tidak membuang cara berpikir ini. Mereka justru memakainya untuk membenarkan klaim mereka atas Palestina. Mereka berkata: "Kami adalah bangsa Eropa yang maju. Kami akan membawa kemajuan ke tanah yang terbelakang ini." Mereka lupa bahwa itu persis seperti yang dulu dikatakan orang Eropa ketika menindas mereka.

Contoh sederhana dalam kehidupan sehari-hari adalah bayangkan ada seorang anak yang sering di-bully di sekolah. Dia dihina, dipukul, dan direndahkan oleh kakak kelas. Suatu hari, dia pindah ke sekolah baru. Di sekolah baru itu, dia bertemu anak yang lebih kecil dan lebih lemah darinya. Alih-alih melindungi anak itu, dia malah ikut mem-bully-nya. Kenapa? Karena dia sudah belajar dari pengalamannya bahwa dunia ini seperti itu: yang kuat menindas yang lemah. Dia tidak pernah belajar cara lain untuk merasa aman dan berkuasa selain meniru apa yang dulu dilakukan kepadanya. Kira-kira begitulah yang terjadi dalam sejarah kolonial. Korban penindasan, karena tidak punya model lain, akhirnya meniru cara penindasnya.

Pelajaran yang dapat ditarik untuk bahasa kita dari kutipan Mignolo sangat penting karena mengajarkan kita beberapa hal yang dalam. Pertama, kemajuan tidak pernah netral. Setiap kali kita mendengar cerita tentang "kejayaan" suatu bangsa, kita harus bertanya: "Dengan mengorbankan siapa kejayaan itu dicapai?" Kedua, korban tidak otomatis menjadi benar. Menjadi korban penindasan tidak otomatis membuat seseorang atau suatu bangsa selalu benar. Kita harus tetap kritis terhadap tindakan mereka, terutama jika mereka kemudian menindas orang lain. Ketiga, jangan mewariskan luka kita kepada orang lain. Kita semua punya pengalaman disakiti. Tetapi kita punya pilihan: menghentikan siklus itu, atau meneruskannya kepada orang lain. Mignolo mengajak kita untuk menghentikannya. Keempat, kritik terhadap proyek pembebasan juga perlu. Banyak gerakan pembebasan yang dimulai dengan niat baik, tetapi kemudian berubah menjadi proyek penindasan baru. Kita harus berani mengkritik gerakan-gerakan ini, meskipun kita bersimpati pada penderitaan awalnya.


Perbandingan Rinci antara Hess dan Marx


Setelah membahas kritik pascakolonial terhadap Hess, kini kita dapat melakukan perbandingan yang lebih sistematis antara Hess dan Marx. Perbandingan ini penting karena keduanya mewakili dua respons yang berbeda terhadap persoalan emansipasi dalam masyarakat modern.

Universalisme Abstrak versus Partikularisme Konkret

Perbedaan paling mendasar antara Marx dan Hess adalah ketegangan antara universalisme abstrak dan partikularisme konkret.

Marx adalah pemikir universalis. Baginya, emansipasi sejati hanya dapat dicapai melalui penghapusan semua partikularitas, agama, bangsa, kelas, dalam kesatuan manusia yang universal. Dalam On the Jewish Question, ia menulis:

"The emancipation of the Jews, as of mankind as a whole, is possible only through the complete abolition of the practical essence of Judaism, which is huckstering and its preconditions" (Marx, "Jewish Question" 64).

Terjemahan:

Pembebasan orang-orang Yahudi, sebagaimana juga pembebasan seluruh umat manusia, hanya mungkin terjadi melalui penghapusan total esensi praktis dari Yudaisme, yaitu kegiatan dagang dan segala prasyarat yang melahirkannya.

Kalimat ini ditulis oleh Karl Marx dalam esainya On the Jewish Question (1844). Ini adalah salah satu kalimat paling kontroversial dalam seluruh karya Marx, dan hingga hari ini masih memicu perdebatan sengit. Mari kita bongkar dengan hati-hati.

Pada awal 1840-an, di Jerman sedang ramai diperdebatkan tentang emansipasi orang Yahudi, apakah mereka boleh diberi hak-hak politik yang setara dengan warga negara Kristen. Seorang pemikir muda bernama Bruno Bauer berpendapat: "Orang Yahudi tidak pantas mendapat emansipasi politik selama mereka tetap berpegang pada agama mereka. Mereka harus melepaskan Yudaisme dulu, baru bisa jadi warga negara yang setara." Marx tidak setuju dengan Bauer, tetapi bukan karena dia membela agama Yahudi. Marx justru berpendapat bahwa persoalannya bukan pada agama Yahudi, melainkan pada peran ekonomi yang menurutnya telah melekat pada orang Yahudi di masyarakat kapitalis.

Marx memakai istilah "esensi praktis dari Yudaisme" dan menyamakannya dengan "kegiatan dagang" atau dalam bahasa Inggrisnya huckstering, yang artinya jual beli kecil-kecilan, perdagangan, mencari untung. Dengan kata lain, Marx berkata: "Jangan bicara soal agama Yahudi. Yang menentukan posisi orang Yahudi dalam masyarakat bukanlah agamanya, melainkan peran ekonominya sebagai pedagang dan pemilik uang." Menurut Marx, dalam masyarakat kapitalis, semangat dagang dan mencari untung sudah menjadi prinsip yang menguasai semua orang, bukan cuma orang Yahudi. Tetapi ia memakai kata "Yudaisme" sebagai simbol atau metafora untuk semangat kapitalis itu.

Marx bilang bahwa pembebasan orang Yahudi, dan seluruh umat manusia, hanya bisa terjadi kalau semangat dagang dan kapitalisme dihapuskan. Maksudnya: Selama masyarakat masih didasarkan pada jual beli, keuntungan, dan uang, maka manusia tidak akan pernah benar-benar bebas. Orang Yahudi tidak akan bebas hanya dengan diberi hak politik. Orang Kristen juga tidak benar-benar bebas. Semua orang masih terjajah oleh sistem ekonomi yang memaksa mereka mengejar uang. Maka, solusi sejatinya adalah menghapus sistem yang menjadikan uang sebagai Tuhan, yaitu kapitalisme.

Mengapa kalimat-kalimat Marx di atas menjadi kontroversial? Mengapa Kalimat Ini Kontroversial? Ada beberapa masalah besar dalam kalimat ini. Pertama, Marx mereduksi Yudaisme menjadi sekadar "dagang". Ini adalah stereotip lama yang berbahaya. Selama berabad-abad, orang Yahudi di Eropa dituduh sebagai bangsa yang serakah, cinta uang, dan licik dalam berdagang. Stereotip ini dipakai untuk membenarkan pengusiran, penyitaan harta, dan pembunuhan massal terhadap mereka. Ketika Marx memakai istilah "esensi praktis dari Yudaisme adalah kegiatan dagang", ia entah disadari atau tidak, ikut melanggengkan stereotip itu. Kedua, Marx mengabaikan pengalaman nyata orang Yahudi sebagai korban. Orang Yahudi di Eropa bukanlah kelompok yang berkuasa. Mereka justru kelompok yang paling rentan, sering diusir, dirampas, dan dibantai. Marx tidak membahas penderitaan mereka. Ia malah sibuk mengkritik "peran ekonomi" yang menurutnya melekat pada mereka. Ketiga, Marx memakai bahasa yang merendahkan. Kata huckstering (jual beli kecil-kecilan) dalam bahasa Inggris punya nada merendahkan. Ini bukan kata netral. Ini seperti menyebut profesi pedagang dengan nada menghina.

Banyak pemikir, termasuk Edward Said, mengkritik Marx karena bagian ini. Said menunjukkan bahwa Marx, meskipun hebat dalam mengkritik kapitalisme, ternyata tidak bisa lepas dari prasangka zamannya. Marx memakai stereotip tentang "Yahudi" yang sudah beredar di Eropa, dan menggunakannya sebagai alat untuk mengkritik kapitalisme. Padahal, dengan begitu, ia justru ikut melanggengkan antisemitisme. Said juga menghubungkan ini dengan orientalisme: “Cara pandang Barat yang menganggap dunia non-Barat sebagai sesuatu yang terbelakang dan butuh diselamatkan juga terjadi pada orang Yahudi. Mereka dianggap "asing", "tidak murni", dan "berbahaya" bagi masyarakat Eropa.”

Lalu apa kata Moses Hess atas Marx tentang ini? Menariknya, Moses Hess yang dulu adalah mentor Marx, justru sangat kecewa dengan esai Marx ini. Hess berpendapat bahwa Marx telah: 1) Menghina identitas Yahudi; 2) Mengabaikan penderitaan nyata orang Yahudi, dan 3) Menyederhanakan persoalan bangsa Yahudi menjadi sekadar soal ekonomi. Bagi Hess, penindasan terhadap orang Yahudi bukan cuma soal uang dan kapitalisme. Itu juga soal identitas etnis dan nasional. Orang Yahudi ditindas karena mereka Yahudi, bukan karena mereka pedagang. Perbedaan inilah yang kelak menjadi salah satu alasan Hess menjauh dari Marx dan akhirnya menempuh jalan Zionisme.

Benang merah yang dapat kita petik dari ujaran Marx di atas dapat penulis jabarkan. Pertama, pemikir besar juga bisa punya prasangka. Marx adalah raksasa intelektual, tetapi ia tidak luput dari stereotip zamannya. Kita tidak boleh mengkultuskan siapa pun, bahkan tokoh sebesar Marx tanpa kritik. Kedua, bahasa yang merendahkan kelompok tertentu tidak boleh dipakai, bahkan untuk tujuan yang baik. Marx mungkin ingin mengkritik kapitalisme, bukan menghina orang Yahudi. Tetapi caranya salah. Ia memakai stereotip yang justru sudah dipakai untuk menindas orang Yahudi. Ini tidak bisa dibenarkan. 

Ketiga, kritik terhadap sistem tidak boleh mengorbankan martabat kelompok tertentu. Kita boleh mengkritik kapitalisme, korporasi, atau sistem keuangan. Tetapi kita harus berhati-hati agar kritik itu tidak berubah menjadi serangan terhadap identitas etnis atau agama tertentu. Keempat, selalu tanyakan: "Siapa yang diuntungkan dan siapa yang dirugikan oleh cara saya bicara?" Bahasa punya kekuatan. Kata-kata yang kita anggap "sekadar metafora" bisa melukai kelompok yang sudah lama menjadi korban.

Bagi Marx, identitas partikular, apakah itu Yahudi, Jerman, atau proletar, adalah bentuk keterasingan yang harus dilampaui. Revolusi proletar akan menghapus semua identitas ini dan menciptakan manusia universal yang bebas dari semua bentuk keterikatan partikular.

