… from the point of view of the continuing development of general political theory, the biological basis of political behavior has a significant contribution still to be made … It goes to the heart of my concern with biopolitics as a developing subfield … if the history of the addition of past subfields to political science is any guide, we can expect a rapid acceleration of interest in biopolitics.”[1]
[ … dari sudut pandang pembangunan teori politik umum secara berkesinambungan, basis biologis dari perilaku politik punya kontribusi signifikan yang masih dalam proses penyusunan … Ia menyita perhatian saya dengan biopolitik sebagai sub kajian yang dalam proses pengembangan … jika sejarah penambahan sub kajian ilmu politik dapat dilakukan, kita dapat berharap akselerasi cepat atas daya tari biopolitik.]
In fact I have been able to identify at least four kinds of latent approaches towards explaining the relationship of biology to politics ... The first mode of explanation to which I would draw your attention I shall call biological reductionism ... A second type of explanation is represented in what I shall call biological determinism ... There is a three mode of explanation. It seeks to demonstrate the biological impact by describing what I shall call the organic limits to human behavior ... The fourth and final kind of explanation of biological linkages to politics can be found in the work that has been going on Stony Brook ... Our interest in biology arises non out of the consequences that varying states of the body will have for political behavior but because these varaying states may provide us with better indicators and measures of observable political attitudes and actions.[2]
[Faktanya, saya telah mampu mengidentifikasi setidaknya empat jenis pendekatan laten guna menjelaskan hubungan antara biologi dengan politik ... ... Modus penjelasan pertama yang saya ingin anda tertarik memperhatikannya adalah apa yang saya sebut sebagai biological reductionism ... Modus penjelasan kedua ditampakkan dalam apa yang saya sebut sebagai biological determinism ... Juga terdapat modus penjelasan ketiga. Penjelasan ini berupaya mendemonstrasikan dampak biologis lewat upaya penggambaran apa yang saya sebut pembatasan yang sifatnya organis atas perilaku manusia ... Modus penjelasan keempat dan terakhir dari hubungan biologi dengan politik dapat ditemukan dalam karya yang tengah ditulis Stony Brook ... Ketertarikan kita pada biologi muncul bukan dari aneka kondisi tubuh terhadap perilaku politik, tetapi karena aneka kondisi tersebut memberi kita sejumlah indikator dan ukuran yang lebih baik atas aneka sikap dan tindakan politik bisa diamati.]
Sementara itu, Biopolitik sendiri mendefinisikan politik secara khas, yaitu mengaitkan antara aspek alamiah (nature) dengan budaya (nurture). Roger D. Masters mendefinisikan politik dan perspektif Biopolitik sebagai keterkaitan antara:
…behavior that simultaneusly partakes of the attributes of bonding, dominance, and submission (which the human primate shares with many other mammals) and those of legal or customary regulation of social life (characteristic of human groups endowed with language) …. Political behavior … comprises actions in which the rivalry for perpetuation of social dominance and loyalty impinges on the legal or customary rules governing a group …. political science has a peculiar status; for it lies at the intersection of ethology and anthropology --- or, more broadly, at the point where the social and natural sciences meet.”[3]
[...perilaku yang secara simultan mengambil atribut ikatan, dominasi, dan penyerahan (yang secara bersama dimiliki baik oleh primata manusia maupun banyak mamalia lain) dan regulasi legal atau kebiasaan kehidupan sosial (karakteristik kelompok manusia yang sangat terbantu dengan kemampuan bahasa)…. Perilaku politik ... terdiri atas aneka tindakan di mana persaingan untuk mempertahankan dominasi dan kesetiaan sosial berdampak pada terbitnya aturan hukum atau adat yang mengatur kelompok…. ilmu politik memiliki status khusus; sebab itu (ia) terletak di persimpangan antara etologi dan antropologi --- atau, secara lebih luas, pada titik di mana ilmu-ilmu sosial dan alam bertemu."]
Namun, Masters memandang bahwa manusia punya perbedaan dengan kelompok primata lain karena kemampuan manusia dalam berbahasa. Sebab itu, politik kelompok manusia bagi Masters melibatkan aturan hukum (legal) ataupun adat istiadat yang mengatur kehidupan sosial, dan ini merupakan aspek nurture yang membedakan kelompok manusia dengan primata besar non manusia, karena kedua hal ini (aturan hukum dan adat istiadat) hanya bisa diwujudkan lewat bahasa.