Hess, sebaliknya, adalah pemikir partikularis. Baginya, manusia tidak dapat mencapai universalitas tanpa melalui partikularitas. Bangsa adalah organisme historis yang nyata, dan hanya melalui pembebasan bangsa sendiri seseorang dapat berkontribusi pada pembebasan umat manusia. Dalam Rome and Jerusalem, ia menulis:

"No nation can be free as long as it does not have its own land" (Hess, Rome and Jerusalem 11).

Terjemahan:

Tidak ada bangsa yang bisa merdeka selama ia tidak memiliki tanahnya sendiri.

Kalimat ini ditulis oleh Moses Hess dalam bukunya Rome and Jerusalem (1862). Kalimat ini menjadi salah satu inti argumennya tentang mengapa orang Yahudi harus memiliki tanah air sendiri di Palestina. Mari kita bedah maknanya secara sederhana.

Sebenarnya, apa yang dimaksud Hess dengan "bangsa yang merdeka"? Bagi Hess, kemerdekaan bukan hanya soal kebebasan individu yakni bisa bekerja, beribadah, atau berbicara. Kemerdekaan sejati adalah kemerdekaan sebagai bangsa, yaitu: 1) Punya tanah sendiri; 2) Punya pemerintahan sendiri, dan; 3) Punya kedaulatan untuk menentukan nasib sendiri. Selama suatu bangsa tidak punya tanah, ia akan selalu menjadi tamu di negeri orang lain. Ia bisa ditoleransi hari ini, tetapi diusir besok. Ia tidak punya tempat yang benar-benar aman dan permanen.

Mengapa Hess berpendapat demikian? Hess menulis ini setelah menyaksikan bahwa asimilasi Yahudi di Eropa gagal total. Pada abad ke-19, banyak orang Yahudi Eropa yang berusaha "berbaur" dengan masyarakat sekitar. Mereka memakai bahasa setempat, meninggalkan tradisi lama, bahkan pindah agama. Mereka berharap dengan begitu mereka akan diterima sebagai warga negara biasa. Tetapi kenyataannya, antisemitisme tidak hilang. Orang Yahudi tetap dicurigai, dihina, dan dijadikan kambing hitam. Bahkan orang Yahudi yang sudah berasimilasi pun tetap dianggap "Yahudi" dan tetap dibenci. Hess menyimpulkan: selama orang Yahudi tidak punya tanah sendiri, mereka tidak akan pernah benar-benar bebas. Mereka akan selalu bergantung pada belas kasihan bangsa lain, dan belas kasihan itu bisa dicabut kapan saja.

Argumen Hess memang masuk akal, tetapi harus kita kritisi. Hess menulis ini setelah menyaksikan bahwa asimilasi Yahudi di Eropa gagal total. Pada abad ke-19, banyak orang Yahudi Eropa yang berusaha "berbaur" dengan masyarakat sekitar. Mereka memakai bahasa setempat, meninggalkan tradisi lama, bahkan pindah agama. Mereka berharap dengan begitu mereka akan diterima sebagai warga negara biasa. Tetapi kenyataannya, antisemitisme tidak hilang. Orang Yahudi tetap dicurigai, dihina, dan dijadikan kambing hitam. Bahkan orang Yahudi yang sudah berasimilasi pun tetap dianggap "Yahudi" dan tetap dibenci. Hess menyimpulkan: selama orang Yahudi tidak punya tanah sendiri, mereka tidak akan pernah benar-benar bebas. Mereka akan selalu bergantung pada belas kasihan bangsa lain, dan belas kasihan itu bisa dicabut kapan saja.

Para pemikir pascakolonial seperti Edward Said mengingatkan kita bahwa kalimat seperti ini sering dipakai untuk menutupi penindasan. Said menunjukkan bahwa dalam proyek Zionis awal, orang Arab Palestina dianggap tidak ada, dianggap bukan bangsa yang berhak atas tanahnya. Padahal mereka jelas ada, dengan sejarah, budaya, dan hak yang sama. Jadi, kalimat "tidak ada bangsa yang bisa merdeka tanpa tanah sendiri" bisa menjadi pedang bermata dua: 1) Bagi bangsa yang tertindas, ia adalah seruan pembebasan dan 2) Tetapi bagi bangsa lain yang tanahnya diincar, ia adalah ancaman.

Dari pernyataan Hess sejumlah pikiran kritis dapat kita kemukakan. Pertama, hak atas tanah dan kemerdekaan adalah hak semua bangsa, bukan hanya satu bangsa. Kalau kita setuju bahwa orang Yahudi berhak punya tanah air, maka kita juga harus setuju bahwa orang Palestina berhak punya tanah air. Tidak boleh ada standar ganda. Kedua, jangan pernah mengorbankan bangsa lain demi kepentingan bangsa sendiri. Kemerdekaan sejati tidak boleh dibangun di atas penindasan orang lain. Kalau sebuah bangsa merdeka dengan mengusir bangsa lain, itu bukan kemerdekaan, itu penjajahan baru. Ketiga, waspada dengan kalimat-kalimat yang terdengar indah tetapi menyembunyikan kekerasan. Kalimat "tidak ada bangsa yang bisa merdeka tanpa tanah sendiri" terdengar heroik. Tetapi di baliknya, ada pertanyaan yang harus dijawab: tanah siapa? Dan dengan mengorbankan siapa?

Secara umum, posisi Hess ini telah dikembangkan oleh para pemikir pascakolonial seperti Fanon, yang berargumen bahwa pembebasan nasional adalah prasyarat bagi pembebasan manusia secara universal. Fanon menulis:

"It is not enough to demand the simple recognition of one's humanity. One must also demand the right to be a human being in one's own way, in one's own culture, in one's own nation" (Fanon 178).

Terjemahan:

Tidak cukup hanya menuntut agar kemanusiaan kita diakui. Kita juga harus menuntut hak untuk menjadi manusia dengan cara kita sendiri, dalam budaya kita sendiri, dan dalam bangsa kita sendiri.

Dalam kerangka ini, Hess justru lebih maju daripada Marx dalam memahami bahwa identitas adalah medan perjuangan politik yang tidak dapat direduksi menjadi ekonomi. Namun, kelebihan ini sekaligus menjadi kelemahannya: dengan menekankan partikularitas Yahudi, Hess gagal melihat partikularitas bangsa lain.

Kalimat ini ditulis oleh Frantz Fanon, seorang pemikir asal Martinik yang menjadi salah satu suara paling berpengaruh dalam perjuangan melawan kolonialisme. Kutipan ini berasal dari bukunya The Wretched of the Earth (1961). Mari kita bedah maknanya secara sederhana.

Apa yang Fanon maksud sebagai "pengakuan kemanusiaan yang sederhana"? Fanon berkata bahwa menuntut pengakuan kemanusiaan saja tidak cukup. Maksudnya begini: Dalam sistem kolonial, bangsa yang dijajah sering kali diperlakukan seperti bukan manusia. Mereka dianggap biadab, bodoh, dan tidak beradab. Maka, wajar jika mereka berteriak: "Kami juga manusia! Akui kemanusiaan kami!" Ini adalah tuntutan yang sah dan penting. Tetapi Fanon bilang: berhenti di situ saja tidak cukup. Kenapa? Karena pengakuan semacam itu sering kali diberikan dengan syarat: "Ya, kalian memang manusia. Asalkan kalian mengikuti cara kami, standar kami, budaya kami, dan aturan kami." Dengan kata lain, penjajah boleh saja mengakui bahwa orang terjajah itu manusia, tetapi dengan syarat mereka meniru cara hidup penjajah. Kalau mereka tetap mempertahankan budaya sendiri, mereka dianggap "belum beradab", "belum maju", atau "belum pantas". Inilah yang ditolak oleh Fanon.

Kemudian apa yang Fanon maksudkan sebagai "menjadi manusia dengan cara sendiri"? Fanon menuntut lebih dari sekadar pengakuan. Ia menuntut hak untuk menjadi manusia dengan cara sendiri. Artinya: Bangsa yang terjajah tidak boleh dipaksa meniru budaya penjajah. Mereka berhak mempertahankan bahasanya, adatnya, cara berpikirnya, cara beribadahnya, dan cara hidupnya. Mereka berhak menentukan sendiri apa arti "maju", "baik", dan "beradab" menurut ukuran mereka sendiri. Fanon menolak gagasan bahwa hanya ada satu cara untuk menjadi manusia yang "benar", yaitu cara Eropa. Baginya, ada banyak cara untuk menjadi manusia, dan setiap bangsa berhak menjalani caranya masing-masing.

Hal lain yang cukup menarik adalah pula apa maksud Fanon saat menyatakan "dalam budaya sendiri dan bangsa sendiri"? Fanon menekankan bahwa kemanusiaan tidak bisa dipisahkan dari budaya dan bangsa. Maksudnya: Manusia tidak hidup di ruang kosong. Ia lahir dan tumbuh dalam budaya tertentu, dalam sejarah tertentu, dalam komunitas tertentu. Ketika budaya dan bangsa seseorang dihancurkan, seperti yang terjadi dalam kolonialisme, maka kemanusiaannya juga ikut hancur. Maka, memperjuangkan kemanusiaan berarti juga memperjuangkan hak untuk hidup dalam budaya sendiri dan bangsa sendiri. Bagi Fanon, kemerdekaan bukan hanya soal bebas dari penjajah. Kemerdekaan juga berarti memulihkan martabat budaya dan identitas bangsa yang telah diinjak-injak.

Mengapa pikiran Fanon ini penting dalam konteks kolonial? Dalam sistem kolonial, ada usaha sistematis untuk menghapus budaya bangsa terjajah: 1) Bahasa asli dilarang; 2) Adat istiadat dianggap biadab; 3) Agama lokal direndahkan; 4) Sejarah bangsa dijajah ditulis ulang oleh penjajah, dan 5) Anak-anak bangsa terjajah diajari untuk malu pada identitas mereka sendiri. Akibatnya, banyak orang terjajah yang akhirnya benci pada dirinya sendiri. Mereka merasa rendah, malu, dan ingin menjadi seperti penjajah. Fanon, sebagai seorang psikiater, melihat langsung dampak psikologis dari kolonialisme ini. Ia menulis banyak tentang bagaimana kolonialisme merusak jiwa orang terjajah, membuat mereka merasa tidak berharga dan tidak punya masa depan. Maka, bagi Fanon, pembebasan sejati harus mencakup pemulihan jiwa, bukan sekadar pemulihan ekonomi atau politik.

Dalam keseharian, hal yang Fanon maksudnya cukup mudah dicari analoginya. Bayangkan sebuah komunitas adat di Indonesia yang tanahnya diambil oleh perusahaan. Lalu pemerintah datang dan berkata: "Kami akui kalian warga negara. Tapi kalian harus meninggalkan cara hidup tradisional kalian. Kalian harus sekolah, pakai bahasa nasional, dan ikut ekonomi modern. Itu demi kebaikan kalian." Fanon akan menjawab: "Itu bukan pengakuan. Itu pemaksaan. Kalian mengakui kami sebagai manusia hanya kalau kami mau menjadi seperti kalian. Tetapi kami punya hak untuk tetap menjadi diri kami sendiri dengan bahasa kami, adat kami, dan cara hidup kami." Bagi Fanon, komunitas itu berhak menentukan sendiri masa depannya, tanpa harus menanggalkan identitasnya.

Sejumlah hal bernilai dapat kita tarik dari kutipan Fanon ini. Pertama, hormati cara hidup orang lain. Jangan memaksakan standar kita kepada orang lain. Apa yang kita anggap "maju" belum tentu cocok untuk mereka. Setiap bangsa dan komunitas punya hak untuk menentukan jalannya sendiri. Kedua, jangan merendahkan budaya sendiri. Kita juga harus bangga pada budaya sendiri. Jangan sampai kita meniru sikap penjajah yang menganggap budaya sendiri lebih rendah dari budaya asing. Ketiga, perjuangan kemerdekaan harus mencakup pemulihan martabat. Kemerdekaan politik saja tidak cukup. Kita juga harus memerdekakan pikiran dan jiwa dari rasa rendah diri yang ditanamkan oleh penjajah. Keempat, dukung perjuangan bangsa-bangsa yang masih tertindas. Banyak bangsa di dunia yang masih berjuang untuk hak mereka, untuk hidup dengan cara mereka sendiri di tanah mereka sendiri. Kita harus mendukung perjuangan itu, bukan malah memaksa mereka mengikuti kehendak kita.

Analisis Kelas versus Analisis Etnis

Perbedaan kedua adalah fokus analitis mereka: Marx pada kelas, Hess pada etnis.

Marx berargumen bahwa konflik fundamental dalam masyarakat adalah konflik antara kelas borjuis dan kelas proletar. Semua bentuk penindasan lainnya, rasial, etnis, gender, agama, adalah turunan dari konflik kelas ini. Dalam Capital, ia menulis:

"The history of all hitherto existing society is the history of class struggles" (Marx dan Engels 1).

Terjemahan:
 
Sejarah dari semua masyarakat yang pernah ada hingga saat ini adalah sejarah perjuangan kelas.

Kalimat ini adalah kalimat pembuka yang sangat terkenal dari Manifesto Komunis (1848), karya Karl Marx dan Friedrich Engels. Kalimat ini menjadi fondasi utama dari seluruh teori Marx tentang sejarah dan masyarakat. Mari kita bedah maknanya secara sederhana.

Apa sebenarnya yang Marx maksudkan dengan "perjuangan kelas"? Perjuangan kelas adalah konflik antara kelompok masyarakat yang berbeda berdasarkan posisi ekonominya. Marx membagi masyarakat ke dalam kelas-kelas: 1) Borjuis: Kelompok yang memiliki alat produksi yakni tanah, pabrik, mesin, modal. Mereka menguasai kekayaan, dan 2) Proletar: Kelompok yang tidak punya alat produksi. Mereka hanya punya tenaga kerja untuk dijual. Hubungan antara keduanya selalu tegang karena: Borjuis ingin membayar buruh serendah mungkin agar untung besar. Proletar ingin upah yang layak dan kondisi kerja yang baik. Konflik inilah yang disebut perjuangan kelas. Dalam kerangka ini, solusi untuk semua bentuk penindasan adalah revolusi proletar yang akan menghapus kelas-kelas dan dengan demikian menghapus semua bentuk penindasan lainnya.

Kemudia apa yang Marx maksudkan tentang "sejarah semua sasyarakat"? Marx mengklaim bahwa sepanjang sejarah manusia, selalu ada konflik antara kelompok yang menindas dan yang ditindas. Ia memberi contoh dari berbagai zaman: 1) Zaman perbudakan: Tuan vs. Budak; 2) Zaman feodal: Tuan tanah vs. Petani budak, dan; 3) Zaman kapitalis: Borjuis vs. Proletar. Jadi, Marx melihat pola yang sama berulang terus: yang punya kekuasaan ekonomi menindas yang tidak punya, lalu yang ditindas melawan, lalu sistem berubah, lalu muncul kelas baru yang menindas lagi.

Apa yang maksudkan dengan "hitherto existing society"? Istilah "hitherto" artinya "sampai sekarang" atau "hingga saat ini". Marx sengaja memakai istilah ini untuk menegaskan: "Ini yang terjadi sampai zaman kapitalis. Tetapi nanti, setelah revolusi proletar, sejarah akan berubah. Tidak akan ada lagi perjuangan kelas." Jadi, Marx sedang membangun argumen bahwa sejarah manusia selama ini memang penuh konflik kelas, tetapi itu tidak harus berlangsung selamanya. Kapitalisme adalah sistem terakhir yang melahirkan kelas, karena setelah kapitalisme dihancurkan, tidak akan ada lagi kelas.

“Hitherto existing society” penting karena sejumlah hal. Pertama, menegaskan bahwa konflik sosial adalah motor sejarah. Bagi Marx, perubahan besar dalam masyarakat tidak terjadi karena ide hebat atau kemauan baik para pemimpin. Perubahan terjadi karena pertentangan material antara kelompok yang ingin mempertahankan kekuasaannya dan kelompok yang ingin membebaskan diri. Kedua, mengatakan bahwa semua penindasan punya akar yang sama: ekonomi. Marx percaya bahwa semua bentuk penindasan yakni rasial, gender, agama pada akhirnya bersumber dari struktur ekonomi. Kalau kapitalisme dihapus, maka semua penindasan lain akan ikut hilang. Ketiga, menyerukan revolusi. Kalimat pembuka ini adalah pengantar untuk seruan besar Marx di akhir Manifesto: "Kaum proletar tidak punya apa-apa untuk ditakuti kecuali rantai mereka. Mereka punya dunia untuk dimenangkan. Pekerja di seluruh dunia, bersatulah!" Jadi, kalimat ini bukan sekadar analisis sejarah. Ia adalah panggilan untuk bertindak.

Meskipun terasa membuai, kita harus tetap kritis terhadap pendapat Marx ini. Pertama, kritik dari kaum nasionalis dan pascakolonial. Seperti yang kita bahas dalam artikel tentang Moses Hess, banyak pemikir yang menolak gagasan bahwa perjuangan kelas adalah perjuangan yang paling utama. Hess, misalnya, berkata: "Perjuangan ras adalah perjuangan yang paling mendasar, dan perjuangan kelas hanyalah nomor dua." Maksudnya: konflik antarbangsa atau antaretnis sering kali lebih kuat daripada konflik antarkelas. Orang kulit putih yang miskin sering kali tetap merasa lebih tinggi dari orang kulit hitam yang kaya, karena faktor ras lebih kuat daripada faktor kelas. Para pemikir pascakolonial seperti Frantz Fanon juga menekankan bahwa penindasan kolonial tidak bisa dijelaskan hanya dengan teori kelas. Bangsa yang dijajah ditindas bukan karena mereka buruh, tetapi karena mereka dianggap rendah sebagai bangsa.

Kedua, kritik dari kaum feminis. Kaum feminis mengkritik Marx karena mengabaikan penindasan terhadap perempuan. Penindasan gender tidak selalu bisa direduksi menjadi soal kelas. Perempuan dari kelas borjuis pun tetap ditindas oleh laki-laki dari kelas yang sama. Ketiga, kritik dari para sejarawan. Banyak sejarawan menunjukkan bahwa sejarah manusia tidak selalu bisa dijelaskan dengan perjuangan kelas. Ada banyak faktor lain yang memengaruhi perubahan sosial: agama, budaya, teknologi, iklim, bencana alam, dan sebagainya.

Dari pernyataan Marx ini kita perlu mengingat sejumlah hal. Pertama, perjuangan kelas itu nyata. Kita bisa melihat sendiri di sekitar kita: buruh menuntut upah, petani menuntut tanah, pekerja informal menuntut perlindungan. Konflik antara yang punya dan yang tidak punya memang ada dan terus berlangsung. Kedua, penindasan tidak hanya soal kelas. Orang bisa ditindas juga karena agamanya, rasnya, sukunya, jenis kelaminnya, atau orientasi seksualnya. Perjuangan keadilan harus memperhitungkan semua dimensi ini. Ketiga, sejarah tidak berhenti. Marx benar bahwa sejarah selalu berubah. Sistem yang tampak abadi yakni perbudakan, feodalisme, kapitalisme, semuanya punya awal dan akhir. Maka, kita tidak boleh putus asa. Perubahan selalu mungkin.

Hess, sebaliknya, berargumen bahwa konflik etnis dan nasional memiliki logikanya sendiri yang tidak dapat direduksi menjadi konflik kelas. Ia menulis:

"The race struggle is the primal struggle, and the class struggle is secondary. The last dominating race is the German race, and the last suppressed race is the Jewish race" (Hess, Rome and Jerusalem 5).

Terjemahan:

Perjuangan ras adalah perjuangan yang paling mendasar, dan perjuangan kelas hanyalah nomor dua. Ras terakhir yang berkuasa adalah ras Jerman, dan ras terakhir yang tertindas adalah ras Yahudi.

Dalam kerangka ini, pembebasan nasional Yahudi tidak dapat ditunda sampai revolusi proletar dunia. Orang Yahudi harus membebaskan diri mereka sendiri sebagai bangsa, dan pembebasan ini akan menjadi model bagi bangsa-bangsa tertindas lainnya.

Kalimat ini ditulis oleh Moses Hess dalam bukunya Rome and Jerusalem (1862). Ini adalah salah satu pernyataan paling tegas dan paling kontroversial dari Hess, karena di sini ia secara langsung membalik prioritas yang selama ini dipegang oleh Karl Marx dan kaum sosialis. Mari kita bedah pelan-pelan, bagian demi bagian.