Masters lalu menjelaskan bahwa perilaku politik individu terdiri atas aneka tindakan yang berkenaan dengan persaingan terus-menerus dalam memperebutkan dominasi dan loyalitas sosial. Guna mengatur perebutan yang sifatnya alamiah ini, manusia menciptakan hukum dan adat istiadat. Namun, karena sifatnya alamiah, peristiwa persaingan memperebutkan dominasi dan loyalitas sosial pun terus-menerus dilanggar oleh manusia, baik secara individu maupun kelompok. Singkatnya, upaya pencarian dominasi dan loyalitas adalah abadi di kalangan kelompok manusia.
Dalam logika Masters, dua aspek individualitas manusia yaitu nature dan nurture berjalan beriringan. Nurture atau budaya dikembangkan oleh kelompok manusia tidak lain guna mengatur kecenderungan alamiah (nature) manusia yang secara genetis cenderung saling bersaing satu sama lain.
Pandangan lain atas biopolitik juga diajukan oleh Glendon Schubert, yang menurutnya:
… politics deals with the sociopsychological processes of human individuals and groups seeking to influence or control others who are not closely related to them in regard to any questions about which humans are, or might become, interested … When the units of social structure become sufficiently large and diverse to encompass many different consanguinous (extended family) subunits in cooperation or competition with each other for control over the policies that are important for the group overall, then it is possible to recognize the beginning of political behavior.”[4]
[... Politik berkaitan dengan proses sosiopsikologis individu dan kelompok manusia yang berusaha untuk mempengaruhi atau mengendalikan orang lain (dimana yang hendak dipengaruhi atau dikendalikan ini) tidak terkait erat dengan mereka dalam sejumlah pertanyaan apa pun mengenai siapa manusia adanya, atau mungkin jadi, hal yang menarik bagi mereka ... Ketika unit-unit struktur sosial menjadi cukup besar dan beragam akibat mencakup beragam subunit consanguinous (keluarga besar) yang berbeda dalam kerja sama atau persaingan satu sama lain dalam mengendalikan kebijakan yang penting bagi kelompok tersebut secara keseluruhan, maka dimungkinkan untuk mengenali awal mula munculnya perilaku politik.”]
Kemudian Schubert melanjutkan bahwa proses sosiopsikologis tadi ada di dalam kerangka pencarian pengaruh atau kendali atas pihak lain yang dianggap tidak terlalu dekat hubungannya dengan mereka, baik dalam pengertian siapa manusianya ataupun hal yang diatur. Bagi Schubert, kedekatan hubungan kekerabatan memunculkan suatu keyakinan dalam diri individu atau kelompok bahwa mereka adalah bagian dari dirinya sendiri, dikenali, tidak asing, sehingga secara alamiah bukan target dari aneka tindakan politik.
Schubert mengaitkan apa yang natural (kekerabatan berdasarkan genetik, keluarga) dengan yang kultural (kekerabatan yang tidak terlalu dekat, sehingga membutuhkan pengaturan tersendiri). Dua aspek ini serupa dengan apa yang telah disebutkan Masters mengenai atribut, kendati punya titik tekan berbeda.
Dalam biopolitik, perilaku politik manusia kerap dianalisis secara mikro-politik. Sebagai individu, manusia dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Perpaduan pengaruh gen dengan lingkungan ini salah satunya dijelaskan oleh Robert H. Blank and Samuel M. Hines. Blank and Hines menyebutnya Interactive Brain Model Behavior yaitu :
According to an expanded interactive model … the brain is the key mediator of both genetics and the environment for the individual. Brain chemistry increasingly is being found as critical to our understanding of behavioral patterns, personality, and a range of individual capabilities. Neuroscience, therefore, offers an indispensable tool by which to explain why we are, what we are, and how we might make improvements on what we are. The brain provideds a focus for analysing the rich combination of genetic, environmental, and ultimately neural factors the define what we are. Unlocking the secrets of the brain is the key to explain not only why we differ from other species but also to understanding variation among human. [5]
[Menurut model interaktif yang diperluas ... otak adalah mediator utama antara faktor genetis dan lingkungan suatu individu. Kimia otak dipahami sebagai unsur kritis bagi upaya kita memahami tentang aneka pola perilaku, kepribadian, dan berbagai kemampuan individu. Neuroscience, oleh karena itu, menjadi alat yang sangat diperlukan untuk menjelaskan mengapa kita berperilaku tertentu, apakah kita ini, dan bagaimana kita dapat melakukan perbaikan pada eksistensi kita. Otak menyediakan fokus untuk menganalisis kombinasi kaya antara faktor genetik, lingkungan, dan akhirnya faktor saraf yang menentukan seperti apakah kita. Pembukaan rahasia otak adalah kunci untuk menjelaskan tidak hanya mengapa kita (manusia) berbeda dari spesies lain tetapi juga untuk memahami variasi di antara spesies manusia itu sendiri."]