Apa yang Hess maksudkan dengan kalimat "perjuangan ras adalah perjuangan yang paling mendasar"? Hess memakai kata "ras" di sini, tetapi dalam konteks abad ke-19, kata itu lebih dekat artinya dengan bangsa atau etnis, bukan ras dalam pengertian biologis yang kaku seperti yang dipakai oleh kaum Nazi kemudian. Maksud Hess adalah: "Konflik paling dalam dalam sejarah manusia bukanlah konflik antara buruh dan majikan. Konflik yang paling mendasar adalah konflik antara bangsa yang menindas dan bangsa yang ditindas." Dengan kata lain: Sebelum orang berpikir sebagai "pekerja" atau "pemilik modal", dia sudah lebih dulu dianggap sebagai "orang Yahudi", "orang Jerman", "orang Arab", dan seterusnya. Identitas etnis dan nasional lebih kuat dan lebih dalam daripada identitas kelas. Maka, perjuangan pembebasan nasional harus didahulukan daripada perjuangan kelas.

Juga kita perlu klarifikasi mengapa Hess menyatakan bahwa "perjuangan kelas hanyalah nomor dua"? Ini adalah pukulan langsung terhadap Karl Marx. Marx percaya bahwa konflik utama dalam masyarakat adalah konflik antara borjuis (pemilik modal) dan proletar (buruh). Semua bentuk penindasan lain yakni ras, etnis, agama dianggap Marx sebagai turunan dari konflik kelas. Hess membalik logika ini: "Salah, Marx. Justru konflik etnis dan nasional itulah yang paling mendasar. Konflik kelas itu sekunder, nomor dua." Mengapa Hess begitu yakin? Karena ia menyaksikan sendiri bahwa antisemitisme tidak hilang meskipun orang Yahudi sudah menjadi bagian dari kelas pekerja atau bahkan kelas menengah. Orang Yahudi tetap dibenci bukan karena mereka kapitalis atau buruh, tetapi karena mereka Yahudi. Jadi, Hess menyimpulkan bahwa penindasan terhadap orang Yahudi bukan semata-mata soal ekonomi. Ada lapisan kebangsaan dan identitas yang jauh lebih dalam.

Kemudian perlu pula kita klarifikasi apa yang ia maksud dengan "ras terakhir yang berkuasa adalah ras Jerman"? Hess menulis ini pada tahun 1862, di tengah kebangkitan nasionalisme Jerman. Pada masa itu, bangsa Jerman sedang dalam proses menyatukan diri menjadi satu negara yang kuat. Ada rasa bangga yang meluap-luap tentang "kejayaan bangsa Jerman", dan bersamaan dengan itu muncul juga anggapan bahwa bangsa Jerman adalah bangsa yang paling unggul di Eropa. Hess melihat ini sebagai bahaya besar. Ia menyebut Jerman sebagai "ras terakhir yang berkuasa" karena: 1) Jerman sedang naik daun sebagai kekuatan dominan di Eropa; 2) Nasionalisme Jerman yang agresif sedang berkembang, dan 3) Dan yang paling mencemaskan: kebencian terhadap orang Yahudi semakin menjadi bagian dari identitas "kejermanan". Bagi Hess, ini adalah tanda bahwa sebentar lagi akan terjadi bencana besar bagi orang Yahudi dan sejarah kemudian membuktikannya dengan Holocaust.

Sejalan dengan paragraf di atas, kita juga perlu kritis atas apa yang Hess maksud dengan “ras terakhir yang tertindas adalah ras Yahudi"? Hess menyebut orang Yahudi sebagai "ras terakhir yang tertindas" karena: 1) Di Eropa, hampir semua bangsa sudah punya negara sendiri: Prancis, Inggris, Jerman, Italia, dan seterusnya; 2) Satu-satunya bangsa yang masih terpencar-pencar tanpa tanah air adalah bangsa Yahudi; 3) Mereka ditindas di mana-mana, tidak punya tempat berlindung, dan selalu dijadikan kambing hitam. Dengan kata lain, Hess sedang bilang: "Semua bangsa Eropa sudah merdeka dan punya negara. Tinggal bangsa Yahudi yang belum. Dan merekalah yang paling menderita."

Dengan demikian, penting bagi kita untuk menganalisis mengapa Hess bisa sampai pada pikiran seperti itu? Hess awalnya adalah pendukung asimilasi, ia percaya bahwa orang Yahudi cukup berbaur dan menjadi warga negara yang baik di negara-negara Eropa. Tetapi ia berubah pikiran karena beberapa hal. Pertama, kegagalan asimilasi. Orang Yahudi yang sudah berusaha keras berbaur tetap dianggap "Yahudi" dan tetap dibenci. Hess melihat bahwa identitas Yahudi tidak bisa dihapus begitu saja oleh niat baik. Kedua, bangkitnya antisemitisme baru. Pada abad ke-19, kebencian terhadap Yahudi tidak lagi didasarkan pada agama, tetapi pada ras. Orang Yahudi dianggap sebagai "bangsa asing" yang mencemari kemurnian bangsa Eropa. Ini adalah bentuk antisemitisme yang jauh lebih berbahaya. Ketiga, pengaruh gerakan kebangsaan Italia. Hess melihat bagaimana Italia, yang tadinya terpecah-pecah, berhasil bersatu melalui gerakan nasional. Ia berpikir: kalau Italia bisa bersatu sebagai bangsa, mengapa orang Yahudi tidak bisa?

Kita harus waspada bahwa terdapat sisi gelap dari argumen Hess. Meskipun argumen Hess terasa masuk akal dalam konteks penderitaan Yahudi di Eropa, ia menyimpan masalah besar. Pertama, kata "ras" yang bermasalah. Hess memakai kata "ras" untuk menggambarkan konflik antarbangsa. Padahal, pemakaian kata ini sangat berbahaya karena bisa ditunggangi oleh paham rasisme. Kaum Nazi kemudian memakai bahasa tentang "kemurnian ras Jerman" untuk membenarkan pembantaian orang Yahudi. Kedua, mengabaikan bangsa lain yang tertindas. Hess begitu fokus pada penderitaan bangsa Yahudi sehingga ia lupa bahwa di Palestina, tanah yang ia impikan sebagai tanah air Yahudi, sudah ada bangsa Arab yang juga tertindas oleh kekuatan kolonial. Ketiga, menciptakan hierarki penindasan. Dengan berkata "perjuangan ras lebih mendasar daripada perjuangan kelas", Hess seolah-olah ingin membuat hierarki: ada penindasan yang "lebih penting" dan "kurang penting". Ini berbahaya karena bisa dipakai untuk mengabaikan bentuk-bentuk penindasan lain.

Dengan demikian, maka sejumlah hal penting dapat kita tarik dari bahasan ini. Pertama, penindasan itu berlapis-lapis. Manusia bisa tertindas sebagai pekerja, sebagai orang miskin, sebagai perempuan, sebagai kelompok etnis, sebagai pemeluk agama tertentu, semuanya sekaligus. Tidak bisa disederhanakan hanya pada satu faktor. Kedua, jangan membuat hierarki penderitaan. Tidak adil untuk berkata "perjuangan ras lebih penting daripada perjuangan kelas" atau sebaliknya. Semua bentuk penindasan itu nyata dan saling terkait. Ketiga, waspadai nasionalisme yang mengorbankan bangsa lain. Nasionalisme bisa menjadi kekuatan pembebasan, tetapi juga bisa menjadi kekuatan penindasan baru. Ketika nasionalisme satu bangsa dibangun di atas pengabaian hak bangsa lain, ia berubah menjadi kolonialisme. Keempat, belajarlah dari sejarah, jangan mengulanginya. Hess meramalkan bencana Holocaust hampir 80 tahun sebelum terjadi. Itu menunjukkan bahwa ia mampu membaca tanda-tanda zaman. Tetapi ia gagal melihat bahwa solusinya sendiri, Zionisme, akan melahirkan bencana baru bagi bangsa Palestina.

Kritik pascakolonial terhadap Marx telah menunjukkan bahwa fokusnya pada kelas membuatnya buta terhadap realitas penindasan rasial dan kolonial. Sebagaimana ditulis oleh Cedric Robinson dalam Black Marxism:

"The failure of Marxism to account for the historical force of race is not merely an analytical oversight; it is a structural blindness that has made Marxism complicit with the very systems of domination it claims to oppose" (Robinson 2).

Terjemahan:
 
Kegagalan Marxisme untuk memperhitungkan kekuatan historis dari ras bukanlah sekadar kelalaian analitis. Ini adalah kebutaan struktural yang telah membuat Marxisme ikut terlibat dalam sistem-sistem penindasan yang justru ingin dilawannya.

Namun, kritik yang sama juga dapat diarahkan kepada Hess. Dengan fokus pada etnis Yahudi, Hess menjadi buta terhadap realitas etnis Arab Palestina. Keduanya, dengan cara yang berbeda, gagal memahami interseksionalitas penindasan, bahwa manusia selalu tertindas dalam berbagai cara sekaligus, dan pembebasan harus memperhitungkan semua dimensi ini secara bersamaan.

Kutipan di atas ditulis oleh Cedric Robinson, seorang pemikir kulit hitam Amerika, dalam bukunya yang sangat berpengaruh, Black Marxism: The Making of the Black Radical Tradition (1983). Buku ini menjadi fondasi penting bagi apa yang sekarang disebut Tradisi Radikal Kulit Hitam, sebuah arus pemikiran yang mengkritik Marxisme dari dalam, sambil tetap memperjuangkan keadilan. Mari kita bedah kalimat ini pelan-pelan.

Apa yang Robinson maksudkan dengan "kekuatan historis dari ras"? Robinson memakai istilah ini untuk menunjukkan bahwa ras bukanlah hal sepele dalam sejarah. Ras, atau lebih tepatnya, cara orang mengelompokkan dan membedakan manusia berdasarkan warna kulit, asal-usul, dan ciri fisik, telah menjadi kekuatan besar yang membentuk: 1) Perbudakan (jutaan orang Afrika diculik dan diperbudak); 2) Kolonialisme (bangsa Eropa menjajah Asia, Afrika, dan Amerika); 3) Diskriminasi dan segregasi (pemisahan rasial di Amerika, apartheid di Afrika Selatan), dan 4) Genosida (pembantaian massal atas dasar ras). Dengan kata lain, ras bukan sekadar "tambahan" dalam sejarah. Ras adalah salah satu kekuatan utama yang menentukan siapa yang berkuasa dan siapa yang ditindas.

Lalu, apa masalah Robinson dengan Marxisme? Marxisme, menurut Robinson, punya titik buta terhadap ras. Karl Marx dan para pengikutnya berpendapat bahwa konflik utama dalam masyarakat adalah konflik kelas, antara borjuis (pemilik modal) dan proletar (buruh). Semua bentuk penindasan lain, termasuk rasisme, dianggap hanya turunan dari konflik kelas. Marx percaya: "Kalau kapitalisme sudah dihancurkan dan kelas-kelas sudah dihapus, maka rasisme akan hilang dengan sendirinya." Bagi Robinson, ini adalah kesalahan besar. Kenapa? Karena sejarah menunjukkan bahwa rasisme punya akarnya sendiri, tidak sekadar menempel pada kapitalisme. Bahkan di dalam gerakan buruh sendiri, sering terjadi diskriminasi rasial. Buruh kulit putih di Amerika, misalnya, sering kali menolak bersatu dengan buruh kulit hitam, bahkan bersekutu dengan majikan untuk menindas mereka. Jadi, rasisme bukan sekadar "alat kapitalisme". Rasisme adalah sistem penindasan yang berdiri sendiri, dengan logika dan sejarahnya sendiri.

Hal menarik lainnya adalah apa yang Robinson maksudkan dengan "kebutaan struktural"? Ini adalah istilah kunci dalam kalimat Robinson. Kebutaan struktural artinya: Ketidakmampuan untuk melihat sesuatu bukan karena orangnya bodoh atau jahat, tetapi karena cara berpikirnya sendiri yang membuatnya tidak bisa melihat. Dalam hal ini, Marxisme punya kebutaan struktural terhadap ras karena: Teorinya dibangun di atas pengalaman buruh Eropa. Ia tidak memperhitungkan pengalaman orang-orang terjajah dan diperbudak di luar Eropa. Ia menganggap ras hanya sebagai "efek samping" dari kapitalisme, bukan sebagai sistem penindasan yang nyata dan mandiri. Akibatnya, ketika Marxisme dipraktikkan, ia sering kali mengabaikan atau bahkan menindas kelompok-kelompok rasial yang tertindas.

Contoh nyata dari hal ini cukup banyak. Banyak partai komunis di negara-negara Barat yang tidak memperjuangkan hak-hak orang kulit hitam. Di Uni Soviet, banyak kelompok etnis minoritas yang tetap ditindas oleh negara yang mengaku "sosialis". Dalam gerakan buruh, solidaritas kelas sering kali kalah oleh solidaritas ras, buruh kulit putih lebih memilih bersatu dengan majikan kulit putih daripada dengan buruh kulit hitam. Inilah yang dimaksud Robinson: Marxisme tidak sengaja buta terhadap ras, tetapi kebutaannya itu sudah mendarah daging dalam teorinya.

Dengan demikian maka apa yang Robinson maksudkan dengan “ikut terlibat dalam sistem penindasan"? Ini adalah tuduhan yang sangat serius dari Robinson. Ia berkata bahwa karena Marxisme buta terhadap ras, maka dalam praktiknya Marxisme justru membantu melanggengkan penindasan rasial. Bagaimana bisa? Ketika Marxisme menganggap perjuangan kelas lebih penting daripada perjuangan melawan rasisme, maka isu-isu rasial diabaikan. Ketika partai-partai kiri mengabaikan aspirasi orang kulit hitam atau bangsa terjajah, maka mereka kehilangan dukungan dari kelompok-kelompok itu. Ketika negara-negara sosialis menindas kelompok etnis minoritas, maka mereka sebenarnya sedang melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh negara kapitalis. Dengan kata lain, Marxisme yang seharusnya menjadi alat pembebasan, dalam praktiknya sering kali menjadi alat penindasan baru, terutama bagi orang-orang non-Eropa dan non-kulit putih.

Hal yang juga harus kita pertanyakan adalah mengapa Robinson menulis masalah-masalah ini? Cedric Robinson adalah seorang pemikir kulit hitam yang tumbuh dalam tradisi perjuangan hak-hak sipil dan gerakan radikal kulit hitam di Amerika. Ia menulis Black Marxism karena merasa bahwa Marxisme Eropa tidak cukup untuk menjelaskan dan melawan penindasan yang dialami oleh orang kulit hitam. Menurut Robinson, orang kulit hitam punya tradisi perjuangan mereka sendiri, yang ia sebut Tradisi Radikal Kulit Hitam, yang lahir dari pengalaman perbudakan, kolonialisme, dan rasisme. Tradisi ini tidak bisa begitu saja dimasukkan ke dalam kerangka Marxisme Eropa. Robinson juga menunjukkan bahwa banyak gerakan pembebasan di Afrika, Karibia, dan Amerika Latin yang justru lahir dari akar budaya dan spiritual mereka sendiri, bukan dari teori Marx.
 
Bayangkan ada sebuah organisasi buruh di sebuah kota. Organisasi ini berjuang menuntut kenaikan upah untuk semua buruh. Tetapi di dalam organisasi itu: 1) Buruh dari kelompok etnis tertentu tidak pernah dipilih jadi pemimpin; 2) Aspirasi buruh perempuan tidak pernah dibahas; 3) Buruh dari kelompok agama minoritas sering diolok-olok. Ketika dikritik, para pemimpin organisasi itu berkata: "Ah, itu soal kelas. Kalau upah sudah naik, semua masalah lain akan selesai." Inilah contoh kebutaan struktural. Organisasi itu mengaku memperjuangkan semua buruh, tetapi dalam praktiknya ia mengabaikan penindasan lain yang dialami oleh sebagian anggotanya.

Dari Cedric Robinson kita dapat menarik sejumlah pelajaran penting. Pertama, jangan hanya fokus pada satu jenis penindasan. Keadilan sejati harus memperhitungkan semua bentuk penindasan: kelas, ras, gender, agama, dan seterusnya. Tidak bisa hanya fokus pada satu dan mengabaikan yang lain. Kedua, belajar dari pengalaman kelompok yang tertindas. Teori yang lahir dari pengalaman buruh Eropa tidak bisa dipakai mentah-mentah untuk memahami pengalaman orang kulit hitam, orang Palestina, atau bangsa terjajah lainnya. Kita harus mendengarkan suara mereka sendiri. Ketiga, gerakan pembebasan juga perlu dikritik. Tidak ada gerakan yang sempurna. Bahkan gerakan yang mengaku paling progresif, seperti Marxisme, bisa punya titik buta dan justru melanggengkan penindasan. Maka, kita harus selalu kritis, termasuk terhadap gerakan yang kita dukung. Keempat, jangan menganggap penindasan akan hilang dengan sendirinya. Rasisme tidak akan hilang hanya karena kapitalisme dihapus. Ia punya akarnya sendiri dan harus dilawan secara khusus.

Revolusi Proletar versus Zionisme Sosialis

Perbedaan ketiga adalah solusi politik yang mereka tawarkan.

Marx menawarkan revolusi proletar dunia. Ia percaya bahwa kontradiksi internal kapitalisme akan menciptakan kondisi objektif bagi revolusi ini, dan tugas kaum sosialis adalah mempercepat dan memfasilitasi proses tersebut. Dalam The Communist Manifesto, ia menulis:

"The proletarians have nothing to lose but their chains. They have a world to win. Workers of the world, unite!" (Marx dan Engels 64).

Terjemahan:
 
Kaum proletar tidak punya apa-apa untuk ditakuti kecuali rantai mereka sendiri. Mereka punya dunia untuk dimenangkan. Pekerja di seluruh dunia, bersatulah!

Kalimat ini adalah kalimat penutup yang sangat terkenal dari Manifesto Komunis (1848), karya Karl Marx dan Friedrich Engels. Kalimat ini menjadi seruan perjuangan bagi gerakan buruh di seluruh dunia selama lebih dari satu abad. Mari kita bedah maknanya secara sederhana.

Harus kita definisikan dulu apa yang mereka maksud dengan "kaum proletar"? Istilah "proletar" berasal dari bahasa Latin proletarius, yang awalnya dipakai di zaman Romawi kuno untuk menyebut warga kelas paling bawah yang tidak punya harta apa pun kecuali anak-anak mereka (proles). Dalam pemikiran Marx, proletar adalah: Kelas pekerja yang tidak punya alat produksi (tanah, pabrik, mesin) dan hanya bisa menjual tenaga kerjanya untuk bertahan hidup. Contoh sederhana di zaman sekarang: 1) Buruh pabrik; 2) Pekerja bangunan; 3) Karyawan kontrak; 4) Petani kecil yang tidak punya tanah sendiri, dan 5) Pekerja serabutan di kota besar. Mereka bekerja keras, tetapi hasil kerja mereka sebagian besar dinikmati oleh pemilik modal. Mereka hidup pas-pasan, sementara pemilik modal semakin kaya.

Kemudian kita juga harus kritis dengan pernyataan "tidak punya apa-apa untuk ditakuti kecuali rantai mereka sendiri"? Ini adalah kalimat yang sangat kuat dan puitis. Marx ingin bilang: "Kaum buruh sudah berada di titik paling bawah. Mereka sudah tidak punya apa-apa lagi. Satu-satunya yang masih mereka miliki adalah penderitaan mereka sendiri, yang diibaratkan sebagai rantai. Jadi, mereka tidak punya alasan untuk takut berjuang. Kalau pun gagal, keadaan mereka tidak akan lebih buruk dari sekarang." Ini adalah logika keberanian dari orang yang sudah tidak punya apa-apa: 1) Orang kaya takut kehilangan hartanya; 2) Orang berkuasa takut kehilangan jabatannya. Tetapi buruh miskin tidak takut apa-apa, karena mereka memang sudah tidak punya apa-apa. Maka, merekalah yang paling berani untuk melakukan perubahan besar.

Konsep yang juga perlu kita kritisi adalah "mereka punya dunia untuk dimenangkan"? Marx ingin bilang: "Kaum buruh adalah mayoritas. Kalau mereka bersatu, mereka bisa mengubah seluruh dunia." Bayangkan: di setiap negara, jumlah buruh jauh lebih banyak daripada jumlah pemilik modal. Kalau semua buruh di seluruh dunia bersatu, mereka punya kekuatan yang luar biasa besar. Marx percaya bahwa kaum buruh bukan hanya berjuang untuk diri mereka sendiri, tetapi untuk seluruh umat manusia. Karena kalau kapitalisme dihancurkan, maka bukan hanya buruh yang terbebas, tetapi semua orang, karena tidak akan ada lagi sistem yang menindas.

Setelah pertanyaan di atas, maka pertanyaan susulan yang relevan adalah apa maksud "pekerja di seluruh dunia, bersatulah!"? Ini adalah seruan internasionalisme. Marx sadar bahwa kapitalisme tidak mengenal batas negara. Pemilik modal di satu negara bisa memindahkan pabriknya ke negara lain yang buruhnya lebih murah. Mereka bisa memecah belah buruh dengan mengadu buruh di satu negara melawan buruh di negara lain. Maka, Marx menyerukan: "Jangan bertengkar dengan sesama buruh. Jangan biarkan perbedaan bangsa, ras, atau agama memecah belah kalian. Kalian semua adalah buruh, dan musuh kalian sama: sistem kapitalis. Maka, bersatulah melampaui batas-batas negara." Ini adalah seruan yang sangat idealis dan mulia: solidaritas buruh sedunia.