Laws and social customs are not unnatural impositions from a source somewhere outside biology. They arise from interactions between the cerebral cortex and other parts of a single body, and from interactions between the brains and eyes and ears and vocal cords of different bodies. They are biological results of biological behavior."[8]
[Hukum dan kebiasaan sosial bukanlah pemaksaan tak wajar dari suatu sumber yang berasal dari luar biologi. Mereka (hukum dan kebiasaan sosial) muncul dari aneka interaksi antara korteks serebral dengan bagian lain dari tubuh, dan juga dari interaksi antara otak, mata, telinga, serta pita suara yang merupakan bagian-bagian tubuh dari satu individu. Mereka (hukum dan kebiasaan sosial) adalah hasil biologis dari perilaku biologis."]
Yet dominance structures there will be in social groupings of the human species, and therefore discovering methods to make and keep them responsive to the substantive needs and desires of the society as a whole is a perennial dilemma. Although our complex societies have lost the automatic fit between dominance and adaptiveness typical of primate groups in their normal habitats, there has been in man an enormous development of a relevant generalized trait characteristic of nearly all primate species --- the ability to learn how to adapt to varied circumstances. Using that ability and building, no doubt, on our evolved capacity for self-control, men long ago learned and taught the desirability of subjecting the dominant as well as the subordinate to the restraint of custom and then to the more rationalized "rule of law."[9]
[Namun aneka struktur dominasi akan selalu ada dalam pengelompokan sosial spesies manusia, dan karena itu (spesies ini) mampu menemukan aneka cara untuk menciptakan sekaligus mempertahankan responsivitas atas aneka kebutuhan dan hasrat substantif masyarakat sebagai sebuah keseluruhan, dan inilah dilema yang sifatnya abadi. Meskipun suatu masyarakat yang kompleks telah hilang kemampuan penyesuaian otomatisnya antara dominasi dan kemampuan beradaptasi yang tipikal dari kelompok primata di habitat normalnya, telah ada dalam diri manusia perkembangan yang luar biasa dari karakteristik sifat umum yang relevan dari hampir semua spesies primata --- kemampuan untuk belajar bagaimana beradaptasi di berbagai kondisi. Dengan menggunakan kemampuan dan pengembangan itu, tidak diragukan lagi, pada kapasitas kita yang berkembang untuk mengendalikan diri, manusia telah lama mempelajari sekaligus diajarikan keinginan untuk tunduk pada yang dominan sebagaimana memperlakukan subordinat lewat batasan kebiasaan dan kemudian ke "aturan hukum" yang lebih dirasionalisasi.]
(1)Speech; (2) Size of possible of society; (3) Cultural variation; (4) Law; (5) Agriculture, pastoralism, and industry, dan (6) The centralized state of government ...Among the characteristic primate behaviors that persist in our species are the following (1) Nonverbal communication; (2) The primate behavioral repertoire; (3) Sexual differences in maturarion; (4) Face-to-face groups; (5) Kinship and reciprocity; dan (6) Leadership and social differentiation.
[(1) Bahasa; (2) Ukuran populasi yang mungkin; (3) Variasi kultural; (4) Hukum; (5) Agrikultur, pastoral, dan industri; dan (6) Kondisi pemerintahan yang tersentralisasi] … Di antara sejumlah karakteristik primata yang juga ada di spesies kita adalah sebagai berikut: [(1) Komunikasi nonverbal; (2) Repertoir perilaku primata; (3) Perbedaan seksual dalam kedewasaan; (4) Kelompok yang saling bertatap-muka; (5) Kekerabatan dan hubungan resiprokal; dan (6) Kepemimpinan dan perbedaan sosial.]


https://orcid.org/0000-0002-1420-4288
0 Komentar
Silakan tulis komentar Anda.