Kenapa kalimat ini begitu berpengaruh? Kalimat ini menjadi sangat terkenal karena sejumlah hal yang utopis tetapi berujung distopia. Pertama, memberi harapan. Bagi buruh yang hidup dalam penderitaan, kalimat ini memberi harapan bahwa mereka bisa mengubah nasib mereka sendiri. Mereka bukan korban yang pasif; mereka punya kekuatan. Kedua, memberi arah. kalimat ini memberi arah yang jelas: bersatu, berjuang, dan rebut dunia. Ketiga, menggetarkan jiwa. Bahasa kalimat ini sangat kuat dan puitis. Ia seperti teriakan perang yang membakar semangat.

Sebab itu kita harus ajukan kritik terhadap kalimat ini. Meskipun sangat berpengaruh, kalimat ini juga banyak dikritik. Pertama, kritik dari Moses Hess. Hess, yang dulu adalah mentor Marx, berkata: "Perjuangan ras adalah perjuangan yang paling mendasar, dan perjuangan kelas hanyalah nomor dua." Artinya, seruan "pekerja di seluruh dunia, bersatulah" terlalu mengandalkan solidaritas kelas. Tetapi kenyataannya, buruh Jerman dan buruh Yahudi tidak serta-merta bersatu, karena buruh Jerman sering kali lebih dulu menganggap buruh Yahudi sebagai "orang asing" daripada "sesama buruh". Kedua, kritik dari Frantz Fanon. Fanon menunjukkan bahwa di negara-negara jajahan, buruh lokal tidak bisa begitu saja bersatu dengan buruh dari negara penjajah, karena buruh penjajah pun sering kali menikmati keuntungan dari sistem kolonial. Ketiga, kritik dari kaum feminis. Kaum feminis mengkritik bahwa seruan Marx tidak menyebut buruh perempuan. Padahal buruh perempuan sering kali ditindas ganda: sebagai buruh dan sebagai perempuan. Keempat, kritik dari para pengkritik komunisme. Banyak negara yang mengaku "komunis" ternyata justru menjadi negara yang otoriter dan menindas rakyatnya sendiri. Maka, seruan indah ini dianggap tidak terbukti dalam praktik.

Dengan demikian terdapat sejumlah hal yang dapat kita tarik. Pertama, keberanian lahir dari keadaan yang tidak punya apa-apa. Orang yang sudah tidak punya apa-apa tidak perlu takut berjuang untuk perubahan. Kedua, persatuan adalah kekuatan. Buruh bisa menjadi kekuatan besar kalau mereka bersatu. Tetapi persatuan itu tidak boleh mengabaikan perbedaan ras, bangsa, dan gender. Ketiga, kata-kata yang indah harus diuji dalam praktik. Seruan Marx sangat indah, tetapi sejarah menunjukkan bahwa mewujudkannya tidak mudah. Kita harus belajar dari kegagalan dan keberhasilan gerakan-gerakan buruh di seluruh dunia.

Hess menawarkan zionisme sosialis. Ia percaya bahwa orang Yahudi harus mendirikan negara mereka sendiri di Palestina, dan negara ini harus dibangun di atas prinsip-prinsip sosialis, koperasi, kepemilikan kolektif, dan solidaritas. Namun, berbeda dengan Marx yang menekankan revolusi, Hess menekankan pembangunan bertahap melalui pemukiman kembali dan penciptaan institusi-institusi sosialis di tanah air Yahudi (Avineri, "Introduction" xv).

Perbedaan ini mencerminkan perbedaan filosofis yang lebih dalam. Marx adalah seorang revolusioner yang percaya bahwa tatanan lama harus dihancurkan sebelum tatanan baru dapat dibangun. Hess adalah seorang evolusionis yang percaya bahwa tatanan baru dapat dibangun secara bertahap di dalam dan di samping tatanan lama. Dalam kerangka pascakolonial, perbedaan ini sangat penting karena menyangkut pertanyaan tentang kekerasan revolusioner versus kekerasan kolonial. Marx melegitimasi kekerasan revolusioner sebagai alat untuk menghancurkan kapitalisme; Hess, tanpa disadari, melegitimasi kekerasan kolonial sebagai alat untuk membangun tanah air Yahudi.


Warisan Hess dalam Perdebatan Kontemporer


Warisan Moses Hess tetap hidup dalam perdebatan kontemporer, bukan hanya sebagai tokoh sejarah, tetapi sebagai cermin yang memantulkan ketegangan-ketegangan yang belum terselesaikan dalam proyek emansipatoris.


Dari Kacamata Israel

Para intelektual Israel, terutama yang berhaluan kiri, menempatkan Hess pada posisi terhormat. Shlomo Avineri, ilmuwan politik terkemuka Israel, menyebut Hess sebagai "nabi komunisme dan Zionisme" dan menekankan bahwa Zionisme Hess bersifat humanis dan sosialis, berbeda dari arus utama Zionisme politik Herzl yang lebih pragmatis (Avineri, Moses Hess 221). Bagi Avineri, Hess adalah bukti bahwa Zionisme dan sosialisme tidak hanya kompatibel, tetapi saling membutuhkan: Zionisme memberikan dimensi nasional bagi sosialisme, dan sosialisme memberikan dimensi etis bagi Zionisme.

Namun, para kritikus sayap kiri Israel yang lebih radikal, seperti Amnon Raz-Krakotzkin, berargumen bahwa bahkan Zionisme Buruh yang dianggap humanis oleh Avineri tetap merupakan proyek kolonial. Raz-Krakotzkin menulis:

"The tragedy of the Zionist left is that it continues to believe in the possibility of a moral colonial project. But there is no such thing. Every colonial project, no matter how well-intentioned, is based on the denial of the rights and the humanity of the indigenous population" (Raz-Krakotzkin 112).

Terjemahan:
 
Tragedi dari kaum kiri Zionis adalah bahwa mereka terus percaya pada kemungkinan adanya proyek kolonial yang bermoral. Padahal, hal seperti itu tidak pernah ada. Setiap proyek kolonial, betapapun tulus niatnya, selalu didasarkan pada penyangkalan terhadap hak-hak dan kemanusiaan penduduk asli.

Dalam kerangka ini, Hess adalah contoh sempurna dari "tragedi Zionis kiri": ia adalah seorang humanis yang tulus, tetapi humanismenya dibatasi oleh batas-batas etnis yang dibuat oleh proyek kolonial.
Kalimat ini ditulis oleh Amnon Raz-Krakotzkin, seorang pemikir dan sejarawan Israel yang kritis terhadap Zionisme. Ia menyuarakan kritik dari dalam, sebagai orang Israel sendiri, terhadap proyek Zionis yang telah berlangsung lebih dari satu abad. Mari kita bedah kalimat ini pelan-pelan.

Apa itu "kaum Kiri Zionis"? Untuk memahami istilah ini, kita perlu membedakan dua hal. Pertama, Zionisme adalah gerakan yang memperjuangkan berdirinya tanah air bagi orang Yahudi di Palestina. Gerakan ini dimulai pada akhir abad ke-19 dan berhasil mendirikan Negara Israel pada tahun 1948. Kedua, Kaum Kiri yang dalam konteks politik, "kiri" biasanya merujuk pada kelompok yang memperjuangkan keadilan sosial, kesetaraan, dan pembelaan terhadap kaum tertindas. Nah, kaum kiri Zionis adalah: Orang-orang yang mendukung berdirinya Israel, tetapi ingin membangunnya dengan cara yang lebih adil dan humanis.
 
Mereka adalah pewaris dari gagasan Zionisme Buruh (Labor Zionism), gagasan yang dirintis oleh Moses Hess, yang menggabungkan cita-cita sosialis dengan nasionalisme Yahudi. Tokoh-tokoh seperti David Ben-Gurion, pendiri Israel, berasal dari tradisi ini. Kaum kiri Zionis percaya bahwa Israel bisa menjadi negara yang: 1) Demokratis; 2) Menghormati hak asasi manusia; 3) Adil bagi semua warganya, dan 4) Sekaligus tetap menjadi tanah air bagi orang Yahudi

Lalu kemudian apa yang dimaksud dengan "Proyek Kolonial yang Bermoral"? Ini sebuah kalimat paradoks. Istilah ini adalah inti dari kritik Raz-Krakotzkin. Proyek kolonial adalah usaha untuk menguasai tanah dan sumber daya di suatu wilayah dengan mendatangkan pemukim dari luar, biasanya dengan mengorbankan penduduk asli. Proyek kolonial yang bermoral adalah gagasan bahwa proyek kolonial bisa dilakukan dengan cara yang baik, adil, dan manusiawi, bahwa pemukim dan penduduk asli bisa hidup berdampingan secara damai dan saling menguntungkan. Nah, Raz-Krakotzkin berkata: "Kaum kiri Zionis masih percaya bahwa proyek kolonial bisa dijalankan dengan moral. Mereka pikir, kalau niatnya baik, hasilnya juga akan baik. Mereka pikir, kalau Israel dibangun dengan semangat sosialis, maka itu bukan kolonialisme." Dan di sinilah letak kritiknya yang tajam.

Pertanyaan lanjutannya kemudian adalah apakah "tidak ada proyek kolonial yang bermoral"? Raz-Krakotzkin menegaskan: "Percaya pada proyek kolonial yang bermoral adalah ilusi. Itu tidak mungkin ada." Kenapa tidak mungkin? Karena inti dari kolonialisme adalah penyangkalan terhadap hak penduduk asli. Kolonialisme, pada dasarnya, selalu menganggap bahwa: Tanah yang diambil bukan milik penduduk asli, atau setidaknya penduduk asli tidak berhak penuh atas tanah itu. Penduduk asli tidak punya hak yang sama dengan pemukim. Pemukim boleh datang, menetap, dan menguasai tanah itu, sementara penduduk asli harus menyingkir atau tunduk. Selama logika ini dipertahankan, tidak peduli seberapa baik niat para pemukim, hasilnya tetap penindasan. Karena struktur dasarnya sudah tidak adil.

Kemudian apa relevansi masalah kolonialisme dengan Zionisme? Raz-Krakotzkin melihat bahwa Zionisme termasuk Zionisme kiri yang dianggap "humanis", tetap dibangun di atas penyangkalan terhadap hak orang Palestina. Sejak awal, para pemukim Zionis datang ke Palestina dengan anggapan bahwa: Tanah itu adalah "tanah tanpa rakyat" (seperti yang ditulis Moses Hess). Orang Palestina yang sudah tinggal di sana tidak punya hak yang setara. Kepentingan orang Yahudi lebih penting daripada kepentingan penduduk asli. Bahkan ketika kaum kiri Zionis berbicara tentang "koeksistensi" dan "perdamaian", mereka tetap mempertahankan struktur yang tidak adil: Israel sebagai negara Yahudi, di mana orang Yahudi punya hak lebih istimewa daripada orang Palestina. Maka, Raz-Krakotzkin berkata: "Bahkan Zionisme yang paling humanis sekalipun tetap kolonial. Karena ia tetap didasarkan pada penyangkalan hak orang Palestina."

Contoh nyata bisa dilihat dalam sejarah Israel. Pertama, Kibbutz yakni desa kolektif yang didirikan oleh para pemukim Yahudi dengan semangat sosialis. Di kibbutz, semua orang setara, harta dimiliki bersama, dan kerja dihargai sama. Tapi ada sisi gelapnya: banyak kibbutz didirikan di atas tanah milik orang Palestina yang telah diusir. Jadi, komunitas sosialis yang indah itu dibangun di atas penderitaan orang lain. Kedua, perdamaian yang ditawarkan. Beberapa kelompok kiri Zionis menawarkan "perdamaian" dan "dua negara". Tetapi tawaran itu tetap menempatkan orang Palestina sebagai pihak yang harus menerima kenyataan bahwa tanah mereka telah diambil. Ketiga, hukum negara-bangsa. Pada tahun 2018, Israel mengesahkan undang-undang yang menyatakan bahwa hak untuk menentukan nasib sendiri di Israel hanya milik orang Yahudi. Ini adalah contoh nyata bagaimana negara Zionis secara hukum menyangkal hak orang Palestina, bahkan mereka yang menjadi warga negara Israel.

Lalu, kenapa ini disebut "tragedi"? Raz-Krakotzkin memakai kata "tragedi" karena ia melihat bahwa kaum kiri Zionis sebenarnya punya niat baik. Mereka bukan orang jahat. Mereka sungguh-sungguh ingin membangun masyarakat yang adil. Mereka percaya pada kesetaraan, solidaritas, dan perdamaian. Tetapi mereka terjebak dalam kontradiksi yang tidak bisa diselesaikan: Mereka ingin membangun masyarakat yang adil, tetapi di atas tanah yang diambil secara tidak adil dari orang lain. Inilah tragedi: orang baik yang terjebak dalam proyek yang tidak bisa dibenarkan.

Dengan demikian kembali dapat kita tarik kesimpulan politik dari masalah ini. Pertama, niat baik tidak cukup. Kita tidak bisa menilai sebuah proyek hanya dari niatnya. Kita harus melihat dampaknya dan strukturnya. Kalau strukturnya tidak adil, niat baik tidak akan menyelamatkannya. Kedua, kolonialisme tidak bisa dibersihkan. Tidak ada cara untuk menjadikan kolonialisme "baik". Karena inti dari kolonialisme adalah perampasan. Kalau kita mau adil, kita harus menghentikan perampasan itu, bukan memperindahnya. Ketiga, kita harus berani mengkritik kelompok yang kita anggap "baik". Kaum kiri Zionis sering dianggap lebih baik daripada kelompok sayap kanan Zionis. Tetapi kritik Raz-Krakotzkin menunjukkan bahwa bahkan kelompok yang "lebih baik" pun tetap punya masalah mendasar. Keempat, dengarkan suara penduduk asli. Selama suara orang Palestina tidak didengarkan, tidak ada solusi yang adil. Keadilan hanya bisa dicapai kalau hak-hak mereka diakui sepenuhnya.

Dari Kacamata Palestina

Dari kacamata Palestina, Hess adalah pelopor dari proyek yang telah menghancurkan masyarakat mereka. Edward Said, dalam The Question of Palestine, secara eksplisit mengkritik para pemikir Zionis awal seperti Hess karena "mereka tidak pernah melihat orang Arab sebagai manusia yang setara, hanya sebagai objek yang harus disingkirkan atau diabaikan" (Said, Question 23). Bagi Said, kegagalan ini bukanlah kecelakaan historis, melainkan struktur epistemologis yang melekat dalam proyek Zionis sejak awal.

Sejarawan Palestina seperti Rashid Khalidi setuju. Dalam The Hundred Years' War on Palestine, Khalidi menulis:

"The early Zionists were not merely ignorant of the Arab population of Palestine; they were structurally incapable of seeing them. Their entire framework of thought was shaped by European colonialism, which taught them to see non-European lands as empty spaces waiting to be claimed" (Khalidi 17).

Terjemahan:
 
Para Zionis awal bukan sekadar tidak tahu tentang keberadaan penduduk Arab Palestina. Mereka secara struktural tidak mampu melihat mereka. Seluruh kerangka berpikir mereka dibentuk oleh kolonialisme Eropa, yang mengajarkan mereka untuk memandang tanah-tanah di luar Eropa sebagai ruang kosong yang menunggu untuk diklaim."

Dalam kerangka ini, Hess adalah contoh paradigmatik dari "buta epistemologis" yang menjadi ciri khas kolonialisme pemukim (settler colonialism). Ia bukanlah orang jahat; ia adalah orang baik yang terjebak dalam struktur pemikiran yang jahat.

Kalimat ini ditulis oleh Rashid Khalidi, seorang sejarawan Palestina terkemuka, dalam bukunya The Hundred Years' War on Palestine (2020). Buku ini menjelaskan konflik Israel-Palestina dari sudut pandang Palestina, dan kalimat ini adalah salah satu kunci untuk memahami akar konflik tersebut. Mari kita bedah kalimat ini pelan-pelan.

Apa yang Khalidi maksud dengan "bukan sekadar tidak tahu"? Orang sering mengira bahwa para Zionis awal datang ke Palestina dengan niat baik, tetapi mereka tidak tahu bahwa di sana sudah ada penduduk Arab. Setelah datang dan melihat, mereka kemudian menyesal atau bingung. Khalidi menolak penjelasan ini. Ia berkata: "Mereka bukan sekadar tidak tahu. Masalahnya jauh lebih dalam dari itu." Maksudnya, para Zionis awal sebenarnya tahu bahwa di Palestina ada orang Arab. Informasi tentang Palestina sudah tersedia di Eropa pada abad ke-19. Ada buku-buku perjalanan, laporan-laporan, dan peta-peta yang menunjukkan bahwa Palestina berpenduduk. Tetapi pengetahuan itu tidak memengaruhi cara mereka berpikir dan bertindak. Mereka tetap bersikap seolah-olah tanah itu kosong.

Juga apa yang Khalidi maksud dengan "secara struktural tidak mampu melihat mereka"? Ini adalah bagian paling penting dari kalimat ini. Secara struktural tidak mampu melihat artinya: Ketidakmampuan mereka bukan karena kebodohan atau kurang informasi, melainkan karena cara berpikir mereka sendiri yang membuat mereka tidak bisa melihat. Ibaratnya, mereka memakai kacamata yang sudah buram. Bukan karena mereka tidak mau melihat, tetapi karena kacamata itu memang membuat mereka tidak bisa melihat dengan jelas. Apa "kacamata" itu? Kacamata kolonialisme Eropa. Para Zionis awal, termasuk Moses Hess, dibesarkan dalam cara berpikir Eropa abad ke-19 yang menganggap bahwa: 1) Eropa adalah pusat peradaban; 2) Dunia non-Eropa adalah tempat yang terbelakang; 3) Tanah di luar Eropa adalah "ruang kosong" yang menunggu untuk diambil oleh bangsa yang lebih "maju". Dengan cara berpikir seperti ini, mereka memandang Palestina bukan sebagai rumah bagi bangsa Arab yang hidup dan berbudaya, melainkan sebagai lahan kosong yang menunggu pemiliknya.

Kemudian apa yang Khalidi maksud dengan "ruang kosong yang menunggu untuk diklaim"? Ini adalah istilah khas kolonialisme. Para penjajah Eropa sering menggambarkan tanah-tanah di Amerika, Afrika, Asia, dan Timur Tengah sebagai terra nullius, istilah Latin yang artinya "tanah tak bertuan". Mereka menganggap bahwa: Kalau tanah itu tidak diolah dengan cara Eropa, berarti tanah itu tidak ada pemiliknya. Kalau penduduk asli tidak membangun kota seperti Eropa, berarti mereka bukan bangsa yang beradab. Kalau tanah itu tampak "kosong" menurut ukuran mereka, berarti tanah itu sah untuk diambil. Ini adalah logika yang dipakai untuk membenarkan penjajahan di seluruh dunia. Kita bisa berikan sejumlah contoh. Di Amerika, bangsa Eropa menganggap tanah suku Indian sebagai "tanah liar" yang boleh dirampas. Di Australia, pemerintah Inggris menganggap benua itu "kosong" meskipun sudah dihuni oleh suku Aborigin selama puluhan ribu tahun. Di Palestina, para Zionis awal menganggap tanah itu "kosong" meskipun sudah dihuni oleh bangsa Arab selama berabad-abad.

Kemudian bagaimana ini terjadi pada para Zionis awal? Para Zionis awal, termasuk Moses Hess, memakai logika ini. Mereka berkata: "Palestina adalah tanah kosong. Bangsa Yahudi adalah bangsa tanpa tanah. Maka, tanah itu sedang menunggu kami." Mereka menganggap bahwa: Orang Arab yang tinggal di Palestina bukanlah "bangsa" yang punya hak atas tanah itu. Tanah itu "terbengkalai" dan perlu "diselamatkan" oleh bangsa yang lebih maju. Kedatangan orang Yahudi akan membawa "kemajuan" dan "peradaban" ke tanah yang "terbelakang" itu. Logika ini sangat mirip dengan logika penjajah Eropa di tempat lain. Bedanya, para Zionis awal ini adalah korban penjajahan di Eropa (antisemitisme) yang kemudian memakai logika yang sama terhadap bangsa lain.

Para pemikir pascakolonial seperti Edward Said dan Rashid Khalidi menyebut ini sebagai "buta epistemologis" atau "kebutaan struktural". Maksudnya: Para Zionis awal tidak bisa melihat orang Arab Palestina bukan karena mereka jahat atau bodoh, tetapi karena kerangka berpikir mereka tidak mengizinkan mereka untuk melihat. Mereka dibesarkan dalam budaya Eropa yang menganggap bahwa: 1) Dunia non-Eropa adalah "objek" yang bisa diambil; 2) Penduduk asli bukanlah "subjek" yang punya hak; 3) Tanah di luar Eropa adalah "ruang kosong" yang menunggu untuk diisi. Dengan kerangka berpikir seperti ini, mereka datang ke Palestina dan tidak melihat bahwa di sana sudah ada bangsa yang hidup, bekerja, mencintai, dan beribadah. Yang mereka lihat hanyalah "tanah kosong" dan "kesempatan".

Bayangkan seorang anak dari keluarga kaya yang dibesarkan dengan keyakinan bahwa "orang miskin itu malas". Suatu hari, anak ini datang ke sebuah desa nelayan. Ia melihat rumah-rumah sederhana, perahu-perahu tua, dan penduduk yang bekerja keras di laut. Tetapi karena "kacamata" yang ia pakai bahwa orang miskin itu malas, ia tidak melihat kerja keras para nelayan itu. Ia hanya melihat "keterbelakangan". Ia lalu berkata: "Desa ini perlu dibangun. Orang-orangnya malas. Saya akan datang membawa kemajuan." Padahal, para nelayan itu sudah bekerja keras sepanjang hidup mereka. Mereka punya cara hidup sendiri, budaya sendiri, dan ikatan yang kuat dengan tanah mereka. Inilah yang terjadi pada para Zionis awal. Mereka datang ke Palestina dengan "kacamata" kolonial, dan karena itu mereka tidak bisa melihat bangsa Arab Palestina sebagai manusia yang setara.

Sejumlah hal menarik dapat kita tarik dari pernyataan Khalidi. Pertama, kita semua bisa buta terhadap penderitaan orang lain. Kebutaan itu sering kali bukan karena niat jahat, tetapi karena cara berpikir kita yang sudah dibentuk oleh lingkungan. Maka, kita harus terus menerus memeriksa diri: siapa yang tidak kita lihat? Suara siapa yang tidak kita dengar? Kedua, kolonialisme hidup dalam cara berpikir, bukan hanya dalam tindakan. Kolonialisme bukan cuma soal tentara dan penjajahan fisik. Ia juga hidup dalam cara kita memandang dunia: siapa yang dianggap "maju" dan siapa yang dianggap "terbelakang", tanah siapa yang dianggap "kosong" dan tanah siapa yang dianggap "berharga". Ketiga, jangan percaya pada klaim "tanah kosong". Setiap kali kita mendengar klaim bahwa suatu tanah "kosong" dan "menunggu untuk diklaim", kita harus curiga. Selalu tanyakan: siapa yang sudah tinggal di sana? Siapa yang tidak terlihat dalam cerita ini? Keempat, perjuangan pembebasan harus membebaskan cara berpikir. Membebaskan tanah tidak cukup. Kita juga harus membebaskan pikiran dari cara-cara kolonial yang sudah tertanam, termasuk cara kita memandang orang lain yang berbeda dari kita.

Dari Kacamata Kritis Barat

Dari kacamata kritis Barat, Hess menjadi studi kasus yang menarik tentang batas-batas universalisme pencerahan. Isaiah Berlin menggambarkan Hess sebagai "manusia yang terbelah" (a man divided), yang hidupnya menunjukkan ketegangan antara kesetiaan pada prinsip-prinsip universal dan ikatan partikular kesukuan (Berlin 223). Bagi Berlin, Hess adalah contoh tragis dari seorang idealis yang terperangkap dalam kontradiksi yang tidak dapat diselesaikan oleh zamannya.

Georg Lukács, dari sudut pandang Marxis, mengkritik Hess sebagai idealis yang gagal memahami dialektika materialisme historis, dan karena itu pemikirannya "tidak bisa tidak akan membawanya ke kubu kaum reaksioner" (Lukács 34). Bagi Lukács, Hess adalah bukti bahwa sosialisme tanpa materialisme akan selalu berakhir dengan pembelotan ke kubu musuh.

Namun, para pemikir kontemporer yang lebih berimbang menolak dikotomi sederhana ini. Michael Löwy, dalam Redemption and Utopia, berargumen bahwa Hess adalah contoh dari "messianisme libertarian" yang mencoba menggabungkan tradisi profetik Yahudi dengan sosialisme modern (Löwy 56). Bagi Löwy, kegagalan Hess bukan terletak pada kombinasi ini, melainkan pada ketidakmampuannya untuk melihat bahwa pembebasan Yahudi tidak boleh dicapai melalui penaklukan bangsa lain.


Penutup: Paradoks yang Belum Selesai


Moses Hess meninggal di Paris pada 6 April 1875, jauh sebelum menyaksikan kebangkitan komunisme Bolshevik atau berdirinya Negara Israel. Namun, ia telah menabur benih bagi kedua peristiwa monumental tersebut. Ia adalah seorang mentor yang dilupakan oleh muridnya yang paling terkenal, Marx, namun namanya diabadikan sebagai nama sebuah desa di Israel, Kfar Hess.

Pilihan politiknya mencerminkan pergulatan abad ke-19: bagaimana mendamaikan cita-cita universal keadilan dengan realitas identitas partikular dan penindasan etnis. Dalam lompatan intelektualnya dari Marxisme ke Zionisme, Hess tidak hanya mengubah hidupnya sendiri, tetapi juga menunjukkan bahwa batas antara sosialisme dan nasionalisme, antara sekularisme dan spiritualitas, sering kali lebih kabur daripada yang ingin kita akui.

Namun, kritik pascakolonial mengajarkan kita untuk tidak berhenti pada penghormatan terhadap paradoks. Kita harus bertanya: siapa yang membayar harga dari paradoks ini? Bagi orang Yahudi Eropa yang teraniaya, Hess menawarkan harapan dan visi pembebasan. Bagi orang Arab Palestina yang tanahnya menjadi sasaran pemukiman, Hess adalah pelopor dari bencana yang akan datang.
Pada akhirnya, Hess adalah paradoks yang hidup, dan dalam paradoks itulah letak warisannya yang abadi. Tetapi paradoks ini bukanlah akhir dari cerita; ia adalah undangan untuk terus bergulat. Hess mengingatkan kita bahwa pembebasan manusia adalah proyek yang belum selesai, yang menuntut keberanian untuk melampaui dogma-dogma ideologis, baik dari kiri maupun dari kanan, demi keadilan yang lebih utuh. Keadilan yang tidak hanya membebaskan satu bangsa dari penindasan, tetapi juga menolak untuk menjadi sumber penindasan baru bagi bangsa lain.

Di tengah konflik yang terus berlangsung di Palestina, warisan Hess tetap relevan bukan sebagai jawaban, melainkan sebagai pertanyaan: bagaimana kita membangun pembebasan yang tidak hanya emansipatoris bagi satu kelompok, tetapi bagi semua? Pertanyaan ini, yang dulu gagal dijawab oleh Hess, masih menunggu jawaban dari kita hari ini.


Daftar Pustaka


Abelman, Asher. "How a Founding Socialist Inspired Karl Marx, and Then Went on to Herald the State of Israel." Mosaic, 9 Mei 2022, ideas.tikvah.org/mosaic/observations/how-a-founding-socialist-inspired-karl-marx-and-then-went-on-to-herald-the-state-of-israel.

Avineri, Shlomo. "Introduction." Moses Hess: The Holy History of Mankind and Other Writings, diedit dan diterjemahkan oleh Shlomo Avineri, Cambridge UP, 2004, hlm. ix–xxv.

---. Moses Hess: Prophet of Communism and Zionism. New York UP, 1985.
Berlin, Isaiah. "The Life and Opinions of Moses Hess." Against the Current: Essays in the History of Ideas, Viking Press, 1980, hlm. 213–251.

Fanon, Frantz. The Wretched of the Earth. Diterjemahkan oleh Constance Farrington, Grove Press, 1963.

Hess, Moses. Rome and Jerusalem: A Study in Jewish Nationalism. Diterjemahkan oleh Meyer Waxman, Bloch Publishing, 1918.

---. The Holy History of Mankind and Other Writings. Diedit dan diterjemahkan oleh Shlomo Avineri, Cambridge UP, 2004.

Khalidi, Rashid. The Hundred Years' War on Palestine: A History of Settler Colonialism and Resistance, 1917–2017. Metropolitan Books, 2020.

Koltun-Fromm, Ken. Moses Hess and Modern Jewish Identity. Indiana UP, 2001.

Laqueur, Walter. A History of Zionism. 3rd ed., Tauris Parke, 2003.

Lockman, Zachary. Comrades and Enemies: Arab and Jewish Workers in Palestine, 1906–1948. U of California P, 1996.

Loomba, Ania. Colonialism/Postcolonialism. 3rd ed., Routledge, 2015.

Löwy, Michael. Redemption and Utopia: Jewish Libertarian Thought in Central Europe, a Study in Elective Affinity. Diterjemahkan oleh Hope Heaney, Verso, 1992.

Lukács, Georg. "Moses Hess and the Problems of Idealist Dialectics." Telos, no. 10, 1971, hlm. 3–34.

Marx, Karl. "Contribution to the Critique of Hegel's Philosophy of Right: Introduction." The Marx-Engels Reader, diedit oleh Robert C. Tucker, 2nd ed., W. W. Norton, 1978, hlm. 129–142.

---. "On the Jewish Question." The Marx-Engels Reader, diedit oleh Robert C. Tucker, 2nd ed., W. W. Norton, 1978, hlm. 26–52.

---. "Theses on Feuerbach." The Marx-Engels Reader, diedit oleh Robert C. Tucker, 2nd ed., W. W. Norton, 1978, hlm. 143–145.

Marx, Karl, dan Friedrich Engels. Manifesto of the Communist Party. Progress Publishers, 1969.

Mignolo, Walter D. The Darker Side of Western Modernity: Global Futures, Decolonial Options. Duke UP, 2011.

Raz-Krakotzkin, Amnon. "Exile, History, and the Nationalization of Jewish Memory: Some Reflections on the Zionist Notion of History and Return." Journal of Levantine Studies, vol. 3, no. 2, 2013, hlm. 37–70.

Robinson, Cedric J. Black Marxism: The Making of the Black Radical Tradition. 3rd ed., U of North Carolina P, 2000.

Said, Edward W. Orientalism. Vintage Books, 1979.

---. The Question of Palestine. Vintage Books, 1992.

Schoeps, Julius H. Pioneers of Zionism: Hess, Pinsker, Rülf: Messianism, Settlement Policy, and the Israeli-Palestinian Conflict. De Gruyter, 2013.

Shelleg, Assaf. The Israeli Sound Archive: Musical Practices, Colonial Entanglements, and the Formation of National Sound. Oxford UP, 2022.

Weiss, John. "The Communist Rabbi: Moses Hess." Commentary, vol. 111, no. 6, 2001, hlm. 11–16.

Weiß, Volker. Moses Hess: Der unbekannte Mentor von Karl Marx. Jüdischer Verlag im Suhrkamp Verlag, 2015.


Jika Anda perlu file PDF artikel ini, silakan unduh di:

Posting Komentar

0 Komentar